Tuesday, 17 March 2015

YOU ARE MY EVERYTHING

          Waktu itu aku baru saja pulang dari rumah Alya. Ketika aku dalam perjalanan pulang, tiba-tiba tanpa sengaja aku menabrak seorang laki-laki yang tidak aku kenal sebelumnya.

          "Ya ampun maaf ya, pak. Saya benar-benar nggak sengaja. Soalnya saya buru-buru banget.", kataku dengan penuh rasa bersalah sambil mengambil bukuku yang jatuh.
          "Nggak apa-apa kok, mbak. Mbak nggak salah, tapi saya yang salah.", jawabnya sambil membantuku mengambil bukuku yang jatuh tadi. Dan tanpa sengaja dia memegang tanganku. Sontak aku kaget dan melihat sebenarnya siapa laki-laki itu.
          Tanpa aku sangka sebelumnya ternyata dia itu seorang polisi yang muda dan sangat tampan. Aku bingung harus bersikap seperti apa.
          "Te....te....te....terima kasih ya, pak.", ucapku agak gugup.
          "Iya mbak. Sama-sama. Mbak kok gugup gitu sih? Kenapa? Ada yang salah ya dengan saya? Atau ada yang salah dengan pakaian saya?", tanyanya heran.
          "Oh, enggak kok. Nggak ada yang salah.", jawabku yang masih agak gugup.
          "Tapi mbak kok gugup gitu sih? Kayak abis liat setan aja.", katanya sambil tersenyum padaku.
          "Subhanalloh, senyumnya manis banget.", kataku dalam hati.
          "Mbak....mbak.....mbak.... Yeeee kok malah bengong sih.", katanya sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku.
          "Eh iya. Maaf ya, pak. Jadi bengong gini.", jawabku.
          "Kok manggilnya pak sih, mbak? Emang aku udah tua apa?", tanyanya sambil cemberut.
          "Lalu saya harus panggil apa dong kalau gitu?", tanyaku lagi.
          "Panggil aja kakak atau namaku aja.", jawabnya.
          "Oke deh, pak. Eh maaf kakak maksudku.", jawabku.
          "Nah gitu dong. Oh iya ngomong-ngomong nama kamu siapa? Dari tadi udah ngomong ke sana ke sini tapi aku nggak tau siapa nama kamu.", tanyanya lagi.
          "Oh iya aku lupa. Kenalin nama aku Intan. Kalau kamu?", tanyaku lagi.
          "Nama aku Aditya Pratama. Panggil aja aku Adit. Salam kenal ya.", jawabnya sambil mengulurkan tangannya.
          "Oh iya. Salam kenal juga.", kataku sambil menjabat tangan dia sebagai tanda perkenalan.
          "Oh iya ngomong-ngomong kamu masih kuliah apa udah lulus?", tanya Adit padaku.
          "Alhamdulillah aku baru lulus tahun ini.", jawabku singkat.
          "Oh gitu ya. Emang dulu kamu ambil jurusan apa?", tanyanya lagi padaku.
          "Aku ambil PAI.", jawabku singkat.
          "Oh berarti udah ngajar dong?", tanyanya lagi.
          “Oh belum. Soalnya aku juga langsung nglanjutin ke S2 ini. Oh iya kamu dari akpol ya? Terus lulusan tahun berapa?”, tanyaku.
          "Iya. Aku lulus tahun lalu.", jawabnya singkat.
          "Oh berarti pangkatnya masih Ipda ya?", tanyaku lagi.
          "Iya Intan.", jawabnya sambil tersenyum padaku.
          Sejak pertemuanku dengan Adit yang sangat tidak sengaja itu kini hubunganku dengan Adit semakin baik. Dia sering sms aku walau hanya menanyakan kabar saja. Akupun juga seperti itu. Makin lama hubungan kita semakin baik, semakin baik, dan semakin baik. Dan aku juga sering ketemu dengannya. Entah itu ketemu dengan sengaja ataupun tanpa sengaja. Dan waktu itu ketika aku lagi hang out di sebuah pusat perbelanjaan, tanpa sengaja aku bertemu dengan Adit.
          "Eh Adit. Lagi apa kamu di sini? Sama siapa kamu ke sini?", tanyaku.
          "Oh kebetulan aku lagi free nih. Jadi ya pingin jalan-jalan aja. Kebetulan aku sendiri nih. Kalo kamu sendiri lagi ngapain disini? Terus sama siapa?", tanyanya.
          "Ya pingin jalan-jalan aja. Sekalian numpang ngadem.", jawabku singkat.
          "Oh iya tan mumpung aku lagi di luar nih terus kamu juga nggak lagi sibuk gimana kalo kita jalan?", tanya Adit.
          "Lah ini juga udah jalan-jalan kan.", jawabku agak sedikit bingung.
          "Bukan itu maksudku.", kata Adit.
          "Lalu?", tanyaku lagi.
          "Maksudku kita jalan berdua. Kamu mau kan?", tanyanya padaku.
          "Mmmmmm....gimana ya? Oke deh.", jawabku singkat.
          Kemudian Adit mengajakku keluar dari pusat perbelanjaan dan pergi ke sebuah restoran.
          "Loh dit kamu kok malah ngajak aku kesini sih?", tanyaku heran.
          "Ya aku pingin ngajak kamu kesini aja karena ada sesuatu yang mau aku omongin ke kamu.", jawabnya.
          "Apa itu?", tanyaku lagi.
          "Mmmmmm...mendingan kamu pesen makanan dulu aja ya. Kamu mau pesen apa?", tanya Adit lagi.
          "Terserah kamu aja lah mau pesen apa.", jawabku singkat.
          "Ok.", jawabnya.
          Setelah makanan pesanan kita datang aku langsung tanya ke Adit.
          "Dit, sebenarnya kamu mau ngomongin apa sih?", tanyaku.
          "Tapi kamu jangan marah ya, tan.", jawabnya.
          "Kenapa harus marah? Emangnya kamu mau tanya apa sih?", tanyaku lagi.
          "Sebenarnya sejak pertama kita bertemu aku udah mulai menyukai kamu.", jawabnya.
          Jujur aku kaget banget ketika dia ngomong seperti itu.
          "Memang apa yang kamu suka dari aku.", tanyaku heran.
          "Kamu cantik. Kamu baik. Kamu tipe cewek yang penuh perhatian. Dan aku menyukai semua itu.", jawabnya.
          "Terima kasih ya.", jawabku singkat.
          "Oh iya tan ada satu hal yang menurutku ini sangat penting dan aku ingin mengatakannya ke kamu.", katanya.
          "Apa itu?", tanyaku heran.
          "Sebenarnya........", jawabnya agak gugup.
          "Sebenarnya apa, Adit?", tanyaku jadi makin penasaran.
          "Tapi kamu jangan marah ya, tan.", jawabnya masih agak gugup.
          "Iya. Kalo mau ngomong ya ngomong aja.", jawabku singkat.
          "Sebenarnya aku mencintai kamu. Kamu mau kan jadi pacarku?", tanyanya jujur.
          Aku sangat kaget dan sampai tersedak juga ketika aku mendengar pengakuan Adit yang menurutku terlalu to the point itu.
          "Intan, kamu nggak apa-apa kan?", tanyanya dengan nada khawatir sambil mengambilkan tissue untukku.
          "Oh nggak apa-apa kok. Aku tadi cuma kaget aja ngedengernya.", jawabku sambil membersihkan air yang tumpah di meja karena kejadian tadi.
          "Maaf ya, tan. Mungkin aku terlalu to the point tadi. Aku bingung gimana cara mengungkapkannya.", katanya dengan nada sedikit khawatir melihat keadaanku.
          "Oh nggak apa-apa. Aku ngerti kok maksudmu.", jawabku dengan tersenyum.
          "Jadi kamu mau kan?", tanyanya lagi padaku.
          "Mau apa?", tanyaku agak sedikit bingung.
          "Kamu mau kan jadi pacar aku?", tanyanya lagi.
          "Iya aku mau.", jawabku singkat sambil menganggukkan kepalaku.
          "Makasih ya, sayang.", jawabnya dengan nada yang sangat senang.
          "Iya.", jawabku singkat.
          Setelah kita selesai makan di restoran itu kemudian aku diantar pulang oleh Adit. Sesampainya di rumah.....
          "Makasih ya sayang udah nganterin aku sampe rumah.", kataku sambil mengucapkan terima kasih padanya.
          "Iya sayang. Makasih ya hari ini udah mau nemenin aku jalan-jalan. Oh iya kalo aku lagi nggak sibuk dan kamu juga ada waktu, kita jalan lagi ya.", jawabnya.
          "SIAP 86.", jawabku sambil hormat padanya.
          "Cie cie.", kata Adit padaku sambil tertawa.
          "Apaan sih. Oh iya kalo gitu aku masuk dulu ya. Makasih ya udah nganterin aku sampe rumah.", kataku sambil tersenyum.
          "Iya sayangku. Apa sih yang enggak buat kamu.", jawabnya.
          "Huh dasar gombal. Ya udah aku masuk dulu ya. Bye sayang.", ucapku.
          "Bye juga sayangku..", jawabnya sambil pergi.
          Ketika aku masuk ke dalam rumah, aku sangat kaget melihat Alya yang sudah menungguku di ruang tamu.
          "Eh ada Alya. Udah lama ya?", tanyaku pada Alya sambil tersenyum.
          "Belum juga sih, tan. Tumben kamu senyum-senyum gitu. Kayaknya temenku yang satu ini lagi seneng sih. Cerita dong tan kamu tadi dari mana aja.", tanya Alya dengan penuh rasa ingin tau.
          "Kamu masih ingat nggak al sama polisi yang namanya Aditya yang pernah aku ceritain ke kamu yang pernah nabrak aku waktu aku pulang dari rumah kamu itu?", tanyaku ke Alya.
          "Oh polisi yang kamu bilang tampan banget itu ya?", tanya Alya lagi.
          "Thats right.", jawabku singkat.
          "Iya aku ingat. Emang kamu ada hubungan apa sama Adit?", tanya Alya lagi ke aku.
          "Tau nggak tadi pagi kan aku lagi jalan-jalan terus tanpa sengaja aku ketemu sama dia.", jawabku.
          "Terus terus?", tanya Alya lagi.
          "Terus dia ngajak aku jalan-jalan terus makan siang berdua.", jawabku lagi.
          "Terus terus?", tanya Alya lagi.
          "Yeee kamu mah terus terus mulu kayak kernet aja.", ledekku sambil tertawa.
          "Ya abisnya kamu ceritanya sepotong-sepotong. Jadi aku kan makin pernasaran. Terus gimana lagi ceritanya?, tanya Alya yang masih terlihat sangat penasaran.
          "Waktu aku makan berdua sama Adit tiba-tiba dia ngungkapin perasaannya ke aku. Dia juga nanya aku mau nggak jadi pacarnya dia.", jawabku.
          "Lalu kamu jawab apa? Kamu terima cinta dia?", tanya Alya lagi.
          "Ya.", jawabku singkat sambil menganggukkan kepala dan tersenyum.
          "Cie......temenku udah punya pacar nih. Selamat ya, tan.", kata Alya.
          "Iya. Makasih banyak ya, al. Lalu kamu kapan, al?", tanyaku.
          "Nggak tau juga, tan. Entar juga ada.", jawab Alya sambil tertawa.
          "Oke deh aku tunggu cerita cintamu selanjutnya.", kataku kepada Alya sambil tertawa.
          "Oke, tan. Kalo gitu aku pamit dulu ya, tan.", pamit Alya.
          "Ya udah. Hati-hati di jalan ya, al. Kalo udah nyampek rumah hubungin aku ya.", kataku.
          "Iya, adit.", kata Alya menggodaku.
          "Apa-apaan sih kamu, al? Suka banget godain aku?", jawabku sambil memasang wajah cemberut.
          "Iya deh aku minta maaf. Maafin aku ya, dit. Eh maksudku intan.", jawabnya sambil ketawa.
          "Oke hari ini aku maafin. Tapi awas kalo keceplosan kayak gitu lagi.", jawabku.
          "Emang kalo aku keceplosan lagi mau kamu apain, tan?", tanya Alya.
          "Aku gigit aja deh.", jawabku sambil tertawa.
          "Ih jahat banget sih kamu, tan. Aku jadi takut nih.", kata Alya.
          "Enggak enggak, sayang. Aku cuma bercanda kok.", jawabku.
          "Kirain beneran, tan. Aku balik dulu ya, tan.", kata Alya.
          "Oke, al.", jawabku.
          Hampir sebulan lebih Alya tidak pernah menemuiku lagi. Mungkin dia sudah lupa denganku atau mungkin dia lagi sibuk dengan urusannya atau apalah aku pun juga kurang tahu pasti. Dan pada akhirnya Alya pun meneleponku dan mengajakku ketemuan di sebuah restoran nanti malam.
          "Tumben al kamu masih inget sama aku? Bukannya kamu udah ngelupain aku ya?", tanyaku ke Alya ketika aku ketemuan dengannya.
          "Maaf deh, tan. Aku nggak lupa dan nggak akan lupa kok sama kamu.", jawab Alya sambil tersenyum.
          "Lalu satu bulan yang lalu kamu kemana aja kok nggak pernah ngasih kabar ke aku sih?", tanyaku sambil cemberut.
          "Tan, aku punya cerita nih. Kamu mau denger nggak?", kata Alya dengan raut wajah yang seneng banget.
          "Cerita apa?", tanyaku dengan nada sedikit ketus.
          "Tan, udah dong marahnya. Aku bener-bener minta maaf. Aku nggak pernah ada niatan untuk ngelupain kamu. Maafin aku ya, tan.", jawab Alya.
          "Iya deh aku maafin. Tapi janji ya jangan pernah lupain aku sampai kapanpun.", pintaku pada Alya.
          "Iya sayang. Aku boleh cerita nggak nih?", tanya Alya.
          "Emang kamu mau cerita apa?", tanyaku.
          "Tapi aku malu tan untuk cerita.", kata Alya.
          "Kenapa harus malu, al. Kamu ini kayak kenal aku baru aja. Kita kan udah kenal bertahun-tahun. Masa kamu nggak mau cerita sih?", tanyaku.
          "Cerita nggak ya, tan. Tapi aku beneran malu.", jawab Alya.
          "Ayo lah, al. Cerita aja napa. Aku udah makin penasaran ini.", pintaku.
          "Sebenarnya......sebenarnya....", jawab Alya agak ragu.
          "Sebenarnya apa, al? Kamu tuh dari dulu sampe sekarang seneng banget bikin aku makin penasaran.", kataku sambil aku cubit pipi Alya.
          "Ih sakit, tan.", jawabnya kesakitan.
          "Makanya cerita dong.", pintaku.
          "Iya deh. Sebenarnya seminggu yang lalu ada cowok yang menyatakan perasaannya ke aku, tan.", jawab Alya.
          "Emang siapa cowok itu, al?, tanyaku.
          "Dia juga seorang polisi. Sama kayak pacar kamu. Kita berdua hanya beda usia 3 tahun. Namanya Ardi.", jawab Alya tersipu malu.
          "Ya ampun selamat ya, al. Akhirnya kamu punya pacar juga.", jawabku sambil memberi ucapan selamat ke Alya.
          "Makasih ya, tan. Oh iya tan kapan-kapan kenalin dong pacar kamu ke aku. Kan aku pingin tahu dia.", pinta Alya.
          "Iya deh. Kamu juga ya.", jawabku.
          "OK.", jawab Alya lagi.
          Beberapa hari kemudian, Alya mengajakku untuk ketemuan dengan Kak Ardi.
          "Lho tan kamu kok sendirian? Emangnya Adit kemana?", tanya Alya dengn nada heran.
          "Tadi waktu aku hubungin dia katanya dia lagi sibuk, jadi nggak bisa ikut gabung bareng kita.", jawabku.
          "Oh gitu.", jawab Alya pendek.
          "Iya nih. Tapi lain waktu kalo dia lagi nggak sibuk aku akan ajak dia ketemu sama kalian deh.", kataku pada Alya.
          "Beneran ya?", tanya Alya.
          "Iya, Alya. Aku janji deh.", kataku pada Alya lagi.
          "OK.", jawab Alya pendek.
          "Oh iya al ngomong-ngomong Kak Ardi di mana? Kok dari tadi nggak kelihatan?", tanyaku heran.
          "Dia bilang katanya ke toilet sebentar. Paling bentar lagi juga balik. Kita tunggu aja.", jawab Alya.
          "Oh gitu.", jawabku.
          "Iya. Nah itu yang kita tunggu-tunggu dari tadi akhirnya datang juga. Kamu dari mana aja sih, kak? Ke toilet aja lama banget.", tanya Alya pada Kak Ardi.
          "Maaf banget ya, dek. Soalnya di toilet tadi juga antri. Jadinya lama deh. Maaf ya.", jawab Kak Ardi sambil tersenyum.
          "Iya deh. Oh iya kak kenalin ini Intan temen kuliahku yang pernah aku ceritain ke kamu itu lho. Dia tu cerewetnya minta ampun.", kata Alya pada Kak Ardi.
          "Alya, kamu apa-apaan sih? Kok ngomong kayak gitu tentang aku ke Kak Ardi?", tanyaku sambil mencubit lengan Alya.
          "Ih sakit tau, tan.", jawab Alya.
          "Biarin aja sakit. Abisnya kamu juga sih.", jawabku ketus.
          "Nggak apa-apa kok, dek. Kan jujur itu lebih baik.", jawab Kak Ardi sambil tersenyum.
          "Tapi kan itu terlalu jujur, kak?", jawabku lagi.
          "Udahlah nggak apa-apa. Lagian udah terlanjur jujur juga kan?", tanya Kak Ardi.
          "Ya udah deh.", jawabku pendek.
          "Oh iya aku lupa kamu kan belum kenal sama aku ya. Kenalin namaku Ardiansyah Dwi Oktavian. Tapi biasa dipanggil Ardi. Aku seneng banget punya pacar kayak si cantik yang satu ini.", jawabnya sambil mencubit pipi Alya.
          "Ih kamu apa-apaan sih, kak. Kan aku jadi malu sama Intan.", jawab Alya sambil cemberut.
          "Nggak apa-apa juga kali, al. Kan Kak Ardi udah terlanjur jujur.", jawabku lagi.
          "Iya juga ya. Lebih baik jujur.", kata Alya sambil menganggukkan kepalanya.
          “Oh iya kakak dari Akpol ya dulu?”, tanyaku.
          “Iya adek. Kenapa emang?”, tanya Kak Ardi.
          “Enggak kok. Masih Ipda atau udah Iptu?”, tanyaku.
          “Sejauh ini masih Ipda. Semoga aja segera naik pangkat.”, jawab Kak Ardi.
          “Amin.”, jawabku dan Alya secara bersamaan.
          "Oh iya kalian mau pesen apa?", tanya Kak Ardi.
          "Kalo aku mah terserah kamu aja, kak. Kalo kamu mau pesen apa, tan?", tanya Alya padaku.
          "Terserah kamu aja deh, al. Pesen apa aja juga boleh.", jawabku.
          "Jadi kita bertiga samaan nih?", tanya Kak Ardi
          "Iya dong.", jawabku dan Alya bersamaan.
          "Kompak banget kalian ini.", kata Kak Ardi sambil tertawa.
          Kak Ardi pergi untuk memesan makanan. Ketika dia kembali, makanan pun sudah siap di meja kita.
          "Ayo dimakan.", kata Kak Ardi.
          "SIAP 86.", jawabku dan Alya bersamaan sambil tertawa.
          "Wah, kompak banget kalian.", kata Kak Ardi lagi.
          "Ya harus dong.", kataku dan Alya lagi.
          "Iya deh iya. Udah udah jangan bercanda mulu. Buruan dimakan.", kata Kak Ardi.
          Setelah selesai makan........
          "Makasih banyak ya al untuk hari ini.", kataku ke Alya.
          "Iya tan. Kapan-kapan kita ketemuan lagi ya.", jawab Alya.
          "Insya Alloh. Ya udah ya al kalo gitu aku pulang dulu. Sekali lagi makasih lho ya.", jawabku lagi.
          "Oh iya kamu nggak mau pulang bareng kita aja, tan?", tanya Alya.
          "Nggak usah lah, al. Entar malah ngerepotin kamu lagi.", jawabku.
          "Nggak ngerepotin kok, dek. Kan rumah kamu sama Alya satu arah. Bareng kita aja yuk.", ajak Kak Ardi.
          "Ya udah deh. Maaf banget ya kak kalo aku ngerepotin.", kataku lagi.
          "Udah nggak apa-apa kali. Buruan masuk sana. Udah ditungguin Alya tuh.", jawab Kak Ardi.
          "Iya deh.", jawabku singkat.
          Sesampainya di rumah...
          "Makasih banyak ya, al. Kalian nggak mampir dulu?", tanyaku.
          "Nggak usah lah, tan. Kapan-kapan aja ya.", jawab Alya.
          "Oh ya udah deh.", jawabku pendek.
          "Kalo gitu kita pulang dulu ya, tan.", kata Alya.
          "Hati-hati di jalan ya, al.", kataku pada Alya.
          Tak lama kemudian, tiba-tiba handphone berbunyi tanda ada pesan masuk. Eh ternyata pesan itu dari Adit.
          "Siang sayangku. Gimana tadi?", tanya Adit.
          "Maksud kamu apanya yang gimana, yank?", tanyaku bingung.
          "Ketemuan sama Alya dan pacarnya itu lho.", balas Adit.
          "Oh yang itu. Alhamdulillah lancar. Pacarnya Alya juga baik kok.". balasku lagi.
          "Wah enak ya bisa kumpul bareng. Sayangnya aku nggak bisa ikut. Maaf ya, sayang.", balasnya lagi.
          "Iya nggak apa-apa kok. Lagian kan hari ini kamu emang lagi sibuk. Ya lain kali aja kita ngumpul-ngumpul bareng. Sekalian kamu biar kenal sama Alya dan Kak Ardi.", jawabku.
          "Oh iya kamu lagi apa, yank?", tanya Adit lagi.
          "Lagi istirahat aja nih. Soalnya capek banget.", jawabku lagi.
          "Oh gitu. Aku ganggu istirahat kamu ya?", tanya Adit.
          "Oh sama sekali nggak kok. Masa pacarku sms dibilang ngeganggu. Ya nggak lah.", jawabku lagi.
          "Ya udah kalo emang nggak ganggu. Tapi sebaiknya kamu istirahat gih biar nggak capek-capek amat.", jawab Adit lagi.
          "Ok sayang. Ya udah kalo gitu aku tidur dulu ya. Entar kalo aku udah bangun aku sms kamu lagi. Bye sayang.", jawabku.
          "Selamat istirahat, sayangku.", balas Adit.
          Benerapa minggu kemudian akhirnya Adit ada waktu juga untuk aku ajak kumpul-kumpul sama Alya dan Kak Ardi. Sore itu Adit menjemputku.
          "Lho awal banget kamu nyampek rumahku?", tanyaku pada Adit.
          "Oh jadi kamu nggak suka ya yank kalo aku datang kesini awal-awal? Ya udah aku pulang aja deh kalo gitu.", jawab Adit sambil cemberut.
          "Ya ampun aku tu cuma bercanda sayang. Jangan marah gitu dong. Jelek tau.", ledekku pada Adit.
          "Jadi aku jelek ya? Kamu bener kok, yank. Aku menyadari kalo aku ini emang jelek.", jawabnya sambil cemberut lagi.
          "Ya ampun sayang aku minta maaf deh kalo gitu. Aku tadi cuma bercanda. Beneran niatku tadi cuma untuk bercanda. Aku nggak serius kok. Jadi maafin aku ya.", jawabku.
          "Iya iya aku maafin. Aku tau kok kalo kamu tadi cuma bercanda. Ya udah kita berangkat sekarang atau entar aja?", tanya Adit.
          "Mendingan sekarang aja deh. Daripada mereka yang nungguin kita entar malah nggak enak lagi. Ya udah kita berangkat sekarang aja ya.", jawabku.
          "Ok sayangku.", jawab Adit
          Sesampainya di restoran.
          "Al, kamu udah nyampek mana?", tanyaku pada Alya.
          "Aku udah di parkiran nih. Kamu tunggu aja di meja.", balas Alya.
          "Ok al.", jawabku singkat.
          Tak lama kemudian Alya pun datang bersama Kak Ardi.
          "Udah lama ya, tan? Maaf ya kalo kamu sampek nunggu lama kayak gini. Jadi nggak enak nih.", kata Alya.
          "Belum lama juga kok, al. Kita juga baru 10 menit yang lalu nyampek sini.", jawabku singkat.
          "Oh aku kira udah satu jam yang lalu kamu nungguin aku disini. Kan kamu terkenal disiplin waktu banget.", kata Alya lagi.
          "Sedisiplin-disiplinnya aku tapi ya nggak sampek kayak gitu juga kali, al.", jawabku lagi.
          "Iya deh iya. Ngomong-ngomong aku sama Kak Ardi nggak disuruh duduk nih?", tanya Alya lagi.
          "Oh iya sampek lupa. Silahkan duduk.", kataku.
          "Makasih ya Intan yang cantik.", kata Alya dan Kak Ardi pun hanya tersenyum mendengarnya.
          "Oh iya Adit kemana, tan?", tanya Alya.
          "Katanya tadi balik ke mobil. Mau ngambil handphone kayaknya. Kita tunggu aja. Bentar lagi juga balik tu anak.", jawabku.
          "Iya deh.", jawab Alya singkat.
          "Ini tadi kalian dari rumah aja?", tanyaku.
          "Iya. Tadi yang bikin telat tu ya Kak Ardi jemput akunya lama banget.", jawab Alya sambil mencubit lengan Kak Ardi.
          "Ih sakit tau, dek. Iya deh aku minta maaf. Aku yang bikin kalian semua jadi nungguin aku.", kata Kak Ardi.
          "Udah lah, kak. Sekali-kali telat nggak masalah kok. Nah itu Aditnya udah balik.", kataku sambil melambaikan tangan ke Adit.
          "Yank, kenalin ini Alya dan ini pacarnya Alya. Namanya Kak Ardi.", kataku sambil mengenalkan Adit ke mereka berdua.
          Setelah Alya dan Kak Ardi berjabatan tangan dengan Adit, Alya hanya tersenyum saja. Tetapi entah kenapa wajah Kak Ardi terlihat aneh setelah berjabat tangan dengan Adit.
          "Ah nggak mungkin kalo Kak Ardi nggak suka sama Adit. Mungkin Kak Ardi lagi ada masalah jadi wajahnya kelihatan beda dari biasanya.", kataku dalam hati.
          Tiba-tiba Kak Ardi menyenggol lengan Alya ketika Alya sedang asyik makan.
          "Dek, ikut aku sebentar yuk. Ada hal penting yang harus kita bicarakan berdua.", kata Kak Ardi dengan suara yang sangat pelan.
          "Apa sih kak? Kok pake nyenggol-nyenggol aku segala? Ada hal penting apa lagi?", tanya Alya sambil cemberut.
          "Udahlah entar kamu juga bakalan tau sendiri. Yang penting sekarang kamu ikut aku.", kata Kak Ardi sambil menarik tangan Alya.
          "Iya iya. Sabar sedikit napa. Tan, aku ikut Kak Ardi bentar ya. Ada yang mau diomongin. Soalnya kalo nggk diturutin Kak Ardi suka ngambek. Bentar ya.", kata Alya padaku.
          "Oh ya udah. Entar kalo udah selesai balik kesini lagi ya.", kataku tanpa ada perasaan curiga.
          Sesampainya di meja yang agak jauh dari meja tempat kita berempat makan, Alya pun bertanya pada Kak Ardi.
          "Ada apa sih, kak? Kok kita ngomongin masalahnya harus menjauh dari Intan? Emang penting banget ya sampe harus sejauh ini?", tanya Alya.
          "Ini penting bahkan bisa dikatakan sangat penting. Adit itu beneran pacarnya Intan ya, dek?", tanya Kak Ardi.
          "Iya. Emang kenapa, kak? Kok aku perhatiin semenjak kamu ketemu sama Adit raut wajahmu jadi kelihatan kayak mau marah gitu? Sebenarnya ada apa? Emang salah ya kalo Intan pacaran sama Adit?", tanya Alya bertubi-tubi.
          "Ya. Menurutku itu kesalahan yang sangat besar.", jawab Kak Ardi.
          "Emang apa salahnya Intan pacaran sama Adit, kak?", tanya Alya lagi.
          "Kamu nggak tau ya kalo Adit itu terkenal playboy?", tanya Kak Ardi.
          "Nggak mungkin lah kak kalo Adit itu playboy. Dia anak yang baik kok. Dia juga selalu bersikap manis.", jawab Alya.
          "Ya, emang bener apa yang kamu bilang tadi. Dia itu emang terkenal baik dan selalu bersikap manis kepada semua orang. Tapi di balik sifat baik dan sikapnya yang manis ke semua orang itu dia juga terkenal playboy dan suka mempermainkan perasaan cewek. Dia juga sering ngePHPin banyak polwan di kantor.", kata Kak Ardi panjang lebar.
