Saturday, 21 November 2015
“Mama beneran pindah tugas ya?”, tanya
Riska pelan. Sontak mama kaget mendengar pertanyaan itu.
“Riska, buruan dihabiskan makan
siangnya. Nanti keburu nggak enak lho.”, jawab mama yang berusaha mengalihkan
pembicaraan.
“Tolong jawab pertanyaanku dulu, ma.”,
rengek Riska.
“Iya nanti mama jawab. Tapi habiskan
makan siangnya dulu ya.”, pinta mama.
“Iya ma.”, jawab Riska pelan.
Setelah Riska selesai makan siang,
mama pun mengajaknya ke kamar untuk menjelaskan kepadanya bahwa untuk beberapa
waktu ke depan beliau dipindahtugaskan ke luar kota dan itu sudah menjadi
kebijakan perusahaan tempat mama bekerja. Riska pun langsung menangis setelah
mendengar penjelasan mama. Sebenarnya mama sangat tidak tega ketika melihat
anak semata wayangnya yang masih kelas 1 SMP itu menangis dan harus
meninggalkannya ke luar kota demi pekerjaannya. Tapi apa mau dikata, itu semua
juga mama lakukan demi Riska dan masa depan mereka berdua. Maklum semenjak papa
meninggal akibat kecelakaan lalu lintas beberapa tahun lalu, mama harus
memenuhi kebutuhan Riska dan dirinya seorang diri. Awalnya Riska sempat meminta
kepada mama untuk memindahkannya ke sekolah yang berada di kota tempat mama
dipindahtugaskan agar dia tetap bisa bersama mama. Tetapi mama menolaknya karena
selain mama sering dipindahtugaskan ke kota lain, menurut mama jika Riska juga
ikut pindah sekolah itu malah ribet karena harus mengurus surat-surat pindah
sekolah. Lagipula mama juga merasa kasihan jika Riska harus pindah-pindah
sekolah dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang baru. Ya keadaan
seperti ini lah yang sering membuat mama merasa dilema. Tapi meskipun sering
mengalami keadaan seperti ini, mama harus tetap bijak dalam memutuskan sebuah
pilihan.
“Jadi sekarang baiknya gimana, ma?”,
tanya Riska.
“Gini aja Riska mau kan tinggal di
rumah nenek?”, tanya mama.
“Tinggal di rumah nenek? Sama om Rizal
dan tante Dita juga dong? Emang nenek ngebolehin Riska tinggal di sana?”, tanya
Riska ragu.
“Pasti boleh, sayang. Lagipula om
Rizal pernah bilang ke mama seandainya mama dipindahtugaskan ke luar kota, dia
minta agar kamu tinggal di rumah nenek. Riska mau kan?”, tanya mama.
“Ya udah deh, ma. Riska nurut aja.”,
jawab Riska.
“Makasih ya sayang udah mau ngertiin
keadaan mama. Mama janji mama akan sesering mungkin memberi kabar ke kamu dan
jika semua tugas mama di luar kota sudah selesai, mama akan segera pulang.”,
kata mama.
“Janji ya, ma.”, tantang Riska sambil
mengulurkan jari kelingkingnya ke hadapan mama.
“Iya sayang, mama janji.”, jawab mama
sambil menempelkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Riska sebagai tanda
perjanjian.
Pagi harinya mama langsung
mengantarkan Riska ke rumah nenek karena siang harinya mama sudah harus
berangkat ke luar kota. Sebenarnya mama sangat berat untuk meninggalkan anak
semata wayangnya yang masih sangat belia itu. Tapi sekali lagi ini adalah
sebuah pilihan dan mama dituntut harus bijak untuk memutuskan ini semua. Karena
ini menyangkut masa depan mereka berdua. Sesampainya di rumah nenek..........
“Selama mama di luar kota, Riska
tinggal di sini dulu ya. Jaga diri baik-baik ya, sayang.”, pesan mama.
“Iya ma.”, jawab Riska pendek.
“Oh iya zal, kakak titip Riska ya.
Tolong kamu jagain dia.”, pinta mama.
“Iya kak. Aku akan ngehandle dan jagain Riska sebaik mungkin.
Jadi kakak nggak perlu khawatir.”, jawab om Rizal.
“Makasih banyak ya, zal. Kalo gitu
kakak pergi dulu ya. Tolong sampaikan salam kakak ke mama.”, pesan mama.
“Iya kak nanti kalo mama udah pulang,
aku sampaikan salam kakak ke mama.”, jawab om Rizal. Kemudian mama pun langsung
pergi ke luar kota karena pekerjaan sudah menantinya.
Keesokan harinya, Riska pun
bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Ketika ia mau keluar rumah, tiba-tiba
om Rizal menarik tangannya dan mengajaknya untuk berangkat ke sekolah bersama.
Awalnya Riska menolak dengan alasan dia mau berangkat sama temannya. Tetapi
karena om Rizal memaksanya, akhirnya Riska pun mau berangkat ke sekolah bersama
om Rizal. Sesampainya di sekolah.....
“Makasih ya om udah nganterin aku ke
sekolah.”, kata Riska.
“Iya sama-sama. Belajar yang bener ya.
Ingan pesan mama.”, pesan om Rizal.
“Iya om. Kalo gitu Riska masuk dulu
ya.”, jawab Riska sambil pergi meninggalkan om Rizal. Sepeninggalan Riska, om
Rizal pun segera menuju ke polres untuk melaksanakan tugasnya sebagai seorang
polisi.
Malam harinya, om Rizal mengajak Riska
untuk makan di luar rumah bersama nenek dan tante Dita. Tetapi nenek menolak
ajakan itu karena nenek tidak terlalu suka makan malam di luar. Akhirnya mereka
pun pergi bertiga tanpa nenek. Sesampainya di restoran, mereka bertiga pun
langsung memesan makanan kesukaan masing-masing. Riska sangat senang dengan
makan malam kali ini. Setelah selesai makan malam, mereka pun pulang.
Sesampainya di rumah, Riska pun segera menuju ke kamar. Di kamar, ia pun
terlihat asyik menuliskan sesuatu di buku diary
berwarna biru bergambar doraemon kesayangannya itu.
“Hari
ini Riska seneng banget karena kalian udah nerima kehadiran Riska dengan baik
di rumah ini. Terima kasih ya, om Rizal. Udah ngajakin Riska makan malam hari
ini. Jujur Riska sudah lama merindukan kebersamaan seperti ini karena
kebersamaan yang indah ini Riska rasakan sudah beberapa tahun lalu sebelum papa
meninggalkan Riska. Semoga Riska bisa merasakan kebersamaan yang indah ini
setiap hari.”, curahan hati Riska malam itu.
Sejak saat itu, Riska pun semakin
dekat dengan om Rizal. Kedekatan mereka bahkan melebihi kedekatan antara paman
dengan keponakannya. Lebih tepatnya seperti kedekatan ayah dengan anaknya. Ya
om Rizal memang sangat sayang kepada Riska. Menurut om Rizal, Riska itu anak
yang easy going, penurut, dan masih
banyak lagi. Om Rizal sering ngantar jemput Riska meskipun perkerjaannya juga
bisa dibilang sangat banyak. Dia juga sering ngajak Riska pergi jalan-jalan
atau sekedar curhat tentang kegiatannya saja. Awalnya tante Dita merasa senang
dengan kehadiran Riska di rumah itu. Tapi entah mengapa semakin sering melihat
kedekatan Riska dengan om Rizal, justru semakin menambah kebencian tante Dita
kepada Riska. Dia menilai semenjak Riska tinggal di rumah itu, dia malah sering
kehilangan waktu bersama om Rizal karena om Rizal lebih sering menghabiskan
waktu luangnya untuk menemani Riska mengerjakan tugas sekolahnya, mengajak
Riska main ke luar, dan masih banyak lagi. Perlahan tapi pasti tante Dita pun
mulai menunjukkan kebenciannya kepada Riska mulai dari menyindir Riska,
menyuruh-nyuruh Riska secara tidak wajar, dan masih banyak lagi.
“Ya sudahlah. Mungkin akhir-akhir ini
tante Dita lagi banyak masalah makanya sering bersikap seperti itu ke aku.
Lagipula aku bukan siapa-siapa di sini. Jadi jika dilogika sangat tidak pantas
jika aku membantah atau malah marah kepada tante Dita.”, batin Riska yang
berusaha memaklumi itu semua.
Semenjak saat itu juga, Riska pun
cenderung lebih sering diam dan mencurahkan semua keluh kesahnya ke dalam buku diary kesayangannya. Sebenarnya om Rizal
merasakan ada yang aneh pada diri Riska akhir-akhir ini. Om Rizal juga heran
karena sering melihat Riska diam dan melamun. Tetapi setiap kali om Rizal
bertanya kepada Riska sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya, dia pun hanya
menjawab tidak ada apa-apa. Sebenarnya om Rizal tahu bahwa Riska sedang
berbohong, tetapi jika memaksa Riska untuk jujur sepertinya malah akan
membuatnya marah. Ya maklum lah Riska masih belum dewasa dan labil. Om Rizal
juga berusaha untuk memahami keadaan Riska.
Siang itu om Rizal sengaja menjemput
Riska ke sekolahnya. Ketika om Rizal sampai di sekolah, bel tanda pulang pun
sudah berbunyi. Jadi om Rizal tidak perlu menunggu Riska. Dan ketika Riska
sampai di gerbang sekolah, ia pun kaget karena melihat om Rizal sudah
menunggunya.
“Lho om Rizal? Sejak kapan di sini?”,
tanya Riska kaget.
“Baru aja kok. Ya udah buruan masuk ke
mobil.”, perintah om Rizal.
“Oke.”, jawab Riska pendek.
Kemudian mereka berdua segera pulang
ke rumah. Tapi belum lama mereka meninggalkan sekolah, tiba-tiba om Rizal
mengerem mobilnya secara mendadak.
“Kenapa kok ngerem mendadak sih, om?”,
tanya Riska yang terlihat kaget.
“Handphone
om ketinggalan di kantor.”, jawab om
Rizal.
“Jadi gimana dong?”, tanya Riska.
“Ya mau nggak mau om harus balik lagi
ke kantor. Riska mau kan ikut om ke kantor?”, tanya om Rizal.
“Maksudnya ikut om balik lagi ke
polres?”, tanya Riska.
“Ya iyalah, sayang. Mau ke mana lagi
coba. Tempat kerja om kan ya di polres.”, jawab om Rizal.
