Saturday, 21 November 2015

CURAHAN HATI RISKA

          “Mama beneran pindah tugas ya?”, tanya Riska pelan. Sontak mama kaget mendengar pertanyaan itu.
          “Riska, buruan dihabiskan makan siangnya. Nanti keburu nggak enak lho.”, jawab mama yang berusaha mengalihkan pembicaraan.
          “Tolong jawab pertanyaanku dulu, ma.”, rengek Riska.
          “Iya nanti mama jawab. Tapi habiskan makan siangnya dulu ya.”, pinta mama.
          “Iya ma.”, jawab Riska pelan.
          Setelah Riska selesai makan siang, mama pun mengajaknya ke kamar untuk menjelaskan kepadanya bahwa untuk beberapa waktu ke depan beliau dipindahtugaskan ke luar kota dan itu sudah menjadi kebijakan perusahaan tempat mama bekerja. Riska pun langsung menangis setelah mendengar penjelasan mama. Sebenarnya mama sangat tidak tega ketika melihat anak semata wayangnya yang masih kelas 1 SMP itu menangis dan harus meninggalkannya ke luar kota demi pekerjaannya. Tapi apa mau dikata, itu semua juga mama lakukan demi Riska dan masa depan mereka berdua. Maklum semenjak papa meninggal akibat kecelakaan lalu lintas beberapa tahun lalu, mama harus memenuhi kebutuhan Riska dan dirinya seorang diri. Awalnya Riska sempat meminta kepada mama untuk memindahkannya ke sekolah yang berada di kota tempat mama dipindahtugaskan agar dia tetap bisa bersama mama. Tetapi mama menolaknya karena selain mama sering dipindahtugaskan ke kota lain, menurut mama jika Riska juga ikut pindah sekolah itu malah ribet karena harus mengurus surat-surat pindah sekolah. Lagipula mama juga merasa kasihan jika Riska harus pindah-pindah sekolah dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang baru. Ya keadaan seperti ini lah yang sering membuat mama merasa dilema. Tapi meskipun sering mengalami keadaan seperti ini, mama harus tetap bijak dalam memutuskan sebuah pilihan.
          “Jadi sekarang baiknya gimana, ma?”, tanya Riska.
          “Gini aja Riska mau kan tinggal di rumah nenek?”, tanya mama.
          “Tinggal di rumah nenek? Sama om Rizal dan tante Dita juga dong? Emang nenek ngebolehin Riska tinggal di sana?”, tanya Riska ragu.
          “Pasti boleh, sayang. Lagipula om Rizal pernah bilang ke mama seandainya mama dipindahtugaskan ke luar kota, dia minta agar kamu tinggal di rumah nenek. Riska mau kan?”, tanya mama.
          “Ya udah deh, ma. Riska nurut aja.”, jawab Riska.
          “Makasih ya sayang udah mau ngertiin keadaan mama. Mama janji mama akan sesering mungkin memberi kabar ke kamu dan jika semua tugas mama di luar kota sudah selesai, mama akan segera pulang.”, kata mama.
          “Janji ya, ma.”, tantang Riska sambil mengulurkan jari kelingkingnya ke hadapan mama.
          “Iya sayang, mama janji.”, jawab mama sambil menempelkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Riska sebagai tanda perjanjian.
          Pagi harinya mama langsung mengantarkan Riska ke rumah nenek karena siang harinya mama sudah harus berangkat ke luar kota. Sebenarnya mama sangat berat untuk meninggalkan anak semata wayangnya yang masih sangat belia itu. Tapi sekali lagi ini adalah sebuah pilihan dan mama dituntut harus bijak untuk memutuskan ini semua. Karena ini menyangkut masa depan mereka berdua. Sesampainya di rumah nenek..........
          “Selama mama di luar kota, Riska tinggal di sini dulu ya. Jaga diri baik-baik ya, sayang.”, pesan mama.
          “Iya ma.”, jawab Riska pendek.
          “Oh iya zal, kakak titip Riska ya. Tolong kamu jagain dia.”, pinta mama.
          “Iya kak. Aku akan ngehandle dan jagain Riska sebaik mungkin. Jadi kakak nggak perlu khawatir.”, jawab om Rizal.
          “Makasih banyak ya, zal. Kalo gitu kakak pergi dulu ya. Tolong sampaikan salam kakak ke mama.”, pesan mama.
          “Iya kak nanti kalo mama udah pulang, aku sampaikan salam kakak ke mama.”, jawab om Rizal. Kemudian mama pun langsung pergi ke luar kota karena pekerjaan sudah menantinya.
          Keesokan harinya, Riska pun bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Ketika ia mau keluar rumah, tiba-tiba om Rizal menarik tangannya dan mengajaknya untuk berangkat ke sekolah bersama. Awalnya Riska menolak dengan alasan dia mau berangkat sama temannya. Tetapi karena om Rizal memaksanya, akhirnya Riska pun mau berangkat ke sekolah bersama om Rizal. Sesampainya di sekolah.....
          “Makasih ya om udah nganterin aku ke sekolah.”, kata Riska.
          “Iya sama-sama. Belajar yang bener ya. Ingan pesan mama.”, pesan om Rizal.