          "Kok kamu bisa tau semua itu?", tanya Alya lagi.
          "Karena aku sudah mengenal Adit hampir 1 tahun. Dia juga satu kantor sama aku. Jadi aku tahu sifat dia itu kayak gimana.", jawab Kak Ardi lagi.
          "Lalu kita harus gimana dong, kak? Masa kita harus diam setelah kita tau tentang semua ini?", tanya Alya.
          "Ya untuk sementara lebih baik kita diam aja.", jawab Kak Ardi.
          "Tapi kasihan Intan, kak.", kata Alya lagi.
          "Aku tahu itu. Tapi kalo kita bilang ke Intan tentang sifatnya Adit yang kaya gitu lalu Intan nggak mau percaya sama kita kan percuma juga. Lebih baik kita biarin aja Intan tau semua ini dengan sendirinya.", kata Kak Ardi.
          "Aku jadi nggak tega kalo liat Intan sampe tahu tentang semua ini, kak.", kata Alya dengan nada khawatir.
          "Sebenarnya aku juga nggak tega liat Intan dipermainin sama Adit. Tapi mau gimana lagi. Mungkin kalo Intan tau dengan sendirinya itu akan lebih baik. Kita biarkan aja  semuanya berjalan dengan sendirinya.", jawab Kak Ardi.
          "Iya deh.", jawab Alya singkat.
          Setelah hampir setengah jam aku dan Adit nungguin mereka berdua akhirnya mereka berdua balik juga.
          "Dari mana aja kalian kok lama banget sih?", tanyaku pada Alya.
          "Nggak kemana-mana kok, tan. Cuma ada urusan sebentar.", jawab Alya dan Kak Ardi pun hanya tersenyum.
          "Ini kalian makannya udah selesai apa belum?", tanya Kak Ardi.
          "Udah kok, kak.", jawabku.
          "Ya udah aku bayar ini semua dulu ya.", kata Kak Ardi ke kita semua.
          "Jangan kak biar aku aja. Kan kemarin Kak Ardi udah bayarin aku. Sekali-kali aku yang bayar nggak apa-apa kan?", tanyaku ke Kak Ardi.
          "Ya udahlah, dek. Terserah kamu aja.", jawab Kak Ardi.
          Setelah aku membayar semuanya ke kasir, aku kembali ke meja.
          "Setelah ini kita mau jalan kemana lagi?", tanyaku ke semua.
          "Pulang aja lah, tan. Lagian udah malam juga.", kata Alya.
          "Ya udah deh kalo gitu.", jawabku singkat.
          Ketika di parkiran.
          "Aku sama Kak Ardi balik dulu ya.", kata Alya.
          "Entar kalo kalian nggak lagi sibuk kita kumpul-kumpul bareng lagi ya.", sambung Kak Ardi.
          "Iya deh. Hati-hati di jalan ya, al.", kataku pada Alya dan Kak Ardi.
          "Ok Intan.", jawab Alya dan Kak Ardi bersamaan.
          Sepeninggalan Alya dan Kak Ardi, aku pun juga pulang bersama Adit.
          "Kita pulang yuk, yank.", ajak Adit.
          "Ayo. Lagian juga udah malam.", jawabku.
          Sesampainyan di rumah.
          "Makasih ya udah ngajakin aku ketemu sama Alya dan pacarnya.", kata Adit.
          "Iya sama-sama. Kamu nggak mampir dulu?", tanyaku.
          "Nggak usah lah, yank. Lain kali aja. Kan udah malam. Jadi aku langsung pulang aja ya.", kata Adit.
          "Ya udah deh. Hati-hati di jalan ya. Entar kalo udah sampe rumah hubungin aku.", kataku.
          "Ok sayangku.", jawab Adit.
          Beberapa minggu ini aku merasakan ada hal yang aneh pada Adit. Padahal terakhir aku ketemu dia minggu lalu dia masih bersikap baik dan manis padaku. Tapi kenapa akhir-akhir ini dia sama sekali nggak ada kabar. Padahal sesibuk apapun dia selalu memberi kabar padaku. Aku pun hanya berpikir positif saja.
          "Mungkin dia lagi sibuk dengan pekerjaannya sampai dia lupa ngasih kabar ke aku.”, kataku dalam hati.
          Tapi semakin lama aku makin nggak bisa memaklumin sifat Adit yang sangat berbeda dari biasanya. Seolah-olah dia hilang tanpa meninggalkan jejak apapun. Sampai suatu hari aku memutuskan bertemu dengan Alya untuk menceritakan semua perubahan sifat Adit akhir-akhir ini.
          "Al, kenapa ya sikap Adit jadi berubah gitu akhir-akhir ini ke aku?", curhatku ke Alya.
          "Maksud kamu berubah kayak gimana, tan?", tanya Alya dengan nada bingung.
          "Iya berubah gitu. Dia akhir-akhir ini sama sekali nggak pernah ngasih kabar apapun ke aku. Bisa dibilang dia tu kayak hilang ditelan bumi. Nggak pernah ada kabarnya.", kataku lagi.
          "Mungkin dia lagi sibuk banget kali, tan.", jawab Alya.
          "Iya aku ngerti kalo dia sibuk. Tapi dia sesibuk apa sih sampe nggak pernah ngasih kabar ke aku?", tanyaku cemberut.
          "Sabar aja ya, tan. Kalo dia udah nggak sibuk pasti dia langsung hubungin kamu kok.", kata Alya yang berusaha menenangkanku.
          "Iya al aku juga berusaha berfikir positif aja. Makasih ya, al.", kataku.
          "Makasih untuk apa, tan?", tanya Alya.
          "Makasih karena kamu udah bisa membuatku lebih tenang.", jawabku.
          "Iya sama-sama, tan. Aku percaya dia nggak akan ngelupain kamu kok.", kata Alya yang berusaha untuk meyakinkanku.
          "Ya semoga saja begitu ya, al.", jawabku.
          "Ya udah kalo kamu udah lebih tenang. Kita pulang yuk. Aku anterin kamu.", kata Alya.
          "Makasih banyak ya, al. Jadi ngerepotin kamu.", kataku
          "Udahlah. Nggak jadi masalah kali, tan. Kita pulang sekarang ya, tan", jawab Alya dengan santai.
          "Iya deh.", jawabku pendek.
          Beberapa hari kemudian Alya meminta Kak Ardi untuk menemuinya.
          "Kak, maaf ya aku jadi ngerepotin kamu.", kata Alya.
          "Nggak ngerepotin kok, dek. Kebetulan aku hari ini juga nggak terlalu sibuk.", jawab Kak Ardi.
          "Makasih ya.", jawab Alya.
          "Iya. Emang kamu mau ngomongin soal apa? Kelihatannya kok penting banget? Ada apa?", tanya Kak Ardi.
          "Iya. Ini memang sangat penting. Intan tadi nemuin aku dan cerita tentang perubahan sikapnya Adit akhir-akhir ini, kak.", cerita Alya.
          "Emang sikap Adit akhir-akhir ini tu kayak gimana?", tanya Kak Ardi lagi.
          "Dia nggak pernah ngasih kabar lagi ke Intan. Tapi aku udah coba tenangin Intan sih dan alhamdulillah Intan bisa lebih tenang dari sebelumnya.", kata Alya.
          "Ya bagus deh kalo Intan udah bisa lebih tenang.", kata Kak Ardi.
          "Aku jadi nggak tega ngeliat Intan kayak gini.", kata Alya.
          "Aku sebenarnya juga sama kayak kamu. Aku juga nggak tega kalo ngeliat Intan disakiti sama Adit. Tapi ya mau gimana lagi. Lebih baik kita biarin aja Intan tau semua ini dengan sendirinya.", kata Kak Ardi.
          "Iya deh. Meskipun aku masih saja nggak tega ngeliatnya tapi lebih baik Intan tau dengan sendirinya.", jawab Alya lagi.
          Beberapa hari kemudian Alya main ke rumahku.
          "Abis dari mana, tan?", tanya Alya yang ternyata sudah menungguku di teras rumahku.
          "Eh Alya. Udah lama nunggu ya?", tanyaku lagi.
          "Oh nggak kok. Baru 15 menitan lah. Lagian di rumah juga nggak ngapa-ngapain jadi aku ke sini deh.", kata Alya.
          "Oh gitu. Ya udah kita masuk yuk.", ajakku.
          “Ayo.”, jawab Alya singkat.
          Di ruang tamu......
          “Mau minum apa, al?”, tanyaku pada Alya.
          "Terserah kamu aja lah, tan. Aku mah apa aja boleh.", jawabnya singkat.
          "Ya udah aku ke dapur dulu ya.", kataku.
          Setelah aku selesai membuat minuman untuk Alya, aku segera kembali ke ruang tamu.
          "Nih al minumannya.", kataku.
          "Makasih ya, tan.", jawab Alya singkat.
          "Oh ya tan gimana dengan Adit? Udah ada kabar apa belum?", tanya Alya memulai pembicaraan.
          "Belum ada, al. Nggak tau lah, al. Aku udah capek dengan semua ini.", jawabku dengan nada kesal.
          "Sabar aja lah, tan. Entar juga dia bakal hubungin kamu lagi kok.", kata Alya.
          "Terserah dia aja lah, al. Dia nggak mau hubungin aku lagi ya terserah dia. Aku udah males.", jawabku kesal.
          "Sabar sayang.", kata Alya yang berusaha menenangkanku.
          "Iya al.", jawabku singkat.
          "Oh iya tan aku pulang dulu ya.", kata Alya.
          "Lho cepet banget, al. Mau kemana kamu?", tanyaku.
          "Nggak kemana-mana sih. Ya pingin pulang aja. Kapan-kapan aku main kesini lagi deh.", kata Alya.
          "Ya udah deh.", jawabku singkat.
          "Kalo gitu aku pulang dulu ya, tan. Bye sayang.", kata Alya sambil tertawa.
          "Iya. Bye juga.", jawabku singkat sambil tersenyum.
          Beberapa hari kemudian Alya mengajakku jalan-jalan untuk sekedar cuci mata.
          "Kita mau ke mana sih, al?", tanyaku pada Alya.
          "Udah lah ikut aku aja. Yang penting kita jalan-jalan. Kamu mau kan?", tanya Alya.
          "Ya udah deh. Terserah kamu aja lah, al.". jawabku.
          Alya pun mengajakku jalan-jalan ke sebuah mall dan Alya juga mengajakku makan siang.
          "Mau makan apa, tan?", tanya Alya.
          "Terserah kamu aja lah, al.", jawabku.
          "Perasaan jawabanmu dari dulu kok terserah aku mulu sih? Sekali-kali kamu milih sendiri napa?", tanya Alya heran.
          "Ya nggak lagi pingin milih aja. Jadi terserah kamu aja ya.", jawabku sambil tersenyum.
          "Ya udah deh. Aku pesen makanan dulu ya.", kata Alya.
          "Ok.", jawabku singkat.
          Ketika makanannya sudah datang, Alya pun menyuruhku untuk segera makan.
          "Silahkan dimakan, tan.", kata Alya.
          "Ok al.", jawabku singkat.
          Kita pun segera menghabiskan makanan yang kita pesan karena Alya mau mengajakku untuk ketemu Kak Ardi. Tapi ketika Alya sedang makan tiba-tiba Alya menghentikan makannya. Sepertinya dia kaget banget karena melihat sesuatu.
          "Lho kok berhenti, al? Ada apa? Kamu liat apa sih kok sampe kagek banget kayak gitu?", tanyaku heran.
          "Tan, aku kok kayak liat cowok yang mirip banget sama Adit ya.", kata Alya.
          "Maksud kamu Adit juga lagi makan disini?", tanyaku lagi.
          "Iya. Soalnya cowok yang lagi makan di meja yang nggak jauh dari meja kita itu kalo dilihat dari belakang tu mirip banget sama Adit. Tapi kok dia sama cewek ya?", tanya Alya.
          "Ah kamu pasti lagi bercanda kan, al? Nggak mungkin Adit ngajak cewek kesini. Dia bukan tipe cowok yang kayak gitu. Mungkin kamu salah liat kali. Kan kamu sering banget salah liat kayak gitu.", jawabku sedikit nggak percaya dengan ucapan Alya.
          "Ok aku akuin selama ini aku sering salah liat. Tapi kali ini aku nggak mungkin salah liat. Cowok itu beneran Adit, tan. Kali ini kamu juga harus percaya sama aku.", jawab Alya meyakinkanku.
          "Kalo gitu aku samperin cowok itu dulu ya buat mastiin cowok itu beneran Adit apa bukan.", jawabku.
          "Iya.", kata Alya.
          Ketika aku sudah berada di dekat meja itu, aku menepuk pundak cowok itu.
          "Ini Adit ya?", tanyaku pada cowok itu.
          "Eh Intan. Kamu kok ada disini sih?", jawabnya ketika menoleh.
          "Kemana aja kamu selama ini kok nggak pernah ngasih kabar ke aku? Dan cewek ini siapa?", tanyaku mulai emosi.
          "Se....sebenarnya aku....", jawab Adit gugup.
          "Sayang, kamu kenal ya sama cewek ini?", tanya cewek yang sedang bersama Adit.
          "Ya aku kenal lah sama Adit. Dia kan pacar aku. Emang kamu siapanya Adit? Kok panggilnya ke Adit pake sayang-sayang gitu sih?", tanyaku heran.
          "Asal kamu tau ya Adit tu pacar aku. Dia cerita ke aku kalo kamu itu mantannya Adit beberapa tahun lalu.", jawab cewek itu.
          Jujur aku sangat kaget setelah mendengar pengakuan cewek tadi yang mengatakan kalo aku itu mantannya Adit. Aku tidak pernah menyangka jika Adit akan berbuat seperti itu. Aku pun hanya dapat meneteskan air mata karena aku tidak tau apa yang harus aku lakukan ketika perasaanku bercampur aduk antara sedih dan emosi seperti ini.
          “Terima kasih ya dit atas semua perlakuanmu ke aku selama ini. Terima kasih sudah menggoreskan luka yang cukup dalam di hatiku. Semoga kamu bisa bahagia bersama pacar barumu.”, kataku sambil menjabat tangannya sebagai ucapan selamat dan menahan air mata.
          "Tan, tunggu dulu. Aku bisa jelasin semuanya.", kata Adit sambil memegang tanganku.
          "Apa lagi yang mau kamu jelasin? Semua sudah sangat jelas. Selamat ya. Semoga kamu bahagia. Maaf aku harus pergi sekarang. Tolong lepaskan tanganku.”, jawabku dengan suara pelan.
          Aku pun segera kembali ke meja makanku. Dan di meja makan...
          “Tan, gimana tadi? Dia beneran Adit kan?”, tanya Alya tanpa memerhatikanku.
          “Al, tolong anterin aku pulang.”, pintaku
          “Lho kok ngajakin pulang sih? Kan makanan kamu belum abis.”, jawab Alya.
          “Al, sekali lagi aku minta ke kamu tolong anterin aku pulang sekarang juga.”, pintaku.
          “Lho tan kenapa kamu nangis? Sebenarnya ada apa sih?”, tanya Alya kaget ketika melihat wajahku agak merah.
          “Aku nggak bisa cerita di sini. Jadi tolong anterin aku pulang sekarang juga.”, pintaku sambil menarik lengan Alya.
          “Ok ok.”, jawab Alya.
          Kita berdua pun langsung menuju ke parkiran dan meninggalkan restoran itu. Selama perjalanan pulang aku pun hanya bisa diam 1000 bahasa. Alya pun heran dengan sikapku kali ini. Dia pun memberanikan diri untuk bertanya padaku sebenarnya apa yang telah terjadi.
          “Tan.”, kata Alya mengagetkanku.
          “Iya al. Ada apa?”, tanyaku.
          “Kamu nggak seperti biasanya.”, jawab Alya.
          “Maksudnya?”, tanyaku bingung.
          “Iya kali ini kamu beda banget. Biasanya kamu cerewet banget tapi kenapa kali ini kamu jadi diem kayak gini?”, tanya Alya heran.
          “Nggak ada apa-apa kok, al.”, jawabku seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
          “Kamu bohong kan? Udah lah mendingan kamu cerita aja ke aku sebenernya ada apa.”, kata Alya.
          “Sebenernya tadi itu............”, kataku sambil meneteskan air mata.
          “Lho kok malah nangis? Sebenernya tadi kenapa?”, tanya Alya heran.
          “Sebenernya tadi itu emang bener Adit.”, jawabku.
          “Jadi bener cowok yang tadi aku lihat lagi makan sama cewek itu Adit?”, tanya Alya.
          “Iya.”, jawabku pelan sambil menganggukkan kepala.
          “Lalu cewek yang sama Adit tadi siapa?”, tanya Alya.
          “Cewek itu bilang kalo dia pacarnya Adit.”, jawabku lagi.
          “Terus Adit bilang apa waktu cewek itu ngaku kalo dia pacarnya?”, tanya Alya.
          “Dia nggak bilang apa-apa.”, jawabku.
          “Keterlaluan banget tu cowok. Berani banget mainin perasaan cewek.”, kata Alya geram.
          “Ya udah lah, al. Biarin aja.”, jawabku.
          “Sabar ya, tan. Percayalah suatu saat kamu pasti bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik dari dia.”, kata Alya sambil meyakinkanku.
          “Makasih ya, al,”, jawabku.
          “Iya Intan. Oh iya mendingan untuk hari ini kamu istirahat dulu aja ya. Tenangin pikiranmu.”, kata Alya.
          "Kita nggak jadi ketemuan sama Kak Ardi dong?", tanyaku lagi.
          "Ya ampun intan dalam kondisi seperti ini kamu masih aja mikirin hal itu.", kata Alya sambil tersenyum.
          "Aku jadi nggak enak, al. Gara-gara aku semuanya gagal.", jawabku.
          "Udahlah kapan-kapan kita kan bisa ketemu lagi. Kalo aku ketemu Kak Ardi entar aku jelasin ke dia apa yang sebenarnya terjadi kok acara kita gagal. Kak Ardi pasti bisa ngertiin kok.", jawab Alya santai.
          Sesampainya di depan rumah........
          "Makasih ya al udah nganterin aku. Kamu nggak mampir dulu, al?" tanyaku pada Alya.
          "Iya tan. Tapi kapan-kapan aja ya aku mampirnya. Kamu istirahat yang cukup ya. Jangan mikirin yang macem-macem dulu. Ya udah kalo gitu aku pulang dulu ya, tan.", kata Alya.
          "Ya udah deh, al. Sekali lagi makasih ya. Entar kalo udah nyampek rumah hubungin aku ya.", kataku.
          "Ok Intan.", jawab Alya singkat.
          Sesampainya di kamar tanpa aku sangka mama masuk ke dalam kamarku tanpa mengetuk pintu dulu. Jujur aku kaget banget.
          "Abis jalan-jalan ya, sayang?", tanya mama.
          "Iya ma. Tadi aku diajak jalan-jalan sama Alya.", jawabku.
          "Tapi pulang-pulang kok mata kamu agak merah gitu? Kenapa?", tanya mama dengan nada khawatir.
          "Oh nggak apa-apa kok, ma. Mungkin karena tadi kena debu aja.", jawabku seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Aku nggak mau mama tau yang sebenarnya.
          "Kamu beneran nggak apa-apa kan?", tanya mama dengan nada khawatir.
          "Iya. Aku beneran nggak apa-apa, ma.", jawabku sambil tersenyum.
          "Ya udah. Kalo gitu mama tinggal ya. Kalo butuh apa-apa bilang aja ke mama.", kata mama.
          "Iya mama.", jawabku singkat.
          Malam harinya Kak Ardi mengajak Alya ketemuan.
          "Lho kamu kok datang sendiri, dek? Emang Intan kemana?", tanya Kak Ardi heran.
          "Iya kak. Intan nggak bisa ikut.", jawab Alya.
          "Lho emang kenapa?", tanya Kak Ardi.
          "Tadi siang kan aku makan siang sama Intan. Terus gara-gara Intan melihat seseorang pikirannya agak kacau gitu.", jawab Alya.
          "Emang Intan liat siapa sih?", tanya Kak Ardi.
          "Intan liat Adit lagi makan sama cewek. Karena penasaran dia langsung menghampiri Adit dan cewek itu. Dan pada saat itu juga cewek itu bilang kalo dia itu pacarnya Adit.", jawab Alya lagi.
          "Jadi Intan udah tau semuanya?", tanya Kak Ardi.
          "Iya, kak. Ya setelah kejadian itu aku melihat sepertinya Intan lagi kacau banget pikiranya. Jadi aku saranin ke dia buat nenangin pikirannya dulu dan nggak usah ketemuan sama kita dulu malam ini.", jawab Alya pendek.
          "Oh jadi gitu ceritanya?", tanya Kak Ardi lagi.
          "Iya. Oh iya kak aku besok mau ke rumah Intan lagi buat mastiin keadaan dia aja. Kamu mau kan?", tanya Alya.
          "Boleh juga tuh. Kebetulan besok aku juga nggak terlalu sibuk.", jawab Kak Ardi.
          “Ok. Makasih ya kak.”, kata Alya.
          “Iya.”, jawab Kak Ardi sambil tersenyum.
          Keesokan harinya Alya mengajak Kak Ardi untuk main ke rumah sekalian liat keadaan aku.
          "Assalamu'alaikum. Intannya ada, tante?", tanya Alya pada mama.
          "Wa'alaikum salam. Eh ada Alya. Intan di kamar tuh. Tante panggil Intan dulu ya. Silahkan masuk", jawab mama.
          "Makasih tante.", jawab Alya pendek.
          Di kamarku....
          "Sayang, ada Alya sama temennya tuh. Kamu mau nemuin mereka di luar apa mereka aja yang mama suruh ke sini?", tanya mama padaku.
          "Suruh mereka ke kamar aja lah, ma.", kataku pada mama.
          "Ya udah. Mama ke sana dulu ya.", jawab mama.
          Di ruang tamu...
          "Al, Intan minta kamu sama temen kamu aja yang ke kamarnya.", kata mama ke Alya.
          "Oh. Kalo gitu aku ke kamarnya Intan sekarang aja ya, tante.", kata Alya.
          "Iya.", jawab mama singkat.
          Di kamarku...
          "Pagi Intan cantik.", kata Alya sambil menggodaku.
          "Pagi juga Alya. Eh kamu ajak Kak Ardi juga?", tanyaku pada Alya.
          "Iya. Kata Kak Ardi dia pingin tau keadaanmu setelah aku cerita semuanya ke kak Ardi.", jawab Alya.
          "Jadi Kak Ardi udah tau semuanya?", tanyaku pada Alya.
          "Iya. Kan aku udah cerita semuanya.", jawab Alya.
          "Oh iya keadaanmu gimana, dek? Udah lebih mendingan kan?", tanya Kak Ardi padaku.
          "Ya alhamdulillah. Udah lebih mendingan.”, jawabku lagi.
          "Oh iya dek kata Alya kamu sempet mergokin Adit lagi makan sama cewek lain ya?", tanya Kak Ardi.
          "Iya kak.", jawabku.
          "Jadi kamu udah tau kalo Adit tu playboy?", tanya Kak Ardi lagi.
          "Ya.", jawabku lagi.
          "Ya udah lah dek biarin aja cowok playboy kayak Adit itu pergi. Yang sabar aja ya. Aku yakin kamu pasti bisa mendapatkan yang jauh lebih baik dari Adit.", kata Kak Ardi padaku.
          "Iya kak. Makasih. Tapi kak semenjak kejadian kemarin aku jadi benci sama cowok.", kataku dengan nada kesal.
          "Jadi termasuk aku juga dong?", tanya Kak Ardi.
          "Kalo menurutku Kak Ardi bukan tipe cowok yang kayak gitu. Aku percaya kalo Kak Ardi tu orangnya baik dan nggak mungkin nyakitin perasaan Alya. Aku berharap Kak Ardi bisa ngejagain Alya dengan baik dan jangan sampai Kak Ardi sekali-kali berani nyakitin Alya. Awas aja kalo berani.", jawabku.
          "Makasih ya kamu dan Alya udah mau percaya. Aku akan buktiin ke kalian kalo aku bukan tipe cowok yang suka mainin perasaan cewek. Aku janji sama kamu aku bakalan jagain Alya sebaik mungkin. Dan aku juga janji kalo aku nggak akan pernah sekalipun nyakitin Alya.", jawab Kak Ardi
          "Makasih ya, kak.", kata Alya ke Kak Ardi.
          "Iya. Apa sih yang nggak buat kamu.", kata kak Ardi sambil tersenyum.
          "Halah gombal. Ya udah tan berhubung keadaan kamu sekarang udah lebih mendingan dari kemarin, kita berdua pulang dulu ya.", kata Alya.
          "Lho kok buru-buru banget sih? Emang mau ke mana?", tanyaku heran.
          "Sebenarnya nggak ke mana-mana sih. Lagian kita tadi ke sini cuma buat mastiin keadaan kamu aja. Kapan-kapan aku ke sini lagi deh.", jawab Alya.
          "Makasih banyak ya.", kataku.
          “Makasih untuk apa?”, tanya Kak Ardi bingung.
          “Makasih udah ngawatirin keadaan aku. Dan makasih juga udah nyempetin dateng ke sini buat jengukin aku. Jadi ngerepotin kamu nih.”, jawabku lagi.
          "Iya tan. Nggak ngerepotin kok. Santai aja lagi. Ya udah kalo gitu kita pulang dulu ya, tan.", jawab Alya.
          “Oh iya. Hati-hati di jalan ya.”, kataku.
          “Ok Intan.”, jawab Alya dan Kak Ardi secara bersamaan.
          Semenjak kejadian itu entah kenapa aku menjadi benci banget sama yang namanya cowok apalagi seorang polisi. Bagiku semua cowok itu sama. Sama-sama playboy. Setiap ada cowok yang ingin mengenalku, pasti aku udah marah duluan. Buat apa mengenalku tapi pada akhirnya mereka pada nyakitin aku. Ya lebih baik aku sendiri aja. Untuk saat ini aku memutuskan menutup pintu hatiku untuk siapapun yang ingin mengenalku dan memilih fokus ke studiku. Sampai-sampai Alya heran dengan perubahan sifatku akhir-akhir ini.
          "Tan, sampe kapan kamu bersikap kayak gini?", tanya Alya.
          "Maksudmu sikap aku yang mana?", tanyaku lagi.
          "Ya sikap kamu yang sekarang jadi membenci cowok dan menganggap kalo semua cowok itu playboy.", jawab Alya lagi.
          "Aku juga nggak tau al sampe kapan aku akan seperti ini. Karena sekarang ini menurutku semua cowok tu sama.", jawabku.
          "Maksud kamu sama apanya?", tanya Alya.
          "Ya sama-sama playboy. Suka mainin perasaan cewek.", jawabku lagi.
          "Tuh kan kamu ngomongnya gitu lagi. Berarti menurutmu Kak Ardi sama dong dengan cowok-cowok yang lain? Kan Kak Ardi cowok juga.", tanya Alya,
          "Emang kenyataannya gitu kan. Kalo Kak Ardi ya nggak. Menurutku Kak Ardi bukan tipe cowok yang suka mainin perasaan cewek. Dia tipe cowok yang setia sama pacarnya. Jadi kamu nggak usah khawatir. Aku percaya kalo Kak Ardi tu sayang banget sama kamu dan dia juga akan selalu jagain kamu.", jawabku.
          "Aku berharap Kak Ardi nggak akan pernah nyakitin aku. Aku juga berharap Kak Ardi bisa ngebuktiin janjinya itu.", jawab Alya.
          Pada suatu hari ketika aku lagi makan siang sendiri, tiba-tiba ada seorang cowok yang tanpa sengaja menyenggol minumanku di atas meja.
          "Ih mas gimana sih. Makannya kalo jalan liat-liat dong biar nggak nyenggol-nyenggol kayak gitu. Jadi tumpah kan minumanku.", kataku pada cowok itu dengan nada kasar sambil membersihkan air yang tumpah di meja.
          "Ya ampun maaf ya, mbak. Aku beneran nggak sengaja. Sini biar aku bantuin.", jawab cowok itu.
          Tanpa sengaja tanganku menyenggol tangan cowok itu. Dan aku juga sempat melihat cowok itu. Ternyata dia adalah seorang polisi yang tampan banget. Bahkan ketampanannya bisa dikatakan melebihi ketampanannya Adit. Aku juga sempat kaget dan kagum melihat ketampanannya. Tapi kali ini aku nggak boleh tertipu dengan cowok tampan seperti dia. Aku tetap saja bersikap kasar padanya agar dia beranggapan kalo aku sangat membencinya.
          "Nggak usah. Makanya kalo jalan liat-liat dong mas biar nggak nabrak.", kataku dengan nada sedikit marah.
          "Iya mbak aku minta maaf. Aku beneran nggak sengaja tadi. Ya udah biar aku aja yang bayar ya.", jawabnya lagi.
          "Nggak usah repot-repot. Makasih. Aku bisa bayar sendiri kok.", ucapku dengan kasar sambil pergi meninggalkannya.