“Oke deh kalo gitu. Tapi nggak usah
lama-lama ya.”, pinta Riska.
“Ya lihat aja nanti lah.”, jawab om
Rizal. Kemudian mereka berdua pun kembali ke polres. Sesampainya di polres....
“Riska tunggu di sini sebentar ya.”,
pesan om Rizal.
“Iya om.”, jawab Riska pendek. Sambil
menunggu om Rizal, Riska pun mengeluarkan buku diary dari tasnya kemudian mulai menuliskan isi hatinya ke dalam
buku itu. Belum sampai satu halaman Riska menuliskan isi hatinya, tiba-tiba....
“Hey, kamu lagi apa? Kelihatannya kok
asyik banget?”, tanya laki-laki itu sambil menepuk pundak Riska dari belakang.
Riska pun kaget dan langsung memasukkan buku diarynya ke dalam tas.
“Oh nggak lagi ngapa-ngapain kok.”,
jawab Riska yang masih terlihat kaget.
“Aku boleh duduk?”, tanya laki-laki
itu.
“Oh iya silahkan duduk.”, jawab Riska.
Kemudian laki-laki itu duduk di sampingnya.
“Namanya siapa, dek?”, tanya laki-laki
itu.
“Namaku Riska.”, jawab Riska pendek.
“Kamu lagi ngapain di sini?”, tanya
laki-laki itu.
“Lagi nunggu om Rizal. Soalnya handphonenya ketinggalan tadi jadi balik
lagi ke sini deh.”, jawab Riska menghela napas.
“Kamu anaknya pak Rizal ya?”, tanya
laki-laki itu.
“Oh bukan. Aku keponakannya om
Rizal.”, jawab Riska. Riska pun mulai akrab dengannya. Dari kejauhan ternyata
om Rizal memperhatikan keakraban mereka berdua. Tak lama kemudian....
“Riska!!!”, panggil om Rizal.
“Iya om. Mau pulang sekarang ya?”,
tanya Riska sambil menghampiri om Rizal.
“Sekarang juga boleh.”, jawab om
Rizal.
“Bentar ya.”, kata Riska. Kemudian
Riska pun bergegas mengambil tasnya yang ada di dekat laki-laki yang
mengajaknya berkenalan tadi.
“Riska pulang dulu ya. Soalnya om
Rizal udah ngajakin pulang. Makasih ya udah ngajakin Riska ngobrol tadi.”, kata
Riska sambil berpamitan dengan laki-laki itu.
“Oh iya sama-sama. Kalo gitu hati-hati
di jalan ya. Semoga kita bisa bertemu lagi.”, jawab laki-laki itu. Kemudian
Riska pun meninggalkannya.
Selama di dalam mobil, om Rizal
bertanya kepada Riska apa saja yang dia bicarakan bersama laki-laki tadi sampai
mereka terlihat sangat akrab. Riska pun menjawab bahwa dia hanya berkenalan
dengan laki-laki itu saja dan anehnya Riska malah bertanya ke om Rizal
sebenarnya siapa laki-laki yang mengajaknya berkenalan tadi. Om Rizal sangat
heran dengan keponakannya yang satu ini. Bagaimana bisa dia berkenalan dengan
orang lain tetapi dia tidak menanyakan siapa nama orang itu. Ya wajarlah
namanya juga Riska, masih kecil tapi sering lupa. Om Rizal hanya bisa memaklumi
hal seperti itu saja dan menjelaskan kepada Riska bahwa laki-laki yang
mengajaknya berkenalan tadi itu namanya Raka. Dia adalah seorang taruna akpol
yang baru pertama kali latihan kerja dan kebetulan latihan kerjanya di situ.
Riska hanya manggut-manggut mendengarnya. Dari tadi om Rizal memperhatikan
sepertinya Riska senang berkenalan dengan Raka dan dia pun sempat menggoda
Riska dengan cara akan mengadukan hal ini ke mama jika Riska benar-benar
menyukai Raka. Wajah Riska pun tiba-tiba terlihat memerah, entah itu tanda
takut atau malu. Dia pun membantah omongan om Rizal yang mengatakan bahwa dia
menyukai Raka dan berusaha meyakinkan om Rizal bahwa tadi itu dia hanya
berkenalan dengan Raka saja. Melihat Riska yang berusaha membantah omongannya,
om Rizal pun semakin bersemangat untuk menggoda Riska. Sampai-sampai Riska pun
menangis karena tidak tahan mendengar semua itu. Karena Riska menangis,
akhirnya om Rizal pun menghentikan semua itu dan mengatakan kepada Riska bahwa
dia tadi hanya bercanda dan tidak ada maksud apa-apa. Ya om Rizal memang orang
yang humoris dan tidak jarang membuat orang menangis dengan candaannya itu.
Pada suatu hari, Riska sedang duduk
melamun di pinggir kolam yang terletak di belakang rumah sambil menuliskan
sesuatu ke dalam buku diarynya itu.
Baru menulis beberapa kalimat saja, tiba-tiba ia pun menjerit histeris karena
ada seseorang yang menyikapnya dari belakang. Seseorang itu pun juga sangat
kaget ketika mendengar jeritan Riska yang sangat histeris itu. Dia pun segera
melepaskan sikapannya itu kemudian duduk di samping Riska. Ternyata seseorang
itu tidak lain adalah om Rizal yang gemar membuat Riska merasa takut, kaget,
bahkan sampai menangis. Tanpa Riska sadari ternyata om Rizal sempat melihat
tulisannya di buku diarynya yang
terbuka itu. Ketika menyadari bahwa om Rizal melihat tulisannya, dengan cepat
Riska pun menutup buku itu dan menyembunyikannya. Om Rizal pun bertanya kepada
Riska sebenarnya apa yang dia tulis di buku itu, Riska pun hanya menjawab bukan
apa-apa. Om Rizal merasa bahwa Riska sedang menyembunyikan sesuatu dan kali ini
om Rizal memaksa Riska agar mau bercerita sebenarnya apa yang terjadi pada
dirinya selama ini. Ketika om Rizal sempat ingin mengambil buku diary Riska, tiba-tiba.......
PLAK!!!!!!!! Tanpa sengaja Riska pun menampar om Rizal.
“Riska tega banget sih nampar om
Rizal?”, tanya om Rizal sambil menahan rasa sakit di pipinya akibat tamparan
yang diberikan oleh Riska tadi.
“Abisnya om Rizal maksa sih. Kalo
pingin pinjam kan bisa minta baik-baik.”, gerutu Riska.
“Iya deh om minta maaf. Om boleh tau
nggak kenapa Riska akhir-akhir ini kok sering ngelamun dan terlihat
menyembunyikan sesuatu gitu tiap kali om bertanya?”, tanya om Rizal.
“Sebaiknya om Rizal nggak usah nganter
jemput Riska lagi dan jangan memperlakukan Riska secara berlebihan seperti
ini.”, pinta Riska.
“Lho memangnya kenapa, sayang? Riska
nggak suka ya kalo sering diantar jemput sama om?”, tanya om Rizal heran.
“Riska suka-suka aja diantar jemput
sama om.”, jawab Riska.
“Kalo kamu suka, kenapa kamu kok malah
ngelarang om buat ngantar jemput kamu, sayang?”, tanya om Rizal yang masih saja
penasaran.
“Karena Riska merasa ada seseorang
yang nggak suka kalo om Rizal terlalu sering ngantar jemput Riska.”, jawab
Riska.
“Seseorang? Atau jangan-jangan
seseorang yang nggak suka itu Kak Raka ya?”, tanya om Rizal.
“Bukan dia, om.”, bantah Riska.
“Ternyata diam-diam Riska suka sama
Kak Raka. Om tau sekarang.”, goda om Rizal.
“Om Rizal, udah dong jangan bercanda
terus.”, pinta Riska.
“Iya deh om minta maaf. Kalo bukan Kak
Raka, lalu siapa seseorang itu?”, tanya om Rizal penasaran.
“Riska nggak perlu kasih tau siapa
orang itu. Yang pasti orang itu nggak suka jika om Rizal memperlakukan Riska
seperti ini.”, jawab Riska.
“Ya udah kalo gitu. Tapi kalo sesekali
om ngantar jemput kamu boleh kan?”, tanya om Rizal.
“Boleh aja. Asal jangan keseringan.”,
jawab Riska. Om Rizal hanya menuruti permintaan Riska saja meskipun di dalam
hatinya dia sering bertanya-tanya sebenarnya siapa seseorang yang Riska maksud
itu.
Hari ini adalah hari ulang tahun Riska
yang ke13. Riska sangat senang karena di hari ulang tahunnya dia mendapatkan hadiah
istimewa dari mama. Dan pada hari itu om Rizal juga memberikan hadiah berupa
jam tangan kepada Riska. Awalnya Riska heran mengapa om Rizal memberikan jam
tangan ini kepadanya. Om Rizal pun menjawab jam tangan itu dia berikan sebagai
hadiah ulang tahun Riska dan sebagai tanda persahabatan mereka.
Siang itu, Riska baru saja pulang
sekolah. Tanpa banyak bicara dia pun segera masuk ke rumah dan mengambil
segelas air putih karena siang itu cuacanya cukup panas. Ketika Riska meminum
air itu, tiba-tiba tante Dita menyindirnya secara terang-terangan dan
mengatakan bahwa Riska telah merebut perhatian dan kasih sayang om Rizal yang
seharusnya diberikan kepadanya. Setelah mendengar ucapan tante Dita,
tiba-tiba.... PRAK!!!!! Tanpa basa-basi Riska pun langsung membanting gelas
yang berisi air putih yang sedang dipegangnya.
“Asal tante Dita tau ya, di pikiran
Riska tu nggak pernah terlintas keinginan untuk merebut perhatian dan kasih
sayang om Rizal yang seharusnya diberikan kepada tante Dita. Jujur sebenarnya
dari awal Riska juga udah merasa nggak nyaman ketika om Rizal memperlakukan
Riska secara berlebihan seperti ini. Lagipula kalo bukan om Rizal yang maksa
Riska untuk tinggal di sini, Riska juga nggak akan mau tinggal di sini. Selama
ini setiap tante Dita menyindir-nyindir Riska, Riska selalu berusaha untuk diam
karena Riska sadar bahwa Riska bukan siapa-siapa di rumah ini dan Riska juga
menghormati tante sebagai istrinya om Rizal. Tapi mengapa tante malah bersikap
seperti ini ke Riska? Apa karena Riska bukan siapa-siapa di rumah ini, lalu
tante bisa membully Riska sesuka hati
tante? Kalo tante Dita nggak suka dengan kehadiran Riska di rumah ini, oke
Riska akan pergi sekarang.”, ucap Riska sambil pergi meninggalkan tante Dita.