          “Iya om. Kalo gitu Riska masuk dulu ya.”, jawab Riska sambil pergi meninggalkan om Rizal. Sepeninggalan Riska, om Rizal pun segera menuju ke polres untuk melaksanakan tugasnya sebagai seorang polisi.
          Malam harinya, om Rizal mengajak Riska untuk makan di luar rumah bersama nenek dan tante Dita. Tetapi nenek menolak ajakan itu karena nenek tidak terlalu suka makan malam di luar. Akhirnya mereka pun pergi bertiga tanpa nenek. Sesampainya di restoran, mereka bertiga pun langsung memesan makanan kesukaan masing-masing. Riska sangat senang dengan makan malam kali ini. Setelah selesai makan malam, mereka pun pulang. Sesampainya di rumah, Riska pun segera menuju ke kamar. Di kamar, ia pun terlihat asyik menuliskan sesuatu di buku diary berwarna biru bergambar doraemon kesayangannya itu.
          “Hari ini Riska seneng banget karena kalian udah nerima kehadiran Riska dengan baik di rumah ini. Terima kasih ya, om Rizal. Udah ngajakin Riska makan malam hari ini. Jujur Riska sudah lama merindukan kebersamaan seperti ini karena kebersamaan yang indah ini Riska rasakan sudah beberapa tahun lalu sebelum papa meninggalkan Riska. Semoga Riska bisa merasakan kebersamaan yang indah ini setiap hari.”, curahan hati Riska malam itu.
          Sejak saat itu, Riska pun semakin dekat dengan om Rizal. Kedekatan mereka bahkan melebihi kedekatan antara paman dengan keponakannya. Lebih tepatnya seperti kedekatan ayah dengan anaknya. Ya om Rizal memang sangat sayang kepada Riska. Menurut om Rizal, Riska itu anak yang easy going, penurut, dan masih banyak lagi. Om Rizal sering ngantar jemput Riska meskipun perkerjaannya juga bisa dibilang sangat banyak. Dia juga sering ngajak Riska pergi jalan-jalan atau sekedar curhat tentang kegiatannya saja. Awalnya tante Dita merasa senang dengan kehadiran Riska di rumah itu. Tapi entah mengapa semakin sering melihat kedekatan Riska dengan om Rizal, justru semakin menambah kebencian tante Dita kepada Riska. Dia menilai semenjak Riska tinggal di rumah itu, dia malah sering kehilangan waktu bersama om Rizal karena om Rizal lebih sering menghabiskan waktu luangnya untuk menemani Riska mengerjakan tugas sekolahnya, mengajak Riska main ke luar, dan masih banyak lagi. Perlahan tapi pasti tante Dita pun mulai menunjukkan kebenciannya kepada Riska mulai dari menyindir Riska, menyuruh-nyuruh Riska secara tidak wajar, dan masih banyak lagi.
          “Ya sudahlah. Mungkin akhir-akhir ini tante Dita lagi banyak masalah makanya sering bersikap seperti itu ke aku. Lagipula aku bukan siapa-siapa di sini. Jadi jika dilogika sangat tidak pantas jika aku membantah atau malah marah kepada tante Dita.”, batin Riska yang berusaha memaklumi itu semua.
          Semenjak saat itu juga, Riska pun cenderung lebih sering diam dan mencurahkan semua keluh kesahnya ke dalam buku diary kesayangannya. Sebenarnya om Rizal merasakan ada yang aneh pada diri Riska akhir-akhir ini. Om Rizal juga heran karena sering melihat Riska diam dan melamun. Tetapi setiap kali om Rizal bertanya kepada Riska sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya, dia pun hanya menjawab tidak ada apa-apa. Sebenarnya om Rizal tahu bahwa Riska sedang berbohong, tetapi jika memaksa Riska untuk jujur sepertinya malah akan membuatnya marah. Ya maklum lah Riska masih belum dewasa dan labil. Om Rizal juga berusaha untuk memahami keadaan Riska.
          Siang itu om Rizal sengaja menjemput Riska ke sekolahnya. Ketika om Rizal sampai di sekolah, bel tanda pulang pun sudah berbunyi. Jadi om Rizal tidak perlu menunggu Riska. Dan ketika Riska sampai di gerbang sekolah, ia pun kaget karena melihat om Rizal sudah menunggunya.
          “Lho om Rizal? Sejak kapan di sini?”, tanya Riska kaget.
          “Baru aja kok. Ya udah buruan masuk ke mobil.”, perintah om Rizal.
          “Oke.”, jawab Riska pendek.
          Kemudian mereka berdua segera pulang ke rumah. Tapi belum lama mereka meninggalkan sekolah, tiba-tiba om Rizal mengerem mobilnya secara mendadak.
          “Kenapa kok ngerem mendadak sih, om?”, tanya Riska yang terlihat kaget.
          Handphone  om ketinggalan di kantor.”, jawab om Rizal.
          “Jadi gimana dong?”, tanya Riska.
          “Ya mau nggak mau om harus balik lagi ke kantor. Riska mau kan ikut om ke kantor?”, tanya om Rizal.
          “Maksudnya ikut om balik lagi ke polres?”, tanya Riska.