          "Mbak.....mbak.....jangan pergi dulu. Ada yang mau aku tanyain.", teriak cowok itu tapi sayangnya suara itu tidak aku hiraukan karena aku udah keburu pergi duluan.
          Sesampainya di depan rumah, aku kaget karena Alya sudah menungguku di teras rumah.
          "Loh tan kamu kok kayak abis marah gitu sih? Emangnya kamu abis marah sama siapa?", tanya Alya heran.
          “Mendingan ceritanya di dalam aja ya. Ayo kita masuk.”, ajakku.
          “Ayo.”, jawab Alya.
          Di ruang tamu........
          “Duduk dulu, al. Mau minum apa?’, tanyaku.
          “Terserah kamu aja deh.”, jawab Alya.
          “Ya udah tunggu sebentar ya.”, jawabku sambil menuju ke dapur.
          Sesampainya di ruang tamu.........
          “Nih al minumnya. Silahkan diminum.”, kataku.
          “Makasih ya, tan.”, jawab Alya sambil meminum jus jeruk itu.
          Baru sedikit saja Alya meminum jus itu, tiba-tiba dia meletakkan gelas itu di meja sambil menngedip-ngedipkan matanya.
          “Lho kamu kenapa, al?”, tanyaku heran.
          “Asem banget tan jusnya.”, jawab Alya.
          “Ya ampun tadi lupa nggak aku kasih gula. Gara-gara pikiranku agak kacau nih jadi lupa aku kasih gula. Ya udah aku kasih dulu ya.”, kataku sambil membawa gelas itu.
          “Oh nggak usah, tan. Ini juga malah seger kok.”, jawab Alya.
          “Beneran nih?”, tanyaku.
          “Iya.”, jawab Alya.
          “Ya udah kalo gitu.”, jawabku.
          “Oh iya ngomong-ngomong kamu lagi mikirin apa sih kok sampe lupa nggak dikasih gula?”, tanya Alya.
          "Tadi tu ya kan aku lagi makan terus ada cowok lewat di sebelahku dan nyenggol minuman aku sampe tumpah. Nyebelin banget tau.", jawabku kesal.
          "Kamu tau siapa namanya?", tanya Alya.
          "Ya nggak lah. Orang pas dia mau bantuin aku ngumpulin pecahan gelas yang pecah tadi dia udah aku marahin duluan. Jadi ya nggak pake kenalan.", jawabku.
          "Kamu sih keburu marah duluan.", jawab Alya.
          "Biarin aja. Lagian dia yang numpahin minuman aku ya otomatis aku marah. Tapi aku sempet liat wajah dia.", jawabku.
          "Emang dia kayak gimana?", tanya Alya penasaran.
          "Kalo dibilang ganteng dia emang ganteng sih. Bahkan dia bisa dikatakan lebih ganteng dari Adit.", jawabku lagi.
          "Cie.....jangan-jangan entar kamu bakalan jatuh cinta sama dia, tan.", goda Alya.
          "Ha? Jatuh cinta? Ya nggak mungkin lah. Orang dia nyebelin banget. Aku benci banget sama dia.", jawabku sambil cemberut.
          "Jangan bilang gitu dulu, tan. Entar benci jadi cinta lho.", ledek Alya.
          "Apa? Jadi cinta? Ya nggak mungkin lah, al. Aku tu nggak bakalan ketipu sama yang kayak gitu-gituan. Udah lah al jangan ngomongin itu mulu. Males tau. Ganti topik aja.", kataku.
          "Emang mau ngomongin apaan lagi?", tanya Alya.
          "Ya apa aja. Yang penting jangan ngomongin cowok itu lagi.", jawabku.
          "Ngomongin apa ya? Aku jadi bingung nih, tan.", jawab Alya.
          "Aku juga lebih bingung lagi gara-gara kejadian tadi. Ya udah lah daripada kita bingung mendingan kita nonton film aja yuk. Aku ada film bagus.", kataku.
          "Ya udah deh. Lagian aku juga udah lama nggak nonton film.", jawab Alya lagi.
          "Ya udah kalo gitu ikut aku ke kamar yuk.", jawabku.
          "Ok deh.", jawab Alya singkat.
          Setelah hampir 2 jam aku dan Alya nonton film, Alya pun pamit pulang.
          "Wah bagus tan filmnya tadi. Kok kamu nggak pernah bilang ke aku sih kalo kamu punya film bagus?", tanya Alya.
          "Ya biarin aja. Kapan-kapan kalo kamu lagi nggak sibuk kita nonton lagi ya.", kataku.
          "Ok deh. Kalo gitu aku pulang dulu ya, tan. Udah sore banget nih. Entar mama nyariin aku lagi.", jawab Alya.
          "Hati-hati di jalan ya. Entar kalo udah nyampek rumah sms aku ya.", kataku.
          "Kalo itu mah pasti.", jawab Alya.
          Suatu hari ketika aku lagi free, aku pun jalan-jalan ke sebuah taman. Dan ketika aku sedang jalan-jalan, tiba-tiba ada seorang cowok yang menabrakku.
          "Ya ampun maaf ya mbak aku beneran nggak sengaja.", kata cowok itu sambil meminta maaf.
          "Hiih dari kemarin sampe hari ini kok ada aja sih yang suka ganggu aku? Kemarin ada yang numpahin minuman aku waktu aku makan. Terus hari ini ada yang nabrak aku. Besok apa lagi coba.", ucapku dengan nada kesal.
          "Mbak, aku beneran nggak sengaja. Aku minta maaf ya.", jawabnya lagi.
          Ketika aku mendongakkan kepalaku untuk melihat siapa cowok yang menabrakku tadi ternyata cowok itu adalah cowok yang numpahin minumanku kemarin. Bedanya hanya waktu itu dia pake seragam tapi kali ini dia pake baju biasa. Aku makin kesal melihatnya.
          "Kamu lagi kamu lagi. Mau kamu apaan sih? Hobi banget nabrak aku.", gerutuku padanya.
          "Maaf deh mbak. Aku beneran nggak sengaja, mbak. Mau kan maafin aku?", tanyanya.
          "Iya iya aku maafin kamu.", jawabku.
          "Makasih ya, mbak. Kita cari tempat duduk yuk buat ngobrol-ngobrol.", jawabnya senang sambil menarik tanganku.
          "Ih apaan sih. Nggak usah pegang-pegang gitu deh. Aku nggak suka.", jawabku.
          "Oh iya. Maaf ya mbak. Aku nggak sengaja. Soalnya aku sering refleks kayak gitu. Maaf ya.", katanya lagi.
          "Iya.", jawabku pendek.
          Setelah kita mendapatkan tempat duduk, dia memulai pembicaraan.
          "Oh iya mbak namanya siapa?", tanyanya.
          "Namaku Intan. Kalo kamu siapa?", tanyaku.
          "Oh kenalin namaku Aldiansyah Dwi Kurniawan. Panggil aja aku Aldi.", jawabnya.
          "Oh.", jawabku pendek.
          "Cuek banget sih mbak?", tanyanya lagi.
          "Biarin aja. Emang masalah?", tanyaku cuek.
          "Ya enggak juga sih. Ngomong-ngomong kamu tinggal di mana?", tanyanya lagi.
          "Ya di rumahku sendiri lah.", jawabku masih cuek.
          "Iya aku juga tau kalo itu.", jawabnya.
          "Kalo tau kenapa masih tanya-tanya?", jawabku agak kesal.
          "Maksudku alamatnya di mana?", tanyanya lagi.
          "Buat apa tanya-tanya alamat segala?", tanyaku.
          "Ya pingin tau aja boleh kan?", tanyanya.
          "NGGAK.", jawabku singkat.
          "Ya udah deh kalo aku nggak boleh tau.", jawabnya lagi.
          "Udah kan tanya-tanyanya? Kalo gitu aku pulang dulu.", jawabku.
          "Boleh aku anterin nggak?", tanyanya lagi.
          "NGGAK BOLEH.", jawabku singkat.
          "Ya udah deh kalo nggak boleh. Kalo gitu sampai ketemu lagi ya, cantik.", ucapnya sambil tersenyum
          "Ngomong apa kamu? Nggak ada ketemuan lagi. Aku pastikan ini adalah pertemuan kita yang terakhir kali. Ngerti!!!!!", jawabku dengan nada kesal. Dia pun hanya tersenyum melihat ekspresiku.
          Malam harinya Alya menyuruhku untuk main ke rumahnya.
          "Al, aku mau cerita nih. Boleh ya?", tanyaku.
          "Boleh aja. Emang kamu mau cerita apa? Emang ada kejadian apa lagi hari ini?", tanya Alya.
          "Tadi waktu aku jalan-jalan di taman, aku tu ditabrak sama cowok lagi.", jawabku.
          "Emang cowok itu siapa?", tanya Alya penasaran.
          "Kamu masih ingat kan sama cowok yang pernah nyenggol minumanku itu yang pernah aku ceritain ke kamu dulu?", tanyaku.
          "Iya aku masih ingat. Emang ada hubungannya ya kejadian tadi sama cowok itu?", tanya Alya lagi.
          "Ya ada. Karena yang nabrak aku di taman tadi tu ya cowok itu lagi, al.", jawabku kesal.
          "Cie.....Intan. Jangan-jangan bener nih, tan.", goda Alya.
          "Jangan-jangan apa? Apanya yang bener?", tanyaku heran.
          "Jangan-jangan bener feelingku selama ini kalo kalian tu emang bener-bener jodoh.", jawab Alya sambil tertawa.
          "Ha?? Apa kamu bilang? JODOH?", tanyaku lagi.
          "Iya, Intan. Udah 2 kali kan kamu ketemu dia.", jawab Alya.
          "Ya nggak mungkin lah, al. Jangan ngarang cerita gitu deh kamu. Aku tu benci banget sama dia.", jawabku cemberut.
          "Iya aku tau kamu benci banget sama dia. Tapi jangan benci-benci banget ya, tan. Entar malah jadi cinta lagi.", ledek Alya.
          "Udah lah al jangan ngomongin cowok itu terus aku jadi capek dengernya. Ngomongin yang lain aja ya.", jawabku lagi.
          "Ya udah deh. Oh iya tan aku hampir aja lupa. Kemarin Kak Ardi bilang ke aku kalo dia mau ngajak kita makan malam.", kata Alya.
          "Emang kapan, al? Terus makan malam dalam rangka apa?", tanyaku heran.
          "Katanya sih dia mau ngenalin temen deketnya ke kita. Malam minggu ini katanya. Kamu pasti mau datang kan?", tanya Alya padaku.
          "Kalo nggak sibuk aku usahain untuk datang.", jawabku singkat.
          "Nah gitu dong, tan. Info lebih lanjutnya entar aku kasih tau deh.", jawab Alya lagi.
          "Info lebih lanjut? Kayak berita aja.", jawabku sambil tertawa.
          "Sekali-kali ya nggak apa-apa kan?", tanya Alya.
          "Iya. Nggak apa-apa kok.", jawabku singkat.
          "Ya udah kalo gitu aku balik dulu ya, tan. Entar dicariin sama mamaku lagi.", jawab Alya.
          "Ya udah deh. Hati-hati di jalan ya. Entar kalo udah sampe rumah jangan lupa ya.", kataku.
          "Jangan lupa apa, tan?, tanya Alya sedikit bingung.
          "Kayak biasanya.", jawabku lagi.
          "Oh itu. Iya iya aku nggak mungkin lupa kok. Tenang aja. Aku pulang dulu ya, tan.", jawab Alya.
          "Iya. Hati-hati ya.", jawabku.
          Sabtu sore, Alya pun sms aku.
          "Tan, kamu nggak lupa sama janji kita kan?", tanya Alya.
          "Emang janji yang mana sih, al?", tanyaku pura-pura nggak tau.
          "Yah kamu mah gitu. Janji kita buat makan malam sama Kak Ardi itu lho. Masa kamu lupa sih?", tanya Alya.
          "Aku nggak lupa kok. Emang entr malam jadi jam berapa?", tanyaku lagi.
          "Jam 8 tepat. Nggak boleh telat lho ya.", balas Alya.
          "Emang kalo aku telat kamu mau apain?", tanyaku lagi.
          "Aku suruh kamu pulang lagi.", balas Alya dengan emoticon tertawa lebar.
          "Oh kalo gitu aku nggak usah berangkat sekalian aja ya?", tanyaku lagi.
          "Jangan gitu lah, tan. Aku tadi tu cuma bercanda aja. Jadi jangan dimasukin ke hati ya.", balas Alya.
          "Iya, al. Aku tau kok kalo kamu itu suka banget bercanda. Jadi aku ya nggak kaget lagi dengan sifatmu yang satu ini.", balasku lagi.
          "Makasih ya, tan. Kamu tu paling bisa ngertiin aku. Entar jangan lupa jam 8 tepat lho ya.", balas Alya.
          "Iya sayang.", balasku lagi.
          Malam itu jam menunjukkan tepat pukul 8, aku pun sampai di restoran tempat aku dan Alya janjian.
          “Eh Alya. Tumben kamu datangnya awal banget. Pasti seneng ya mau makan malam sama Kak Ardi?”, tanyaku pada Alya.
          “Iya lah tan. Jarang-jarang aku bisa makan malam bareng Kak Ardi sama kamu juga.”, jawab Alya senang.
          “Iya juga sih. Kan Kak Ardi sibuk banget ya. Nggak kayak kita. Tapi Kak Ardi kok belum dateng juga ya?”, tanyaku pada Alya.
          “Mungkin lagi kejebak macet, tan. Maklumlah ini kan malam minggu otomatis jalanan pasti rame kan.”, jawab Alya.
          “Oh iya sampe lupa aku.”, jawabku sambil menempelkan telapak tanganku di keningku.
          “Yah kamu mah emang pelupa. Ya udah kita tunggu aja. Bentar lagi mereka juga nyampe.”, kata Alya.
          15 menit kemudian mereka pun datang.
          “Nah itu Kak Ardi datang.”, kata Alya dengan nada yang sangat senang.
          “Selamat malam.”, sapa Kak Ardi ke kita berdua.
          “Selamat malam juga, Kak Ardi.”, jawabku dan Alya bersamaan.
          “Kalian udah lama nunggu ya?”, tanya Kak Ardi.
          “Ya lumayan lah, kak. Oh iya temenmu kemana? Katanya kamu ke sini sama temenmu tapi dia kok nggak ada?”, tanya Alya heran.
          “Oh dia tadi balik lagi ke parkiran. Katanya handphonenya ketinggalan di mobil jadi dia balik lagi buat ambil handphonenya.”, jawab Kak Ardi.
          “Oh gitu.”, jawab Alya pendek.
          “Nah itu dia.”, kata Kak Ardi sambil melambaikan tangan ke arah temannya.
           Aku dan Alya pun menoleh untuk melihat siapa sebenarnya teman Kak Ardi itu dan melihat seperti apa dia. Setelah mengetahui siapa sebenarnya teman Kak Ardi, akupun sangat kaget.
          “Oh iya kenalin ini temenku. Namanya Aldiansyah Dwi Kurniawan.”, kata Kak Ardi sambil memperkenalkan temannya itu kepadaku dan Alya.
          “Lho kamu? Kamu yang pernah numpahin minuman aku waktu di restoran dan yang pernah nabrak aku waktu di taman itu kan?”, tanyaku dengan nada kaget.
          “Eh kamu. Iya. Aku memang cowok yang kamu maksud. Soal kejadian kemarin aku minta maaf ya. Aku bener-bener nggak sengaja.”, jawab cowok itu sambil tersenyum.
          “Lho kalian udah saling kenal?”, tanya Alya dan Kak Ardi secara bersamaan.
          “Iya, al. Cowok ini adalah cowok yang nyebelin yang pernah aku ceritain ke kamu itu.”, jawabku mulai emosi.
          “Oh bagus deh kalo kalian memang udah saling kenal sebelumnya. Padahal aku pingin banget ngenalin kalian berdua. Tapi kalo kalian udah saling kenal ya itu lebih baik.”, kata Kak Ardi sambil tersenyum.
          “Apa-apaan ini? Jadi niat kakak ngundang aku ke sini cuma pingin ngenalin aku sama cowok nyebelin ini?”, tanyaku dengan penuh emosi.
          “Iya, tan.”, jawab Alya dan Kak Ardi secara bersamaan.
          BRAK!!!! Tanpa pikir panjang aku langsung menggebrakkan tangan di meja makan itu. Sontak mereka bertiga sangat kaget melihat apa yang aku lakukan.
          “Kalo tau gini mendingan aku nggak usah datang tadi. Buang-buang waktu aja.”, kataku dengan sangat emosi sambil beranjak dari kursi itu.
          “Intan, dengerin dulu. Aku mau ngejelasin semuanya.”, kata Alya sambil mencegahku.
          “Nggak ada yang perlu dijelasin. Semua udah jelas.”, kataku sambil pergi meninggalkan mereka bertiga.
          “Intan.....tunggu dulu.”, teriak Alya. Tapi sayangnya teriakan itu tidak aku hiraukan.
          Sepeninggalanku.......
          “Al, maafin Intan ya kalo sikapnya agak nggak ngenakin hati gitu. Tapi sebenernya dia anak baik kok. Mungkin dia lagi emosi aja tadi.”, kata Kak Ardi dengan raut wajah sedikit kecewa.
          “Iya. Santai aja lagi.”, jawab Kak Aldi.
          “Aku juga minta maaf kalo makan malam kali ini berantakan gara-gara sikap Intan tadi. Sekali lagi maaf ya, kak.”, kata Alya sambil minta maaf.
          “Iya. Nggak apa-apa kok, dek. Biasa aja kali.”, jawab Kak Aldi sambil tersenyum.
          “Kapan-kapan aku ajakin kamu ketemuan lagi deh sama Intan. Itupun kalo kamu mau.”, kata Kak Ardi.
          “Boleh-boleh aja.”, jawab Kak Aldi sambil tersenyum.
          Setelah semua makanan habis, mereka bertigapun langsung pulang.
          “Ar, aku pulang duluan ya.”, kata Kak Aldi kepada Kak Ardi.
          “Ya udah hati-hati di jalan ya.”, pesan Kak Ardi.
          Setelah itu, Alya dan Kak Ardi pun langsung pulang. Sesampainya di depan rumah Alya........
          “Dek, makasih ya udah mau datang ke acara makan malamku walaupun acaranya agak berantakan tadi.”, kata Kak Ardi.
          “Nggak apa-apa kok, kak. Lain kali kan bisa makan malam lagi.”, jawab Alya sambil tersenyum.
          “Ya udah kalo gitu aku mau pulang dulu ya. Lagian juga udah malem.”, kata Kak Ardi sambil berpamitan.
          “Ok. Hati-hati di jalan ya, kak. Entar kalo dah nyampe rumah sms aku ya.”, kata Alya.
          “Siap 86.”, kata Kak Ardi sambil tersenyum.
          Beberapa hari setelah aku ketemuan dengan Kak Aldi, tiba-tiba ada sms dari nomer yang tidak pernah aku kenal sebelumnya.
          “Assalamu’alaikum cantik. Apa kabar? Lagi ngapain nih? Aku ganggu kamu nggak?”, bunyi sms itu.
          “Wa’alaikum salam. Alhamdulillah baik. Nggak lagi ngapa-ngapain aku. Emang kenapa? Ini siapa?”, balasku.
          “Masa lupa sih sama aku?”, balasnya lagi.
          “Gimana aku bisa tau siapa kamu kalo kamu nggak ngasih tau ke aku.”, balasku dengan ketus.
          “Aku cowok yang kemarin diajakin Kak Ardi buat ketemuan sama kamu.”, balasnya lagi.
          “Kamu???? Dapat nomerku dari mana? Kenapa sih kamu selalu gangguin aku? Mau kamu apa?”, tanyaku mulai emosi.
          “Aku cuma pingin kenal kamu aja kok. Nggak boleh ya?” balasnya.
          “Waktu itu udah kenalan, jadi nggak ada yang perlu ditanyakan lagi. Maaf aku lagi sibuk.”, jawabku cuek. Tanpa pikir panjang aku langsung menonaktifkan handphoneku.
          Sore harinya Alya main ke rumahku.
          “Tan, kamu ke mana aja sih? Aku sms kok nggak dibales sama sekali?”, tanya Alya.
          “Maaf ya, al. Bukannya aku nggak mau bales smsmu. Tapi handphone aku sengaja aku nonaktifin.”, jawabku.
          “Lho emang kenapa musti dinonaktifin sih? Kalo ada sms penting gimana?”, tanya Alya.
          “Biarin aja. Soalnya ada cowok nyebelin yang sms aku.”, jawabku ketus.
          “Cowok nyebelin? Emang cowok itu siapa?”, tanya Alya penasaran.
          “Temennya Kak Ardi itu lho, al. Aku juga nggak tau dia dapet nomer aku dari mana.”, jawabku.
          “Oh Kak Aldi. Mungkin dia suka sama kamu.”, kata Alya sambil tersenyum.
          “Apa kamu bilang? Suka? Ya nggak mungkin lah, al. Lagian kemarin kan sikap aku ke dia kan seolah-olah aku benci sama dia. Aku sengaja bersikap seperti itu biar tu anak illfeel sama aku terus nggak gangguin aku lagi deh.”, jawabku lagi.
          “Itu kan menurut kamu. Tapi kalo dia menyukai sikap jutekmu itu gimana?”, tanya Alya.
          “Alya, mana ada sih cowok yang suka sama cewek yang punya sikap jutek kayak gini? Kayaknya nggak ada dan nggak akan pernah ada deh.”, jawabku.
          “Kalo dia nggak suka sama sikap jutekmu itu nggak mungkin kan dia selalu senyum ketika dia ketemu sama kamu? Dan nggak mungkin juga kan dia ngepoin kamu sampe-sampe dia punya nomer kamu?”, tanya Alya yang seolah-olah mengajakku berdebat.
          “Udah lah, al. Aku capek ngomongin itu terus. Kayak nggak ada hal lain yang bisa diomongin aja.”, jawabku ketus.
          “Abisnya kamu tadi yang ngomongin itu duluan. Jadi aku tanggepin deh. Tapi kalo tanggapanku membuatmu kesel aku minta maaf ya. Ya udah kita ngomongin yang lain aja ya.”, ajak Alya.
          “Ok.”, jawabku pendek.
          Belum juga kita ngomongin apa-apa eh tiba-tiba handphonenya Alya berbunyi.
          “Dek, aku boleh minta tolong nggak?”, bunyi sms itu.
          “Boleh. Tapi entar aja ya, kak. Soalnya aku lagi di rumah Intan ini.”, balas Alya.
          “Ok. Sebelumnya makasih ya, dek.”, bunyi sms itu lagi.
          “Sama-sama, kak.”, balas Alya.
          Aku penasaran sebenarnya Alya sedang smsan sama siapa. Tapi ya sudahlah. Mungkin itu sms dari Kak Ardi.
          “Dari siapa sih, al?”, tanyaku penasaran.
          “Biasa dari Kak Ardi. Kamu tau sendiri kan dia tu bisa galau kalo sehari nggak sms aku.”, jawab Alya dengan tenang.
          “Bisa aja Kak Ardi.”, kataku sambil tertawa.
          “Iya tuh. Oh ya tan udah malam juga nih. Aku pulang ya.”, kata Alya.
          “Iya nih nggak kerasa udah malam aja. Gara-gara keasyikan ngobrol nih jadi lupa waktu deh.”, kataku.
          “Ya udah aku pulang dulu ya, tan. Assalamu’alaikum.”, kata Alya.
          “Wa’alaikum salam. Entar kalo dah nyampe rumah sms aku ya.”, kataku.
          “Apa?? Sms kamu?”, tanya Alya heran.
          “Iya. Kayak biasanya. Kamu udah lupa ya?”, tanyaku lagi.
          “Kamu lupa ya kalo handphonemu kamu nonaktifin?”, tanya Alya balik.
          “Oh iya aku lupa. Ya udah entar aku aktifin deh.”, jawabku.
          “Masih muda udah lupa. Jangan-jangan karena mikirin Kak Aldi ya makanya kamu jadi lupa gitu?”, goda Alya.
          “Ih apa sih, al. Ya enggak lah.”, jawabku.
          “Nggak salah kan?”, goda Alya lagi.
          “Alya, apaan sih.”, jawabku sambil cemberut.
          “Maaf deh. Jangan cemberut gitu ah. Jelek tau.”, kata Alya sambil tertawa.
          “Al, udah dong. Jangan bercanda kayak gitu.”, kataku yang masih saja dengan wajah cemberut.
          “Iya deh. Maaf ya sayang. Ya udah klo gitu aku pulang dulu ya. Bye.”, kata Alya.
          “Bye.”, jawabku singkat.
          Sesampainya di rumah..............
          “Kak, aku udah di rumah.”, kata Alya kepada seseorang di sms.
          Tiba-tiba seseorang yang mengirim pesan ke Alya tadi menelponnya.
          “Assalamu’alaikum, dek.”, kata seseorang di seberang telpon.
          “Wa’alaikum salam, kak. Tumben Kak Aldi telpon. Ada apa, kak?”, tanya Alya.
          Ternyata cowok itu Kak Aldi yang tidak lain adalah teman Kak Ardi yang beberapa waktu lalu bertemu denganku.
          “Aku ganggu nggak?”, tanya Kak Aldi.
          “Nggak kok, kak. Oh iya bukannya Kak Aldi tadi mau minta tolong ke aku ya? Emangnya kakak mau minta tolong apa?”, tanya Alya.
          “Gini dek. Sebenernya sejak aku ketemu Intan entah kenapa tiba-tiba aku tu menyukainya. Aku juga nggak tau atas dasar apa aku menyukai Intan. Aku cuma berpikir kalo Intan sebenernya tuh nggak sejutek itu. Aku yakin kalo dia sebenernya anak baik.”, kata Kak Aldi.
          “Cie....ada yang lagi jatuh cinta nih.”, goda Alya.
          “Apaan sih, dek.”, jawab Kak Aldi dengan suara yang agak malu.
          “Udah lah kak jujur aja. Aku tau kok kalo kakak suka sama Intan meskipun tu anak emang agak nyebelin sih. Lantas apa yang bisa aku bantu?”, tanya Alya.
          “Aku pingin banget bisa deket sama Intan, dek. Tapi aku nggak tau gimana caranya. Kan kamu juga tau tiap Intan deket sama aku, dia selalu marah duluan. Tadi aku juga udah minta pendapat ke Kak Ardi, eh Kak Ardinya malah nyuruh aku buat nanya ke kamu aja.”, jawab kak Ardi.
          “Mmmm... Ya udah deh entar aku coba cari gimana caranya biar kakak bisa deket sama Intan.”, jawab Alya.
          “Makasih banyak ya, dek. Ya udah kalo gitu aku matiin ya telponnya. Assalamu’alaikum.”, kata Kak Aldi.
          “Iya sama-sama, kak. Wa’alaikum salam.”, jawab Alya.
          Setelah itu Alya mulai berpikir gimana caranya agar bisa ngebantuin Kak Aldi. Tak lama kemudian....
          “AHA, aku tau caranya.”, kata Alya dengan ekspresi yang sangat senang.
          Tanpa pikir panjang, Alyapun langsung mengambil handphonenya dan menelpon Kak Ardi.
          “Assalamu’alaikum, kak.”, kata Alya.
          “Wa’alaikum salam. Ada apa, dek? Kok tiba-tiba telpon aku? Kan biasanya aku yang telpon kamu.”, tanya Kak Ardi heran.
          “Itu nggak penting. Yang terpenting adalah sekarang aku udah tau gimana caranya agar Kak Aldi bisa deket sama Intan.”, kata Alya.
          “Emang gimana caranya?”, tanya kak Ardi penasaran.
          “Kita pura-pura aja marah dan cuek ke Intan.”, jawab Alya.
          “Maksud kamu? Aku masih nggak ngerti, dek.”, tanya kak Ardi.
          “Ya untuk sekarang dan beberapa hari ke depan kita harus pura-pura marah ke Intan. Kita bersikap seolah-olah kita menjauhi dia. Dan kalo dia tanya kenapa sikap kita seperti ini tinggal kita jawab nggak ada apa-apa. Terus kalo dia sms kita ya kita bilang aja kalo kita lagi sibuk. Kalo gini kan otomatis dia merasa kesepian karena kita ngejauhin dia dan di saat itu juga secara otomatis Kak Aldi bisa mencoba untuk ngedeketin Intan. Kak Ardi setuju kan?”, tanya Alya.
          “Mmmmmm boleh dicoba. Kayaknya bakal seru nih.”, jawab Kak Ardi.
          “Nggak cuma seru tapi seru banget, kak.”, jawab Alya.
          “Ide yang keren banget tuh.”, kata Kak Ardi.
          “Pastinya dong. Ya udah untuk sementara gitu dulu aja ya, kak. Selamat istirahat, sayangku. Assalamu’alaikum.”, kata Alya.
          “Selamat istirahat juga, sayang. Wa’alaikum salam.”, kata Kak Ardi.