“Bagus deh kalo kamu nyadar diri. Sini
kembalikan jam tangan yang pernah om Rizal kasih ke kamu.”, pinta tante Dita
dengan kasar. Tanpa pikir panjang Riska pun berbalik badan ke arah tante Dita
kemudian ia melepas jam tangan itu dan membantingnya ke lantai, tepat di
hadapan tante Dita. Lalu Riska pun pergi meninggalkan rumah.
“Dasar anak nggak punya sopan
santun.”, sindir tante Dita, namun sindiran itu tidak dihiraukan oleh Riska.
Riska pun sudah cukup jauh
meninggalkan rumah. Sepanjang jalan pandangan matanya terlihat kosong dan dia
pun hanya menangis. Sepertinya ucapan tante Dita tadi bisa dibilang sangat
berhasil membuat Riska sakit hati. Dia sama sekali tidak memperhatikan
keramaian yang ada di jalan raya waktu itu. Ketika dia menyeberang jalan
tiba-tiba..... BRAK!!!! Sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi pun
menabrak Riska. Pengendara mobil itu langsung memacu mobilnya dengan kecepatan
tinggi setelah mengetahui bahwa ia menabrak seorang anak. Orang-orang yang
berada di dekat jalan raya itu langsung mengerumuni Riska yang terkapar tidak
berdaya dengan tubuh yang bersimbah darah di tengah jalan itu. Kebetulan waktu
itu ada polisi yang sedang mengadakan patroli dan segera menuju ke tempat kecelakaan
itu. Salah satu polisi yang sedang mengadakan patroli itu langsung menerobos
kerumunan orang itu dan dia pun kaget setelah melihat korban kecelakaan itu
adalah Riska. Tanpa pikir panjang ia pun langsung membopong tubuh Riska ke
dalam mobil dan segera membawanya ke rumah sakit agar segera mendapatkan
perawatan.
Om Rizal baru saja pulang. Ketika ia
masuk ke dalam rumah, ia kaget melihat pecahan gelas dan jam tangan yang pernah
ia berikan kepada Riska itu berserakan di lantai. Kemudian om Rizal segera
mencari tante Dita.
“Apa yang telah terjadi? Kok ada
pecahan gelas dan jam milik Riska berserakan di lantai?”, tanya om Rizal.
“Tadi Riska marah-marah nggak jelas ke
aku. Aku juga nggak ngerti apa maksudnya.”, jawab tante Dita.
“Riska nggak mungkin marah duluan.
Kalo pun dia marah pasti ada seseorang yang membuat dia sampai marah seperti
itu.”, bantah om Rizal.
“Kalo nggak percaya ya udah.”, jawab
tante Dita tanpa rasa bersalah.
“Terus Riska sekarang di mana?”, tanya
om Rizal.
“Nggak tau dia ke mana. Orang dia main
pergi aja tadi.”, jawab tante Dita dengan enteng.
“Kamu gimana sih. Kan udah aku bilang
jangan pernah membiarkan Riska pergi ke luar rumah kalo keadaannya sedang
labil.”, bentak om Rizal.
“Kok kamu jadi nyalahin aku sih?”,
tanya tante Dita heran.
“Ya iyalah kamu yang salah. Kalo
terjadi apa-apa sama Riska, Kak Vina pasti nyalahin aku karena Kak Vina
menganggap aku nggak mampu menjaga Riska.”, jawab om Rizal.
“Aku heran sama kamu kenapa sih kamu
selalu aja ngebelain Riska?”, tanya tante Dita
Bukannya menjawab pertanyaan istrinya,
om Rizal malah pergi ke kamar Riska untuk mencari petunjuk apakah Riska
meninggalkan sebuah pesan sebelum ia pergi meninggalkan rumah. Tapi sekian lama
mencari, om Rizal tidak menemukan petunjuk apapun di kamar Riska. Dan ketika
membuka laci meja belajar Riska, om Rizal menemukan buku diary milik Riska yang pernah dibawa Riska ketika ia sedang duduk
melamun di pinggir kolam waktu itu. Kemudian om Rizal pun membuka buku diary itu dengan harapan semoga ada
pesan yang Riska tinggalkan sebelum ia pergi. Tetapi belum sempat om Rizal
membaca tulisan di buku itu, tiba-tiba ada seseorang yang menelponnya dan
memintanya untuk ke rumah sakit umum sekarang juga tanpa menyebutkan secara
pasti apa yang sebenarnya terjadi. Tanpa banyak bertanya, om Rizal pun segera
menuju ke rumah sakit san menemui orang itu. Setibanya di rumah sakit....
“Ada apa, ka? Kenapa kamu menyuruh
saya untuk datang ke sini?”, tanya om Rizal.
“Sebelumnya saya minta maaf karena
sudah meminta bapak untuk datang ke sini. Tadi ketika saya dan teman-teman yang
lain sedang mengadakan patroli, saya menemukan Riska dalam keadaan terkapar
tidak berdaya karena ditabrak oleh sebuah mobil. Dan saya langsung membawa
Riska ke sini agar dia segera mendapatkan perawatan.”, jawab Raka. Ternyata
polisi yang menolong Riska tadi adalah Raka, seorang taruna akpol yang dulu
pernah berkenalan dengan Riska ketika dia sedang menunggu om Rizal di polres.
“APA??? Riska kecelakaan? Terus di
mana dia sekarang?”, tanya om Rizal panik.
“Pak Rizal tenang ya. Sekarang Riska
udah ditangani oleh dokter. Lebih baik kita tunggu saja di sini.”, jawab Raka
berusaha menenangkan om Rizal.
Beberapa menit kemudian, dokter yang
menangani Riska akhirnya keluar dari ruang UGD. Dokter itu mengatakan kepada om
Rizal dan Raka bahwa saat ini Riska masih dalam keadaan koma dan dokter juga
belum bisa memastikan kapan Riska sadar. Mendengar penjelasan dari dokter, Raka
pun kaget dan om Rizal hanya bisa tertunduk lesu karena dia merasa semua itu
terjadi akibat kelalaiannya dalam menjaga Riska. Dokter juga mengatakan Riska
akan segera dipindahkan ke ruang ICU
dan setelah sadar baru dipindahkan ke ruang perawatan. Setelah dokter pergi,
Raka pun mengajak om Rizal untuk duduk di taman rumah sakit sekaligus berusaha
menenangkan dan menyakinkan om Rizal bahwa Riska pasti akan segera sadar. Om
Rizal mengucapkan banyak terima kasih kepada Raka karena sudah mau menolong
Riska dan dia pun juga meminta Raka untuk segera kembali ke polres karena om
Rizal takut Raka dibilang tidak profesional dalam menjalankan tugasnya hanya
karena menemani dan menunggu Riska di rumah sakit. Raka pun segera kembali ke
polres dan om Rizal juga menuju ke parkiran untuk mengambil buku diary milik Riska yang belum sempat
dibacanya itu kemudian kembali ke taman rumah sakit untuk membaca buku itu.
Berlembar-lembar om Rizal membaca tulisan itu, dia tidak menemukan adanya
sebuah kejanggalan di dalam buku itu. Ketika om Rizal membuka dan membaca
tulisan di halaman berikutnya, dia pun kaget karena isi tulisan itu adalah:
“Awalnya
aku merasa senang ketika nenek, om Rizal, dan tante Dita bisa menerima
kehadiranku dengan baik di rumah ini. Tapi semakin lama aku berada di sini,
mengapa tante Dita semakin membenci aku? Sebenarnya aku salah apa? Aku tidak ada
niat sama sekali untuk merebut perhatian dan kasih sayang om Rizal untuk tante
Dita. Sebenarnya aku juga merasa tidak nyaman ketika aku diperlakukan secara
berlebihan oleh om Rizal. Ketika tante Dita mulai menunjukkan kebenciannya
kepadaku dengan cara menyindirku, menyuruh-nyuruhku secara tidak wajar,
mengatakan bahwa aku telah merebut perhatian dan kasih sayang om Rizal yang
harusnya diberikan kepadanya, aku berusaha untuk diam karena aku pun juga sadar
bahwa aku bukan siapa-siapa di rumah ini. Tapi mengapa semakin aku diam, tante
Dita juga semakin membullyku sesuka hatinya? Jika tante Dita tidak suka dengan
kehadiranku, aku akan pergi. Dan aku mau ngucapin banyak terima kasih kepada om
Rizal karena sudah menerima kehadiranku dengan baik dan telah menjadi sosok
seorang ayah untukku. Aku berharap setelah kepergianku dari rumah ini, tante
Dita akan mendapatkan kasih sayang dari om Rizal secara utuh. RISKA.”.
Setelah membaca curahan hati Riska di
dalam buku itu, om Rizal pun langsung pulang ke rumah untuk menemui tante Dita.
Sesampainya di rumah.....
“Apa maksud kamu menyindir-nyindir
Riska seperti itu?”, tanya om Rizal dengan kasar.
“Kamu ngomong apa sih?”, tanya tante
Dita.
“Udah deh kamu nggak usah banyak
alasan kayak gitu. Aku baru tau kalo selama ini kamu sering membully Riska.”, jawab om Rizal.
“Membully Riska? Memang kamu punya bukti apa?”, tanya tante Dita. Tanpa
banyak bicara om Rizal pun menunjukkan buku diary
milik Riska kemudian melemparkannya ke hadapan tante Dita.
“Buku diary? Maksud apa sih?”, tanya tante Dita heran.
“Sekarang kamu baca buku itu.”,
perintah om Rizal. Kemudian tante Dita pun mulai membacanya. Setelah tante Dita
selesai membaca.....
“Aku heran sama kamu. Kenapa sih kamu
benci banget sama Riska? Emang dia punya salah apa ke kamu?”, tanya om Rizal.
“Ya iyalah aku benci banget sama dia.
Karena semenjak dia tinggal di sini, kamu sama sekali tidak pernah menghiraukan
aku. Yang kamu perhatiin, yang kamu ajak curhat dan bercanda selalu aja Riska.