          “Ya iyalah, sayang. Mau ke mana lagi coba. Tempat kerja om kan ya di polres.”, jawab om Rizal.
          “Oke deh kalo gitu. Tapi nggak usah lama-lama ya.”, pinta Riska.
          “Ya lihat aja nanti lah.”, jawab om Rizal. Kemudian mereka berdua pun kembali ke polres. Sesampainya di polres....
          “Riska tunggu di sini sebentar ya.”, pesan om Rizal.
          “Iya om.”, jawab Riska pendek. Sambil menunggu om Rizal, Riska pun mengeluarkan buku diary dari tasnya kemudian mulai menuliskan isi hatinya ke dalam buku itu. Belum sampai satu halaman Riska menuliskan isi hatinya, tiba-tiba....
          “Hey, kamu lagi apa? Kelihatannya kok asyik banget?”, tanya laki-laki itu sambil menepuk pundak Riska dari belakang. Riska pun kaget dan langsung memasukkan buku diarynya ke dalam tas.
          “Oh nggak lagi ngapa-ngapain kok.”, jawab Riska yang masih terlihat kaget.
          “Aku boleh duduk?”, tanya laki-laki itu.
          “Oh iya silahkan duduk.”, jawab Riska. Kemudian laki-laki itu duduk di sampingnya.
          “Namanya siapa, dek?”, tanya laki-laki itu.
          “Namaku Riska.”, jawab Riska pendek.
          “Kamu lagi ngapain di sini?”, tanya laki-laki itu.
          “Lagi nunggu om Rizal. Soalnya handphonenya ketinggalan tadi jadi balik lagi ke sini deh.”, jawab Riska menghela napas.
          “Kamu anaknya pak Rizal ya?”, tanya laki-laki itu.
          “Oh bukan. Aku keponakannya om Rizal.”, jawab Riska. Riska pun mulai akrab dengannya. Dari kejauhan ternyata om Rizal memperhatikan keakraban mereka berdua. Tak lama kemudian....
          “Riska!!!”, panggil om Rizal.
          “Iya om. Mau pulang sekarang ya?”, tanya Riska sambil menghampiri om Rizal.
          “Sekarang juga boleh.”, jawab om Rizal.
          “Bentar ya.”, kata Riska. Kemudian Riska pun bergegas mengambil tasnya yang ada di dekat laki-laki yang mengajaknya berkenalan tadi.
          “Riska pulang dulu ya. Soalnya om Rizal udah ngajakin pulang. Makasih ya udah ngajakin Riska ngobrol tadi.”, kata Riska sambil berpamitan dengan laki-laki itu.
          “Oh iya sama-sama. Kalo gitu hati-hati di jalan ya. Semoga kita bisa bertemu lagi.”, jawab laki-laki itu. Kemudian Riska pun meninggalkannya.
          Selama di dalam mobil, om Rizal bertanya kepada Riska apa saja yang dia bicarakan bersama laki-laki tadi sampai mereka terlihat sangat akrab. Riska pun menjawab bahwa dia hanya berkenalan dengan laki-laki itu saja dan anehnya Riska malah bertanya ke om Rizal sebenarnya siapa laki-laki yang mengajaknya berkenalan tadi. Om Rizal sangat heran dengan keponakannya yang satu ini. Bagaimana bisa dia berkenalan dengan orang lain tetapi dia tidak menanyakan siapa nama orang itu. Ya wajarlah namanya juga Riska, masih kecil tapi sering lupa. Om Rizal hanya bisa memaklumi hal seperti itu saja dan menjelaskan kepada Riska bahwa laki-laki yang mengajaknya berkenalan tadi itu namanya Raka. Dia adalah seorang taruna akpol yang baru pertama kali latihan kerja dan kebetulan latihan kerjanya di situ. Riska hanya manggut-manggut mendengarnya. Dari tadi om Rizal memperhatikan sepertinya Riska senang berkenalan dengan Raka dan dia pun sempat menggoda Riska dengan cara akan mengadukan hal ini ke mama jika Riska benar-benar menyukai Raka. Wajah Riska pun tiba-tiba terlihat memerah, entah itu tanda takut atau malu. Dia pun membantah omongan om Rizal yang mengatakan bahwa dia menyukai Raka dan berusaha meyakinkan om Rizal bahwa tadi itu dia hanya berkenalan dengan Raka saja. Melihat Riska yang berusaha membantah omongannya, om Rizal pun semakin bersemangat untuk menggoda Riska. Sampai-sampai Riska pun menangis karena tidak tahan mendengar semua itu. Karena Riska menangis, akhirnya om Rizal pun menghentikan semua itu dan mengatakan kepada Riska bahwa dia tadi hanya bercanda dan tidak ada maksud apa-apa. Ya om Rizal memang orang yang humoris dan tidak jarang membuat orang menangis dengan candaannya itu.