          Tuuuut....tuuuut....tuuuut... Telpon pun ditutup.
          Beberapa hari ini aku merasa suntuk di rumah dan akupun berniat mengajak Alya jalan-jalan. Aku pun langsung menelpon Alya
          “Al, aku bete banget nih di rumah. Kita jalan-jalan yuk.”, ajakku.
          “Maaf hari ini aku sibuk.”, jawab Alya singkat.
          “Oh ya udah kalo gitu. Maaf ya kalo aku udah ganggu waktumu.”, jawabku sedikit kecewa.
          “Iya.”, jawab Alya singkat.
          Aku merasa ada yang aneh dengan Alya. Padahal kalo aku ajak jalan-jalan Alya selalu bersemangat. Tetapi kenapa hari ini dia cuek seperti ini. Aku berusaha untuk berprasangka baik saja.
          “Mungkin hari ini Alya sibuk banget jadi nggak mau diganggu. Ya sudahlah.”, kataku dalam hati.
          Tapi semakin lama aku merasa seolah-olah Alya sangat membenciku dan ingin mejauhiku. Maka aku beranikan diri untuk bertanya kepadanya tentang sikap dia kepadaku akhir-akhir ini.
          “Al, aku boleh tanya?”, tanyaku mengawali percakapan lewat telepon.
          “Tanya apa? Kalo tanya langsung aja ya. Soalnya aku lagi sibuk. Jadi nggak ada banyak waktu.”, jawab Alya ketus.
          “Kenapa sih sikap kamu akhir-akhir ini jadi berubah ke aku? Apa aku punya salah ke kamu?”, tanyaku.
          “Aku nggak berubah tu. Kan udah aku bilang aku lagi sibuk.”, jawab Alya cuek.
          “Sesibuk apapun kamu, kamu nggak pernah bersikap seperti ini ke aku. Tapi kenapa sekarang sikap kamu berubah ke aku?”, tanyaku dengan nada sedih.
          “Dibilangin aku tu nggak berubah. Aku tu sibuk dan nggak pingin diganggu siapapun. Kamu ngerti nggak sih.”, jawab Alya penuh dengan emosi.
          “Iya aku ngerti kok.”, jawabku sedikit kaget.
          “Ya bagus lah kalo kamu ngerti. Ya udah aku lagi pingin sendiri. Tolong jangan telepon aku.”, jawab Alya ketus.
          “Iya. Maaf udah ganggu kamu.”, jawabku sedikit kecewa.
          Sejak kejadian itu Alya tidak pernah sekalipun memberi kabar ke aku. Bahkan ketika aku mencoba untuk menelponnya ternyata nomernya nggak aktif. Aku benar-benar bingung dengan sikap Alya. Akhirnya aku beranikan diri untuk menghubungi Kak Ardi. Menurutku Kak Ardi pasti tau banyak hal tentang perubahan sikap Alya akhir-akhir ini.
          “Assalamu’alaikum. Ini Kak Ardi ya?”, tanyaku mengawali pembicaraan.
          “Wa’alaikum salam. Ini siapa?”, tanya Kak Ardi.
          “Aku Intan, kak. Kak, aku boleh tanya sesuatu nggak?”, tanyaku lagi.
          “Oh kamu. Mau tanya apa?”, tanya Kak Ardi ketus.
          “Aku cuma pingin tanya Kak Ardi tau sesuatu tentang Alya nggak?”, tanyaku.
          “Nggak. Emang kenapa?”, tanya Kak Ardi ketus.
          “Aku merasa akhir-akhir ini sikap Alya berubah ke aku. Dia seolah-olah membenciku gitu, kak.”, jawabku.
          “Oh itu. Ya mungkin dia lagi sibuk dan nggak pingin diganggu. Maaf ya dek aku juga lagi sibuk. Assalamu’alaikum.”, kata Kak Ardi.
          “Wa’alaikum salam.”, jawabku agak kecewa sambil mematikan telpon itu.
          Makin hari aku makin bingung dengan perubahan sikap Alya dan Kak Ardi yang berubah drastis ke aku. Setiap aku tanya mereka selalu menjawabnya dengan jutek. Setiap aku tanya kenapa sikap mereka berubah mereka selalu saja menjawab nggak ada apa-apa. Setiap aku ajak jalan mereka selalu beralasan kalo lagi sibuk lah ini lah itu lah. Aku bener-bener bingung harus gimana.
          Akhirnya aku putuskan untuk jalan-jalan sendiri tanpa mengajak Alya. Karena aku pun tau kalo aku ngajak Alya, dia pasti ngomong kalo dia lagi sibuk.
          Sesampainya di sebuah pusat perbelanjaan aku langsung saja masuk meski hanya untuk jalan-jalan ataupun cuci mata. Setidaknya hatiku lebih tenang daripada kemarin.
          Setelah hampir 30 menit jalan-jalan, akupun memutuskan untuk makan siang. Aku segera memesan 1 porsi spaghetti dan 1 gelas jus stroberi. Setelah pesanan datang, akupun tidak langsung memakannya tetapi aku masih saja memikirkan perubahan sikap Alya dan Kak Ardi kepadaku akhir-akhir ini sambil mengaduk-aduk jus stroberi di depanku. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku. Otomatis aku kaget.
          “Jangan diaduk-aduk terus dong. Entar jusnya jadi nggak enak lho.”, kata seseorang itu dari belakang dan akupun langsung menoleh.
          “Eh Kak Aldi.”, jawabku.
          “Jusnya jangan diaduk-aduk terus. Diminum dong.”, kata Kak Aldi.
          “Iya kak.”, jawabku singkat.
          “Aku boleh duduk nggak?”, tanya Kak Aldi.
          “Oh boleh kok.”, jawabku.
          “Adek sendirian ya di sini?”, tanya Kak Aldi.
          “Iya kak. Kakak sendiri lagi istirahat ya kok bisa ke sini?”, tanyaku lagi.
          “Iya dek. Aku juga udah ijin kok tadi. Jadi aku bisa keluar sebentar deh.”, jawab Kak Aldi sambil tersenyum.
          “Kakak nggak makan?”, tanyaku lagi.
          “Oh iya sampe lupa nih. Ya udah kakak pesen makanan dulu ya.”, kata Kak Aldi.
          “Iya.”, jawabku singkat.
          Kak Aldi pun melambaikan tangannya kepada pramusaji itu.
          “Mau pesan apa, mas?”, tanya pramusaji itu.
          “Sama kayak mbaknya aja deh.”, jawab Kak Aldi.
          “Tunggu sebentar ya, mas.”, kata pramusaji itu.
          “Iya. Makasih ya, mbak.”, kata Kak Aldi.
          Sambil menunggu pesanan datang, kitapun saling berbincang-bincang.
          “Adek kok ke sini sendiri? Bukannya biasanya sama Alya?”, tanya Kak Aldi heran.
          “Iya kak. Oh iya kak tuh pesenan kakak dah datang.”, jawabku mengalihkan pembicaraan.
          “Makasih ya, mbak.”, kata Kak Aldi.
          “Iya. Selamat makan. Saya permisi dulu.”, kata pramusaji itu.
          “Makasih.”, jawab Kak Aldi.
          Aku pun masih saja mengaduk-aduk minumanku. Tanpa aku sadari ternyata dari tadi Kak Aldi memperhatikanku.
          “Dek, kok diem? Kamu belum jawab pertanyaanku lho.”, kata Kak Aldi.
          “Eh iya. Pertanyaan yang mana, kak?”, tanyaku bingung.
          “Tuh kan udah lupa. Emang Alya kemana? Kok kamu sendirian aja sih?”, tanya Kak Aldi.
          “Aku nggak tau, kak. Aku merasa akhir-akhir ini Alya seolah-olah menjauhiku tanpa alasan yang jelas.”, jawabku sambil cemberut.
          “Lho emangnya ada masalah apa sih? Kalian bertengkar?”, tanya Kak Aldi heran.
          “Nggak sih, kak.”, jawabku dengan nada sedih.
          “Lho adek kok sedih?”, tanya Kak Aldi.
          “Enggak kok, kak. Aku bingung aja sekarang apa yang harus aku lakukan agar Alya dan Kak Ardi tidak bersikap seperti ini ke aku.”, jawabku.
          “Kak Ardi juga bersikap seperti itu ke kamu?”, tanya Kak Aldi.
          “Iya kak.”, jawabku pelan sambil meneteskan air mata.
          “Lho kok nangis? Jangan nangis dong. Entar cantiknya hilang lho.”, kata Kak Aldi.
          “Aku bingung, kak.”, jawabku lagi.
          “Iya aku tau gimana perasaanmu sekarang. Ya udah entar aku coba bilang ke Alya dan Kak Ardi ya biar mereka nggak terus-terusan besikap seperti ini ke kamu.”, kata Kak Aldi sambil mengusap air mataku yang jatuh di pipi.
          “Makasih ya, kak.”, jawabku.
          “Iya adek. Udah jangan nangis lagi ya.”, kata Kak Aldi sambil menggenggam tanganku.
          “Iya kak.”, jawabku pendek.
          Aku baru menyadari kalo dari tadi Kak Aldi menggenggam tanganku. Sontak aku kaget ketika aku melihat tanganku digenggam oleh Kak Aldi dan tanpa pikir panjang akupun langsung melepaskan genggaman itu. Kak Aldi pun terlihat kaget ketika aku melepaskan genggaman itu.
          “Dek, maafin kakak ya. Kakak nggak ada maksud apa-apa kok. Tadi kakak refleks aja memegang tanganmu. Sekali lagi maafin kakak ya.”, kata Kak Aldi dengan perasaan bersalah.
          “Iya nggak apa-apa kok, kak. Aku tadi cuma kaget aja.”, jawabku.
          “Oh iya udah jam segini. Kakak balik ke kantor dulu ya. Soalnya jam istirahat juga hampir habis. Jadi kakak harus segera balik.”, kata Kak Aldi.
          “Iya nggak apa-apa, kak. Lagian ini kan masih jam dinas.”, jawabku.
          “Adek nggak apa-apa kan pulang sendiri?”, tanya Kak Aldi.
          “Nggak apa-apa kok, kak. Lagian aku tadi bawa mobil sendiri.”, jawabku.
          “Beneran adek nggak apa-apa? Kakak cuma khawatir aja sama keadaan adek yang kayak gini. Kakak takut adek entar malah nggak konsen nyetir mobilnya.”, kata Kak Aldi sedikit khawatir.
          “Iya aku nggak apa-apa kok.”, jawabku mencoba untuk meyakinkan Kak Aldi.
          “Ya udah hati-hati di jalan ya. Nanti kalo dah nyampe rumah sms kakak ya jadi kakak nggak khawatir.”, pesan Kak Aldi.
          “Iya kak. Makasih ya kak untuk hari ini.”, jawabku.
          “Makasih untuk apa?”, tanya Kak Aldi sedikit bingung.
          “Makasih hari ini udah mau nemenin aku. Makasih udah mau dengerin semua curhatanku.”, jawabku.
          “Iya. Santai aja lagi.”, kata Kak Aldi sambil tersenyum.
          “Kalo gitu aku pulang dulu ya, kak.”, kataku.
          “Aku juga mau balik ke kantor kok. Gimana kalo kita ke parkiran bareng?”, tanya Kak Aldi.
          “Boleh aja. Kalo gitu ayo kita ke parkiran. Entar Kak Aldi telat lagi balik ke kantornya.”, jawabku.
          “Ayo. Dengan senang hati.”, kata Kak Aldi sambil menggandeng tanganku.
          “Kak, maaf tangannya nggak usah gandengan bisa nggak?”, tanyaku.
          “Oh iya. Maaf ya dek aku beneran nggak sengaja. Aku sering refleks soalnya. Sekali lagi maaf ya.”, kata Kak Aldi
          “Ok.”, jawabku pendek.
          Sesampainya di parkiran.....
          “Dek, aku duluan ya. Aku janji entar aku akan nanyain semuanya ke Alya dan Kak Ardi.”, kata Kak Aldi.
          “Makasih ya kak. Hati-hati di jalan ya.”, jawabku.
          “Ok. Kamu juga ya. Kapan-kapan kita ketemu lagi ya.’, kata Kak Aldi.
          “Ok kak.”, jawabku sambil tersenyum.
          Sepeninggalan Kak Aldi, akupun langsung pulang ke rumah dan sesampainya di rumah aku pun langsung memberi tau Kak Aldi.
          “Kak, aku udah di rumah.”, kataku.
          “Oh. Aku juga udah di kantor, dek. Kamu nggak apa-apa kan?”, tanya Kak Aldi.
          “Aku nggak apa-apa kok, kak.”, balasku.
          “Syukur deh kalo gitu.”, jawab Kak Aldi.
          Setelah mendengar semua curhatanku tadi siang, Kak Aldi pun langsung meminta Alya dan Kak Ardi untuk bertemu dengannya.
          “Ada apa, kak? Kok tiba-tiba Kak Aldi ngajakin kita buat ketemuan?”, tanya Alya mengawali pembicaraan.
          “Sebaiknya kita hetikan semua permainan ini.”, jawab Kak Aldi.
          “Maksud kamu apa, al?”, tanya Kak Ardi.
          “Di satu sisi aku seneng karena dengan permainan ini aku bisa deket sama Intan. Tapi di sisi lain aku juga khawatir sama Intan. Aku takut sesuatu yang nggak kita inginkan akan terjadi pada Intan hanya karena kalian berdua pura-pura menjauhinya.”, jawab Kak Aldi.
          “Iya sih. Aku juga merasa nggak enak kalo harus pura-pura benci sama orang. Tapi kita harus gimana?”, tanya Kak Ardi lagi.
          “Lebih baik kita jelaskan ke Intan kalo semua ini hanya permainan kita.”, jawab Kak Aldi.
          “Tapi kalo Intan marah lagi gimana? Kalian tau kan kalo Intan marah tu kayak gimana?”, tanya Alya.
          “Iya aku tau. Tapi masih banyak kan cara lain yang bisa kita lakukan agar aku bisa deket sama Intan dan Intan juga nggak merasa dibenci oleh kalian.”, jawab Kak Aldi.
          “Ok aku setuju.”, jawab Alya dan Kak Ardi secara bersamaan.
          Beberapa hari kemudian, Kak Aldi tiba-tiba mengajakku untuk ketemuan. Katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan. Aku jawab iya aja.
          “Maaf ya kak aku telat.”, kataku.
          “Nggak apa-apa kok. Lagian aku juga baru datang.”, jawab Kak Aldi sambil tersenyum.
          “Katanya ada hal penting yang pingin dibicarakan. Emang ada hal penting apa?”, tanyaku heran.
          “Sebenarnya.......”, jawab Kak Aldi gugup.
          “Sebenarnya apa, kak?”, tanyaku dengan nada penasaran.
          “Sebenarnya.......”, jawab Kak Aldi yang masih saja menggantungkan ucapannya.
          Belum selesai Kak Aldi menjawab pertanyaanku, tiba-tiba ada seorang cewek dari belakangku yang berbicara dengan suara yang cukup keras.
          “Katanya dulu benci banget. Katanya udah nggak mau ketemuan. Tapi sekarang kok mau diajak ketemuan sih?”, tanya cewek itu sambil menepuk pundak kiriku.
          “Iya nih. Kayaknya ada yang lagi jatuh cinta nih.”, kata seorang cowok sambil menepuk pundak kananku.
          Otomatis akupun sangat kaget dan langsung menoleh. Ternyata cowok dan cewek yang menepuk pundakku tadi adalah Kak Ardi dan Alya.
          “Alya? Kak Ardi? Kok kalian ada di sini sih? Bukannya kalian benci sama aku?”, tanyaku heran.
          “Uhuk uhuk, kayaknya ada yang lagi jatuh cinta nih.”, goda Alya.
          “Ih apa sih. Jadi selama ini sikap kalian yang seolah-olah menjauhiku tu cuma pura-pura? Jadi kalian selama ini ngerjain aku?”, tanyaku.
          “Iya.”, jawab Alya dan Kak Ardi secara bersamaan. Kak Aldipun hanya tersenyum mendengarnya.
          “Maksud kalian apa bersikap seperti ini ke aku?”, tanyaku.
          “Jangan marah ya, tan. Sebenarnya ini tuh cuma permainan kita bertiga. Kak Aldi pernah cerita ke aku kalo dia pingin banget bisa deket sama kamu. Ya mau nggak mau kita pake cara yang kayak gini. Soalnya aku tau kalo Kak Aldi ngomong sendiri ke kamu, kamu pasti marah duluan.”, jawab Alya.
          “Permainan macam apa ini?”, tanyaku mulai emosi.
          “Tapi kamu suka kan?”, tanya Kak Ardi.
          BRAK!!! Suara yang khas itu tidak lain dan tidak bukan adalah suara tanganku yang sengaja aku gebrakkan di meja makan. Mereka bertiga tidak terlalu kaget mendengarnya. Karena itu sudah aku lakukan untuk kedua kalinya.
          “Apa kalian bilang? Aku suka dengan permainan ini? TIDAK SAMA SEKALI. Kalo Kak Aldi pingin deket sama aku kan bisa pake cara lain. Nggak harus gini caranya.”, jawabku sambil beranjak dari tempat dudukku.
          “Intan, kamu mau kemana?”, tanya Alya sambil memegang tanganku untuk mencegahku agar aku nggak pergi.
          “Aku mau pulang. Aku benci dengan permainan kalian. Lebih baik aku pergi.”, jawabku sambil melepaskan tangan Alya.
          Sepeninggalanku..........
          “Tuh bener kan firasatku. Intan pasti marah besar setelah mendengar semua ini. Kita harus gimana sekarang?”, tanya Alya bingung.
          “Ya udahlah emang itu udah menjadi resiko kita. Sekarang kita harus lebih memutar otak lagi untuk mencari gimana caranya agar Kak Aldi bisa deket lagi sama Intan.”, kata Kak Ardi.
          “Tapi sepertinya itu semua akan percuma. Karena aku tau Intan nggak suka sama Kak Aldi.”, jawab Alya sedikit putus asa.
          “Kamu jangan gitu dong, dek. Kan belum kita coba. Kalo udah kita coba siapa tau Intan mau deket sama Kak Aldi.”, kata Kak Ardi.
          “Terserah kamu aja deh. Aku udah nggak tau harus gimana.”, jawab Alya.
          “Ar, makasih banyak ya udah mau bantuin aku.”, kata Kak Aldi.
          “Santai aja lagi, bro. Aku pasti bantuin kamu.”, jawab Kak Ardi sambil tersenyum.
          “Sekali lagi makasih ya.”, kata Kak Aldi lagi.
          “Iya. Ya udah mendingan kita pulang yuk.”, ajak Kak Ardi.
          “Ayo.”, jawab Alya dan Kak Aldi bersamaan.
          Sesampainya di rumah, Alya pun langsung menelponku.
          “Assalamu’alaikum, tan.”, kata Alya mengawali permbicaraan.
          “Wa’alaikum salam.”, jawabku.
          “Intan masih marah ya?”, tanya Alya.
          “Biasa aja kok.”, jawabku singkat.
          “Tan, maafin kita bertiga ya kalo ternyata semua ini bikin kamu marah.”, kata Alya.
          “Ya.”, jawabku singkat.
          “Kamu kok cuek gitu sih? Sekali lagi aku minta maaf ya.”, kata Alya dengan nada sedih.
          “Ya udahlah. Lagian aku dah lupain itu sema.”, jawabku.
          “Beneran? Kamu udah nggak marah lagi kan?”, tanya Alya.
          “Tadi masih. Sekarang udah enggak.”, jawabku singkat.
          “Makasih ya, Intan sayang.”, kata Alya.
          “Ok.”, jawabku singkat.
          “Berarti kapan-kapan kalo aku ajak main kamu pasti mau kan?”, tanya Alya.
          “Boleh-boleh aja.”, jawabku.
          Beberapa minggu setelah kejadian itu, Alya pun mengajakku untuk ketemuan dengan Kak Ardi.
          “Kenapa kamu ngajakin aku buat ketemuan sama Kak Ardi lagi?”, tanyaku heran.
          “Kamu nggak suka ya kalo aku ajakin ketemuan sama Kak Ardi?”, tanya Alya balik.
          “Bukan gitu. Maksudku ada hal penting apa kok kita ketemuan sama Kak Ardi lagi?”, tanyaku.
          “Entar kamu juga tau sendiri.”, jawab Alya.
          Sesampainya di sebuah pusat perbelanjaan, ternyata Kak Ardi sudah di situ.
          “Kamu udah lama?”, tanya Alya.
          “Belum kok. Baru 15 menitan.”, jawab Kak Ardi.
          “Kak Ardi ke sini sama siapa?”, tanyaku.
          “Entar kamu juga tau sendiri.”, jawab Kak Ardi.
          “Kalian ini kenapa sih kalo aku tanya jawabnya selalu ENTAR KAMU JUGA TAU SENDIRI terus? Apa susahnya sih langsung ngasih tau aja?”, tanyaku heran.
          “Entar kamu juga tau sendiri.”, jawab Alya dan Kak Ardi secara bersamaan sambil tersenyum.
          Beberapa menit kemudian.......
          “Nah itu dia yang dari tadi kita tunggu. Dari mana aja sih kamu?”, tanya Kak Ardi kepada seseorang itu.
          “Biasa. Tadi abis dari toilet terus ke mobil buat ngambil handphone. Soalnye handphoneku ketinggalan di mobil.”, jawab seseorang itu.
          Karena aku penasaran sebenarnya siapa cowok itu, akupun langsung menoleh ke belakang. Sontak aku kaget banget ngeliatnya karena seseorang itu adalah.....
          “KAK ALDI!!!”, kataku dengan suara yang agak keras.
          “Iya. Hai Intan. Udah lama nunggu ya? Maaf ya gara-gara aku balik lagi ke mobil kamu jadi kelamaan nunggu deh.”, jawab Kak Aldi sambil menepuk pundakku.
          “Cie....cie...”, kata Alya dan Kak Ardi secara bersamaan.
          “Oh jadi kamu ngajak aku ke sini cuma untuk ketemu Kak Aldi lagi? Aku harus bilang berapa kali sih al biar kamu ngerti? Aku tu nggak suka kalo diajak ketemuan sama Kak Aldi.”, kataku mulai emosi.
          “Intan, dengerin aku dulu.”, kata Alya yang berusaha mencegahku.
          “Nggak ada yang perlu didengerin dan nggak ada yang perlu dijelasin. Semua sudah sangat jelas. Setiap kamu ngajak aku jalan-jalan pasti ujung-ujungnya kamu ngajakin aku biar aku bisa ketemu dengan Kak Aldi. Itu kan maksud kamu?”, tanyaku dengan sangat emosi.
          “Iya tan.”, jawab Alya pelan.
          “Kalo tau gini mendingan aku nolak aja tadi. Capek kalo diajakin ketemuan mulu.”, jawabku dengan perasaan yang sangat marah sambil beranjak dari tempat dudukku.
          Karena Alya sudah tidak sanggup lagi untuk mencegahku, maka Kak Ardi lah yang berusaha untuk mencegahku dengan cara menggenggam pergelangan tanganku.
          “Dek, ayo ikut aku sebentar. Aku pingin ngomong sesuatu sama kamu.”, kata Kak Ardi.
          “Mau ngomongin apa sih?”, tanyaku sambil berusaha melepaskan genggaman itu.
          “Udah yang penting kamu nurut aja.”, jawab Kak Ardi.
          “Aku nggak mau. Aku pingin pulang.”, jawabku sambil berontak.
          “NGGAK BOLEH. Kamu nggak boleh pulang. Ada sesuatu yang penting yang ingin aku omongin sama kamu.”, jawab Kak Ardi sambil menggenggam pergelangan tanganku lebih erat lagi.
          Sepertinya kalo aku semakin berontak, Kak Ardi akan marah besar. Ya terpaksa aku nurut aja sama kemauannya Kak Ardi.
          “Ya udah.”, jawabku.
          “Nah gitu dong. Oh ya dek, aku mau sebentar sama Intan ya. Entar kalo dah selesai aku balik lagi kok. Kamu ngobrol-ngobrol sama Kak Aldi dulu ya.”, kata Kak Ardi kepada Alya.
          “Ok bos.”, jawab Alya.
          Kak Ardi mengajakku ke sebuah meja makan yang agak jauh dari meja makan tempat kita bertengkar tadi.
          “Sekarang kamu duduk.”, perintah Kak Ardi.
          “Iya iya. Tapi lepasin dong tanganku.”, pintaku.
          “Oh iya. Sampe lupa.”, jawab Kak Ardi sambil tersenyum.
          “Dari tadi digenggam erat banget. Sakit tau. Tuh liat sampe merah.”, kataku cemberut sambil memegang pergelangan tanganku.
          “Maaf ya, dek.”, kata Kak Ardi.
          “Iya. Tadi katanya ada hal penting yang mau diomongin. Emang mau ngomongin apa sih? Buruan dong.”, jawabku sambil cemberut.
          “Iya iya. Sebelumnya aku mau tanya. Boleh nggak?”, tanya Kak Ardi.
          “Boleh. Emang mau tanya apa?”, tanyaku.
          “Aku perhatikan sejak awal kamu ketemu sama Kak Aldi sepertinya kamu benci banget sama dia. Emangnya kenapa sih?”, tanya Kak Ardi.
          “Kan kemarin aku udah pernah bilang kalo aku tu benci banget sama cowok. Apalagi cowok itu seorang polisi.”, jawabku.
          “Berarti kamu juga benci dong sama kakak?”, tanya Kak Ardi lagi.
          “Kalo sama Kak Ardi ya enggak.”, jawabku.
          “Kamu masih trauma sama kejadian itu?”, tanya Kak Ardi.
          “Ya. Dan sejak saat itu juga aku takut jatuh cinta lagi sama cowok. Apalagi cowok itu seorang polisi. Aku sangat berharap semua itu tidak terjadi lagi padaku.”, jawabku.
          “Jadi selama ini kamu juga menyamakan Adit dengan Kak Aldi? Kamu juga menganggap kalo Kak Aldi tu seorang playboy?”, tanya Kak Ardi.
          “Ya. Menurutku semua cowok itu sama aja. Sama-sama playboy. Mereka selalu bersikap manis di depan dan di balik sikap manis mereka ternyata mereka suka mempermainkan cewek. Mereka pasti merasa seneng ketika melihat cewek yang udah diberi beribu-ribu janji itu tersakiti oleh kelakuan mereka sendiri. Dan aku juga yakin kalo Kak Aldi tu juga termasuk tipe cowok yang seperti itu.”, jawabku panjang lebar.
          “Sampai kapan kamu akan menilai Kak Aldi seperti itu?”, tanya Kak Ardi.
          “Mungkin selamanya. Maka dari itu aku sejak awal ketemu Kak Aldi aku selalu saja bersikap seolah-olah aku membencinya agar dia nggak ngedeketin aku lagi. Aku nggak mau jatuh cinta lagi, kak. Aku udah capek disakiti. Aku juga punya perasaan. Udah dulu ya kak aku mau pulang.”, jawabku.
          “Dek, dengerin dulu. Aku mau ngomong.”, cegah Kak Ardi.
          “Mau ngomongin apa lagi? Ngomongin tentang Kak Aldi? Kalo kakak masih saja mau ngomongin tentang Kak Aldi lebih baik aku pulang.”, jawabku sambil pergi meninggalkan Kak Ardi.
          Tanpa banyak bicara Kak Ardi pun langsung mengejarku dan menarikku ke meja makan yang tadi.
          “Kakak apa-apaan sih! Aku pingin pulang, kak.”, jawabku sambil melepaskan genggaman itu.
          “Sekarang kamu duduk!”, perintah Kak Ardi.
          “Buat apa sih?", tanyaku.
          “Buruan duduk!!! Jangan banyak bicara!!!”, perintah Kak Ardi dengan suara yang sangat keras.
          Aku kaget melihat sikap Kak Ardi yang kasar itu. Daripada nanti Kak Ardi marah lebih baik aku nurut aja.
          “Sebelumnya aku minta maaf ya dek kalo tadi aku agak kasar sama kamu. Tapi tolong kali ini aja dengerin aku. Aku pingin ngejelasin sesuatu ke kamu.”, kata Kak Ardi.
          “Kak Ardi mau ngejelasin apa?”, tanyaku dengan suara agak lembut.
          “Tumben kamu ngomongnya agak lembut. Biasanya kan agak kasar gitu.”, ledek Kak Ardi sambil tersenyum.
          “Kak, udah deh jangan ngeledekin aku terus. Aku lagi nggak pingin bercanda.”, jawabku sambil cemberut.
          “Iya deh.”, jawab Kak Ardi.
          “Emang kakak mau ngomongin apa sih?”, tanyaku heran.
          “Kamu masih inget nggak sama janjiku yang waktu itu?”, tanya Kak Ardi.
          “Ya aku inget. Waktu itu kakak janji kakak akan selalu sayang dan ngejagain perasaan Alya kan?”, tanyaku.
          “Iya.”, jawab Kak Ardi pendek.