Sedikit-sedikit Riska sedikit-sedikit Riska. Menurutku kamu terlalu berlebihan
dalam memberikan kasih sayang kepadanya.”, jawab tante Dita.
“Aku tidak pernah berlebihan dalam
memberikan kasih sayang kepadanya. Aku memperlakukannya seperti itu karena aku
ingin memperhatikannya dan menjadi sosok ayah untuknya. Karena aku tau semenjak
papanya meninggal, dia sangat merindukan kasih sayang seorang ayah. Dan karena
aku sangat dekat dengan Riska, jadi menurutku tidak ada salahnya jika aku
bersikap seperti itu kepadanya. Menurutku kamu saja yang terlalu berlebihan
menilai ini semua. Dan aku minta ke kamu agar kamu mau meminta maaf ke Riska
karena yang telah membuat dia kecelakaan salah satunya adalah kamu.”, ucap om
Rizal.
“NGGAK! Aku nggak mau meminta maaf ke
Riska. Aku nggak merasa punya salah sama dia. Justru dia yang harusnya minta
maaf ke aku.”, bantah tante Dita.
“Kalo kamu nggak mau minta maaf ke
Riska, lebih baik sekarang kamu tinggalkan rumah ini. Dan aku akan mengurus
perceraian kita secepatnya. Menurutku untuk apa pernikahan ini dipertahankan
jika kita selalu saja bertengkar dan kamu tetap saja bersikap seperti itu.”,
tantang om Rizal.
“Baik. Jika itu mau kamu, aku akan
pergi. Aku sudah muak dengan sikap kamu yang terlalu berlebihan memperlakukan
keponakanmu itu.”, jawab tante Dita.
“Aku juga sudah muak melihat sikapmu
yang sangat kekanak-kanakan itu. Sekarang kamu pergi dari rumah ini!!!!”,
perintah om Rizal. Kemudian tante Dita pun segera mengemasi barang-barangnya
dan pergi meninggalkan rumah.
Waktu itu nenek baru saja pulang dari
rumah saudaranya. Sesampainya di rumah, nenek pun kaget karena beliau tidak
menemui siapapun di rumah kecuali om Rizal. Karena nenek penasaran mengapa
rumah itu sepi sekali, beliau menanyakan kepada om Rizal ke mana Riska dan
tante Dita pergi. Kemudian om Rizal pun menceritakan apa saja yang telah
terjadi di rumah selama nenek tidak ada. Nenek pun kaget ketika beliau
mendengar bahwa Riska mengalami kecelakaan dan om Rizal memutuskan untuk
menceraikan tante Dita. Ketika nenek menanyakan mengapa om Rizal memutuskan
untuk menceraikan tante Dita, om Rizal pun hanya menjawab itu adalah pilihan
yang terbaik untuknya karena menurut om Rizal untuk apa mempertahankan
pernikahan jika di awal pernikahan itu sudah sering terjadi konflik di antara
keduanya. Nenek pun hanya menuruti keputusan om Rizal saja karena menurut
beliau om Rizal sudah cukup dewasa dalam memutuskan sebuah pilihan. Nenek juga
mengajak om Rizal untuk menjenguk Riska di rumah sakit walaupun sampai sekarang
Riska juga belum sadar. Tetapi setidaknya nenek sudah tau perkembangan kondisi
Riska.
Setelah beberapa hari Riska mengalami
koma, akhirnya dia pun sadar dan bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Mendengar
kabar bahwa Riska sudah sadar membuat om Rizal dan nenek merasa sangat senang
karena kesadaran Riska lah yang mereka tunggu selama ini.
“Alhamdulillah kamu akhirnya sadar,
sayang.”, ucap om Rizal.
“Tante Dita di mana?”, tanya Riska. Om
Rizal pun tercengang mendengar pertanyaan Riska. Dia pun juga bertanya-tanya
bagaimana bisa ketika Riska baru sadar yang pertama kali terlintas di
pikirannya adalah tante Dita.
“Sayang, kamu kan baru aja sadar. Jadi
nggak usah banyak bicara dulu ya.”, pinta om Rizal.
“Iya om. Oh ya Riska boleh minta
sesuatu ke om Rizal nggak?”, tanya Riska.
“Tentu saja boleh. Memang Riska mau
minta apa?”, tanya om Rizal.
“Riska minta ke om Rizal tolong jangan
bilang ke mama kalo Riska mengalami kecelakaan. Riska nggak pingin mama
mengkhawatirkan Riska.”, pinta Riska.
“Iya sayang. Om janji nggak akan
ngasih tau tentang hal ini ke mama.”, jawab om Rizal meyakinkan Riska.
“Makasih banyak ya, om.”, ucap Riska.
“Iya sayang. Sekarang lebih baik kamu
istirahat ya.”, pinta om Rizal.
“Iya om.”, jawab Riska pendek.
Sudah hampir 2 minggu Riska menjalani
perawatan di rumah sakit, akhirnya kondisinya pun semakin membaik dan dokter
mengijinkannya untuk pulang. Sesampainya di rumah, Riska tidak langsung
istirahat tetapi dia terlihat kebingungan mencari sesuatu. Melihat Riska
kebingungan mencari sesuatu, tanpa pikir panjang om Rizal pun memberikan sebuah
kotak yang bisa dibilang cukup besar dan dibungkus kertas kado itu kepada
Riska. Riska heran mengapa om Rizal memberikan kotak itu kepadanya dan dia juga
sempat bertanya-tanya apa isi dari kotak itu. Om Rizal menyuruhnya untuk
membuka kotak itu sendiri. Riska pun segera masuk ke kamar dan membuka kotak
itu. Setelah dibuka, ternyata kotak itu berisi sebuah jam tangan, kotak musik,
dan secarik kertas. Riska pun langsung membaca secarik kertas itu yang
berbunyi:
“Dek
Riska apa kabar? Kakak harap kamu baik-baik saja. Kakak hanya ingin mengatakan
ke kamu bahwa masa latihan kerja kakak sudah habis dan kakak harus kembali ke
akpol untuk menempuh pendidikan selanjutnya. Sebenarnya kakak sangat ingin
berpamitan langsung ke kamu sebelum kakak pergi. Tetapi karena saat itu kamu
masih dalam keadaan koma, maka kakak hanya bisa berpamitan lewat surat ini.
Sebenarnya kakak ingin bertemu kamu lagi, tetapi keadaan lah yang membuat kita
tidak bisa bertemu. Tapi kakak sudah cukup senang bisa kenal sama kamu meskipun
kita kenalnya juga baru sebentar. Jam tangan dan kotak musik ini tolong
diterima ya. Karena hanya itu yang bisa kakak berikan ke kamu dan anggap saja
itu sebagai tanda persahabatan kita. Jika ada waktu luang, kakak akan usahakan
untuk menemui kamu lagi. Terima kasih sudah mau jadi teman kakak. RAKA.”.
Ternyata kotak itu adalah hadiah dari
Raka. Riska hanya tersenyum setelah membaca surat itu. Kemudian dia memutar
kotak musik itu. Ketika kotak musik itu di putar, Riska kaget mendengarnya
karena yang ada di dalam kotak musik itu ternyata rekaman suara Raka yang
berbunyi:
“Semoga
cepat sembuh ya, dek. Semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi. Kakak
akan selalu merindukanmu.”.
Riska pun tetap saja terlihat
kebingungan mencari sesuatu. Om Rizal pun heran melihatnya.
“Riska cari apa sih? Kok dari tadi
bingung gitu?”, tanya om Rizal.
“Riska lagi cari buku, om. Dulu
perasaan Riska taruh di laci tapi sekarang udah nggak ada.”, jawab Riska.
“Buku ini maksud kamu?”, tanya om
Rizal sambil menunjukkan buku diary
Riska yang sedang dipegangnya.
“Jadi om Rizal yang ngambil buku
itu?”, tanya Riska kaget.
“Iya.”, jawab om Rizal pendek.
“Tolong kembalikan buku itu, om. Buku
itu punya Riska.”, pinta Riska.
“Lebih baik kamu duduk sini dulu. Om
mau cerita sedikit.”, kata om Rizal.
Om Rizal pun mulai bercerita tentang apa
saja yang terjadi di rumah ini selama Riska dirawat di rumah sakit. Mendengar
cerita itu, Riska pun sangat kaget.
“Om Rizal menceraikan tante Dita pasti
gara-gara Riska ya?”, tanya Riska.
“Enggak sayang. Ini semua nggak ada
hubungannya sama kamu. Om memutuskan untuk menceraikan tante Dita karena
menurut om ini adalah keputusan yang terbaik karena selama menjalani rumah
tangga dengan tante Dita, om sering sekali bertengkar dengannya. Jadi untuk apa
pernikahan ini dipertahankan jika di awal saja kami sudah sering bertengkar
seperti ini. Justru om berterima kasih ke kamu karena kamu sudah memberi tahu
ke om dan ke semua orang bagaimana sifat jelek tante Dita yang tersembunyi
selama ini.”, jelas om Rizal.
“Tapi Riska ngerasa nggak enak, om.”,
kata Riska.
“Udah lah. Yang udah terjadi biarkan
berlalu. Intinya om nggak pingin kamu pergi dari rumah ini karena om sayang
banget sama kamu, Riska. Om merasa senang karena selama kamu tinggal di sini,
om punya temen curhat dan temen main. Makasih ya sayang udah mau jadi temen
baik om.”, ucap om Rizal.
“Iya. Riska juga mau bilang makasih ke
om Rizal karena om Rizal udah mau jadi sosok seorang ayah di dalam hidup
Riska.”, jawab Riska.
“Iya sayang. Om Rizal juga pingin
mencurahkan semua kasih sayang yang om punya hanya ke kamu.”, jelas om Rizal.
“Semoga suatu saat nanti om Rizal bisa
mendapatkan teman hidup yang bisa mengerti om Rizal.”, kata Riska.
“Amin. Makasih ya do’anya.”, jawab om
Rizal sambil memeluk Riska.
Ketika mama pulang, om Rizal
memintanya untuk tinggal di rumah nenek. Awalnya mama menolak permintaan itu.
Tetapi karena om Rizal memaksa dengan alasan dia tidak mau kehilangan dan jauh
dari Riska, maka mama hanya menuruti kemauannya saja. Karena om Rizal hanya
ingin mencurahkan semua perhatian dan kasih sayang yang dia miliki hanya kepada
Riska.