          Pada suatu hari, Riska sedang duduk melamun di pinggir kolam yang terletak di belakang rumah sambil menuliskan sesuatu ke dalam buku diarynya itu. Baru menulis beberapa kalimat saja, tiba-tiba ia pun menjerit histeris karena ada seseorang yang menyikapnya dari belakang. Seseorang itu pun juga sangat kaget ketika mendengar jeritan Riska yang sangat histeris itu. Dia pun segera melepaskan sikapannya itu kemudian duduk di samping Riska. Ternyata seseorang itu tidak lain adalah om Rizal yang gemar membuat Riska merasa takut, kaget, bahkan sampai menangis. Tanpa Riska sadari ternyata om Rizal sempat melihat tulisannya di buku diarynya yang terbuka itu. Ketika menyadari bahwa om Rizal melihat tulisannya, dengan cepat Riska pun menutup buku itu dan menyembunyikannya. Om Rizal pun bertanya kepada Riska sebenarnya apa yang dia tulis di buku itu, Riska pun hanya menjawab bukan apa-apa. Om Rizal merasa bahwa Riska sedang menyembunyikan sesuatu dan kali ini om Rizal memaksa Riska agar mau bercerita sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya selama ini. Ketika om Rizal sempat ingin mengambil buku diary Riska, tiba-tiba....... PLAK!!!!!!!! Tanpa sengaja Riska pun menampar om Rizal.
          “Riska tega banget sih nampar om Rizal?”, tanya om Rizal sambil menahan rasa sakit di pipinya akibat tamparan yang diberikan oleh Riska tadi.
          “Abisnya om Rizal maksa sih. Kalo pingin pinjam kan bisa minta baik-baik.”, gerutu Riska.
          “Iya deh om minta maaf. Om boleh tau nggak kenapa Riska akhir-akhir ini kok sering ngelamun dan terlihat menyembunyikan sesuatu gitu tiap kali om bertanya?”, tanya om Rizal.
          “Sebaiknya om Rizal nggak usah nganter jemput Riska lagi dan jangan memperlakukan Riska secara berlebihan seperti ini.”, pinta Riska.
          “Lho memangnya kenapa, sayang? Riska nggak suka ya kalo sering diantar jemput sama om?”, tanya om Rizal heran.
          “Riska suka-suka aja diantar jemput sama om.”, jawab Riska.
          “Kalo kamu suka, kenapa kamu kok malah ngelarang om buat ngantar jemput kamu, sayang?”, tanya om Rizal yang masih saja penasaran.
          “Karena Riska merasa ada seseorang yang nggak suka kalo om Rizal terlalu sering ngantar jemput Riska.”, jawab Riska.
          “Seseorang? Atau jangan-jangan seseorang yang nggak suka itu Kak Raka ya?”, tanya om Rizal.
          “Bukan dia, om.”, bantah Riska.
          “Ternyata diam-diam Riska suka sama Kak Raka. Om tau sekarang.”, goda om Rizal.
          “Om Rizal, udah dong jangan bercanda terus.”, pinta Riska.
          “Iya deh om minta maaf. Kalo bukan Kak Raka, lalu siapa seseorang itu?”, tanya om Rizal penasaran.
          “Riska nggak perlu kasih tau siapa orang itu. Yang pasti orang itu nggak suka jika om Rizal memperlakukan Riska seperti ini.”, jawab Riska.
          “Ya udah kalo gitu. Tapi kalo sesekali om ngantar jemput kamu boleh kan?”, tanya om Rizal.
          “Boleh aja. Asal jangan keseringan.”, jawab Riska. Om Rizal hanya menuruti permintaan Riska saja meskipun di dalam hatinya dia sering bertanya-tanya sebenarnya siapa seseorang yang Riska maksud itu.
          Hari ini adalah hari ulang tahun Riska yang ke13. Riska sangat senang karena di hari ulang tahunnya dia mendapatkan hadiah istimewa dari mama. Dan pada hari itu om Rizal juga memberikan hadiah berupa jam tangan kepada Riska. Awalnya Riska heran mengapa om Rizal memberikan jam tangan ini kepadanya. Om Rizal pun menjawab jam tangan itu dia berikan sebagai hadiah ulang tahun Riska dan sebagai tanda persahabatan mereka. 
          Siang itu, Riska baru saja pulang sekolah. Tanpa banyak bicara dia pun segera masuk ke rumah dan mengambil segelas air putih karena siang itu cuacanya cukup panas. Ketika Riska meminum air itu, tiba-tiba tante Dita menyindirnya secara terang-terangan dan mengatakan bahwa Riska telah merebut perhatian dan kasih sayang om Rizal yang seharusnya diberikan kepadanya. Setelah mendengar ucapan tante Dita, tiba-tiba.... PRAK!!!!! Tanpa basa-basi Riska pun langsung membanting gelas yang berisi air putih yang sedang dipegangnya.
          “Asal tante Dita tau ya, di pikiran Riska tu nggak pernah terlintas keinginan untuk merebut perhatian dan kasih sayang om Rizal yang seharusnya diberikan kepada tante Dita. Jujur sebenarnya dari awal Riska juga udah merasa nggak nyaman ketika om Rizal memperlakukan Riska secara berlebihan seperti ini. Lagipula kalo bukan om Rizal yang maksa Riska untuk tinggal di sini, Riska juga nggak akan mau tinggal di sini. Selama ini setiap tante Dita menyindir-nyindir Riska, Riska selalu berusaha untuk diam karena Riska sadar bahwa Riska bukan siapa-siapa di rumah ini dan Riska juga menghormati tante sebagai istrinya om Rizal. Tapi mengapa tante malah bersikap seperti ini ke Riska? Apa karena Riska bukan siapa-siapa di rumah ini, lalu tante bisa membully Riska sesuka hati tante? Kalo tante Dita nggak suka dengan kehadiran Riska di rumah ini, oke Riska akan pergi sekarang.”, ucap Riska sambil pergi meninggalkan tante Dita.