          “Lalu apa hubungannya sama sesuatu yang pingin Kak Ardi omongin ke aku?”, tanyaku.
          “Dulu aku pernah janji seperti itu dan sekarang aku bisa ngebuktiin ke kalian terutama ke kamu kan kalo aku emang bener-bener sayang dan menjaga perasaan Alya. Dan pada saat itu juga aku bisa ngebuktiin ke kamu dan Alya kalo aku ini bukan cowok yang suka mainin perasaan cewek.”, jawab Kak Ardi.
          “Ya aku tau. Tapi apa maksud kakak ngomong tentang hal itu ke aku?”, tanyaku heran.
          “Dek, sampai kapan kamu mau menganggap kalo Kak Aldi tu cowok yang suka mainin perasaan cewek?’, tanya Kak Ardi.
          “Entahlah kak. Aku pun juga nggak tau.”, jawabku pelan.
          “Dek, kakak minta ke kamu. Tolong beri Kak Aldi kesempatan untuk membuktikan ke kamu kalo sebenarnya Kak Aldi tu bukan cowok yang suka mainin perasaan cewek. Kak Aldi juga pernah cerita ke aku kalo sebenarnya dia tu suka sama kamu.”, pinta Kak Ardi padaku.
          “Tapi kak...”, kataku dengan suara yang pelan.
          “Tapi apa, dek?  Kamu takut kalo dia nyakitin perasaan kamu?”, tanya Kak Ardi.
          “Iya kak.”, jawabku sambil sambil meneteskan air mata.
          “Lho kok nangis sih? Jangan nangis dong, dek. Kakak yakin Kak Aldi tu nggak akan berani nyakitin kamu.”, kata Kak Ardi.
          “Kakak kok percaya gitu aja sih kalo Kak Aldi bukan cowok playboy?”, tanyaku.
          “Soalnya kakak udah cukup lama kenal sama Kak Aldi. Kakak kenal sama Kak Aldi tu sejak SMA. Kak Aldi tu juga temen kakak waktu pendidikan dulu. Jadi kakak tau sifat dan kepribadiannya Kak Aldi tu seperti apa. Kakak jamin Kak Aldi nggak bakalan berani nyakitin kamu.”, jawab Kak Ardi yang berusaha meyakinkanku.
          “Mmmmm.... Iya deh kalo gitu.”, jawabku.
          “Maksudnya iya?”, tanya Kak Ardi bingung.
          “Aku akan memberi Kak Aldi kesempatan buat ngebuktiin ke aku kalo dia tu bukan cowok yang suka mainin perasaan cewek.”, jawabku sambil tersenyum.
          “Beneran dek?”, tanya Kak Ardi setengan tidak percaya.
          “Iya kak.”, jawabku singkat.
          “Nah gitu dong. Ya udah kalo gitu kita gabung sama mereka lagi yuk. Kasihan mereka udah lama nunggu.”, ajak Kak Ardi.
          “Ayo.”, jawabku sambil tersenyum.
          Setelah aku dan Kak Ardi balik lagi untuk menemui mereka, tiba-tiba....
          “Lho tan, kok kayaknya seneng banget gitu? Ada apa sih?”, tanya Alya.
          “Oh nggak ada apa-apa kok, al.”, jawabku sambil tersenyum.
          “Kalo nggak ada apa-apa kok senyum-senyum gitu sih? Kamu juga. Sebenernya ada apa sih, kak?”, tanya Alya sambil menyenggol lengan Kak Ardi.
          “ENTAR JUGA TAU SENDIRI.”, jawabku dan Kak Ardi secara bersamaan sambil tertawa. Kak Aldi pun hanya tersenyum melihatnya.
          “Oh jadi ceritanya kamu balas dendam nih ke aku?”, tanya Alya sambil cemberut.
          “Enggak kok.”, jawabku pendek.
          “Lantas kenapa jawabannya gitu?”, tanya Alya.
          “Nggak ada apa-apa, sayang.”, jawab Kak Ardi.
          “Beneran nih?”, tanya Alya lagi.
          “Iya. Masa kamu nggak percaya sih sama aku?”, tanya Kak Ardi
          “Iya deh aku percaya.”, jawab Alya.
          “Ya ampun kasihan banget Kak Aldi dari tadi kita cuekin. Maafin kita ya, kak. Kita nggak ada niat buat nyuekin kamu kok.”, kata Kak Ardi.
          “Oh nggak apa-apa kok. Santai aja. Lagian aku seneng kok ngedengerin kalian cerita-cerita gitu.”, jawab Kak Aldi.
          “Sekali lagi maafin kita ya, kak.”, kata Alya.
          “Iya. Nggak apa-apa kok.”, jawab Kak Aldi sambil tersenyum.
          “Ya udah kita abisin dulu yuk makanannya. Abis itu kita pulang. Ok.”, kata Kak Ardi.
          “Ok.”, jawabku, Alya, dan Kak Aldi secara bersamaan.
          Setelah selesai makan, aku pun langsung pamit pulang.
          “Ya udah aku pulang dulu ya.”, kataku kepada mereka bertiga.
          “Lho bukannya kamu sama Alya tadi ke sini naik taksi?’, tanya Kak Ardi.
          “Iya sih, kak. Tapi mendingan kita berdua pulang naik taksi aja.”, jawab Alya.
          “Mendingan aku anterin aja yuk.”, tawar Kak Ardi.
          “Beneran nih, kak?”, tanya Alya.
          “Ya bener lah. Masa aku bohong sih.”, jawab Kak Ardi.
          “Makasih banyak ya.”, jawabku dan Alya secara bersamaan.
          “Kalo gitu kita pulang yuk.”, ajak Kak Ardi.
          “Ayo.”, jawabku, Alya, dan Kak Ardi secara bersamaan.
          Sesampainya di parkiran, tiba-tiba Alya langsung membuka pintu mobil dan duduk di samping Kak Ardi. Kebetulan kali ini Kak Ardi yang nyetir. Aku jadi heran dengan sikap Alya.
          “Lho al, kok kamu duduk di depan sih? Katanya mau nemenin aku duduk di belakang.”, tanyaku sambil cemberut.
          “Maaf ya, tan. Soalnya udah lama banget aku nggak duduk di sampingnya Kak Ardi. Jadi aku duduk di depan deh biar bisa deket sama Kak Ardi.”, jawab Alya sambil tersenyum.
          “Lalu aku duduk di mana dong?”, tanyaku cemberut.
          “Ya duduk di belakang dong.”, jawab Alya.
          “Sama Kak Aldi?”, tanyaku lagi.
          “Ya iyalah.”, jawab Alya dan Kak Ardi secara bersamaan.
          “Tapi.....”, jawabku pelan.
          “Udah jangan banyak omong. Buruan masuk.”, perintah Kak Ardi.
          “Iya deh.”, jawabku.
          Selama di dalam mobil.........
          “Intan, kok cemberut gitu sih? Senyum dong.”, ledek Kak Ardi sambil melihatku lewat kaca.
          “Ih, Kak Ardi nggak usah ngeledekin aku deh.”, jawabku sambil cemberut.
          “Cie cie Intan.”, goda Alya.
          “Ih apaan sih, al.”, jawabku kesel.
          “Kak, Intan diajak ngomong dong. Masa didiemin mulu dari tadi.”, kata Alya kepada Kak Aldi.
          “Mau ngomongin apa?”, tanya Kak Aldi agak gugup.
          “Ya apa aja. Yang penting Intan jangan didiemin. Kasihan tuh.”, jawab Alya.
          “Ih Alya apaan sih kamu. Udah deh nggak usah godain aku terus.”, jawabku sambil mencubit lengan Alya.
          “Ih sakit tau. Tapi kamu seneng kan duduk di belakang?”, tanya Alya.
          “Ya begitulah.”, jawabku tersenyum.
          Ketika aku sedang ngegame, tiba-tiba Kak Aldi memegang tanganku. Sontak aku kaget dan tanpa sengaja aku menjatuhkan handphone yang aku pegang. Kak Ardi pun langsung mengerem mobilnya karena Kak Ardi tadi sempat melihatku lewat kaca ketika aku menjatuhkan handphoneku.
          “Kamu kenapa dek kok hpnya sampe jatuh gitu? Kamu nggak apa-apa kan?”, tanya Kak Ardi.
          “Oh nggak apa-apa kok, kak. Tadi aku cuma kaget aja.”, jawabku.
          “Bukannya kamu yang bikin kita semua kaget gara-gara Kak Ardi ngerem mendadak?”, tanya Alya sambil menoleh ke belakang.
          “Iya sih.”, jawabku pendek.
          “Atau jangan-jangan....”, goda Alya.
          “Ih apaan sih, al. Nggak usah ngarang gitu deh.”, jawabku.
          “Kak Aldi, Intan tadi abis diapain kok sampe kaget gitu sih? Hayo jujur.”, kata Alya.
          “Nggak aku apa-apain kok, dek. Beneran.”, jawab Kak Aldi berusaha meyakinkan Alya.
          “Masa sih?”, tanya Alya setengah tidak percaya.
          “Iya. Nggak aku apa-apain kok. Percaya deh sama aku.”, jawab Kak Aldi lagi.
          “Ok. Aku percaya kok.”, jawab Alya.
          Setelah Alya menghadap ke depan lagi, aku beranikan diri untuk bertanya ke Kak Aldi.
          “Tadi kenapa kakak pegang tangan aku? Ada apa, kak? Ada yang pingin kakak omongin ke aku?”, tanyaku.
          “Oh nggak ada apa-apa kok. Maaf ya dek kalo aku udah bikin kamu kaget tadi.”, jawab Kak Aldi.
          “Oh iya. Nggak apa-apa kok. Tapi beneran nih nggak ada yang mau diomongin.”, tanyaku lagi.
          “Iya. Nggak ada kok. Oh iya dek kapan-kapan aku boleh kan ngajakin kamu jalan?”, tanya Kak Aldi.
          “Mmmmm....boleh aja.”, jawabku sambil tersenyum.
          “Kamu nggak marah kan?”, tanya Kak Aldi lagi.
          “Ya enggak lah. Kenapa aku harus marah sih.”, jawabku sambil tersenyum.
          Sepertinya Kak Aldi kaget melihat perubahan sikapku yang awalnya terkenal sangat kasar tapi sekarang berubah menjadi agak lembut.
          “Kak Aldi kenapa kaget gitu?”, tanyaku pura-pura tidak tau.
          “Oh enggak kok, dek.”, jawab Kak Aldi.
          “Aku tau kok kenapa Kak Aldi terlihat kaget gitu.”, jawabku.
          “Kalo adek beneran tau coba adek tebak apa yang bikin aku kaget tadi.”, tantang Kak Aldi.
          “Ok. Siapa takut. Kak Aldi kaget kan karena melihat sikapku yang awalnya kasar banget ke kakak tapi sekarang berubah menjadi sedikit lembut?”, tanyaku.
          “Kamu kok tau sih?”, tanya Kak Aldi kaget.
          “Ya tau lah. Jangan panggil aku Intan kalo aku nggak tau.”, jawabku sambil tersenyum.
          “Ih kamu bisa aja.”, kata Kak Aldi yang terlihat gemes sambil mencubit pipiku.
          Aduh sakit tau, kak.”, jawabku cemberut sambil memegang pipiku.
          “Ya ampun maaf ya dek. Soalnya aku refleks tadi. Kamu mau kan maafin aku?”, tanya Kak Aldi.
          “Mmmm...oke deh.”, kataku sambil mencubit pipinya Kak Aldi.
          “Sakit tau, dek.”, kata Kak Aldi sambil memegang pipinya.
          “Salah sendiri ngapain tadi nyubit pipiku.”, kataku.
          “Kan aku udah minta maaf.”, kata Kak Aldi.
          “Ya udah deh. Kalo gitu aku juga minta maaf ya.”, jawabku.
          “Mmmm...oke deh.”, jawab Kak Aldi sambil membalas cubitan itu.
          “Kak, udah dong. Sakit tau.”, kataku.
          “Iya deh. Abisnya kamu ngegemesin banget sih.”, jawab Kak Aldi sambil tersenyum.
          Melihat keakrabanku dengan Kak Aldi, tiba-tiba...
          “Kak, kamu kasih Intan obat apa sih kok Intan jadi baik gitu?”, bisik Alya.
          “Enggak aku kasih obat apa-apa tuh. Cuma aku ajak ngobrol aja tadi.”, jawab Kak Ardi.
          “Kalian ngomongin aku ya?”, tanyaku mengagetkan mereka.
          “Nggak tuh. Ih PD banget kamu.”, ledek Alya.
          “Udah deh nggak usah ngeles. Aku denger kok kamu tadi ngomongin apa. Kamu ngomong kalo aku sekarang udah nggak kasar lagi kan? Aku ini kan anak yang baik, ramah, dan masih banyak deh yang lainnya. Masa kamu nggak percaya sih, al?”, tanyaku cemberut.
          “Aku percaya kok, Kak Aldi.”, ledek Alya.
          “Tuh kan ngeledekin aku lagi.”, jawabku.
          “Tadi tu aku mau nyebut nama kamu. Tapi nggak tau kenapa kok malah nyebut namanya Kak Aldi. Maaf ya, tan.”, kata Alya sambil tersenyum.
           “Ok.”, jawabku pendek. Kak Aldi pun hanya tersenyum melihatnya.
          “Cie cie udah mulai akrab nih.”, ledek Alya.
          “Apaan sih, al. Nggak usah mulai lagi deh.”, jawabku.
          “Iya deh iya.”, kata Alya. Kak Aldi pun hanya tersenyum mendengarnya.
          Sesampainya di depan rumahku...
          “Dek, nggak mau turun?”, tanya Kak Ardi.
          “Lho emang udah sampe apa?”, tanyaku kaget.
          “Wah udah lupa nih sama rumahnya sendiri.”, kata Kak Ardi.
          “Maklum lah kak kalo Intan lupa. Kan dari tadi dia bercanda terus sama Kak Aldi.”, goda Alya.
          “Ih apaan sih, al. Aku tu emang beneran nggak tau.”, jawabku.
          “Masa sih.”, kata Alya yang terus saja menggodaku.
          “Kalo nggak percaya ya udah.”, jawabku sambil cemberut.
          “Iya deh aku percaya. Gitu aja ngambek.”, kata Alya.
          “Biarin.”, jawabku pendek.
          “Eh berantem mulu dari tadi. Nggak capek apa?”, tanya Kak Ardi.
          “Alya tu yang mulai duluan.”, jawabku.
          “Iya deh emang aku yang salah. Aku minta maaf ya.”, kata Alya.
          “Ok. Kalo gitu aku turun dulu ya. Makasih ya udah mau nganterin aku.”, jawabku.
          “Sama-sama.”, jawab Kak Ardi.
          “Sekali lagi makasih ya. Kalo gitu aku masuk dulu ya. Mari al, Kak Ardi, Kak Aldi.”, kataku kepada mereka bertiga.
          “Ok.”, jawab mereka secara bersamaan.
          “Kapan-kapan ketemu lagi ya, dek.”, kata Kak Aldi sambil membuka kaca jendela.
          “Ok.”, jawabku pendek.
          Semenjak saat itu, aku makin akrab dengan Kak Aldi. Kak Aldi juga sering sms dan telpon aku meski hanya sekedar menanyakan kabarku saja. Hingga suatu ketika, Kak Aldi mengajak aku untuk ketemuan di sebuah restoran. Katanya ada hal penting yang ingin dia bicarakan denganku.
          Aku datang sesuai dengan jam yang telah kita sepakati sebelumnya. Tetapi entah kenapa Kak Aldi belum juga datang. Otomatis aku harus menunggu.
          “Mungkin jalanan lagi macet jadi dia telat.”, kataku dalam hati sambil memainkan game di handphoneku.
          Beberapa menit kemudian akhirnya Kak Aldi datang juga.
          “Maaf ya dek kalo aku telat. Kamu dah nunggu lama ya?”, tanya Kak Aldi.
          “Oh belum lama juga kok, kak. Sekitar 20 menitan lah aku nunggunya.”, jawabku sambil main game.
          “Oh gitu. Maaf ya kalo kakak bikin adek nunggu.”, kata Kak Aldi.
          “Nggak apa-apa. Santai aja kali, kak. Emang jalanan tadi macet banget ya?”, tanyaku sambil main game.
          “Iya macet banget tadi.”, jawab Kak Aldi.
          “Oh gitu. Oh iya katanya Kak Aldi mau ngomong sesuatu. Emang mau ngomongin apa sih, kak.”, tanyaku sambil main game.
          “Sebenarnya....”, kata Kak Aldi gugup.
          “Sebenarnya apa, kak? Kalo mau ngomong ya ngomong aja. Aku dengerin kok.”, jawabku yang masih saja sambil main game.
          Melihat aku asyik sendiri dan Kak Aldi merasa kalo aku nyuekin dia, tiba-tiba.....
          “Dek, aku mau ngomong. Tolong dong kamu dengerin aku. Kali ini aja.”, kata Kak Aldi sambil memegang pergelangan tanganku.
          Sontak aku pun kaget melihat tangan Kak Aldi yang memegang pergelangan tanganku. Dan saking kagetnya aku pun langsung menjatuhkan handphone yang sedang aku pegang.
          “Dek, kamu nggak apa-apa kan?”, tanya Kak Aldi sedikit khawatir.
          “Nggak apa-apa kok, kak. Aku tadi cuma kaget aja pas kakak pegang tanganku.”, jawabku sambil mengambil handphoneku yang jatuh.
          “Maaf ya kalo aku lancang pegang tangan kamu. Abisnya kamu sih dari tadi nyuekin aku.”, kata Kak Aldi sambil cemberut.
          “Aku nggak nyuekin Kak Aldi kok.”, jawabku.
          “Terus kenapa pas aku mau ngomong kamu masih main hp terus tadi?”, tanya Kak Aldi sambil cemberut.
          “Oh ternyata Kak Aldi merasa kalo aku nyuekin kakak cuma karena aku asyik main hp sendiri ya tadi?”, tanyaku lagi.
          “Iya lah.”, jawab Kak Aldi yang masih saja cemberut.
          “Ok aku minta maaf kalo aku tadi asyik sendiri. Aku juga minta maaf kalo aku udah bikin kakak merasa dicuekin. Maaf ya. Udah dong jangan cemberut gitu.”, kataku.
          “Siapa yang cemberut? Aku nggak cemberut kok.”, jawab Kak Aldi.
          “Oh iya tadi katanya kakak mau ngomong sesuatu. Emang mau ngomong apa sih?”, tanyaku.
          “Sebenernya aku suka sama kamu, dek.”, jawab Kak Aldi agak gugup.
          “Aku juga suka kok sama kakak.”, jawabku pendek.
          “Beneran dek? Kamu nggak marah kan aku ngomong gini?’, tanya Kak Aldi setengah tidak percaya.
          “Iya. Kenapa harus marah sih? Aku tu suka sama Kak Aldi, Alya, Kak Ardi, dan semua orang.”, jawabku.
          “Adek, tolong dong jangan bercanda terus. Aku serius nih ngomongnya.”, kata Kak Aldi dengan suara manja seperti anak kecil sambil cemberut.
          “Lho siapa yang ngajakin bercanda sih? Emang bener kan apa yang aku katakan kalo aku tu suka sama Kak Aldi, Alya, Kak Ardi, dan semua orang. Lantas letak kesalahan dari omonganku tu dimana?”, tanyaku.
          “Maksud aku bukan rasa suka yang seperti itu, dek.”, kata Kak Aldi.
          “Lantas rasa suka yang seperti apa yang kakak maksud?”, tanyaku agak bingung.
          “Masa sih kamu nggak tau?’, tanya Kak Aldi.
          “Kalo aku tau nggak mungkin dong aku tanya ke kakak.”, jawabku.
          “Aku suka sama kamu sejak awal kita ketemu.”, kata Kak Aldi.
          “Apa yang kakak suka dari aku? Dan atas dasar apa kakak menyukaiku?”, tanyaku heran.
          “Aku suka sama sifatmu yang selalu berubah-ubah itu.”, kata Kak Aldi.
          “Sifat yang seperti apa?”, tanyaku lagi.
          “Ya kan kadang kamu bisa galak dan kadang kamu bisa lembut juga.”, jawab Kak Aldi.
          “Bukannya kakak jadi illfeel ke aku waktu kakak tau kalo aku sering marah-marah gitu? Tapi kakak kok malah suka sih sama sifat aku yang kayak gitu?”, tanyaku.
          “Justru itu aku malah suka sama sifatmu yang sering marah-marah itu. Kamu terlihat cantik kalo lagi marah-marah. Meskipun kadang aku juga sering kaget sih kalo liat kamu marah-marah.”, jawab Kak Aldi sambil tersenyum.
          “Jadi kakak lebih suka liat aku marah-marah daripada liat aku baik kayak gini? Jadi waktu aku baik seperti sekarang ini aku nggak cantik lagi?”, tanyaku sambil cemberut.
          “Bukan gitu, dek. Bukannya aku seneng liat kamu marah-marah. Tapi....”, kata Kak Aldi menggantungkan omongannya.
          “Tapi apa, kak?”, tanyaku penasaran.
          “Ih kamu kok kepo banget sih.”, goda Kak Aldi.
          “Kak, udah dong. Jangan godain aku mulu. Kasih tau napa.”, jawabku sambil cemberut.
          “Iya deh kakak kasih tau.”, kata Kak Aldi sambil tersenyum.
          “Nah gitu dong.”, jawabku.
          “Bukannya kakak seneng liat kamu marah-marah mulu. Tapi kalo kamu bersikap baik kayak gini kamu kelihatan makin cantik.”, kata Kak Aldi sambil tersenyum.
          “Kakak lagi bercanda kan? Kakak nggak serius kan ngomong kayak gitu?”, tanyaku setengah tidak percaya.
          “Beneran dek. Aku kan bukan tipe pembohong. Lagian buat apa sih aku bohong. Nggak ada untungnya tau.”, jawab Kak Aldi.
          “Iya deh aku percaya.”, kataku sambil tersenyum.
          “Oh ya aku boleh ngomong sesuatu nggak, dek?”, tanya Kak Aldi.
          “Boleh aja. Mau ngomongin apa lagi emang?”, tanyaku.
          “Aku takut kalo aku ngomongin hal ini entar kamu marah lagi ke aku.”, jawab Kak Aldi sedikit gugup.
          “Lho kenapa harus marah? Kalo kakak mau ngomong ya ngomong aja.”, kataku.
          “Beneran nih kamu nggak bakalan marah?”, tanya Kak Aldi.
          “Iya. Beneran deh. Ya udah kakak ngomong aja.”, jawabku sambil meminum jus jeruk yang sudah aku pesan tadi.
          “Sebenarnya aku juga cinta sama kamu. Kamu mau kan jadi pacarku?”, tanya Kak Aldi.
          Aku sangat kaget dan sampai tersedak ketika mendengar pengakuan Kak Aldi tadi.
          “Dek, kamu nggak apa-apa kan?”, tanya Kak Aldi khawatir sambil mengambilkan tissue untukku.
          “Aku nggak apa-apa kok, kak. Aku cuma kaget aja tadi.”, jawabku.
          “Maaf ya kalo aku sering bikin kamu kaget. Aku tau kalo ini semua terlalu cepat. Tapi menurutku inilah waktu yang tepat untuk mengungkapkan semua perasaanku ke kamu.”, kata Kak Aldi.
          “Aku suka dengan kejujuran kakak. Tapi......”, kataku sambil meneteskan air mata karena kata-kata Kak Aldi itu membuat aku jadi ingat dengan kejadian waktu itu.
          “Tapi apa, dek? Lho kok adek nangis sih? Adek kenapa? Adek nggak suka ya dengan pengakuanku tadi. Kalo adek nggak suka ya udah nggak apa-apa kok. Adek boleh nolak aku. Lagi pula adek juga pasti butuh waktu untuk menjawab pertanyaanku tadi.”, jawab Kak Aldi.
          “Aku nggak apa-apa kok. Aku suka dengan pengakuan kakak tadi.”, jawabku.
          “Kalo nggak ada apa-apa dan adek juga suka dengan pengakuanku tadi, lantas kenapa adek nangis? Coba deh kamu cerita ke aku sebenarnya ada apa. Mungkin aku bisa bantu.”, kata Kak Aldi sambil mengusap air mata di pipiku.
          “Tapi aku takut, kak.”, jawabku.
          “Emang kamu takut apa sih?”, tanya Kak Aldi heran.
          “Aku takut kalo aku pacaran sama Kak Aldi entar Kak Aldi bakal nyakitin perasaanku sama seperti ketika dia menyakitiku.”, jawabku.
          “Adek masih trauma sama kejadian itu ya?”, tanya Kak Aldi.
          “Lho kakak kok tau sih tentang hal itu?”, tanyaku kaget.
          “Soalnya Alya pernah cerita tentang semua masa lalu kamu ke aku. Adek masih trauma ya?”, tanya Kak Aldi.
          “Iya kak.”, jawabku pelan sambil menganggukkan kepala.
          “Adek, dengerin aku. Aku tu bukan tipe cowok kayak gitu. Aku juga ingin membuktikan semua ini ke kamu. Jadi tolong beri aku kesempatan buat membuktikan ke kamu kalo aku tu bukan cowok yang suka mainin perasaan cewek dan beri aku kesempatan juga agar aku bisa membantumu menghilangkan rasa takut dan traumamu itu.”, kata Kak Aldi berusaha untuk meyakinkanku.
          “Mmmm...baiklah. Tapi jadi temen deket aja ya biar kita bisa lebih mengenal karakter kita berdua.”, jawabku sambil tersenyum
          “Makasih ya, dek.”, kata Kak Aldi yang terlihat girang.
          “Iya. Tapi kakak harus nepatin janji itu ya.”, tantangku.
          “Iya sayang. Itu pasti.”, jawab Kak Aldi.
          “Kakak panggil aku apa tadi? SAYANG????”, tanyaku sedikit agak emosi.
          “Iya. Emang kenapa?”, tanya Kak Aldi heran.
          “Tolong jangan panggil aku dengan panggilan SAYANG. Cukup panggil aku adek atau Intan saja.”, jawabku.
          “Iya. Maaf ya aku nggak tau kalo kamu nggak suka dengan panggilan itu.”, kata Kak Aldi.
          “Iya nggak apa-apa kok. Maaf kalo aku agak emosi tadi.”, jawabku.
          “Iya. Justru aku yang harus minta maaf karena aku yang salah.”, kata Kak Aldi.
          “Kak, aku boleh ngomong nggak?”, tanyaku.
          “Iya boleh. Mau ngomong apa?”, tanya Kak Aldi.
          “Aku masih nggak habis pikir sama kakak.”, kataku
          “Maksud kamu?”, tanya Kak Aldi bingung.
          “Ya aku masih nggak habis pikir aja sama kakak. Padahal sejak awal kita ketemu aku selalu saja bersikap kasar ke kakak. Tapi kakak masih aja baik ke aku. Dan padahal aku bersikap kasar dan seolah-olah benci sama kakak tu sebenernya aku pingin buat kakak illfeel sama aku terus kakak menjauhiku. Tapi kenapa kakak malah makin dekat sama aku bahkan sampai jatuh cinta ke aku?”, tanyaku heran.
          “Oh jadi selama ini kamu pingin aku menjauhimu dengan cara kamu bersikap seperti itu ke aku?”, tanya Kak Aldi sambil tersenyum.
          “Iya.”, jawabku pendek.
          “Aduuh, adek adek. Kamu ini lucu banget sih.”, kata Kak Aldi sambil mencubit pipiku.
          “Aduh kak sakit tau. Emangnya apa sih yang lucu?”, tanyaku bingung.
          “Ya kamu tu yang lucu. Kamu pikir aku akan membencimu setelah kamu bersikap seperti itu ke aku apa?”, tanya Kak Aldi.
          “Ya pastilah. Kan kebanyakan cowok kalo sejak pertama kenal sudah dikasari dan seolah-olah dibenci pasti jadi makin illfeel dan akhirnya menjauhi cewek yang memperlakukannya seperti itu.”, jawabku.
          “Itu emang bener. Tapi tidak denganku. Entah kenapa aku suka sama cewek yang bersikap kayak gitu ke aku malah dengan sikapnya yang seperti itu aku bisa jatuh cinta kepadanya. Contohnya kamu. Jadi usaha kamu untuk membuatku agar aku makin benci sama kamu itu semua gagal. Selamat mencoba lagi ya, dek. Itupun kalo kamu bisa. Tapi aku yakin kamu nggak bakalan bisa bikin aku benci sama kamu.”, kata Kak Aldi menatapku sambil tersenyum.
          “Ih kakak apaan sih. Emang ini kuis berhadiah apa pake nyuruh aku mencoba lagi.”, jawabku sambil cemberut.
          “Abisnya kamu ada-ada aja deh. Pake sok-sokan benci sama aku. Nggak akan berhasil, dek.”, kata Kak Aldi sambil mencubit pipiku.
          “Kak, udah dong jangan nyubit pipiku terus. Sakit tau.”, jawabku cemberut.