Cerita ini bermula ketika libur
panjang sekolah dan lebaranku yang hampir 1 bulan lebih itu telah usai. Awalnya
aku sudah berusaha sebisa mungkin agar aku tidak mengalami kesulitan untuk move on dari libur panjangku. Tapi setelah
berulang kali aku coba, akhirnya usahaku sia-sia. Hal yang menyebabkan aku
gagal untuk move on salah satunya adalah aku selalu teringat
masa-masa indah bersama saudara-saudaraku yang selalu berkumpul di rumah
nenekku ketika lebaran. Tangisku pecah ketika aku melihat mereka satu per satu
pergi meninggalkanku karena libur lebaran telah usai dan karena mereka juga
harus kembali menjalankan aktivitas mereka masing-masing. Memang sih jarak
antara rumahku dan rumah nenekku tidak terlalu jauh karena kebetulan masih
dalam satu kabupaten yang sama. Tapi meskipun begitu, aku tidak yakin bisa sering
mengunjungi rumah nenekku hanya untuk melepas rindu. Lagipula jika aku
mengunjungi rumah nenekku, aku pasti akan semakin sedih karena teringat
kenangan indahku bersama mereka.
“Udah lah dek. Kamu nggak usah
nangis lagi.”, ucapnya sambil mengusap air mataku yang membasahi pipiku.
“Aku kangen mereka, kak. Aku pingin
bersama mereka lagi.”, jawabku lesu.
“Iya kakak tau. Tapi mereka kan
harus pulang karena mereka juga punya kesibukan masing-masing, sayang.”,
imbuhnya.
“Apakah aku bisa bertemu dan
berkumpul dengan mereka lagi ya kak seperti lebaran kemarin?”, tanyaku.
“Insya
alloh pasti bisa. Oh iya akhir-akhir ini setiap kakak ketemu kamu, kamu
selalu aja kelihatan murung. Sebenarnya ada apa sih?”, tanyanya.
“Sebenarnya aku kesulitan untuk move on, kak.”, jawabku.
“Hayo move on dari siapa lagi ini?”, godanya.
“Ih kakak apaan sih. Aku serius,
kak.”, jawabku kesal.
“Kakak juga tanya serius, dek. Emang
kamu kesulitan move on dari siapa
sih?”, tanyanya penasaran.
“Bukan dari siapa-siapa kok, kak.
Aku cuma lagi kesulitan move on dari
libur panjangku.”, jelasku.
“Oh jadi gitu ceritanya. Apakah
kakak boleh bantu kamu?”, tanyanya.
“Memangnya kakak mau bantu aku?”,
tanyaku lagi.
“Mau. Kakak mau nemenin kamu sampai
kamu berhasil untuk move on. Lagipula
apa sih yang nggak untuk kamu.”, jawabnya.
“Beneran kak?”, tanyaku setengah
tidak percaya.
“Ya beneran lah. Mana pernah kakak
bohong sama kamu.”, jawabnya.
“Makasih banyak ya, kak.”, ucapku
girang.
“Iya sama-sama, sayang.”, imbuhnya
sambil memelukku.
Kak Farhan. Ya dia lah laki-laki
yang selama ini menemani kesendirianku selain kedua orang tuaku dan selalu
setia mendengarkan semua curahan hatiku. Dia adalah anak dari salah satu
kakaknya mamaku yang kebetulan tinggal tidak jauh dari rumahku. Dia menyelesaikan
pendidikannya di Akpol 2 tahun yang lalu dan kebetulan dinas di sini. Dia
sering main ke rumahku ketika tidak sedang dinas hanya sekedar untuk curhat
atau main-main saja. Dia juga sering mengajakku untuk main ke taman kota, pusat
perbelanjaan, dan lain sebagainya di sela-sela kesibukannya. Dia lah
satu-satunya laki-laki yang mampu menghiburku ketika aku sedang sedih dan dia
juga mampu membuatku tertawa lepas dengan candaannya. Semakin hari aku semakin
merasa nyaman ketika bersamanya karena kehadirannya telah membuat hari-hariku
yang semula terasa hampa kini jadi semakin berwarna. Selain itu, yang membuat
aku merasa nyaman ketika bersamanya adalah karena dia telah menjadi sosok
seorang kakak yang sangat menyayangiku.
Malam itu aku baru saja selesai
mengerjakan PRku. Ketika aku membereskan bukuku, tiba-tiba saja kak Farhan
menelponku.
“Dek, main yuk!”, ajaknya.
“Main ke mana? Emang kakak nggak
lagi sibuk?”, tanyaku.
“Ke mana aja lah yang penting main. Kebetulan
kakak lagi nggak sibuk nih.”, jawabnya.
“Oke. Aku ijin dulu ke mama ya.”,
lanjutku.
“Iya. Kalo gitu kakak ke rumahmu
sekarang ya.”, imbuhnya sambil mematikan telepon.
15 menit kemudian, kak Farhan pun
tiba di rumahku. Melihat kak Farhan sudah menungguku, aku segera minta ijin ke
mama. Mama mengijinkanku dan berpesan agar aku harus sudah ada di rumah sebelum
jam 9 malam. Aku mengiyakannya. Setelah itu, aku dan kak Farhan pun pergi. Selama
di perjalanan, aku hanya diam sambil menikmati dinginnya angin malam dan
keramaian di sepanjang jalan karena kebetulan malam itu kak Farhan memboncengku
menggunakan motornya. Tanpa aku sadari, ternyata sudah hampir 30 menit aku menikmati
perjalanan itu dan kak Farhan memberhentikan motornya di sebuah pusat
perbelanjaan.
“Lho kak kenapa kita berhenti di
sini?”, tanyaku heran.
“Emangnya kamu maunya kita main ke
mana?”, kak Farhan berbalik tanya padaku.
“Di sini juga nggak apa-apa sih.
Tapi kita mau ngapain ke sini?”, tanyaku.
“Kakak ngajakin kamu ke sini tu agar
kamu bisa move on dari libur
panjangmu. Biar kamu nggak nangis bombay terus kayak kemarin.”, godanya.
“Ih kakak mulai lagi deh.”,
gerutuku.
“Lho emang bener kan kamu pingin move on dari libur panjangmu? Dan nggak
ada salahnya kan kalo kakak bantuin kamu untuk move on?”, tanyanya.
“Iya deh.”, jawabku pasrah.
“Ya udah kalo gitu kita masuk yuk!”,
ajaknya sambil menarik tanganku. Aku hanya menurutinya.
Kami pun mulai menjelajahi
lantai pertama pusat perbelanjaan yang isinya buku-buku, makanan, dan yang
lainnya. Belum lelah kakiku menjelajahi lantai pertama, kak Farhan mengajakku
untuk naik ke lantai 2. Di lantai 2, kami pun cuma muter-muter sambil melihat
baju-baju yang dijual dengan diskon hampir 50% karena minggu ini kebetulan
sedang ada diskon besar-besaran. Bosan di lantai 2, kak Farhan pun mengajakku
untuk ke lantai 3 yang berisi boneka-boneka dan bermacam-macam aksesoris.
Mataku langsung tertuju pada boneka winnie the pooh yang berukuran agak besar,
kemudian aku menghampirinya.
“Kalo kamu mau, ambil aja.”, bisik
kak Farhan dari belakang.
“Nggak usah lah, kak. Lagian aku
tadi nggak bawa banyak uang.”, jawabku.
“Kalo kamu beneran mau, nggak
apa-apa. Ambil aja. Entar kakak yang bayar deh.”, sambungnya.
“Nggak usah, kak. Lagian aku cuma
pingin liat-liat aja kok.”, ucapku.
“Serius? Entar nggak jadi beli malah
nangis lagi.”, godanya.
“Kak Farhan kebiasaan banget sih.”,
sewotku.
“Maaf deh kalo gitu. Oh iya sekarang
enaknya kita ngapain nih?”, tanyanya.
“Kita pulang aja deh. Lagian aku
juga udah capek, kak.”, jawabku.
“Nggak pingin makan dulu?”,
tawarnya.
“Boleh juga tuh.”, jawabku.
Kemudian aku dan kak Farhan turun ke
lantai satu kemudian memesan makanan. Kak Farhan memesan satu porsi spaghetti dan satu gelas jus stroberi.
Aku hanya memesan atu gelas jus stroberi saja karena kebetulan aku sudah
kenyang dan aku lebih senang melihat orang yang sedang makan. Setelah selesai
makan dan membayar semua pesanan, kak Farhan mengajakku pulang.
Selama di perjalanan, aku mengucapkan
banyak terima kasih kepadanya karena sudah mengajakku jalan-jalan dan makan
malam. Sepintas tidak ada yang berbeda dengan malam ini karena malam ini kak
Farhan hanya mengajakku untuk sekedar jalan-jalan dan makan malam. Tetapi dari
beberapa kali jalan-jalan dan makan malam yang pernah aku lakukan bersama kak
Farhan, entah mengapa aku merasa jalan-jalan dan makan malam pada malam ini sangat
berbeda dengan jalan-jalan dan makan malam yang sudah-sudah. Pada malam ini aku
merasa senang dan kesenanganku ini tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata.
Ya jalan-jalan dan makan malam yang sangat mengesankan bagiku.
Pada saat itu juga, aku putuskan
untuk bertanya kepadanya mengapa selama ini dia sangat menyayangiku. Mendengar
pertanyaanku barusan, tiba-tiba saja kak Farhan menepikan motornya. Aku kaget
dengan apa yang dilakukan kak Farhan. Perlahan dia melepas helmnya dan
menatapku dengan tatapan yang sangat tajam. Aku semakin takut dibuatnya.
Kemudian dia menjelaskan padaku bahwa dia memperlakukanku dengan sangat baik
itu karena pada dasarnya dia ingin memiliki seorang adik perempuan. Tapi karena
kenyataan hidup ini ternyata tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan, maka
dia putuskan untuk menganggapku sebagai adik perempuannya karena menurut dia
hanya aku lah satu-satunya gadis yang memiliki hubungan dekat dengannya. Itu
salah satu alasan mengapa dia sangat menyayangiku. Aku hanya manggut-manggut
mendengarnya. Setelah itu kami pun melanjutkan perjalanan pulang mengingat
pesan mamaku tadi yang hanya membolehkanku keluar sampai jam 9 malam saja.
Sesampainya di rumah.........
“Makasih banyak ya kak untuk hari
ini.”, ucapku.
“Iya. Lain kali kita jalan-jalan
lagi yuk. Tapi jalan kaki aja.”, candanya.