          “Bagus deh kalo kamu nyadar diri. Sini kembalikan jam tangan yang pernah om Rizal kasih ke kamu.”, pinta tante Dita dengan kasar. Tanpa pikir panjang Riska pun berbalik badan ke arah tante Dita kemudian ia melepas jam tangan itu dan membantingnya ke lantai, tepat di hadapan tante Dita. Lalu Riska pun pergi meninggalkan rumah.
          “Dasar anak nggak punya sopan santun.”, sindir tante Dita, namun sindiran itu tidak dihiraukan oleh Riska.
          Riska pun sudah cukup jauh meninggalkan rumah. Sepanjang jalan pandangan matanya terlihat kosong dan dia pun hanya menangis. Sepertinya ucapan tante Dita tadi bisa dibilang sangat berhasil membuat Riska sakit hati. Dia sama sekali tidak memperhatikan keramaian yang ada di jalan raya waktu itu. Ketika dia menyeberang jalan tiba-tiba..... BRAK!!!! Sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi pun menabrak Riska. Pengendara mobil itu langsung memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi setelah mengetahui bahwa ia menabrak seorang anak. Orang-orang yang berada di dekat jalan raya itu langsung mengerumuni Riska yang terkapar tidak berdaya dengan tubuh yang bersimbah darah di tengah jalan itu. Kebetulan waktu itu ada polisi yang sedang mengadakan patroli dan segera menuju ke tempat kecelakaan itu. Salah satu polisi yang sedang mengadakan patroli itu langsung menerobos kerumunan orang itu dan dia pun kaget setelah melihat korban kecelakaan itu adalah Riska. Tanpa pikir panjang ia pun langsung membopong tubuh Riska ke dalam mobil dan segera membawanya ke rumah sakit agar segera mendapatkan perawatan.
          Om Rizal baru saja pulang. Ketika ia masuk ke dalam rumah, ia kaget melihat pecahan gelas dan jam tangan yang pernah ia berikan kepada Riska itu berserakan di lantai. Kemudian om Rizal segera mencari tante Dita.
          “Apa yang telah terjadi? Kok ada pecahan gelas dan jam milik Riska berserakan di lantai?”, tanya om Rizal.
          “Tadi Riska marah-marah nggak jelas ke aku. Aku juga nggak ngerti apa maksudnya.”, jawab tante Dita.
          “Riska nggak mungkin marah duluan. Kalo pun dia marah pasti ada seseorang yang membuat dia sampai marah seperti itu.”, bantah om Rizal.
          “Kalo nggak percaya ya udah.”, jawab tante Dita tanpa rasa bersalah.
          “Terus Riska sekarang di mana?”, tanya om Rizal.
          “Nggak tau dia ke mana. Orang dia main pergi aja tadi.”, jawab tante Dita dengan enteng.
          “Kamu gimana sih. Kan udah aku bilang jangan pernah membiarkan Riska pergi ke luar rumah kalo keadaannya sedang labil.”, bentak om Rizal.
          “Kok kamu jadi nyalahin aku sih?”, tanya tante Dita heran.
          “Ya iyalah kamu yang salah. Kalo terjadi apa-apa sama Riska, Kak Vina pasti nyalahin aku karena Kak Vina menganggap aku nggak mampu menjaga Riska.”, jawab om Rizal.
          “Aku heran sama kamu kenapa sih kamu selalu aja ngebelain Riska?”, tanya tante Dita
          Bukannya menjawab pertanyaan istrinya, om Rizal malah pergi ke kamar Riska untuk mencari petunjuk apakah Riska meninggalkan sebuah pesan sebelum ia pergi meninggalkan rumah. Tapi sekian lama mencari, om Rizal tidak menemukan petunjuk apapun di kamar Riska. Dan ketika membuka laci meja belajar Riska, om Rizal menemukan buku diary milik Riska yang pernah dibawa Riska ketika ia sedang duduk melamun di pinggir kolam waktu itu. Kemudian om Rizal pun membuka buku diary itu dengan harapan semoga ada pesan yang Riska tinggalkan sebelum ia pergi. Tetapi belum sempat om Rizal membaca tulisan di buku itu, tiba-tiba ada seseorang yang menelponnya dan memintanya untuk ke rumah sakit umum sekarang juga tanpa menyebutkan secara pasti apa yang sebenarnya terjadi. Tanpa banyak bertanya, om Rizal pun segera menuju ke rumah sakit san menemui orang itu. Setibanya di rumah sakit....
          “Ada apa, ka? Kenapa kamu menyuruh saya untuk datang ke sini?”, tanya om Rizal.