          “Abisnya kamu bikin aku gemes sih.”, kata Kak Aldi.
          “Kalo gemes ya jangan gini juga dong cara ngelampiasinnya ke aku.”, jawabku lagi.
          “Iya deh kakak yang salah. Kakak minta maaf ya.”, kata Kak Aldi.
          “HUH!”, jawabku sambil memalingkan wajahku.
          “Waduh ada yang lagi marah nih.”, goda Kak Aldi.
          “Biarin aja. Abisnya kakak juga sih yang mulai duluan.”, jawabku ketus.
          “Iya deh kakak akui kakak emang salah. Maafin aku ya.”, kata Kak Aldi.
          “Tapi ada syaratnya.”, jawabku.
          “Apa syaratnya?’, tanya Kak Aldi.
          “Kakak jangan ngulangi hal ini lagi.”, jawabku.
          “Ok. Aku janji.”, kata Kak Aldi.
          “Awas aja kalo kakak berani ngulangi lagi.”, ancamku.
          “Kalo aku ngulangi lagi emang mau kamu apain sih?”, tanya Kak Aldi.
          “Liat aja nanti.”, jawabku.
          “Iya deh aku janji nggak akan ngulangi lagi. Abis ini kita pulang atau kamu pingin kemana dulu gitu?”, tanya Kak Aldi.
          “Aku mau langsung pulang aja deh, kak.”, jawabku.
          “Boleh aku anterin?”, tanya Kak Aldi.
          “Boleh aja. Makasih ya.”, jawabku pendek.
          “Iya. Santai aja lagi. Kalo gitu ayo kita ke parkiran.”, kata Kak Aldi tersenyum sambil menggandeng tanganku.
          “Kakak, udah lupa ya?”, tanyaku.
          “Lupa apa emang?”, tanya Kak Aldi bingung.
          “Itu tangan kakak ngapain pake ngegandeng tanganku segala.”, jawabku.
          “Oh iya aku lupa. Maaf ya dek aku nggak sengaja.”, kata Kak Aldi sambil meminta maaf.
          “Perasaan dari kemarin kalo kakak lagi sama aku kakak pasti bilang kalo kakak lupa lah, nggak sengaja lah. Emang yang ada di pikiran kakak apa sih? Kok lupa sama nggak sengajanya terus-terusan?”, tanyaku heran.
          “Kamu mau tau?”, tanya Kak Aldi.
          “Ya sebenernya pingin tau sih. Tapi kalo kakak nggak mau ngasih tau ya nggak apa-apa juga.”, jawabku.
          “Sebenernya yang ada di pikiranku tu cuma kamu. Jadi kalo aku lagi lupa atau lagi nggak sengaja itu karena aku mikirin kamu, adek.”, kata Kak Aldi sambil tersenyum padaku.
          “Kakak pasti lagi ngegombalin aku ya?”, tanyaku.
          “Lho ngomong jujur kok dibilang lagi ngegombal sih.”, jawab Kak Aldi sambil cemberut.
          “Iya deh. Aku percaya kok. Masa gitu aja ngambek sih.”, kataku sambil mencubit pipi Kak Aldi.
          “Aduh dek sakit tau.”, kata Kak Aldi sambil memegang pipinya.
          “Iya deh aku minta maaf. Kakak mau kan maafin aku?”, tanyaku.
          “Iya deh aku maafin. Kalo gitu kita pulang yuk.”, ajak Kak Aldi.
          “Makasih ya, kak. Ayo kalo gitu.”, jawabku.
          Sesampainya di parkiran....
          “Kak, aku duduk di belakang aja ya.”, pintaku.
          “Lho kok di belakang sih? Entar aku kayak sopir kamu dong.”, kata Kak Aldi sambil cemberut.
          “Biarin aja.”, godaku.
          “Kamu jahat banget sih, dek.”, kata Kak Aldi yang masih saja cemberut.
          “Ih kok cemberut gitu sih. Jelek tau.”, godaku lagi.
          “Biarin. Abisnya kamu jahat sih.”, jawab Kak Aldi.
          “Aku nggak sejahat itu kok. Ya udah deh aku pindah ke depan.”, jawabku.
          “Nah gitu dong. Dari tadi napa.”, kata Kak Aldi sambil tersenyum.
          “Biarin. Lagian aku juga pingin godain kakak, kok.”, jawabku sambil tertawa.
          “Seneng banget sih godain aku.”, kata Kak Aldi sambil cemberut.
          “Abisnya kakak tu lucu banget kalo lagi aku godain.”, jawabku.
          “Emangnya aku badut apa.”, kata Kak Aldi yang masih saja cemeberut.
          “Ya udah deh kalo gitu aku minta maaf. Maafin aku ya, Kak Aldi yang cakep.”, godaku.
          “Iya. Aku maafin kamu kok, Intan yang cantik. Ya udah kita pulang yuk.”, ajak Kak Aldi.
          “Ayo.”, jawabku dan kami pun langsung meninggalkan restoran itu.
          Sesampainya di depan rumahku.......
          “Kak Aldi nggak mampir dulu?”, tawarku.
          “Nggak usah, dek. Lain kali aja ya kalo aku udah bener-bener siap.”, kata Kak Aldi sambil tersenyum.
          “Siap? Maksud kakak siap untuk apa?”, tanyaku bingung.
          “Ah bukan apa-apa kok, dek.”, jawab Kak Aldi lagi.
          “Kak Aldi selalu gitu kalo ditanya.”, kataku sambil cemberut.
          “Entar kamu juga tau sendiri.”, jawab Kak Aldi sambil tersenyum.
          “Tuh kan kakak gitu lagi.”, kataku yang masih saja cemberut.
          “Udah ah jangan cemberut gitu. Entar cantiknya hilang lho. Ya udah kamu buruan masuk rumah gih. Entar dicari mama kamu lagi.”, jawab Kak Aldi.
          “Iya deh. Makasih ya kak udah mau nganterin aku.”, kataku.
          “Iya sama-sama.”, jawab Kak Aldi.
          “Ya udah kalo gitu aku masuk dulu ya, kak. Bye Kak Aldi.”, kataku sambil melambaikan tangan ke arah Kak Aldi.
          “Bye Intanku yang cantik. Kapan-kapan kita ketemu lagi ya.”, jawab Kak Aldi sambil melambaikan tangannya ke arahku.
          “Ok.”, kataku.
          Setelah Kak Aldi pergi, aku pun langsung masuk ke dalam rumah sambil menyanyi. Ketika masuk ke rumah aku sangat terkejut karena mama udah menungguku di ruang tamu.
          “Abis dari mana aja kamu jam segini baru pulang?”, tanya mama dengan nada sedikit kasar.
          “Itu ma aku abis main sama temen.”, jawabku sedikit ketakutan karena melihat raut wajah mama yang terlihat sangat marah.
          “Temen apa temen?”, tanya mama sambil menggodaku.
          “Ih mama apaan sih.”, jawabku sedikit malu.
          “Cerita dong. Masa sih mama nggak boleh tau?”, tanya mam.
          “Boleh sih. Tapi ada syaratnya.”, jawabku.
          “Apa itu syaratnya?”, tanya mama.
          “Mama nggak boleh marah ataupun ketawa kalo udah denger ceritaku.”, pintaku.
          “Ok. Buruan dong ceritanya.”, pinta mama.
          “Tadi tu aku diajak jalan sama temenku. Dia juga temen deketnya Kak Ardi, pacarnya Alya.”, jawabku.
          “Temennya Kak Ardi? Berarti dia cowok dong?”, tanya mama.
          “Iya.”, jawabku pendek.
          “Oh jadi kamu abis jalan sama cowok tadi?”, tanya papa sambil menghampiriku dan mama dengan raut wajah yang sedikit emosi.
          “Lho jadi dari tadi papa ngedengerin semua pembicaraanku dengan mama?”, tanyaku kaget.
          “Ya iyalah.”, jawab papa pendek.
          “Oh gitu.”, kataku lagi.
          “Emang cowok yang tadi jalan sama kamu tu siapa, dek?”, tanya papa.
          “Oh jadi papa belum tau?”, tanyaku.
          “Ya belum lah, dek. Tadi tu papa cuma denger sebagian aja.”, jawab papa.
          “Ya bagus deh kalo gitu.”, jawabku sambil tersenyum.
          “Lho adek kok gitu sih? Kan tadi adek udah janji ke mama kalo adek mau cerita. Sekarang kok malah nggak jadi sih?”, tanya mama.
          “Soalnya adek takut, ma.”, jawabku.
          “Lho kamu takut apa, sayang?”, tanya mama.
          “Takut kalo aku cerita entar papa marah lagi.”, jawabku sambil menunjuk ke arah papa.
          “Lho kok jadi papa sih yang disalahin?”, tanya papa bingung.
          “Abisnya papa suka marah-marah sih kalo denger adek cerita tentang cowok.”, jawabku lagi.
          “Itu kan dulu waktu kamu masih kecil. Sekarang ya enggak lah.”, kata papa.
          “Beneran nih papa nggak marah?”, tanyaku.
          “Iya beneran. Masa sih papa bohong.”, jawab papa.
          “Iya deh aku percaya.”, kataku lagi.
          “Udah dong jangan berantem mulu. Kalo gini terus kapan ceritanya?”, tanya mama.
          “Oh iya aku sampe lupa.”, jawabku sambil menepuk keningku.
          “Buruan dong dek ceritanya. Mama jadi penasaran nih.”, pinta mama.
          “Iya deh aku cerita sekarang. Sebenenya aku kenal dia udah cukup lama juga sih, ma.”, kataku.
          “Maksud kamu cowok yang kamu bilang temennya Kak Ardi itu?”, tanya mama.
          “Iya ma. Hampir 5 bulan lah aku kenal dia.”, jawabku.
          “Tapi kok adek nggak pernah cerita ke mama sih soal ini?”, tanya mama.
          “Abisnya mama nggak pernah tanya sih.”, jawabku lagi.
          “Oh iya. Mama lupa. Namanya siapa emang?”, tanya papa.
          “Nama lengkapnya Aldiansyah Dwi Kurniawan. Tapi aku biasa manggil dia Kak Aldi.”, jawabku.
          “Aldiansyah Dwi Kurniawan?”, tanya mama kaget.
          “Lho kok mama kaget gitu sih? Emangnya kenapa? Mama nggak suka ya kalo aku kenal sama Kak Aldi?”, tanyaku.
          “Oh nggak ada apa-apa kok. Mama cuma kaget aja tadi.”, jawab mama yang terlihat menyembunyikan sesuatu.
          “Beneran nggak ada apa-apa?”, tanyaku.
          “Iya sayang.”, jawab mama.
          “Mama nggak lagi bohong kan?”, tanyaku.
          “Iya mama nggak bohong kok. Lagian buat apa sih mama bohong? Nggak ada untungnya tau.”, jawab mama yang berusaha meyakinkanku.
          “Iya deh. Adek percaya kok.”, kataku.
          “Terus gimana lagi ceritanya?”, tanya papa.
          “Tadi dia ngungkapin perasaannya ke aku. Dia bilang kalo dia udah mulai menyukaiku sejak pertama kita ketemu.”, jawabku.
          “Terus?”, tanya papa dan mama secara bersamaan.
          “Aku terima.”, jawabku.
          “Jadi kalian udah pacaran?”, tanya papa.
          “Belum sih, pa.”, jawabku.
          “Lantas?”, tanya papa.
          “Kita masih dalam tahap pendekatan aja, pa. Maksud aku agar kita berdua bisa lebih mengenal karakter masing-masing.”, jawabku.
          “Oh jadi masih dalam tahap pendekatan?”, tanya mama.
          “Iya ma. Emang kenapa, ma?”, tanyaku.
          “Oh nggak apa-apa kok.”, jawab mama.
          “Kirain kenapa.”, kataku.
          “Nggak ada apa-apa kok.”, jawab mama singkat.
          Beberapa bulan kemudian.......
          “Dek, mama pingin banget ngenalin kamu ke anak temennya mama. Kamu mau kan?”, tanya mama.
          “Lho mama kan tau kalo adek lagi dalam tahap pendekatan sama Kak Aldi. Tapi kenapa mama malah mau ngenalin aku sama anak temennya mama?”, tanyaku kaget.
          “Halah kalian kan cuma pendekatan aja. Lagipula Kak Aldi juga nggak bakalan tau kalo kenalan atau ketemuan sama anak temennya mama.”, jawab mama.
          “Kalo aku ketemuan sama cowok itu berarti adek sama aja mengkhianati Kak Aldi, ma.”, jawabku lagi.
          “Kak Aldi tu nggak bakalan tau kalo kamu tu mau mama kenalin sama anak temennya mama.”, kata mama lagi.
          “Tapi ma....”, kataku.
          “Udah nggak usah kebanyakan alasan. Mama nggak mau denger alasan apapun dari kamu. Intinya kamu harus nurut sama mama dan harus mau mama kenalin sama anak temennya mama.”, jawab mama agak kasar. Jujur aku sangat kaget melihat sikap mama yang awalnya lembut sekarang berubah jadi seolah-olah tidak mau tau.
          Berbulan-bulan aku hanya teringat sama ucapan mama waktu itu dan aku pun bingung harus berbuat apa. Dan pada suatu hari aku putuskan untuk menemui Kak Aldi untuk menceritakan semua ucapan mama yang selama ini mengganggu pikiranku.
          “Kak, aku ganggu kakak nggak?”, tanyaku mengawali pembicaraan.
          “Oh nggak kok, dek. Kebetulan kakak juga lagi nggak sibuk. Emang adek mau cerita apa?”, tanya Kak Aldi.
          “Sebenarnya...........”, ucapku dengan napas yang tidak beraturan.
          “Lho adek kenapa?”, tanya Kak Aldi dengan nada khawatir.
          “Sebenarnya..........”, jawabku dengan suara yang tidak terlalu jelas.
          “Ok ok kakak ngerti. Kalo adek pingin nangis, nangis aja dulu. Nggak apa-apa kok. Mungkin setelah nangis, adek akan lebih tenang. Tapi adek harus janji sama kakak.”, ucap Kak Aldi.
          “Janji apa, kak?”, tanyaku dengan suara yang masih saja terdengar tidak terlalu jelas.
          “Adek harus janji kalo adek udah lebih tenang, adek harus cerita ke kakak sebenarnya ada apa. Adek mau kan?”, tanya Kak Aldi.
          “Iya adek janji. Makasih ya kak udah mau ngertiin keadaan aku.”, jawabku.
          “Sama-sama.”, kata Kak Aldi sambil tersenyum.
          Beberapa menit kemudian.........
          “Gimana? Adek udah lebih tenang?”, tanya Kak Aldi.
          “Udah kak.”, jawabku.
          “Kalo gitu sekarang adek cerita sebenarnya ada apa.”, pinta Kak Aldi.
          “Sebenarnya beberapa bulan lalu setelah aku cerita kalo aku sedang dalam tahap pendekatan sama kakak tiba-tiba mama malah mau ngenalin aku sama anak temennya mama. Padahal mama tau kalo aku tu sedang dalam tahap pendekatan sama kakak. Tapi mama seolah-olah nggak mau tau gitu, kak. Mama mau aku nurutin apa yang mama minta. Aku bingung kak harus gimana.”, kataku.
          “Kalo menurut kakak lebih baik kamu nurutin apa yang mama minta.”, jawab Kak Aldi.
          “Maksudnya kakak nyuruh aku nurut sama mama buat dikenalin ke anak temennya mama itu?”, tanyaku lagi.
          “Iya.”, jawab Kak Aldi sambil menganggukkan kepala.
          Aku sangat kaget dan merasa jika pendekatanku dengan Kak Aldi yang hampir 7 bulan ini sepertinya sia-sia setelah aku mendengar jawaban dari Kak Aldi tadi.
          “Lho adek kok sedih sih?”, tanya Kak Aldi heran.
          “Aku kecewa sama kakak. Jadi apa gunanya kita selama ini melakukan pendekatan kalo Kak Aldi malah nyuruh aku buat nurutin semua kemauan mama?”, tanyaku sambil meneteskan air mata lagi.
          “Maksud aku nggak gitu, adek.”, jawab Kak Aldi.
          “Lalu maksud kakak apa?”, tanyaku.
          “Maksud kakak nyuruh adek buat nurutin mama tu karena.........”, jawab Kak Aldi. Belum selesai Kak Aldi bicara, aku langsung memotong pembicaraannya.
          “Karena sebenarnya Kak Aldi nggak suka sama aku kan? Dan sebenarnya Kak Aldi nggak suka kan melakukan pendekatan dengan aku selama ini?”, tanyaku sambil meneteskan air mata lagi.
          “Enggak gitu, adek.”, jawab Kak Aldi.
          “Udah lah, kak. Aku baru tau ternyata selama ini Kak Aldi nggak suka sama aku dan nggak suka dengan pendekatan ini.”, kataku lagi.
          “Maksud aku bukan kayak gitu, dek. Dengerin penjelasan aku dulu.”, pinta Kak Aldi.
          “Nggak ada yang perlu dijelasin. Semua udah jelas kalo selama ini Kak Aldi tu nggak pernah suka dengan semua ini. Kalo gitu lebih baik aku pulang aja, kak.”, jawabku sambil meninggalkan Kak Aldi dengan perasaan kecewa.
          “Adek, tolong dengerin aku dulu. Aku mau ngejelasin semuanya.”, teriak Kak Aldi. Tapi sayangnya teriakan itu tidak aku hiraukan karena aku keburu pergi duluan.
          Sejak saat itu aku tidak pernah memberi kabar ke Kak Aldi. Aku sangat kecewa dengan jawaban Kak Aldi waktu itu. Aku tidak pernah menyangkan Kak Aldi akan menyuruhku untuk menuruti permintaan mama yang satu ini. Dan dalam beberapa bulan terakhir ini hanya rasa sedih lah yang aku rasakan. Yang ada di dalam pikiranku hanya lah perubahan sikap mama yang seolah-olah tidak mau itu. Aku nggak habis pikir kenapa mama bersikap seperti itu kepadaku. Sebenarnya aku juga ingin menanyakan hal ini ke mama.
          “Tapi ya sudah lah. Daripada nanti mama marah lebih baik aku diam saja.”, kataku dalam hati.
          Beberapa minggu setelah aku tidak pernah menghubungi Kak Aldi, tiba-tiba Kak Aldi menelponku. Awalnya aku malas untuk menjawab telpon dari Kak Aldi tapi karena Kak Aldi menelponku hingga puluhan kali, maka aku putuskan untuk mengangkat telpon dari Kak Aldi itu.
          “Assalamu’alaikum, adek.”, kata Kak Aldi mengawali pembicaraan.
          “Wa’alaikum salam, kak.”, jawabku singkat.
          “Kenapa telpon kakak nggak pernah diangkat sih?”, tanya Kak Aldi lagi.
          “Nggak kenapa-kenapa kok, kak.”, jawabku dengan suara agak malas.
          “Adek masih marah ya sama kakak karena kejadian waktu itu.”, tanya Kak Aldi.
          “Jujur aku kecewa banget setelah mendengar jawaban Kak Aldi waktu itu. Tapi ya sudah lah. Mungkin Kak Aldi emang nggak suka sama aku sejak awal.”, jawabku lagi.
          “Maksud kakak nggak kayak gitu, adek. Kakak bisa ngejelasin semuanya.”, kata Kak Aldi.
          “Nggak perlu dijelasin, kak. Aku udah tau kok. Maaf kak aku lagi pingin sendiri. Jadi tolong jangan hubungin aku dulu. Assalamu’alaikum.”, jawabku. Belum sempat Kak Aldi menjawab salamku, aku udah keburu menutup telpon itu.
          Beberapa bulan kemudian.........
          “Dek, ada undangan nih buat kamu.”, kata mama.
          “Undangan apa, ma? Dari siapa?”, tanyaku.
          “Lebih baik kamu baca sendiri. Nih undangannya.”, jawab mama sambil memberikan undangan itu ke aku kemudian mama pergi ke kamar.
          Setelah aku membuka dan membaca undangan itu, ternyata undangan itu adalah undangan pernikahannya Alya dan Kak Ardi. Awalnya aku tersenyum ketika membaca undangan itu. Tapi tak lama kemudian senyuman itu berubah menjadi air mata.
          “Betapa bahagianya Alya bisa menjalin hubungan dan akhirnya menikah dengan Kak Ardi dengan lancar tanpa ada masalah sedikitpun. Sedangkan aku baru saja melakukan pendekatan dengan Kak Aldi, tapi kenapa sudah ada masalah lagi? Ya Alloh kenapa ujian ini sangat berat untukku?”, tanyaku dalam hati. Tak terasa aku sudah menangis sejak tadi.
           Tanpa ku sadari ternyata mama sudah ada di kamarku.
          “Lho adek kenapa nangis?”, tanya mama.
          “Nggak apa-apa kok, ma. Mama sejak kapan di kamarku?”, tanyaku kaget.
          “Oh barusan kok. Maaf ya kalo mama nggak ngetok pintu dulu tadi.”, jawab mama sambil duduk di sebelahku.
          “Nggak apa-apa kok, ma.”, jawabku singkat.
          “Undangan dari siapa tadi?”, tanya mama.
          “Dari Alya, ma. Minggu depan dia mau nikah sama Kak Ardi. Mereka pasti bahagia banget ya, ma”, jawabku sambil meneteskan air mata.
          “Lho kok nangis lagi sih? Kenapa?”, tanya mama.
          “Ya aku iri aja melihat kebahagiaan mereka. Sejak awal mereka kenal dan menjalin hubungan, hubungan mereka berjalan lancar dan jarang banget ada masalah. Tapi kenapa ya ma aku baru aja melakukan pendekatan dengan Kak Aldi udah ada masalah yang baru?”, tanyaku ke mama. Mama pun hanya terdiam mendengar pertanyaanku kemudian pergi meninggalkanku.
          Tepat pada hari pernikahannya Alya.............
          “Selamat ya, al. Semoga kalian bahagia.”, kataku sambil memberi ucapan selamat ke Alya.
          “Iya. Makasih banyak ya, Intan. Maaf akhir-akhir ini aku jarang hubungin kamu karena aku juga sibuk banget ngurusin semua ini. Maaf ya, tan.”, jawab Alya.
          “Oh iya nggak apa-apa kok, al. Selamat ya, kak. Jagain Alya baik-baik ya.”, kataku sambil memberi ucapan selamat ke Kak Ardi.
          “Iya. Makasih ya, dek. Aku janji akan jagain Alya.”, jawab Kak Ardi
          “Oh iya ngomong-ngomong kamu kapan nih nyusulnya?”, tanya Alya sambil tersenyum.
          “Aku juga belum tau, al.”, jawabku dengan nada sedih ketika mendengar Alya bertanya seperti itu tadi.
          “Lho Intan kok sedih gitu sih? Pertanyaan aku nyinggung kamu ya tadi?”, tanya Alya.
          “Oh enggak kok.”, jawabku singkat.
          “Maaf ya tan kalo pertanyaanku tadi nyinggung kamu.”, kata Alya.
          “Iya nggak apa-apa kok. Lagian buat apa sedih. Nggak ada gunanya juga. Kan ini hari bahagia kamu.”, jawabku tersenyum.
          “Oh iya. Sekali lagi makasih ya tan udah mau datang ke acara pernikahanku dan Kak Ardi.”, kata Alya.
          Tanpa sengaja aku melihat Kak Aldi di acara pernikahannya Alya dan Kak Aldi pun langsung menghampiriku dan menyapaku.
          “Halo dek Intan. Masih marah ya sama kakak?”, tanya Kak Aldi.
          “Nggak. Maaf kak aku harus pulang. Soalnya masih ada urusan.”, jawabku sambil berusaha menghindari Kak Aldi.
          “Adek, tunggu dulu. Aku pingin ngomong sama kamu.”, kata Kak Aldi sambil mengejarku.
          Melihat aku seperti dikejar seseorang, Alya pun menghampiriku.
          “Lho tan ada apa? Kok kamu buru-buru gitu sih?”, tanya Alya heran.
          “Nggak ada apa-apa, al. Maaf aku harus pulang. Soalnya aku masih ada urusan.”, jawabku sambil pergi meninggalkan acara itu.
          Tak lama kemudian, Alya pun juga melihat Kak Aldi sedang mengejar seseorang.
          “Ada apa sih, kak? Kakak nyari siapa?”, tanya Alya.
          “Aku nyari Intan. Kamu liat nggak?”, tanya Kak Aldi.
          “Iya aku liat. Baru aja dia pergi.”, jawab Alya.
          “Pergi ke mana?”, tanya Kak Aldi lagi.
          “Katanya mau pulang gitu. Dia juga bilang kalo dia banyak urusan. Emang kenapa nyari Intan?”, tanya Alya.
          “Makasih ya, dek. Ya udah kalo gitu aku pergi dulu.”, kata Kak Aldi.
          “Lho Kak Aldi mau ke mana sih? Sebenarnya ada apa?”, tanya Alya heran.
          “Kapan-kapan aja aku jelasin.”, jawab Kak Aldi sambil pergi.
          Sepeninggalan Kak Aldi.........
          “Sebenarnya mereka berdua kenapa sih? Kok kucing-kucingan gitu?”, tanya Alya dalam hati.
          Beberapa minggu kemudian, Alya memintaku untuk main ke rumah barunya.
          “Eh Intan udah datang. Silahkan masuk, tan.”, kata Alya.
          “Makasih, al.”, jawabku.
          “Oh iya mau minum apa, tan?”, tanya Alya.
          “Apa aja deh.”, jawabku singkat.
          “Ok. Kalo gitu aku buatin dulu ya.”, jawab Alya sambil pergi ke dapur.
          Beberapa menit kemudian...........
          “Nih tan minumnya.”, kata Alya sambil meletakkan segelas jus jeruk di meja.
          “Makasih ya, al. Tumben kamu nyuruh aku main ke sini? Emang Kak Ardi lagi nggak di rumah apa?”, tanyaku.
          “Iya nih. Kak Ardi udah mulai dinas lagi.”, jawab Alya.
          “Oh gitu.”, kataku.
          “Tan, aku boleh tanya nggak?”, tanya Alya.
          “Boleh. Mau tanya apa emang?”, tanyaku.
          “Waktu aku tanya ke kamu kapan kamu nikah kenapa kamu sedih? Kenapa waktu itu kamu kok kucing-kucingan sama Kak Aldi? Sebenarnya ada apa sih?”, tanya Alya.
          “Oh nggak ada apa-apa kok, al.”, jawabku seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
          “Udah lah tan jujur aja ke aku. Aku tau kalo kamu lagi bohong.”, jawab Alya.
          “Sebenarnya aku lagi bingung, al.”, jawabku.
          “Lho bingung kenapa?”, tanya Alya heran.
          “Aku bingung sama sikap mama setelah aku cerita ke mama kalo aku sedang dalam tahap pendekatan dengan Kak Aldi.”, jawabku.
          “Lho emang sikap mama setelah mendengar ceritamu itu gimana?”, tanya Alya lagi.
          “Mama kan tau kalo aku sedang dalam tahap pendekatan dengan Kak Aldi tapi mama tu malah pingin ngenalin aku ke anak temennya mama, al. Otomatis aku nggak mau. Tapi mama malah memaksaku untuk menuruti semua kemauannya.”, jawabku.
          “Kak Aldi juga udah tau tentang semua ini?”, tanya Alya.
          “Udah, al. Beberapa bulan yang lalu aku sempat cerita tentang semua ini ke Kak Aldi.”, jawabku.
          “Lalu responnya Kak Aldi gimana?”, tanya Alya.
          “Kak Aldi malah nyuruh aku buat nurutin apa yang mama minta. Aku benar-benar kecewa al ketika Kak Aldi bilang gitu.”, jawabku dengan nada sedih.
          “Lho kok sedih sih?”, tanya Alya.
          “Aku bingung harus berbuat apa, al. Aku merasa kalo pendekatanku dengan Kak Aldi selama ini tu nggak ada gunanya.”, jawabku lagi.
          “Udah jangan sedih gitu. Mama kamu pasti tau yang terbaik buat kamu.”, kata Alya sambil memelukku.
          “Tapi aku pinginnya sama Kak Aldi, al.”, rengekku.
          “Iya aku tau. Tapi lebih baik kamu nurut aja sama mama kamu. Aku yakin pilihan mama kamu itu adalah pilihan yang tepat.”, kata Alya.
          “Tapi al......”, jawabku lagi.
          “Udah nggak usah banyak tapi. Nurut aja. Ok.”, kata Alya.
          “Iya deh.”, jawabku dengan berat hati.
          “Nah gitu dong. Ya udah diminum dulu gih jusnya.”, kata Alya.
          “Iya. Makasih ya, al.”, jawabku sambil meminum jus itu.
          “Iya.”. kata Alya.
          Ketika kita asyik ngobrol, tiba-tiba kita berdua dikejutkan dengan kedatangan Kak Ardi.
          “Assalamu’alaikum.”, ucap Kak Ardi.
          “Wa’alaikum salam. Eh papa udah pulang.”, jawab Alya smbil mencium tangan Kak Ardi.