“Oke siapa takut.”, jawabku
menyanggupi tantangan itu.
“Aku yakin pasti kamu yang kalah
duluan.”, ledeknya.
“Aku nggak mungkin kalah.”,
bantahku.
“Kita liat aja nanti. Oh ya kalo
gitu kakak pulang dulu ya, dek. Sampaikan salam kakak ke mama ya.”, pamitnya.
“Iya kak. Hati-hati di jalan ya.”,
pesanku.
“Oke.”, jawabnya sambil
meninggalkanku. Sepeninggalannya, aku langsung masuk ke rumah.
Tanpa banyak bicara, aku langsung
masuk ke kamar. Tak lama kemudian, mama menyusulku ke kamar dan bertanya padaku
tentang jalan-jalanku tadi. Dengan malas, aku menjawab pertanyaan mama
sekenanya dan meminta agar beliau meninggalkan kamarku. Bukan berniat untuk
tidak sopan, tetapi malam itu aku merasa sangat lelah dan ngantuk berat. Mama
pun menuruti permintaanku.
Pagi hari ketika sarapan, tiba-tiba
saja mama mengulang pertanyaan yang semalam sempat ditanyakan padaku. Aku
sempat kaget mendengarnya.
“Ma, maafin sikap Lina semalam ya.”,
ucapku.
“Sikap yang mana?”, tanya mama.
“Semalem kan pas di kamar, aku
terkesan nyuekin mama.”, jawabku.
“Emangnya kamu pernah nggak nyuekin
mama pas mama tanya sesuatu ke kamu?”, tanya mama.
“Ih mama apaan sih. Nana beneran mau
minta maaf, ma.”, gerutuku.
“Iya deh. Lagian mama udah maafin
kamu kok. Mama juga tau sifat kamu tu kayak gimana.”, sambung mama.
“Makasih banyak ya, ma.”, jeritku.
“Iya. Ya udah buruan dihabisin
sarapannya. Entar keburu siang lho.”, ucap mama.
Aku pun segera menghabiskan
sarapanku. Setelah selesai sarapan, aku pamit ke mama dan segera berangkat ke
sekolah. Karena papa udah berangkat ke kantor duluan karena ada pertemuan, maka
mau tidak mau aku harus naik angkot. Ya mau gimana lagi jarak rumah ke
sekolahku juga cukup jauh. Lagipula mama tidak mengijinkanku membawa motor
sendiri karena usiaku yang masih di bawah 17 tahun dan belum memenuhi syarat
untuk bisa memiliki SIM. Aku hanya bisa menurutinya saja. Baru beberapa menit
aku menunggu angkot di halte karena kebetulan rumahku tidak jauh dari jalan
raya, tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti tepat di depanku.
“Dek, bareng aku aja yuk.”, ajak
laki-laki itu sambil membuka kaca mobilnya. Ternyata yang mengendarai mobil itu
adalah kak Farhan.
“Nggak usah, kak. Aku naik angkot
aja.”, tolakku.
“Buruan masuk. Udah siang nih.
Emangnya kamu mau telat terus dihukum gitu?”, tanyanya.
“Enggak sih.”, jawabku.
“Makanya buruan masuk.”, perintahnya.
Aku pun segera masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil, aku hanya bisa
terdiam ketika melihat kak Farhan yang terlihat sangat tampan ketika memakai
seragam polisinya. Tak ku sangka kak Farhan tumbuh menjadi seorang laki-laki
yang sangat tampan yang kini telah menjadi seorang polisi, salah satu pekerjaan
yang paling aku kagumi selama ini. Aku hanya bisa tersenyum kagum tanpa bisa
berkata apa-apa setiap kali melihatnya. Ketika aku masih memandanginya,
tiba-tiba saja kak Farhan mengagetkanku. Aku sangat kaget dibuatnya dan secara
refleks aku mengatakan bahwa dia itu ganteng dan aku juga mengaguminya. Kak
Farhan sempat tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan tadi dan memintaku agar
mengulangi ucapanku tadi. Tentu saja aku tidak mau mengulangnya karena ucapan
tadi secara spontan keluar dari mulutku karena hanya kata-kata itu yang
terlintas di pikiranku ketika aku memandanginya. Dan aku juga membantah ucapan
refleksku tadi bahwa aku mengaguminya karena aku tidak ingin dia tau bahwa aku
memang benar-benar mengaguminya dan aku juga tidak ingin dia semakin sering dan
suka menggodaku hanya karena kata-kata yang aku ucapkan secara refleks tadi. Mendengar
semua pengakuanku, kak Farhan hanya tersenyum tanpa bebicara sepatah katapun.
Karena terlalu asyik berdebat dengan kak Farhan, aku sampai tidak menyadari
bahwa aku sudah sampai tepat di depan gerbang sekolah. Setelah menyadarinya,
aku pun segera turun.
“Makasih ya kak atas tumpangannya.
Jadi ngerepotin kakak nih.”, ucapku.
“Kamu sekarang kok makin lebay sih,
lin?”, tanyanya sambil mengeryitkan jidat.
“Lebay gimana?”, tanyaku heran.
“Ya lebay. Pake ngomong kayak gitu
segala tadi. Dulu kamu juga lebay sih tapi nggak separah ini deh.”, imbuhnya.
“Ah nggak juga. Oh ya kak sebentar
lagi bel masuk bunyi nih. Aku masuk dulu ya.”, pamitku.
“Iya. Belajar yang bener ya,
sayang.”, ucapnya. Aku pun hanya mengangguk dan segera menyusul Rika, Dinda,
Ana, dan teman-temanku yang lain yang kebetulan baru saja datang. Ketika aku
sedang asyik berjalan bersama mereka, tiba-tiba...
“Lina, aku sayang kamu.”, teriaknya.
Aku sangat kaget mendengarnya dan pada saat itu juga aku, Rika, Dinda, Ana, dan
yang lainnya langsung berbalik badan. Dan benar saja seseorang yang meneriakkan
namaku tadi adalah kak Farhan yang ternyata belum meninggalkan sekolahku karena
aku sangat mengenali suaranya yang sangat khas itu. Dari kejauhan, dia
melambaikan tangan ke arahku sambil tersenyum manis kemudian dia langsung
pergi. Sepeninggalannya, teman-temanku termasuk Rika, Dinda, dan Ana langsung
menginterogasiku dengan berbagai pertanyaan karena selama ini yang mereka tau
aku tidak memiliki teman laki-laki dan tiba-tiba saja tadi ada seseorang yang
bilang sayang padaku. Aku hanya menjelaskan kepada mereka bahwa dia tadi adalah
kakak sepupuku yang sudah aku anggap sebagai kakak kandungku sendiri. Tetapi
mereka tetap saja tidak mau mempercayai ucapanku. Selama di dalam kelas hingga
pulang sekolah, mereka tetap saja menginterogasiku dengan pertanyaan yang sama.
Sampai-sampai aku ingin sekali menangis karena tidak tahan mendengar
pertanyaan-pertanyaan mereka. Hari ini memang benar-benar hari pembullyan bagiku. Tapi aku yakin seiring
berjalannya waktu, teman-temanku pasti akan mengerti bahwa kak Farhan itu
hanyalah kakak sepupuku, bukan teman spesialku seperti apa yang dikatakan
mereka tadi.
Sabtu malam, kak Farhan main ke
rumahku. Aku kaget dengan kedatangannya karena sebelumnya dia tidak memberi tau
ke aku kalo dia mau main ke rumah.
“Mau main ke sini kok nggak ngasih
tau dulu sih?”, tanyaku ketika dia baru saja datang.
“Biarin aja. Oh ya mama kamu di
rumah nggak, dek?”, tanyanya.
“Ada tuh. Lagi nonton tv sama
papa.”, jawabku. Dia hanya manggut-manggut.
“Kakak ke sini mau ketemu sama mama
ya?”, tanyaku.
“Oh nggak kok. Kakak ke sini tu mau
ketemu sama kamu.”, jawabnya.
“Ketemu sama aku? Mau ngomongin apa,
kak?”, tanyaku.
“Kita ke taman samping rumahmu aja
yuk. Biar enak ngobrolnya.”, ajaknya. Aku hanya menurutinya.
Sesampainya di taman...
“Oh ya kebetulan nih kak Farhan di
sini. Aku mau cerita soal kemarin.”, ucapku mengawali pembicaraan.
“Soal kemarin? Yang mana?”, tanya
kak Farhan.
“Itu pas aku berangkat ke sekolah
bareng beberapa hari yang lalu.”, jawabku.
“Terus masalahnya apa? Kamu nggak
suka ya berangkat bareng kakak?”, tanyanya.
“Nggak gitu juga. Tapi kakak ingat
nggak dengan apa yang kakak ucapkan waktu itu?”, tanyaku.
“Waktu itu? Kapan sih?”, tanyanya.
“Itu lho pas aku sedang jalan sama
teman-temanku yang lain.”, jawabku
“Oh itu. Ya pasti ingat lah. Emang
kenapa?”, tanyanya.
“Gara-gara ucapan kakak waktu itu,
aku jadi diinterogasi sama temen-temenku dan mereka juga ngira kalo kakak itu
teman spesialku.”, jawabku.
“Ya bagus dong. Lagipula kakak juga
sayang sama kamu dan kakak berharap semoga suatu saat nanti kamu bisa menjadi
teman perempuan kakak.”, jawabnya tersenyum.
Aku sangat kaget dengan pengakuan
kak Farhan. Bagaimana tidak seseorang yang berstatus sebagai kakak sepupuku
yang selama ini sudah aku anggap seperti kakak kandungku sendiri ternyata
menyimpan perasaan padaku. Jujur aku sangat bingung dibuatnya. Di tengah
kebingunganku, aku sempat menyarankan kepadanya untuk mencari perempuan yang
lebih baik dari aku karena aku menyadari bahwa usiaku terpaut cukup jauh dengan
usianya dan aku juga masih memiliki hubungan darah yang cukup dekat dengannya.
Sayangnya saranku tidak digubris olehnya. Dia tetap berpegang teguh dengan
pendiriannya yaitu hanya menginginkanku, bukan yang lain. Aku hanya bisa diam
mendengarnya. Setelah aku diam dan berpikir, perlahan aku coba untuk menjelaskan
kepadanya agar untuk saat ini lebih baik dia fokus pada pekerjaannya. Karena
menurutku pekerjaannya itu lebih penting daripada aku.