          “Sebelumnya saya minta maaf karena sudah meminta bapak untuk datang ke sini. Tadi ketika saya dan teman-teman yang lain sedang mengadakan patroli, saya menemukan Riska dalam keadaan terkapar tidak berdaya karena ditabrak oleh sebuah mobil. Dan saya langsung membawa Riska ke sini agar dia segera mendapatkan perawatan.”, jawab Raka. Ternyata polisi yang menolong Riska tadi adalah Raka, seorang taruna akpol yang dulu pernah berkenalan dengan Riska ketika dia sedang menunggu om Rizal di polres.
          “APA??? Riska kecelakaan? Terus di mana dia sekarang?”, tanya om Rizal panik.
          “Pak Rizal tenang ya. Sekarang Riska udah ditangani oleh dokter. Lebih baik kita tunggu saja di sini.”, jawab Raka berusaha menenangkan om Rizal.
          Beberapa menit kemudian, dokter yang menangani Riska akhirnya keluar dari ruang UGD. Dokter itu mengatakan kepada om Rizal dan Raka bahwa saat ini Riska masih dalam keadaan koma dan dokter juga belum bisa memastikan kapan Riska sadar. Mendengar penjelasan dari dokter, Raka pun kaget dan om Rizal hanya bisa tertunduk lesu karena dia merasa semua itu terjadi akibat kelalaiannya dalam menjaga Riska. Dokter juga mengatakan Riska akan segera dipindahkan ke ruang ICU dan setelah sadar baru dipindahkan ke ruang perawatan. Setelah dokter pergi, Raka pun mengajak om Rizal untuk duduk di taman rumah sakit sekaligus berusaha menenangkan dan menyakinkan om Rizal bahwa Riska pasti akan segera sadar. Om Rizal mengucapkan banyak terima kasih kepada Raka karena sudah mau menolong Riska dan dia pun juga meminta Raka untuk segera kembali ke polres karena om Rizal takut Raka dibilang tidak profesional dalam menjalankan tugasnya hanya karena menemani dan menunggu Riska di rumah sakit. Raka pun segera kembali ke polres dan om Rizal juga menuju ke parkiran untuk mengambil buku diary milik Riska yang belum sempat dibacanya itu kemudian kembali ke taman rumah sakit untuk membaca buku itu. Berlembar-lembar om Rizal membaca tulisan itu, dia tidak menemukan adanya sebuah kejanggalan di dalam buku itu. Ketika om Rizal membuka dan membaca tulisan di halaman berikutnya, dia pun kaget karena isi tulisan itu adalah:
          “Awalnya aku merasa senang ketika nenek, om Rizal, dan tante Dita bisa menerima kehadiranku dengan baik di rumah ini. Tapi semakin lama aku berada di sini, mengapa tante Dita semakin membenci aku? Sebenarnya aku salah apa? Aku tidak ada niat sama sekali untuk merebut perhatian dan kasih sayang om Rizal untuk tante Dita. Sebenarnya aku juga merasa tidak nyaman ketika aku diperlakukan secara berlebihan oleh om Rizal. Ketika tante Dita mulai menunjukkan kebenciannya kepadaku dengan cara menyindirku, menyuruh-nyuruhku secara tidak wajar, mengatakan bahwa aku telah merebut perhatian dan kasih sayang om Rizal yang harusnya diberikan kepadanya, aku berusaha untuk diam karena aku pun juga sadar bahwa aku bukan siapa-siapa di rumah ini. Tapi mengapa semakin aku diam, tante Dita juga semakin membullyku sesuka hatinya? Jika tante Dita tidak suka dengan kehadiranku, aku akan pergi. Dan aku mau ngucapin banyak terima kasih kepada om Rizal karena sudah menerima kehadiranku dengan baik dan telah menjadi sosok seorang ayah untukku. Aku berharap setelah kepergianku dari rumah ini, tante Dita akan mendapatkan kasih sayang dari om Rizal secara utuh. RISKA.”.
          Setelah membaca curahan hati Riska di dalam buku itu, om Rizal pun langsung pulang ke rumah untuk menemui tante Dita. Sesampainya di rumah.....
          “Apa maksud kamu menyindir-nyindir Riska seperti itu?”, tanya om Rizal dengan kasar.
          “Kamu ngomong apa sih?”, tanya tante Dita.
          “Udah deh kamu nggak usah banyak alasan kayak gitu. Aku baru tau kalo selama ini kamu sering membully Riska.”, jawab om Rizal.
          “Membully Riska? Memang kamu punya bukti apa?”, tanya tante Dita. Tanpa banyak bicara om Rizal pun menunjukkan buku diary milik Riska kemudian melemparkannya ke hadapan tante Dita.
          “Buku diary? Maksud apa sih?”, tanya tante Dita heran.
          “Sekarang kamu baca buku itu.”, perintah om Rizal. Kemudian tante Dita pun mulai membacanya. Setelah tante Dita selesai membaca.....
          “Aku heran sama kamu. Kenapa sih kamu benci banget sama Riska? Emang dia punya salah apa ke kamu?”, tanya om Rizal.
          “Ya iyalah aku benci banget sama dia. Karena semenjak dia tinggal di sini, kamu sama sekali tidak pernah menghiraukan aku. Yang kamu perhatiin, yang kamu ajak curhat dan bercanda selalu aja Riska. Sedikit-sedikit Riska sedikit-sedikit Riska. Menurutku kamu terlalu berlebihan dalam memberikan kasih sayang kepadanya.”, jawab tante Dita.