          “Iya nih, ma. Lho ada dek Intan juga?”, tanya Kak Ardi.
          “Iya. Aku tadi sengaja nyuruh Intan buat main ke sini. Soalnya aku kangen banget sama Intan, pa. Maklum lah kan udah lama nggak ketemu.”, jawab Alya.
          Melihat kemesraan Alya dan Kak Ardi, tanpa sengaja aku berbicara.
          “Bahagia banget ya mereka. Sejak menjalin hubungan sampe nikah jarang banget ada masalah. Andai aku bisa seperti mereka, pasti aku bahagia banget.”, ucapku.
          Kak Ardi sangat kaget ketika mendengar aku berbicara seperti itu.
          “Lho adek kok ngomong gitu sih? Sebenarnya adek lagi ada masalah apa?”, tanya Kak Ardi mengagetkanku.
          “Oh nggak ada apa-apa kok, kak. Aku iri aja melihat kemesraan kalian berdua.”, jawabku.
          “Bener nih nggak ada apa-apa?”, tanya Kak Ardi.
          “Iya beneran. Oh iya kalo gitu aku pamit pulang dulu ya,”, jawabku.
          “Lho tan kok udah mau pulang sih?”, tanya Alya.
          “Kan kita udah ngobrol-ngobrol dari tadi. Lagian Kak Ardi juga udah pulang tuh.”, jawabku.
          “Oh iya aku lupa.”, kata Alya tersenyum sambil menepuk keningnya.
          “Ya udah kalo gitu aku pulang dulu ya. Assalamu’alaikum.”, ucapku.
          “Wa’alaikum salam.”, jawab mereka berdua.
          “Kapan-kapan main ke sini lagi ya, tan.”, kata Alya.
          “Ok.”, jawabku singkat.
          Sepeninggalanku...........
          “Ma, kamu tau nggak kenapa Intan ngomong kayak gitu tadi?”, tanya Kak Ardi penasaran.
          “Dia tu sebenarnya lagi bingung, pa.”, jawab Alya.
          “Bingung kenapa? Emang ada masalah apa lagi sih? Oh iya hubungan dia sama Kak Aldi gimana?”, tanya Kak Ardi.
          “Justru itu yang jadi masalahnya.”, jawab Alya.
          “Maksudnya?”, tanya Kak Ardi bingung.
          “Tadi Intan sempat cerita ke aku kalo mamanya Intan tu mau ngenalin dia ke anak temennya mamanya dia. Padahal mamanya juga tau kalo sekarang tu Intan sedang dalam tahap pendekatan dengan Kak Aldi.”, jawab Alya.
          “Ya ampun kok rumit gitu sih masalahnya. Kak Aldi juga udah tau tentang semua ini?”, tanya Kak Ardi.
          “Udah. Kak Aldi malah nyuruh Intan buat nurutin semua permintaan mamanya.”, jawab Alya.
          “Kak Aldi kok nggak pernah cerita tentang hal ini ya ke aku. Kak Aldi akhir-akhir ini juga sering terlihat agak galau gitu sih.”, kata Kak Ardi.
          “Aku jadi nggak tega kalo liat Intan sedih kayak gini. Semoga aja semua masalah ini cepat selesai. Dan semoga aja pilihan mamanya Intan adalah pilihan yang tepat untuk Intan.”, jawab Alya.
          “Amin. Aku hanya berharap semoga semuanya baik-baik aja. Ya udah kalo gitu aku mandi dulu ya. Capek banget nih.”, kata Kak Ardi.
          “Waduh aku belum nyiapin makan malam nih, pa.”, jawab Alya sambil menepuk keningnya.
          “Wah tega banget kamu, ma.”, kata Kak Ardi.
          “Maaf pa aku jadi sering lupa gini. Ya udah kalo gitu aku siapin makan malam dulu ya. Entar kalo papa udah selesai mandi kita sholat magrib berjamaah abis itu baru makan malam. Ok.”, kata Alya.
          “Ok mama yang cantik.”, jawab Kak Ardi sambil tersenyum.
          Beberapa minggu kemudian......
          “Dek, malam ini mama mau ngajakin kamu makan malam di luar.”, kata mama.
          “Beneran nih, ma?”, tanyaku girang.
          “Iya. Kan malam ini kita akan makan malam sama temennya mama yang pernah mama ceritain ke kamu waktu itu.”, jawab mama. Sontak aku sangat kaget mendengar apa yang baru saja mama katakan.
          “Maksudnya mama beneran mau ngenalin aku ke anak temennya mama itu?”, tanyaku lagi.
          “Ya iyalah. Masa mama bercanda sih.”, jawab mama.
          “Kalo gitu mendingan mama aja deh yang datang. Adek nggak usah ikut.”, jawabku malas.
          “Adek, nggak mungkin lah mama datang sendirian. Kan mama udah bilang ke temennya mama kalo mama mau ngajakin kamu juga.”, kata mama.
          “Mama kan tau kalo aku sedang dalam tahap pendekatan dengan Kak Aldi. Masa mama masih mau ngenalin aku ke anak temennya mama sih?”, tanyaku lagi.
          “Tuh kan itu lagi alasannya. Ya kalo kamu nggak bilang ke Kak Aldi kalo kamu mau mama kenalin ke anak temennya mama, Kak Aldi pasti nggak akan tau.”, jawab mama.
          “Tapi ma.....”, kataku.
          “Tapi apa? Kamu mau ngeles lagi? Mama nggak mau dengar alasan apapun dari kamu. Intinya jam 7 tepat kamu udah harus siap. Mama tunggu kamu di mobil.”, jawab mama.
          “Tapi ma......”, kataku lagi.
          “Udah nggak usah banyak alasan. Nurut aja apa kata mama. Sekarang lebih baik kamu siap-siap. Mama nggak mau kita datang terlambat.”, jawab mama seolah-olah tidak mau tau.
          “Iya iya, ma.”, jawabku tak bersemangat.
          Tepat jam 7..............
          “Dek, udah siap belum?”, tanya mama.
          “Bentar lagi, ma.”, jawabku dari dalam kamar.
          “Buruan. Mama tunggu kamu di mobil.”, kata mama.
          “Iya ma.”, jawabku pendek.
          Di mobil......
          “Aduh kamu lama banget sih, dek? Mama udah lama nunggu nih.”, kata mama agak kasar.
          “Maaf deh, ma.”, jawabku.
          “Ya udah lebih baik kita berangkat sekarang aja daripada telat.”, kata mama.
          “Iya ma.”, jawabku singkat.
          Selama di dalam mobil, aku pun agak cemberut dan tidak banyak bicara.
          “Dek, kok cemberut sih? Kenapa?”, tanya mama dengan lembut.
          “Nggak apa-apa kok, ma.”, jawabku seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Karena aku tau kalo aku banyak alasan, nanti mama pasti marah lagi.
          “Nanti kalo ketemu temennya mama, jangan cemberut gitu ya. Nggak enak dilihatnya.”, kata mama.
          “Iya ma.”, jawabku singkat.
          Beberapa menit kemudian kita sampai di restoran. Mama langsung memarkirkan mobil kemudian mengajakku untuk masuk ke restoran itu.
          “Dek, ayo kita ke meja 17. Soalnya tadi temennya mama bilang kalo beliau udah nunggu kita.”, ajak mama.
          “Iya ma.”, jawabku.
          Sesampainya di meja 17........
          “Eh mbak. Apa kabar, mbak? Udah lama nunggu ya?”, tanya mama kepada temannya itu sambil berjabatan tangan.
          “Alhamdulillah baik. Belum lama kok. Baru 10 menit yang lalu. Silahkan duduk.”, kata teman mama.
          “Makasih. Oh iya kenalin mbak ini anakku yang pernah aku ceritain waktu itu.”, jawab mama.
          “Oh udah gede ternyata. Namanya siapa, dek?”, tanya teman mama.
          “Intan, tante. Kalo tante sendiri?”, tanyaku lagi.
          “Oh iya kenalin nama saya Ayu. Panggil aja tante Ayu.”, jawab tante Ayu.
          “Iya tante.”, kataku sambil menganggukkan kepala.
          “Oh iya tadi mbak bilang mbak ke sini sama anaknya mbak. Tapi dia di mana mbak?”, tanya mama heran.
          “Oh dia tadi balik lagi ke mobil. Katanya mau ngambil handphone. Soalnya handphonenya ketinggalan. Tapi bentar lagi juga ke sini kok.”, jawab tante Ayu.
          “Oh gitu.”, kata mama.
          Beberapa menit kemudian, aku dikejutkan dengan kedatangan Kak Aldi yang tiba-tiba menghampiriku.
          ”KAK ALDI!!!”, ucapku dengan kaget.
          “Eh ada dek Intan. Gimana kabarnya, dek? Udah lama banget ya kita nggak ketemu.”, kata Kak Aldi sambil tersenyum.
          “Alhamdulillah aku baik. Kakak kok ada di sini sih?”, tanyaku yang masih saja kaget.
          “Oh iya dek, kenalin ini anaknya tante. Namanya Aldi”, kata tante Ayu sambil memperkenalkan Kak Aldi kepadaku.
          “Jadi maksud mama anak temennya mama yang mau mama kenalin ke aku itu Kak Aldi?”, tanyaku yang masih saja kaget.
          “Iya sayang.”, jawab mama lembut.
          “Tapi mama kok bisa kenal sama Kak Aldi sih? Padahal kan adek baru cerita sedikit tentang Kak Aldi ke mama.”, kataku.
          “Ya kenal lah. Sebenarnya Kak Aldi tu udah nyeritain kedekatan kalian berdua ke mama. Kan Kak Aldi juga anaknya tante Ayu. Dan mama tu udah temenan sama tante Ayu sejak kuliah. Jadi kita udah kenal lama, sayang.”, jawab mama.
          “Jadi selama ini mama cuma pura-pura marah ke aku?”, tanyaku cemberut.
          “Iya sayang. Mama sengaja ngasih kejutan ini ke kamu.”, jawab mama sambil tersenyum.
          “Tapi kan.......”, kataku yang masih saja cemberut.
          “Tapi apa? Tapi kamu suka kan sama kejutan ini?”, goda Kak Aldi.
          “Ih Kak Aldi apaan sih. Suka banget godain aku.”, jawabku cemberut.
          “Tapi bener kan kamu suka sama kejutan mama kamu yang satu ini?”, tanya Kak Aldi sambil tersenyum.
          “Mmmmm kalo dibilang suka ya lumayan suka sih.”, jawabku.
          “Adek dulu pernah curhat ke aku kan kalo adek nggak mau ketemu dan dikenalin ke anaknya tante Ayu. Sekerang masih nggak mau ketemu juga ya? Kalo masih tetap nggak mau ketemu, mendingan aku pulang aja deh.”, goda Kak Aldi.
          “Ih kakak apaan sih. Itu kan dulu. Abisnya mama nggak pernah cerita kalo anak temennya mama yang mau dikenalin ke aku tu ternyata Kak Aldi.”, jawabku sambil cemberut.
          “Sekarang kamu udah mau ketemu sama anaknya tante Ayu kan?”, tanya Kak Aldi sambil tersenyum.
          “Ya iya lah. Kan aku udah tau anaknya tante Ayu tu siapa.”, jawabku. Mama dan tante Ayu hanya tersenyum mendengarnya.
          “Oh iya dek, mama boleh ngomong sesuatu nggak?”, tanya mama.
          “Boleh. Emang mau ngomong apa, ma?”, tanyaku.
          “Setelah mama mendengar cerita kamu dan ceritanya Kak Aldi kalo kalian selama ini udah mulai melakukan pendekatan, maka mama dan tante Ayu memutuskan untuk merestui hubungan kalian.”, jawab mama.
          “Jadi mama dan tante Ayu merestui hubunganku dengan Kak Aldi?”, tanyaku setengah tidak percaya.
          “Iya sayang.”, jawab mama dan tante Ayu bersamaan.
          “Makasih ya, ma. Adek nggak pernah nyangka mama akan ngerestuin hubunganku dengan Kak Aldi.”, jawabku girang.
          “Iya adek.”, jawab mama sambil tersenyum. Kak Aldi pun hanya tersenyum melihat tingkahku.
          “Oh iya silahkan dimakan.”, kata tante Ayu.
          “Makasih ya, tante.”, jawabku girang.
          Setelah kita berempat selesai makan, kita pun pulang.
          “Makasih ya, tante.”, ucapku.
          “Iya sayang. Lain kali kita ketemu lagi ya.”, jawab tante Ayu.
          “Iya tante. Kalo gitu Intan sama mama pulang duluan ya, tante.”, kataku.
          “Iya.”, jawab tante Ayu pendek.
          “Hati-hati di jalan ya, adek.”, pesan Kak Aldi.
          “Iya kak. Makasih banyak ya, kak.”, jawabku.
          “Makasih untuk apa, dek?”, tanya Kak Aldi bingung.
          “Makasih udah ngasih kejutan ini ke aku.”, jawabku.
          “Kok bilang makasihnya ke aku aja sih?”, tanya Kak Aldi heran.
          “Oh iya aku lupa. Sekali lagi makasih ya, ma. Makasih juga ya, tante karena udah ngasih kejutan yang nggak pernah aku duga sebelumnya.”, ucapku.
          “Iya sayang.”, jawab mama dan tante Ayu secara bersamaan.
          “Oh iya mbak, aku sama Intan pulang dulu ya. Kapan-kapan kalo ada waktu kita ketemu lagi.”, kata mama.
          “Iya. Hati-hati di jalan ya.”, pesan tante Ayu.
          Sepeninggalan aku dan mama............
          “Cie ada yang lagi seneng nih.”, goda tante Ayu.
          “Mama apaan sih.”, jawab Kak Aldi sambil tersipu malu.
          “Ya udah kita pulang yuk.”, ajak tante Ayu.
          “Ayo.”, jawab Kak Aldi pendek.
          Semenjak pertemuanku dengan mamanya Kak Aldi, hubunganku dengan Kak Aldi semakin dekat. Dan beberapa minggu kemudian, Kedua orang tuanya Kak Aldi datang ke rumahku tanpa sepengetahuanku karena pada saat itu aku sedang keluar.
          “Assalamu’alaikum.”, ucap tante Ayu sambil mengetok pintu.
          “Wa’alaikum salam. Eh ada mbak Ayu. Silahkan masuk.”, kata mama setelah membuka pintu.
          Di ruang tengah..........
          “Ada tamu ya, ma? Siapa?”, tanya papa.
          “Kedua orang tuanya Kak Aldi, pa. Papa temuin mereka dulu ya. Mama mau bikin minum.”, kata mama.
          “Iya ma.”, jawab papa singkat.
          Di ruang tamu..........
          “Eh ada tamu. Udah lama ya?”, tanya papa.
          “Oh belum kok, mas.”, jawab om Erik. Tak lama kemudian mama pun kembali ke ruang tamu sambil membawa minuman.
          “Silahkan diminum.”, kata papa.
          “Makasih, mas.”, jawab om Khoirul.
          “Gimana kabarnya, mbak?”, tanya mama.
          “Baik.”, jawab tante Ayu sambil tersenyum.
          “Ngomong-ngomong ada acara apa nih? Kok tumben-tumbenan main ke sini sekeluarga?”, tanya papa.
          “Karena kami sebagai orang tuanya Aldi sudah tau tentang hubungan Intan dan Aldi, maka kedatangan kami ke sini untuk membicarakan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius lagi.”, jawab om Erik.
          “Maksudnya ke jenjang pernikahan?”, tanya mama.
          “Iya mbak.”, jawab tante Ayu.
          “Papa setuju tuh, ma. Kan mereka juga udah cukup lama menjalin hubungan kenapa nggak segera diresmikan aja?”, tanya papa.
          “Oh iya. Bener juga tuh, pa. Iya mbak mendingan segera diresmikan aja. Kalo gitu segera aja kita tentukan tanggal pernikahannya dan mengurus semua yang diperlukan. Tapi Intan nggak usah dikasih tau soal ini dulu. Biar Aldi aja yang tau”, jawab mama.
          “Lho emang kenapa mbak? Kok Intan nggak boleh dikasih tau soal ini?”, tanya tante Ayu.
          “Kita beri dia kejutan kayak waktu pertama kali Intan ketemuan sama mbak. Menurut aku lebih baik Aldi aja yang ngasih kejutan ini ke Intan. Mbak setuju kan?”, tanya mama.
          “Boleh juga. Makasih ya mbak kedatangan kami untuk membicarakan tentang Intan dan Aldi udah disambut dan direspon dengan baik.”, ucap tante Ayu.
          “Iya sama-sama. Kapan-kapan kita ketemu lagi ya untuk membahas ini semua.”, kata mama.
          “Iya mbak. Karena semua udah tersampaikan kami pamit pulang ya mbak. Assalamu’alaikum.”, kata tante Ayu.
          “Oh iya. Wa’alaikum salam. Hati-hati di jalan ya.”, pesan mama.
          “Iya mbak.”, jawab tante Ayu.
          Sesampainya di rumah, om Erik dan tante Ayu terkejut karena Kak Aldi sudah pulang.
          “Mama abis pergi sama papa ya? Emang abis dari mana?”, tanya Kak Aldi.
          “Iya dek. Tadi mama dari rumahnya Intan.”, jawab tante Ayu.
          “Dari rumahnya Intan? Ngapain?”, tanya Kak Aldi kaget.
          “Ngomongin tentang hubungan kalian.”, jawab tante Ayu.
          “Hubungan kami?”, tanya Kak Aldi.
          “Iya dek. Tadi mama juga sempat membicarakan tentang hubungan kalian untuk dilanjutkan ke jenjang yang lebih serius lagi. Karena menurut mama itu adalah keputusan yang paling baik”, jawab tante Ayu.
          “Maksudnya dilanjutkan ke jenjang pernikahan?”, tanya Kak Aldi.
          “Iya dek.”,  jawab om Erik sambil tersenyum.
          “Beneran kan, pa? Papa sama mama nggak lagi bohong kan?”, tanya Kak Aldi setengah tidak percaya.
          “Beneran, adek. Emang papa pernah bohong ke kamu apa?”, tanya om Erik lagi.
          “Nggak pernah sih. Lalu tadi gimana responnya mamanya Intan, pa?”, tanya Kak Aldi penasaran.
          “Mau tau aja apa mau tau banget?”, goda om Erik.
          “Ih papa apaan sih. Ditanya beneran kok jawabnya malah gitu.”, jawab Kak Aldi sambil cemberut.
          “Iya deh papa jawab. Tapi jangan cemberut gitu dong.”, kata om Erik.
          “Iya. Aku nggak cemberut kok. Emang tadi direspon gimana?”, tanya Kak Aldi.
          “Orang tuanya Intan merespon semua ini dengan baik.”, jawab tante Ayu.
          “Jadi mereka setuju?”, tanya Kak Aldi.
          “Iya sayang. Mereka bilang kalo semua ini lebih baik dilaksanakan secepatnya. Dan ada satu syarat lagi yang harus kamu tau.”, jawab tante Ayu.
          “Syarat? Memangnya apa, ma?”, tanya Kak Aldi.
          “Kamu harus janji nggak boleh ngasih tau ke Intan tentang semua ini.”, jawab tante Ayu.
          “Lho kok Intan nggak boleh dikasih tau sih, ma? Bukannya dia malah harus tau tentang semua ini?”, tanya Kak Aldi heran.
          “Iya mama tau. Tadi mereka bilang kalo mereka pingin semua rencana ini menjadi sebuah kejutan untuk Intan.”, jawab tante Ayu.
          “Boleh juga tu, ma. Entar biar aku aja yang ngasih tau ke Intan tentang semua ini tepat di hari ulang tahunnya.”, kata Kak Aldi.
          “Bagus juga ide kamu. Mama setuju banget.”, jawab tante Ayu.
          “Makasih banyak ya, ma.”, ucap Kak Aldi.
          “Makasih untuk apa, sayang?”, tanya tante Ayu bingung.
          “Makasih karena mama udah merestui hubunganku dengan Intan. Dan makasih juga karena udah ngomongin tentang kelanjutan hubungan kami ke orang tuanya Intan. Sekali lagi makasih banyak ya, ma. Adek nggak tau harus bilang apa lagi ke mama.”, jawab Kak Aldi sambil memeluk tante Ayu.
          “Iya sayang. Mama berharap semoga hubungan kalian tetap baik-baik saja.”, kata tante Ayu.
          Tepat di hari ulang tahunku...........
          “Selamat ulang tahun ya, sayang. Semoga kamu jadi anak yang solehah.”, ucap mama.
          “Dan semoga kamu semakin dewasa dalam berpikir dan bertindak.”, ucap papa.
          “Makasih atas ucapannya. Adek berharap semoga mama dan papa sehat selalu.”, jawabku sambil memeluk mama dan papa.
          “Iya adek. Makasih juga ya atas do’anya.”, kata mama sambil menciumku.
          “Papa berharap kamu semakin sukses dan sehat selalu.”, kata papa.
          Pada malam harinya, Kak Aldi mengajakku ketemuan di sebuah restoran. Katanya ada kado istimewa yang ingin dia berikan ke aku. Tapi kado istimewa apa yang dimaksud, aku pun juga tidak tau.
          Sesampainya di restoran............
          “Maaf kak aku telat.”, kataku.
          “Oh nggak apa-apa kok. Aku juga baru datang sekitar 10 menit yang lalu.”, jawab Kak Aldi.
          “Oh gitu. Oh iya katanya Kak Aldi mau ngasih aku sesuatu ya? Emang apa itu?”, tanyaku penasaran.
          “Sekarang adek tutup mata dulu.”, pinta Kak Aldi.
          “Lho kok harus tutup mata? Emang kenapa?”, tanyaku.
          “Udah lebih baik sekarang kamu nurut aja. Jangan banyak tanya. Ok.”, jawab Kak Aldi.
          “Iya deh.”, kataku.
          Beberapa menit kemudian..............
          “Kakak, lama banget sih? Udah capek nih akunya.”, kataku.
          “Sekarang kamu buka mata.”, pinta Kak Aldi.
          Setelah aku membuka mata, aku sempat bingung ketika melihat kotak warna merah yang dipegang oleh Kak Aldi.
          “Kotak? Isinya apa, kak?”, tanyaku bingung.
          “Kamu buka aja sendiri.”, jawab Kak Aldi sambil tersenyum.
          “Sekarang?”, tanyaku.
          “Ya iyalah.”, jawab Kak Aldi.
          Sontak aku sangat kaget ketika membuka dan melihat kotak itu yang ternyata berisi sepasang cincin.
          “Cincin?”, tanyaku kaget.
          “Iya cincin.”, jawab Kak Aldi.
          “Maksud kakak ngasih cincin ini ke aku apa?”, tanyaku.
          “Kamu mau nggak nikah sama aku?”, tanya Kak Aldi sambil tersenyum.
          “Apa? Ni.......ni......nikah?”, tanyaku kaget dan terbata-bata.
          “Iya nikah. Kamu mau kan?”, tanya Kak Aldi.
          “Tapi mama sama papa belum tau soal ini, kak. Entar gimana kalo mereka nggak setuju?”, tanyaku dengan nada sedikit takut.
          “Adek, kamu nggak perlu khawatir soal itu. Karena sebenarnya orang tua aku sudah membicarakan tentang semua ini kepada orang tua kamu beberapa minggu lalu. Mereka menyetujuinya dan menyarankan jika lebih baik hubungan kita segera diresmikan.”, jawab Kak Aldi sambil tersenyum.
          “Tapi kok mama nggak pernah cerita tentang semua ini ke aku?”, tanyaku lagi.
          “Sebenarnya mama kamu nyuruh aku untuk ngasih tau tentang semua ini ke kamu. Dan berhubung hari ini adalah hari ulang tahun kamu jadi aku ngasih kejutannya tepat di hari yang spesial ini. Aku tau dulu kamu pernah marah ketika aku kasih kejutan. Tapi kali ini jangan marah ya.”, kata Kak Aldi.
          Karena saking terharunya aku ketika melihat Kak Aldi memberikan kado istimewa di hari yang spesial ini, aku sampai tak sanggup berkata-kata lagi. Aku hanya dapat meneteskan air mata melihat semua ini. Tentu saja air mata bahagia.
          “Lho adek kok nangis sih? Adek nggak suka ya sama kejutan yang aku kasih tadi?”, tanya Kak Aldi.
          “Oh enggak kok, kak. Bukannya aku nggak suka.”, jawabku.
          “Kalo adek suka, lantas kenapa adek nangis?”, tanya Kak Aldi.
          “Aku sangat terharu melihatnya. Makasih ya kak udah ngasih aku kado istimewa di hari yang spesial ini.”, jawabku sambil meneteskan air mata haru.
          “Iya. Selamat ulang tahun ya, adek. Semoga kamu jadi anak solehah yang bisa membanggakan kedua orang tua, semoga kamu makin pinter, dan semoga kamu semakin dewasa dalam menghadapi semua masalah hidup ini.” ucap Kak Aldi.
          “Sekali lagi makasih ya, kak.”, jawabku yang masih saja meneteskan air mata.
          “Lho kok masih nangis sih? Udah dong nangisnya. Entar cantiknya hilang lho.”, kata Kak Aldi sambil mengusap air mataku yang jatuh di pipi.
          “Aku nggak nangis kok.”, jawabku.
          “Berarti kamu mau kan?”, tanya Kak Aldi.
          “Mau apa?”, tanyaku bingung.
          “Kamu mau kan nikah sama aku?”, tanya Kak Aldi.
          “Jika semuanya udah merestui, maka aku jawab IYA.”, jawabku tersenyum sambil menganggukkan kepala.
          “Makasih ya adek.”, kata Kak Aldi girang.
          “Iya kak.”, jawabku singkat.
          “Oh iya kita belum pesan makanan. Kamu mau makan apa?”, tanya Kak Aldi.
          “Oh nggak usah, kak. Makasih.”, jawabku.
          “Lho kok nggak usah sih? Emangnya kenapa?”, tanya Kak Aldi heran.
          “Aku masih kenyang. Soalnya tadi sore aku udah makan.”, jawabku.
          “Oh gitu. Jadi sekarang kamu mau pulang apa masih pingin di sini?”, tanya Kak Aldi.
          “Terserah kakak aja deh.”, jawabku.
          “Kalo gitu kita pulang aja yuk. Aku anterin kamu.”, ajak Kak Aldi.
          “Ayo. Makasih ya, kak.”, ucapku.
          “Iya.”, jawab Kak Aldi singkat.
          Sesampainya di rumah..............
          “Sekali lagi makasih ya kak udah nganterin aku dan makasih udah ngasih aku kado yang sangat istimewa.”, ucapku.
          “Iya sama-sama. Kalo gitu aku pulang dulu ya.”, kata Kak Aldi.
          “Oh iya. Hati-hati di jalan ya, kak.”, pesanku.
          “Ok.”, jawab Kak Aldi singkat.
          Setelah Kak Aldi pergi, aku pun segera masuk ke rumah.
          “Abis jalan sama Kak Aldi ya, dek?”, tanya papa mengagetkanku.
          “Oh iya, pa. Maaf ya pa tadi adek nggak pamit sama papa. Tapi adek udah bilang ke mama kok.”, jawabku sedikit takut.
          “Nggak apa-apa kok. Lagian mama juga udah cerita tadi.”, kata papa.
          “Oh gitu ya.”, jawabku singkat.
          “Ya udah kamu buruan ganti baju sana. Papa tunggu di ruang keluarga.”, kata papa.
          “Iya pa.”, jawabku sambil sambil meninggalkan papa lalu masuk ke kamar.
          Setelah ganti baju, aku pun langsung keluar kamar dan menuju ke ruang keluarga.
          “Dek, gimana tadi?”, tanya mama. Belum sempat aku menjawab pertanyaan mama, aku langsung memeluk mama.
          “Makasih banyak ya, ma.”, ucapku.
          “Makasih untuk apa, sayang?”, tanya mama bingung sambil melepaskan pelukanku.
          “Makasih untuk kado istimewa yang telah mama berikan ke aku.”, jawabku.
          “Kado istimewa? Adek ngomong apa sih?”, tanya mama makin bingung.
          “Makasih udah merestui hubunganku dengan Kak Aldi dan makasih juga karena mama udah membicarakan tentang rencana pernikahanku dengan Kak Aldi meski aku baru mengetahuinya.”, jawabku.
          “Oh jadi tadi Kak Aldi ngasih tau tentang hal ini ke kamu?”, tanya mama.
          “Iya ma. Sekali lagi makasih ya, ma. Adek nggak tau harus ngomong apa lagi ke mama.”, jawabku sambil meneteskan air mata haru.
          “Sama-sama sayang. Udah jangan nangis gitu. Jelek ah.”, kata mama sambil mengusap air mataku. Papa pun hanya tersenyum melihatnya.
          Beberapa bulan terakhir ini, semua hal yang diperlukan untuk pernikahanku dengan Kak Aldi pun sudah mulai dipersiapkan. Mama dan papa pun dibuat sibuk olehnya. Tak terkecuali aku. Saking sibuknya aku mempersiapkan semua kebutuhan yang diperlukan, sampai-sampai aku tak sempat menghubungi ataupun bertemu dengan Alya.