“Ya udah gini aja lebih baik kita
jalani aja kehidupan kita masing-masing. Lagipula jodoh juga nggak akan kemana
kan.”, jelasku.
“Oke aku setuju. Dan aku juga
berharap suatu saat nanti jodohku adalah gadis yang sekarang sedang
bersamaku.”, jawabnya tersenyum.
“Itu nggak mungkin, kak. Hubungan
darah antara kita itu dekat. Jadi nggak mungkin aku adalah jodohnya kak
Farhan.”, bantahku.
“Kenapa bisa nggak mungkin? Kita kan
nggak tau takdir yang Alloh berikan nanti seperti apa. Dan nggak ada salahnya
juga kan jika aku mengharapkanmu?”, tanyanya.
“Emang nggak salah sih. Tapi
kan..........”, ucapanku tergantung.
“Tapi apa? Kamu mau beralasan
seperti tadi lagi?”, tanyanya
“Bukan gitu, kak. Tapi kan pada
kenyataannya kita punya hubungan darah yang cukup dekat. Dan setau aku jika
seseorang itu memiliki hubungan darah yang cukup dekat nggak boleh terjadi
pernikahan di antara mereka.”, jawabku.
Tiba-tiba saja kak Farhan memegang
pundakku erat sambil menatapku dengan tatapan yang sangat tajam. Dia juga
semakin mendekatkan wajahnya ke depan wajahku. Karena tak tahan melihat tatapan
matanya yang tajam itu, aku langsung melepaskan pegangannya dan lari ke dalam
rumah sambil berteriak. Sesampainya di rumah, mama yang kebetulan waktu itu
sedang duduk di ruang tamu kaget melihatku lari sambil berteriak ketakutan.
Tanpa basa-basi, aku langsung memeluk erat mama. Ketika mama bertanya
sebenarnya apa yang terjadi, aku hanya menjawab aku takut sama kak Farhan. Tak
selang beberapa lama, kak Farhan pun menyusulku ke rumah. Melihat aku ketakutan
ketika kak Farhan datang, mama pun langsung menanyainya.
“Han, apa yang sebenarnya terjadi?
Kamu apakan Lina kok dia sampek ketakutan kayak gitu?”, tanya mama. Aku hanya
duduk diam di sofa sambil menunduk karena jujur aku masih takut sama kak
Farhan.
“Aku cuma mau ngejelasin sesuatu ke
Lina, tante. Belum sempat ngomong apa-apa, eh dianya keburu lari. Aku juga
bingung sebenarnya Lina tu kenapa.”, jawab kak Farhan.
“Kalo cuma mau ngejelasin sesuatu,
ngapain kakak natap aku tajam banget tadi?”, selaku.
“Oh jadi kamu takut kalo kakak natap
kamu dengan tatapan tajam kayak tadi?”, tanyanya.
“Ya iyalah. Siapa yang nggak takut
coba. Dalam situasi yang seperti itu, tiba-tiba kakak natap aku kayak gitu. Kan
aku jadi berpikiran yang enggak-enggak.”, jawabku kesal.
“Tapi kan tadi kakak mau ngejelasin
sesuatu ke kamu, dek.”, jelasnya.
“Kalo mau ngejelasin sesuatu kan
nggak perlu bersikap kayak tadi juga.”, tambahku. Mama semakin bingung
melihatku berdebat terus-terusan dengan kak Farhan.
“Ini sebenarnya masalahnya apa sih?
Emang Farhan mau ngejelasin apa ke Lina?”, tanya mama.
“Gini tante tadi Lina tu tanya ke
aku misalnya terjadi pernikahan antar sepupu itu gimana hukumnya. Misalnya kalo
Lina nikah sama aku tu boleh apa nggak. Belum sempat aku jawab, eh Lina udah
lari duluan.”, jelas kak Farhan. Otomatis aku kaget dan langsung membantah
ucapan kak Farhan.
“Udah nggak usah bertengkar lagi.
Mama pusing liat kalian berdua bertengkar terus.”, jawab mama. Kak Farhan
menatapku sambil tersenyum. Aku pun semakin kesal dibuatnya.
“Iya ma.”, jawabku cemberut.
“Gini ya sepengetahuan tante semisal
tante punya kakak perempuan cewek terus kakak tante punya anak cowok dan anak
cowoknya itu nikah sama anaknya tante itu hukumnya boleh.”, jawab mama.
“Oh gitu ya, tante. Tuh dek dengerin
kata mama kamu. Kita aja boleh nikah kok.”, goda kak Farhan.
“Ih kak Farhan apaan sih.”, jawabku
mengeryitkan keningku sambil mencubit lengannya sampai dia berteriak kesakitan.
Mama hanya tersenyum melihatnya. Beberapa menit kemudian, kak Farhan pamit
pulang. Aku lega akhirnya kak Farhan pulang juga. Setidaknya aku bisa sedikit
tenang karena tidak ada yang menggodaku lagi.
Semenjak kejadian itu, aku merasa
hubunganku dengan kak Farhan semakin dekat. Dia juga semakin sering bermain ke
rumahku, mengajakku berangkat ke sekolah bersama, dan masih banyak lagi.
Awalnya aku masih merasa nyaman dengan perhatian yang dia berikan kepadaku.
Tetapi semakin hari aku semakin merasa bosan dengannya. Aku menilai dia terlalu
berlebihan memberikan perhatiannya kepadaku. Perlahan-lahan aku mulai
menjauhinya dengan cara tidak membalas smsnya, tidak menjawab telponnya, selalu
menghindar ketika diajak ke luar, dan lain sebagainya. Awalnya dia masih
memaklumi sikapku yang terkesan aneh itu, tapi semakin hari dia merasa heran
mengapa sikapku tiba-tiba berubah drastis dalam waktu yang terbulang sangat
singkat. Suatu hari kak Farhan main ke rumahku.
“Dek, kenapa sih akhir-akhir ini
sikap kamu berubah kayak gini ke kakak?”, tanya kak Farhan.
“Aku nggak berubah tuh.”, jawabku enteng.
“Kalo kamu nggak berubah kenapa
setiap kakak ajak keluar, kamu selalu nolak? Kenapa setiap kakak sms atau
telpon, kamu nggak pernah balas atau jawab? Emang kakak punya salah apa,
sayang?”, tanya kak Farhan.
“Kakak sadar nggak dengan apa yang
kakak lakukan selama ini? Kakak tu sangat berlebihan memberikan perhatian kakak
ke aku. Hampir tiap jam kakak menanyakan kabarku, aku lagi apa, dan masih
banyak lagi. Aku risih kak dengan sikap kakak yang seperti ini.”, jawabku penuh
emosi.
“Maaf dek, kakak nggak tau. Tapi
hari ini kamu mau kan kakak ajak main ke luar?”, tanyanya.
“Maaf kak, aku lagi banyak tugas.”,
jawabku sambil pergi meninggalkan kak Farhan.
Waktu itu aku baru saja keluar
kelas. Karena tidak ada tugas kelompok atau tugas yang lain, maka aku putuskan
untuk pulang. Ketika di perjalanan pulang, tiba-tiba mama menelponku dan
menyuruhku pulang cepat. Aku pun mengiyakannya meskipun aku sempat heran
mengapa mama menyuruhku pulang cepat. Karena mama tidak biasanya bersikap
seperti ini ke aku. Sesampainya di rumah...
“Dek, tadi pagi kak Farhan ke sini.
Kak Farhan juga sempat cerita ke mama kalo akhir-akhir ini kamu nggak pernah
bales sms dan jawab telpon dari kak Farhan. Sebenarnya ada apa sih, dek?”,
tanya mama.
“Biarin aja lah, ma. Lagian aku juga
bosen sama sikapnya kak Farhan yang kayak gitu.”, jawabku.
“Bosen? Maksudnya gimana?”, tanya
mama.
“Kak Farhan tuh berlebihan banget,
ma. Masa hampir tiap hari nanyain kabar aku, aku lagi apa, dan sebagainya. Kan
bikin aku bosen, ma.”, jelasku.
“Tapi kak Farhan jangan dikacangin
kayak gitu dong. Kak Farhan bersikap gitu karena dia tu pingin tau kabar kamu.
Ya setidaknya kamu bales lah smsnya biar dia nggak khawatir gitu.”, pesan mama.
“Ah udah lah, ma. Jangan
ngomongin kak Farhan terus. Aku males dengernya.”, jawabku sambil pergi ke
kamar.
“Dek, dengerin mama dulu. Mama belum
selesai ngomong.”, ucap mama. Sayangnya ucapan itu tidak aku hiraukan.
Sudah hampir 2 bulan, aku bersikap
seperti ini kepada kak Farhan. Aku pikir setelah aku bersikap seperti ini
kepadanya, dia akan merasa bosan dan menjauhiku secara perlahan. Tetapi
dugaanku salah besar. Semakin aku berusaha untuk menjauhinya, dia malah semakin
sering mengirim sms kepadaku. Pernah aku coba menonaktifkan nomerku selama 1
minggu. Dan ketika aku mengaktifkan nomer itu lagi, aku sangat kaget ketika
melihat ratusan sms masuk dan sms itu tidak lain adalah dari kak Farhan yang
isinya mengingatkanku agar tidak telat makan, agar belajar dengan rajin, agar
tidak meninggalkan sholat, dan masih banyak lagi. Sebenarnya di dalam hati, aku
sangat ingin membalas pesannya meskipun hanya dengan beberapa kata saja agar dia
tidak khawatir seperti yang dikatakan mama beberapa waktu lalu. Tapi setelah
aku pikir ulang, aku putuskan untuk tidak membalas pesannya agar dia tetap
berpikiran bahwa aku masih membencinya.
Siang itu ketika aku pulang bersama
Rika, Dinda, dan Ana, tiba-tiba aku dikejutkan oleh laki-laki yang secara
tiba-tiba menghentikan motornya tepat di depanku. Aku sempat bertanya-tanya
sebenarnya siapa laki-laki itu dan apa maksudnya menghentikan motornya di
depanku. Laki-laki itu langsung melepas helmnya. Aku dan teman-temanku sangat
kaget ketika mengetahui bahwa laki-laki itu ternyata adalah kak Farhan. Melihat
kak Farhan ada di situ, tanpa banyak bicara aku langsung mempercepat langkahku
dan meninggalkan mereka. Dengan cepat kak Farhan langsung menghentikan langkahku
dengan cara memegang pergelangan tanganku kemudian memelukku di depan
teman-temanku. Karena merasa tidak enak dilihat teman-temanku, maka aku
langsung melepaskan pelukan itu dengan kasar kemudian pergi
Setelah cukup jauh aku meninggalkan
mereka, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku dari belakang. Otomatis
aku sangat kaget dibuatnya. Ketika aku menoleh, aku terkejut ternyata seseorang
yang menepuk pundakku tadi adalah kak Farhan. Aku mulai emosi.