          “Aku tidak pernah berlebihan dalam memberikan kasih sayang kepadanya. Aku memperlakukannya seperti itu karena aku ingin memperhatikannya dan menjadi sosok ayah untuknya. Karena aku tau semenjak papanya meninggal, dia sangat merindukan kasih sayang seorang ayah. Dan karena aku sangat dekat dengan Riska, jadi menurutku tidak ada salahnya jika aku bersikap seperti itu kepadanya. Menurutku kamu saja yang terlalu berlebihan menilai ini semua. Dan aku minta ke kamu agar kamu mau meminta maaf ke Riska karena yang telah membuat dia kecelakaan salah satunya adalah kamu.”, ucap om Rizal.
          “NGGAK! Aku nggak mau meminta maaf ke Riska. Aku nggak merasa punya salah sama dia. Justru dia yang harusnya minta maaf ke aku.”, bantah tante Dita.
          “Kalo kamu nggak mau minta maaf ke Riska, lebih baik sekarang kamu tinggalkan rumah ini. Dan aku akan mengurus perceraian kita secepatnya. Menurutku untuk apa pernikahan ini dipertahankan jika kita selalu saja bertengkar dan kamu tetap saja bersikap seperti itu.”, tantang om Rizal.
          “Baik. Jika itu mau kamu, aku akan pergi. Aku sudah muak dengan sikap kamu yang terlalu berlebihan memperlakukan keponakanmu itu.”, jawab tante Dita.
          “Aku juga sudah muak melihat sikapmu yang sangat kekanak-kanakan itu. Sekarang kamu pergi dari rumah ini!!!!”, perintah om Rizal. Kemudian tante Dita pun segera mengemasi barang-barangnya dan pergi meninggalkan rumah.
          Waktu itu nenek baru saja pulang dari rumah saudaranya. Sesampainya di rumah, nenek pun kaget karena beliau tidak menemui siapapun di rumah kecuali om Rizal. Karena nenek penasaran mengapa rumah itu sepi sekali, beliau menanyakan kepada om Rizal ke mana Riska dan tante Dita pergi. Kemudian om Rizal pun menceritakan apa saja yang telah terjadi di rumah selama nenek tidak ada. Nenek pun kaget ketika beliau mendengar bahwa Riska mengalami kecelakaan dan om Rizal memutuskan untuk menceraikan tante Dita. Ketika nenek menanyakan mengapa om Rizal memutuskan untuk menceraikan tante Dita, om Rizal pun hanya menjawab itu adalah pilihan yang terbaik untuknya karena menurut om Rizal untuk apa mempertahankan pernikahan jika di awal pernikahan itu sudah sering terjadi konflik di antara keduanya. Nenek pun hanya menuruti keputusan om Rizal saja karena menurut beliau om Rizal sudah cukup dewasa dalam memutuskan sebuah pilihan. Nenek juga mengajak om Rizal untuk menjenguk Riska di rumah sakit walaupun sampai sekarang Riska juga belum sadar. Tetapi setidaknya nenek sudah tau perkembangan kondisi Riska.
          Setelah beberapa hari Riska mengalami koma, akhirnya dia pun sadar dan bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Mendengar kabar bahwa Riska sudah sadar membuat om Rizal dan nenek merasa sangat senang karena kesadaran Riska lah yang mereka tunggu selama ini.
          “Alhamdulillah kamu akhirnya sadar, sayang.”, ucap om Rizal.
          “Tante Dita di mana?”, tanya Riska. Om Rizal pun tercengang mendengar pertanyaan Riska. Dia pun juga bertanya-tanya bagaimana bisa ketika Riska baru sadar yang pertama kali terlintas di pikirannya adalah tante Dita.
          “Sayang, kamu kan baru aja sadar. Jadi nggak usah banyak bicara dulu ya.”, pinta om Rizal.
          “Iya om. Oh ya Riska boleh minta sesuatu ke om Rizal nggak?”, tanya Riska.
          “Tentu saja boleh. Memang Riska mau minta apa?”, tanya om Rizal.
          “Riska minta ke om Rizal tolong jangan bilang ke mama kalo Riska mengalami kecelakaan. Riska nggak pingin mama mengkhawatirkan Riska.”, pinta Riska.
          “Iya sayang. Om janji nggak akan ngasih tau tentang hal ini ke mama.”, jawab om Rizal meyakinkan Riska.
          “Makasih banyak ya, om.”, ucap Riska.
          “Iya sayang. Sekarang lebih baik kamu istirahat ya.”, pinta om Rizal.
          “Iya om.”, jawab Riska pendek.