          Beberapa minggu kemudian, tiba-tiba Alya menelponku.
          “Assalamu’alaikum Intan. Gimana kabarnya?”, tanya Alya mengawali pembicaraan.
          “Wa’alaikum salam. Alhamdulillah aku baik, al. Kamu sendiri gimana kabarnya?”, tanyaku.
          “Alhamdulillah baik. Kemana aja kamu selama ini kok nggak pernah ngasih kabar atau nemuin aku sih? Atau jangan-jangan kamu udah lupa ya sama aku?”, tanya Alya.
          “Ya ampun maaf ya kalo selama ini aku nggak pernah ngasih kabar ke kamu. Soalnya aku sibuk banget. Tapi aku nggak lupa kok sama kamu.”, jawabku.
          “Oh nggak apa-apa kok. Oh iya aku boleh tanya nggak?”, tanya Alya.
          “Boleh. Mau tanya apa, al?”, tanyaku.
          “Ini soal anak temennya mama kamu dulu pernah kamu ceritain ke aku itu. Emang dia siapa sih?”, tanya Alya penasaran.
          “Oh soal itu. Tapi aku nggak bisa cerita di telpon, al. Gimana kalo kita ketemuan aja?”, tanyaku.
           “Ok. Di restoran tempat kita biasa makan malam ya. Entar aku ajak Kak Ardi juga ya.”, jawab Alya.
          “Ok.”, jawabku singkat.
          Pada sore harinya...........
          “Assalamu’alaikum. Kak, lagi sibuk nggak?”, tanyaku mengawali pembicaraan di telpon.
          “Wa’alaikum salam. Oh nggak kok, dek. Emang kenapa?”, tanya Kak Aldi.
          “Malam ini aku pingin ketemuan sama Alya. Tadi Alya bilang kalo dia mau ngajak Kak Ardi juga. Kakak mau kan ikut aku?”, tanyaku.
          “Boleh aja. Ya udah entar kakak jemput ya.”, jawab Kak Aldi.
          “Makasih ya, kak.”, kataku.
          “Iya. Ya udah kalo gitu aku siap-siap dulu ya. Assalamu’alaikum.”, ucap Kak Aldi.
          “Wa’alaikum salam.”, jawabku singkat.
          Beberapa jam kemudian...........
          “Assalamu’alaikum.”, ucap Kak Aldi sambil mengetok pintu.
          “Wa’alaikum salam. Eh kakak udah datang. Silahkan duduk, kak.”, jawabku.
          “Oh nggak usah, dek. Aku tunggu di luar aja.”, kata Kak Aldi.
          “Ya udah. Aku siap-siap dulu ya.”, jawabku sambil masuk ke rumah.
          Setelah siap, aku pun segera menemui mama.
          “Ma, aku pamit keluar dulu ya.”, ucapku.
          “Lho emang mau keluar ke mana?’, tanya mama.
          “Mau ketemuan sama Alya. Aku kangen sama dia, ma. Soalnya udah lama nggak ketemu. Boleh kan?”, tanyaku.
          “Oh ketemuan sama Alya. Boleh aja. Kamu pergi sendiri?”, tanya mama.
          “Oh enggak kok, ma. Aku ngajakin Kak Aldi. Soalnya Alya datang sama Kak Ardi juga.”, jawabku.
          “Oh gitu.”, kata mama.
          “Iya ma. Kalo gitu adek pergi dulu ya, ma. Assalamu’alaikum.”, ucapku sambil mencium tangan mama.
          “Wa’alaikum salam. Hati-hati di jalan ya, dek.”, pesan mama.
          “Iya ma.”, jawabku singkat.
          Setelah pamit ke mama, aku pun segera keluar.
          “Wah kamu cantik banget.”, puji Kak Aldi ketika melihatku.
          “Ah biasa aja kali, kak.”, jawabku.
          “Iya deh. Tapi kamu hari ini beneran cantik kok.”, kata Kak Aldi.
          “Makasih kakak. Ya udah mendingan kita pergi sekarang yuk.”, ajakku.
          “Ayo.”, jawab Kak Aldi singkat.
          Selama di perjalanan...............
          “Adek kok kelihatan seneng banget sih hari ini? Ada apa? Kakak boleh tau nggak?”, tanya Kak Aldi.
          “Iya dong, kak. Hari ini aku bisa ketemu dengan Alya setelah sekian lama kita nggak ketemu. Gimana nggak seneng coba.”, jawabku girang.
          “Oh ternyata itu yang bikin kamu seneng hari ini?”, tanya Kak Aldi.
          “Bukan itu aja, kak.”, jawabku.
          “Lantas apa lagi?”, tanya Kak Aldi penasaran.
          “Tadi pas di telpon tu Alya sempat tanya sebenarnya siapa anak temennya mama aku yang mau dikenalin ke aku itu.”, jawabku.
          “Terus kamu jawab apa?”, tanya Kak Aldi.
          “Belum aku jawab. Makanya malam ini aku ngajakin Alya untuk ketemuan tu buat nyeritain tentang semua ini.”, jawabku.
          “Ide bagus tuh. Pas banget aku juga pingin ngasih sesuatu ke Kak Ardi.”, kata Kak Aldi.
          “Sesuatu? Apa itu, kak?”, tanyaku penasaran.
          “Nih.”, jawab Kak Aldi tersenyum sambil memberikan sebuah undangan ke pernikahan ke aku.
          “Undangan pernikahan?”, tanyaku heran.
          “Iya. Bagus nggak undangannya?”, tanya Kak Aldi.
          “Bagus banget, kak. Aku suka. Tapi ini undangan pernikahannya siapa sih? Kok mau di kasih ke Kak Ardi?’, tanyaku heran.
          “Daripada kebanyakan nanya mendingan kamu buka dan baca sendiri undangan itu.”, jawab Kak Aldi.
          Setelah aku membuka undangan itu, aku sangat kaget karena di situ tertulis namaku dan namanya Kak Aldi.
          “Ja.....jadi ini undangan pernikahan kita, kak?”, tanyaku setengah tidak percaya.
          “Iya. Kamu suka kan?”, tanya Kak Aldi tersenyum.
          “Iya aku suka banget. Makasih banyak ya, kak.”, ucapku girang.
          “Iya adek.”, jawab Kak Aldi sambil tersenyum.
          Beberapa menit kemudian, kami pun tiba di restoran.
          “Dek, turun yuk. Udah sampai nih.”, ajak Kak Aldi.
          “Lho udah sampai?”, tanyaku kaget.
          “Ya ampun dari tadi kamu mikirin apa aja kok sampek nggak nyadar gitu kalo udah sampai sih?”, tanya Kak Aldi.
          “Oh nggak kok. Aku nggak mikirin apa-apa.”, jawabku.
          “Alah nggak usah bohong. Atau jangan-jangan dari tadi kamu mikirin aku ya sampek kamu lupa gitu?”, tanya Kak Aldi tersenyum.
          “Ih kakak PD banget sih. Ya enggak lah.”, jawabku ngeles.
          “Enggak salah kan maksudnya?”, goda Kak Aldi.
          “ENGGAK BENAR SAMA SEKALI.”, jawabku membantah ucapan Kak Aldi.
          “Iya deh kakak ngalah. Ya udah kita masuk yuk.”, kata Kak Aldi sambil mengajakku masuk ke restoran.
          “Ayo.”, jawabku singkat.
          Di dalam restoran.............
          “Intan!!!!!”, panggil Alya sambil melambaikan tangan ke arahku. Aku dan Kak Aldi pun langsung menghampirinya.
          “Intan, apa kabar? Aku kangen banget sama kamu.”, kata Alya sambil memelukku.
          “Alhamdulillah aku baik, al. Aku juga kangen banget sama kamu. Nggak terasa kita udah lama banget nggak ketemu.”, jawabku. Kak Ardi dan Kak Aldi hanya tersenyum melihatnya.
          “Iya. Eh ada Kak Aldi juga. Gimana kabarnya, kak?”, tanya Alya.
          “Alhamdulillah aku juga baik.”, jawab Kak Aldi singkat.
          “Oh iya setau aku waktu terakhir kali kita ketemu bukannya kalian masih bertengar gara-gara kamu mau dikenalin sama anak temennya mama kamu ya, tan? Tapi kok sekarang kalian udah akur sih? Terus anak temennya mama kamu yang mau dikenalin ke kamu itu sebenarnya siapa?’, tanya Alya bertubi-tubi. Aku dan Kak Aldi pun hanya tersenyum mendengarnya.
          “Lho kamu ditanya kok malah senyum sih, tan?”, tanya Alya sambil cemberut.
          “Abisnya aku bingung dengernya. Makanya kalo tanya tu pelan-pelan. Jangan langsung banyak kayak gitu.”, jawabku.
          “Iya deh.”, kata Alya.
          “Sekarang mana yang mau kamu tanyain duluan?”, tanyaku.
          “Tentang anak temennya mama kamu yang katanya mau dikenalin ke kamu. Sebenarnya dia siapa sih?”, tanya Alya.
          “Kamu beneran mau tau?”, tanyaku.
          “Ya iyalah. Sebenarnya dia siapa sih, tan?”, tanya Alya lagi.
          “Sebenarnya kamu udah kenal kok sama dia. Dia selama ini juga deket banget sama aku, kamu, dan Kak Ardi.”, jawabku tersenyum.
          “Deket sama kita?”, tanya Alya dan Kak Ardi bersamaan.
          “Iya.”, jawabku singkat.
          “Tan, jangan bikin aku makin penasaran dong. Kasih tau aja apa susahnya sih.”, rengek Alya.
          “Sebenarnya cowok yang kamu tanyain itu adalah Kak Aldi.”, jawabku sambil melirik ke arah Kak Aldi.
          “Apa? KAK ALDI?”, tanya Alya dan Kak Ardi bersamaan.
          “Iya.”, jawabku.
          “Jadi cowok yang selama ini mau dikenalin ke kamu itu ternyata Kak Aldi?”, tanya Alya yang masih saja nggak percaya.
          “Iya Alya.”, jawabku tersenyum.
          “Kok kamu nggak pernah cerita tentang semua ini ke aku sih, al?”, tanya Kak Ardi.
          “Aku emang sengaja nggak cerita ini ke siapa pun. Oh iya ar aku mau ngasih sesuatu ke kamu nih.”, kata Kak Aldi.
          “Kak Ardi aja nih yang dikasih? Aku enggak?’, tanya Alya.
          “Ya entar dibagi dua.”, jawab Kak Aldi sambil tersenyum.
          Tak lama kemudian, Kak Aldi mengeluarkan undangan yang tadi sudah sempat aku baca.
          “Undangan pernikahan?”, tanya Kak Ardi heran.
          “Iya.”, jawab Kak Aldi singkat
          “Emang siapa yang mau nikah?”, tanya Kak Ardi.
          “Kamu buka aja sendiri.”, jawab Kak Aldi tersenyum.
          Setelah undangan itu dibuka dan dibaca, Alya dan Kak Aldi pun terlihat kaget.
          “Kok kalian kelihatan kaget gitu sih? Emang ada yang salah ya sama undangannya?”, tanya Kak Aldi.
          “Ini beneran kalian yang nikah?”, tanya Alya setengah tidak percaya setengah tidak percaya.
          “Iya.”, jawabku sambil tersenyum.
          “Selamat ya, tan. Aku nggak nyangka kalian yang awalnya saling benci eh ternyata sebentar lagi udah mau nikah. Sekali lagi selamat ya. Semoga semuanya lancar.”, kata Alya sambil memelukku.
          “Amin. Makasih banyak ya, al.”, jawabku.
          “Selamat ya, bro.”, ucap Kak Ardi sambil menjabat tangan Kak Aldi.
          “Makasih ya, ar.”, jawab Kak Aldi.
          “Oh iya kalian nggak pingin pesan makanan apa?”, tanya Alya.
          “Oh nggak usah, al. Makasih. Lagian aku ngajakin kamu ketemuan cuma pingin ngomongin ini aja kok.”, jawabku.
          “Oh gitu. Kalo gitu sekarang kita pulang atau mau ke mana dulu gitu?”, tanya Alya.
          “Mendingan pulang aja yuk.”, ajakku.
          “Ayo.”, jawab Alya.
          Sesampainya di parkiran.............
          “Al, aku pulang dulu. Sampai ketemu lagi.”, ucapku.
          “Iya. Hati-hati di jalan ya.”, pesan Alya.
          Sepeninggalanku.........
          “Nggak nyangka ya ma mereka yang dulu selalu saja bertengkar eh sekarang udah mau nikah.”, kata Kak Ardi.
          “Iya. Mungkin Kak Aldi emang jodohnya Intan.”, jawab Alya.
          “Ya udah kalo gitu kita pulang yuk, ma.”, ajak Kak Ardi.
          “Ayo.”, jawab Alya singkat.
          Hari ini adalah hari yang sangat bermakna untukku dan Alya karena pada hari ini kami telah berhasil menyelesaikan studi S2 yang selama ini kami tempuh. Tanpa disangka-sangka aku dan Alya diminta untuk menjadi dosen di kampus tempatku menempuh S2. Aku dan Alya pun sangat senang mendengarnya. Dan yang membuatku lebih bahagia lagi adalah pernikahanku dengan Kak Aldi akan dilangsungkan dalam waktu dekat ini.
          Tepat di hari pernikahanku............
          “Selamat ya tan atas kelulusan kamu. Dan selamat akhirnya kamu nikah juga. Semoga jadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah.”, ucap Alya sambil memelukku.
          “Makasih banyak ya al atas ucapannya. Dan aku juga ngucapin selamat ke kamu atas kelulusanmu kemarin. Selamat ya.”, ucapku.
          “Makasih ya. Kak, jagain Intan ya. Jangan pernah kecewakan dia.”, pesan Alya.
          “Iya. Aku pasti jagain Intan. Dan aku janji akan nepatin janji aku ke kalian selama ini”, jawab Kak Aldi dengan pasti.
          “Selamat ya, al. Akhirnya kamu nikah juga. Semoga kalian bahagia.”, kata Kak Ardi.
          “Iya. Sekali lagi makasih ya atas ucapannya.”, jawab Kak Aldi
          Beberapa bulan setelah hari pernikahanku..........
          “Ma, aku boleh ngomong nggak?”, tanya Kak Aldi mengawali pembicaraan.
          “Oh boleh kok. Mau ngomong apa?”, tanya mama penasaran.
          “Sebenarnya setelah nikah, rencananya aku pingin ngajakin Intan pindah ke rumah baru kami.”, jawab Kak Aldi.
          “Rumah baru?”, tanya mama.
          “Sebenarnya nggak baru sih, ma. Rumah itu adalah hadiah ulang tahunku yang ke 25 dari mama dan papa. Boleh kan ma aku ngajakin Intan buat tinggal di rumah itu?”, tanya Kak Aldi. Mama hanya terdiam setelah mendengar Kak Aldi berbicara seperti itu.
          “Kalian beneran mau pindah?”, tanya mama dengan nada sedih.
          Belum sempat Kak Aldi menjawab pertanyaan mama, aku pun datang dan kaget melihat mama dengan raut wajah yang sedih.
          “Lho mama kenapa sedih?”, tanyaku heran.
          “Adek beneran mau pindah?”, tanya mama.
          “Pindah? Mama ngomong apa sih?”, tanyaku kaget.
          “Tadi Kak Aldi bilang ke mama kalo kalian mau pindah.”, jawab mama.
          “Kak Aldi beneran bilang gitu ke mama?”, tanyaku ke Kak Aldi.
          “Iya. Tapi ini masih rencana aja kok, dek. Kalo kamu belum siap buat pindah dan mama masih pingin kita tinggal di sini ya nggak apa-apa. Aku nggak maksa kok.”, jawab Kak Aldi.
          “Mama emang ngijinin kalian buat pindah, tapi tolong jangan sekarang.”, pinta mama.
          “Iya ma. Aku ngerti kok.”, jawab Kak Aldi.
          “Makasih ya kak udah mau ngertiin mama.”, ucapku.
          “Iya sayang.”, jawab Kak Aldi.
          Setelah setahun lebih aku menikah dengan Kak Aldi, akhirnya mama mengijinkanku untuk pindah ke rumah barunya Kak Aldi.
           “Makasih ya ma udah ngasih ijin ke aku buat pindah.”, ucapku sambil memeluk mama.
          “Iya adek. Adek jangan tinggalin mama ya.”, pesan mama.
          “Mama ngomong apa sih? Adek kan cuma pindah rumah, ma. Bukan berarti adek ninggalin mama untuk selamanya. Adek akan sering main ke rumah kok.”, jawabku.
          “Beneran?”, tanya mama.
          “Iya mama. Ya udah kalo gitu adek pergi dulu ya, ma.”, ucapku.
          “Iya. Al, mama titip Intan ya. Tolong jagain dia.”, kata mama.
          “Iya ma. Aku pasti jagain Intan. Kalo gitu kita pamit dulu ya, ma. Assalamu’alaikum.”, ucap Kak Aldi.
          “Wa’alaikum salam.”, jawab mama.
          Karena akhir-akhir ini aku sangat sibuk, sampai-sampai aku tidak sempat untuk main ke rumah mama. Beberapa hari kemudian setelah aku selesai mengajar, aku sempatkan untuk main ke rumah mama.
          “Assalamu’alaikum.”, ucapku sambil mengetok pintu.
          “Wa’alaikum salam.”, jawab seseorang sambil membuka pintu. Aku sangat kaget melihat seseorang yang membuka pintu.
          “Kakak!!!!!”, kataku setengah menjerit sambil memeluk kakakku.
          “Eh adek. Apa kabar?’, tanya kakakku.
          “Alhamdulillah aku baik. Kakak gimana kabarnya? Terus kakak kapan datang? Kuliahnya di luar negeri udah selesai ya?”, tanyaku bertubi-tubi.
          “Alhamdulillah aku baik. Kuliahku juga udah selesai beberapa tahun lalu. Tapi aku diminta sama pihak kampus buat ngajar di situ. Jadi baru bisa pulang sekarang deh. Oh iya kemarin mama cerita kalo kamu udah nikah. Selamat ya, dek. Maaf kakak nggak bisa datang di hari bahagiamu soalnya waktu itu kakak lagi sibuk banget. Sekali lagi maaf ya.”, kata kakakku.
          “Oh iya. Nggak apa-apa kok, kak. Aku juga mau minta maaf ke kakak.”, jawabku.
          “Minta maaf untuk apa?”, tanya kakakku bingung.
          “Aku minta maaf karena aku nikahnya ngedahuluin kakak.”, jawabku.
          “Nggak apa-apa, adek. Mungkin jodoh kamu datangnya lebih dulu daripada jodohnya kakak. Jadi soal itu nggak usah terlalu dipikirin lah.”, kata kakakku santai.
          “Terus kakak kapan nih nikahnya?”, tanyaku.
          “Rencananya sih beberapa bulan lagi. Kamu do’ain aja ya semoga nggak ada halangan.”, kata kakakku.
          “Ok kakak.”, jawabku singkat.
          Tak lama kemudian, mama pun datang.
          “Mama!!!!!”, ucapku sambil memeluk mama.
          “Eh adek. Adek kapan datang?”, tanya mama.
          “Sekitar satu jam yang lalu, ma. Aku kanget banget sama mama. Mama dari mana aja?”, tanyaku.
          “Oh tadi mama abis belanja. Mama juga kangen sama adek. Entar nginap di sini ya.”, pinta mama.
          “Iya. Kak Aldi juga boleh nginap kan, ma?”, tanyaku.
          “Tentu saja boleh, sayang.”, jawab mama.
          “Ya udah entar aku bilang ke Kak Aldi kalo aku lagi di rumah mama. Jadi Kak Aldi biar langsung ke sini.”, kataku.
          “Ide bagus tuh.”, jawab mama.
          Pada malam hari ketika makan malam..............
          “Oh iya kak kenalin ini kakak aku. Nama Shan Duta.”, kataku sambil memperkenalkan kakakku ke Kak Aldi.
          “Eh Aldi. Gimana kabarnya?”, tanya kakakku.
          “Alhamdulillah aku baik. Oh iya aku dulu sempat denger dari anak-anak katanya kamu nglanjutin studimu ke luar negeri ya? Terus sekarang udah selesai?”, tanya Kak Aldi.
          “Iya. Sebenarnya udah selesai beberapa tahun lalu sih. Tapi karena aku diminta untuk ngajar di sana sekalian jadi aku baru bisa pulang sekarang.”, jawab kakakku.
          “Lho kalian udah saling kenal?’, tanyaku kaget.
          “Udah dek. Kak Aldi dulu temenku waktu SMP. Tapi setelah lulus SMP, aku udah nggak pernah berhubungan lagi sama Kak Aldi. Jadi ini bisa dikatakan pertemuanku yang pertama dengan kak Aldi setelah sekian tahun kita nggak ketemu.”, jawab kakakku.
          “Mendingan makan dulu. Nanti disambung lagi ceritanya.”, kata mama.
          “Iya ma.”, jawab kakakku.
          Setelah selesai makan malam, kakakku dan Kak Aldi pun melanjutkan pembicaraannya. Aku pun mencari mama karena ada suatu hal yang ingin aku bicarakan.
          “Ma, adek boleh masuk?”, tanyaku sambil mengetok pintu kamar mama.
          “Masuk aja, dek.”, jawab mama.
          “Sebenarnya adek pingin ngomong sesuatu ke mama.”, kataku.
          “Apa itu?”, tanya mama.
          Tanpa pikir panjang, aku pun langsung memeluk mama sambil menangis. Otomatis mama kaget kemudian melepaskan pelukanku.
          “Kok adek nangis sih? Kenapa?”, tanya mama heran.
          “Adek pingin minta maaf ke mama.”, jawabku terbata-bata.
          “Minta maaf untuk apa, sayang?”, tanya mama bingung.
          “Maafin adek ya ma kalo selama ini adek punya salah ke mama. Adek sadar selama ini adek selalu membantah omongan mama. Adek sadar selama ini adek selalu bikin mama kecewa. Adek tau adek nggak bisa kayak kakak yang selalu bisa bikin mama bangga. Sekali lagi adek minta maaf.”, jawabku sambil meneteskan air mata.
          “Adek ngomong apa sih? Adek tu nggak pernah bikin mama kecewa. Justru mama bangga sama adek karena adek mampu mengatasi masalah di dalam hidupnya adek. Dan adek harus tau mama tu nggak pernah ngebanding-bandingin adek sama kakak karena mama tau setiap orang itu nggak sama. Mereka pasti punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jadi adek tidak perlu menjadi seperti kakak kalo adek pingin bikin mama bangga. Adek cukup jadi diri adek sendiri aja. Karena mama sudah sangat bangga melihat adek seperti sekarang ini.”, kata mama.
          “Dan adek juga ngucapin terima kasih ke mama atas semua kejutan yang telah mama berikan ke aku. Sekali lagi makasih banyak ya, ma.”, ucapku sambil memeluk mama.
          “Iya sayang.”, jawab mama sambil tersenyum.
          Keesokan harinya, aku pun pamit pulang.
          “Ma, adek pamit dulu ya. Kapan-kapan adek main ke sini lagi.”, ucapku.
          “Iya. Hati-hati di jalan ya, sayang”, pesan mama.
          “Iya ma. Kalo gitu adek pergi dulu ya, ma. Assalamu’alaikum.”, ucapku.
          “Wa’alaikum salam.”, jawab mama.
          Kak Aldi pun langsung mengantarku ke kampus. Sesampainya di kampus.......
          “Pa, mama ngajar dulu ya. Entar kalo udah pulang, mama hubungin papa.”, kataku sambil turun dari mobil.
          “Iya ma. Kalo gitu papa ke kantor dulu ya.”, jawab Kak Aldi.
          “Hati-hati di jalan ya.”, pesanku.
          “Ok mama.”, jawab Kak Aldi sambil tersenyum.
          Kebetulan hari ini aku cuma ngajar sampai jam 12 saja. Dan setelah itu aku langsung pulang. Sesampainya di rumah.........
          “Pa, mama udah di rumah.”, kataku mengawali pembicaraan di telpon.
          “Iya ma. Tapi papa hari ini pulangnya agak sore. Nggak apa-apa kan?”, tanya Kak Aldi.
          “Nggak apa-apa kok.”, jawabku.
          “Ya udah kalo gitu mama istirahat aja dulu. Papa mau lanjut kerja dulu ya.”, kata Kak Aldi.
          “Iya papa.”, jawabku sambil mematikan telepon itu.
          Sore harinya........
          “Assalamu’alaikum.”, ucap Kak Aldi.
          “Wa’alaikum salam. Eh papa udah pulang.”, jawabku sambil mencium tangan Kak Aldi.
          “Iya nih, ma. Tadi gimana ngajarnya?”, tanya Kak Aldi.
          “Alhamdulillah lancar. Papa sendiri?”, tanyaku.
          “Alhamdulillah juga lancar. Papa mandi dulu ya, ma.”, kata Kak Aldi.
          “Iya. Kalo gitu mama siapin makan malam dulu.”, jawabku sambil menuju ke dapur.
          Setelah selesai sholat maghrib, aku dan Kak Aldi pun segera menuju ke ruang makan untuk makan malam.
          “Pa, setelah makan malam aku pingin ngomong sama papa.”, kataku.
          “Mau ngomong apa, ma?”, tanya Kak Aldi.
          “Entar aja.”, jawabku singkat.
          “Ya udah.”, kata Kak Aldi.
          Setelah makan malam, aku mengajak Kak Aldi ke kamar karena ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan Kak Aldi. Di kamar...............
          “Katanya tadi pingin ngomong sesuatu. Emang mau ngomong apa?”, tanya Kak Aldi penasaran.
          “Aku mau minta maaf ke kakak.”, jawabku.
          “Minta maaf untuk apa, sayang?”, tanya Kak Aldi.
          “Maaf karena aku nggak bisa jadi yang sempurna untuk kakak. Maaf kalo dulu aku sering menyakiti perasaan kakak. Aku tau kakak pasti merasa sangat tersakiti oleh sikapku yang dulu seperti itu. Aku tau sebenarnya kakak pingin marah waktu itu. Kalo kakak masih pingin marah ke aku marah aja. Nggak apa-apa kok. Karena aku tau itu semua memang salahku.”, ucapku samil meneteskan air mata.
          “Sayang, kamu ngomong apa sih? Aku nggak pernah menuntut kamu untuk menjadi yang sempurna karena aku tau aku sendiri juga nggak sempurna dan nggak ada manusia yang sempurna. Karena kesempurnaan itu hanya milik Alloh. Sebenarnya yang aku butuhkan adalah kesetianmu bukanlah kesempurnaanmu. Karena jika kita sempurna maka kita nggak akan butuh siapa pun. Sama kayak kamu. Jika kamu sempurna, mungkin kamu nggak akan membutuhkanku. Begitu juga dengan aku. Jadi kita diberi kelebihan dan kekurangan itu untuk saling melengkapi. Soal kejadian waktu itu, aku sama sekali tidak merasa tersakiti. Aku nggak marah ketika kamu memperlakukanku seperti itu karena aku tau kondisimu waktu itu seperti apa. Aku hanya menganggap itu semua sebagai sebuah tantangan yang harus aku hadapi agar aku bisa mendapatkan seorang gadis yang selama ini aku cintai. Malah aku ucapin terima kasih ke kamu karena dengan kamu bersikap seperti itu aku jadi bisa membuktikan ke kamu kalo aku tu benar-benar tulus mencintai kamu. Dan aku juga nggak pernah nyalahin kamu, sayang. Jadi jangan bicara kayak gitu lagi ya.”, kata Kak Aldi sambil mengusap air mataku yang jatuh di pipi.
          “Makasih banyak ya, kak.”, ucapku.
          “Makasih untuk apa, sayang?”, tanya Kak Aldi bingung.
          “Makasih karena kakak udah mau maafin aku dan udah mau nerima aku apa adanya. Makasih karena selama ini kakak udah nepatin semua janji kakak ke aku. Makasih karena kakak udah membantuku menghilangkan rasa takut dan traumaku di masa lalu. Makasih karena kakak selalu berusaha untuk membuatku tertawa. Makasih karena kakak selalu memberiku kejutan yang nggak pernah aku duga sebelumnya. Sekali lagi makasih ya, kak.”, ucapku sambil memeluk erat Kak Aldi.
          “Iya sayang. Kakak akan selalu berusaha untuk membuatmu bahagia. Because you are my everything, baby. I love you so much.”, kata Kak Aldi sambil mencium pipiku.
          “Makasih banyak ya, kak. I love you too.”, jawabku girang.
          Aku berharap Kak Aldi akan selalu menepati janjinya dan tidak akan pernah mengecewakanku. Di dalam do’aku, aku selalu memohon semoga aku dan Kak Aldi sehat selalu dan semoga aku bisa hidup bahagia bersama Kak Aldi hingga akhir hayat nanti. Amin.

0 comments:

Post a Comment

By :
Free Blog Templates