“Kak Farhan ngapain sih
ngejar-ngejar aku terus?”, tanyaku kesal.
“Kakak datang dan mau ngomongin
sesuatu secara baik-baik. Tetapi kenapa kamu bersikap seperti ini ke kakak sih,
lin?”, tanya kak Farhan.
“Kan waktu itu udah aku jelasin kalo
aku nggak suka sama sikap kakak yang terlalu perhatian itu. Apa itu kurang
jelas? Lalu kakak ke sini mau ngomongin apa?”, tanyaku.
“Kakak lihat kamu sekarang udah
mulai seneng. Kamu sudah berhasil move on
ya?”, tanya kak Farhan.
“Itu kakak udah tau. Kenapa masih
tanya?”, tanyaku.
“Enggak. Kakak cuma mau mastiin aja
kalo kamu udah bener-bener bisa move on.
Alhamdulillah deh kalo gitu.”, jawabnya tersenyum.
“Iya.”, jawabku singkat kemudian
pergi.
“Dek, tunggu dulu. Kakak belum
selesai ngomong.”, cegahnya.
“Mau ngomongin apa lagi sih, kak?
Aku udah capek nih.”, tanyaku kesal.
“Kakak cuma mau bilang ke kamu.
Berhubung kamu udah bisa move on, itu
artinya kakak udah nggak perlu nemenin kamu lagi kan? Oh ya satu lagi beberapa
hari lalu kakak dapat informasi bahwa mulai besok sampai batas waktu yang belum
ditentukan, kakak dipindahtugaskan ke luar kota. Jadi selain mau ngomongin hal
ini ke kamu, kakak mau pamit sekalian minta maaf ke kamu kalo selama ini kakak
sering bikin salah ke kamu. Kakak harap setelah kakak pergi, kamu bisa
menjalani hari-harimu dengan ceria tanpa kehadiran kakak.”, jelas kak Farhan.
“Ya udah kalo mau pergi, ya pergi
aja. Nggak usah pamit segala.”, jawabku judes sambil pergi meninggalkannya
karena kebetulan ada satu angkutan umum yang berhenti. Dan aku hanya menganggap
tadi itu kak Farhan sedang bercanda dan hal itu sengaja dia lakukan untuk
memintaku agar aku bisa kembali bersikap baik kepadanya.
Beberapa hari setelah kejadian itu,
aku merasa lega dan senang karena kak Farhan sudah pergi dan tidak pernah
menghubungiku lagi. Ya itulah yang selama ini aku inginkan darinya. Aku juga
ingin membuktikan padanya bahwa aku sekarang sudah bisa move on dari libur panjangku dan aku bisa melewati hari-hariku
dengan ceria tanpa kehadirannya. Tapi perasaan legaku setelah dia pergi
meninggalkanku ternyata tidak berlangsung lama. Awalnya aku senang karena dia
tidak menelpon atau mengirimkan pesan kepadaku. Tetapi setelah beberapa minggu
berlalu, entah mengapa aku mulai merindukannya. Aku rindu suaranya, aku rindu
nasehatnya, aku rindu candaannya, aku rindu perhatiannya, dan aku rindu dengan
sikap-sikapnya yang selama ini aku anggap sangat menggangguku. Ingin ku coba
untuk menghubunginya, tetapi rasa gengsi ini selalu menguasai diriku. Beberapa
hari kemudian, ku beranikan diri untuk menelponnya tapi sayangnya nomer yang
dia pake sedang tidak aktif. Aku coba untuk memakluminya karena mungkin dia
sedang sibuk. Tapi setelah sekian kali ku coba, ternyata nomer itu sudah
benar-benar tidak aktif. Aku mulai bingung harus bagaimana dan harus
menghubungi siapa agar aku tau kabarnya. Semenjak kejadian itu, aku cenderung
lebih sering diam dan berharap suatu hari nanti kak Farhan mengingatku dan
segera menghubungiku.
Siang itu ketika aku duduk di teras
rumah, tiba-tiba...
“Dor!!!!”, mama mengagetkanku.
“Mama apaan sih.”, ucapku kesal.
“Kamu ngapain siang-siang gini
ngelamun? Ngelamunin siapa?”, tanya mama.
“Nggak kok. Aku nggak ngelamun.”,
jawabku.
“Udah jujur aja. Mama tau kalo kamu
lagi bohong.”, imbuh mama.
“S...s...s...sebenarnya....”,
ucapanku tergantung.
“Sebenarnya kenapa?”, tanya mama.
“Sebenarnya aku kangen kak Farhan,
ma.”, jawabku sambil menangis. Mama pun hanya memelukku tanpa berkata apa-apa.
Berhari-hari aku hanya duduk sambil
memandangi handphone berharap ada
kabar dari kak Farhan. Tapi sayangnya kabar itu tak kunjung datang. Aku semakin
pusing dibuatnya. Mama selalu mengingatkanku agar jangan sampai telat makan
hanya karena menunggu kabar dari kak Farhan. Tapi sayangnya nasehat itu tidak
pernah aku gubris dan akhirnya aku pun sakit. Sudah 3 hari ini aku mengalami
demam tinggi dan di saat seperti ini aku masih saja berharap semoga kak Farhan
segera menghubungiku. Mama juga sudah memberiku obat penurun demam dan demamku
sudah mulai turun meskipun kepalaku masih terasa pusing. Siang itu ketika aku
baru bangun tidur, aku melihat mama duduk di sampingku.
“Alhamdulillah
kamu udah bangun. Sekarang gimana rasanya? Udah enakan?”, tanya mama.
“Kak Farhan di mana, ma?”, tanyaku.
“Lho jadi selama ini kamu belum tau
kalo kak Farhan dipindahtugaskan ke luar kota?”, tanya mama.
“Jadi yang kak Farhan bilang waktu
itu beneran? Nggak bercanda?”, tanyaku kaget. Mama hanya mengangguk.
“Sekarang tolong hubungin kak
Farhan, ma. Aku pingin ngomong sama dia.”, rengekku.
“Tapi kan nomernya kak Farhan udah
nggak aktif, lin.”, jelas mama.
“Aku nggak mau tau. Pokoknya mama
harus dapetin nomernya kak Farhan sekarang juga.”, jawabku.
Setelah menunggu beberapa lama,
akhirnya mama berhasil mendapatkan nomernya kak Farhan dari mamanya. Aku pun
segera menyuruh mama untuk menelpon nomer itu. Ketika nomer itu dihubungi,
benar saja yang mengangkat telpon itu adalah kak Farhan karena kebetulan mama
menloudspeaker telponnya sehingga aku
bisa mengenali suaranya. Melihat mama berbicara dengan kak Farhan lama sekali,
tanpa banyak bicara aku langsung merebut telpon itu dari tangan mama.
“Kak, tolong ke sini sekarang.”,
pintaku.
“Nggak bisa, sayang. Kakak lagi
sibuk soalnya.”, jawab kak Farhan.
“Aku nggak mau tau apa pun
alasannya. Pokoknya sekarang juga kak Farhan harus ke sini.”, rengekku.
“Sekali lagi kakak minta maaf. Kakak
nggak bisa ke rumahnya Lina sekarang. Kan Lina tau kalo kakak lagi di luar
kota.”, jawab kak Farhan. Belum sempat aku menutup telpon, tiba-tiba ada
seseorang yang membuka pintu kamarku. Aku kaget ketika tau bahwa seseorang itu
adalah kak Farhan.
“Kak Farhan!!!!”, teriakku girang.
“Iya. Ada apa? Kok tadi di telpon
sampek ngerengek-rengek gitu sih? Kangen ya?”, tanyanya.
“Enggak tuh.”, jawabku.
“Enggak salah kan?”, godanya.
“Kak Farhan apaan sih.”, ucapku
sambil mencubit lengannya.
“Ya udah kalo gitu mama tinggal dulu
ya.”, ucap mama sambil keluar dari kamarku.
Dari situ lah kak Farhan mulai
bercerita bahwa nomernya yang dulu tidak bisa dihubungi itu karena nomernya
mengalami kerusakan dan akhirnya dia memutuskan untuk ganti nomer baru. Dan
hari ini dia bisa ke rumahku karena kebetulan dia diberi libur selama 3 hari.
Aku hanya bisa mengangguk mendengarnya.
“Kak, aku minta maaf ya soal
kemarin.”, ucapku.
“Iya nggak apa-apa. Lagian kejadian
itu udah berlalu kan, jadi nggak perlu dibahas lagi. Yang penting sekarang kamu
janji nggak akan bersikap seperti itu lagi ke kakak. Kakak juga minta maaf kalo
selama ini sikap kakak terlalu berlebihan ke kamu.”, jelasnya.
“Iya kak nggak apa-apa kok. Justru
setelah kakak pergi, aku kangen dengan sikap kakak yang bisa dibilang cukup
berlebihan itu.”, jawabku.
“Tuh kan bener kamu selama ini
kangen sama kakak.”, godanya.
“Iya deh aku ngaku. Oh iya kak, aku boleh
minta satu permintaan ke kakak nggak?”, tanyaku.
“Boleh. Emangnya permintaan apa,
lin?”, tanya kak Farhan.
“Senyebelin apapun aku, tolong
jangan pernah tinggalin aku ya, kak. Aku sayang kak Farhan. Aku pingin bisa
bersama kak Farhan seperti dulu lagi.”, pintaku.
“Insya
alloh kakak nggak akan ninggalin kamu. Kakak juga sayang kamu, lin. Ya
meskipun sekarang kakak dinas di luar kota, tetapi hati kakak selalu di sini
bersamamu.”, jawabnya tersenyum. Aku pun ikut tersenyum.
Sejak pertemuanku dengan kak Farhan
setelah aku membuatnya kecewa, aku mulai belajar dan berjanji pada diriku
sendiri bahwa aku tidak akan lagi mengecewakan seseorang yang telah tulus
menyayangiku.
;;
Subscribe to:
Posts (Atom)