          Sudah hampir 2 minggu Riska menjalani perawatan di rumah sakit, akhirnya kondisinya pun semakin membaik dan dokter mengijinkannya untuk pulang. Sesampainya di rumah, Riska tidak langsung istirahat tetapi dia terlihat kebingungan mencari sesuatu. Melihat Riska kebingungan mencari sesuatu, tanpa pikir panjang om Rizal pun memberikan sebuah kotak yang bisa dibilang cukup besar dan dibungkus kertas kado itu kepada Riska. Riska heran mengapa om Rizal memberikan kotak itu kepadanya dan dia juga sempat bertanya-tanya apa isi dari kotak itu. Om Rizal menyuruhnya untuk membuka kotak itu sendiri. Riska pun segera masuk ke kamar dan membuka kotak itu. Setelah dibuka, ternyata kotak itu berisi sebuah jam tangan, kotak musik, dan secarik kertas. Riska pun langsung membaca secarik kertas itu yang berbunyi:
          “Dek Riska apa kabar? Kakak harap kamu baik-baik saja. Kakak hanya ingin mengatakan ke kamu bahwa masa latihan kerja kakak sudah habis dan kakak harus kembali ke akpol untuk menempuh pendidikan selanjutnya. Sebenarnya kakak sangat ingin berpamitan langsung ke kamu sebelum kakak pergi. Tetapi karena saat itu kamu masih dalam keadaan koma, maka kakak hanya bisa berpamitan lewat surat ini. Sebenarnya kakak ingin bertemu kamu lagi, tetapi keadaan lah yang membuat kita tidak bisa bertemu. Tapi kakak sudah cukup senang bisa kenal sama kamu meskipun kita kenalnya juga baru sebentar. Jam tangan dan kotak musik ini tolong diterima ya. Karena hanya itu yang bisa kakak berikan ke kamu dan anggap saja itu sebagai tanda persahabatan kita. Jika ada waktu luang, kakak akan usahakan untuk menemui kamu lagi. Terima kasih sudah mau jadi teman kakak. RAKA.”.
          Ternyata kotak itu adalah hadiah dari Raka. Riska hanya tersenyum setelah membaca surat itu. Kemudian dia memutar kotak musik itu. Ketika kotak musik itu di putar, Riska kaget mendengarnya karena yang ada di dalam kotak musik itu ternyata rekaman suara Raka yang berbunyi:
          “Semoga cepat sembuh ya, dek. Semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi. Kakak akan selalu merindukanmu.”.
          Riska pun tetap saja terlihat kebingungan mencari sesuatu. Om Rizal pun heran melihatnya.
          “Riska cari apa sih? Kok dari tadi bingung gitu?”, tanya om Rizal.
          “Riska lagi cari buku, om. Dulu perasaan Riska taruh di laci tapi sekarang udah nggak ada.”, jawab Riska.
          “Buku ini maksud kamu?”, tanya om Rizal sambil menunjukkan buku diary Riska yang sedang dipegangnya.
          “Jadi om Rizal yang ngambil buku itu?”, tanya Riska kaget.
          “Iya.”, jawab om Rizal pendek.
          “Tolong kembalikan buku itu, om. Buku itu punya Riska.”, pinta Riska.
          “Lebih baik kamu duduk sini dulu. Om mau cerita sedikit.”, kata om Rizal.
          Om Rizal pun mulai bercerita tentang apa saja yang terjadi di rumah ini selama Riska dirawat di rumah sakit. Mendengar cerita itu, Riska pun sangat kaget.
          “Om Rizal menceraikan tante Dita pasti gara-gara Riska ya?”, tanya Riska.
          “Enggak sayang. Ini semua nggak ada hubungannya sama kamu. Om memutuskan untuk menceraikan tante Dita karena menurut om ini adalah keputusan yang terbaik karena selama menjalani rumah tangga dengan tante Dita, om sering sekali bertengkar dengannya. Jadi untuk apa pernikahan ini dipertahankan jika di awal saja kami sudah sering bertengkar seperti ini. Justru om berterima kasih ke kamu karena kamu sudah memberi tahu ke om dan ke semua orang bagaimana sifat jelek tante Dita yang tersembunyi selama ini.”, jelas om Rizal.
          “Tapi Riska ngerasa nggak enak, om.”, kata Riska.
          “Udah lah. Yang udah terjadi biarkan berlalu. Intinya om nggak pingin kamu pergi dari rumah ini karena om sayang banget sama kamu, Riska. Om merasa senang karena selama kamu tinggal di sini, om punya temen curhat dan temen main. Makasih ya sayang udah mau jadi temen baik om.”, ucap om Rizal.
          “Iya. Riska juga mau bilang makasih ke om Rizal karena om Rizal udah mau jadi sosok seorang ayah di dalam hidup Riska.”, jawab Riska.
          “Iya sayang. Om Rizal juga pingin mencurahkan semua kasih sayang yang om punya hanya ke kamu.”, jelas om Rizal.
          “Semoga suatu saat nanti om Rizal bisa mendapatkan teman hidup yang bisa mengerti om Rizal.”, kata Riska.
          “Amin. Makasih ya do’anya.”, jawab om Rizal sambil memeluk Riska.
          Ketika mama pulang, om Rizal memintanya untuk tinggal di rumah nenek. Awalnya mama menolak permintaan itu. Tetapi karena om Rizal memaksa dengan alasan dia tidak mau kehilangan dan jauh dari Riska, maka mama hanya menuruti kemauannya saja. Karena om Rizal hanya ingin mencurahkan semua perhatian dan kasih sayang yang dia miliki hanya kepada Riska.

0 comments:

Post a Comment

By :
Free Blog Templates