Saturday, 21 November 2015

AKU SELALU DI SINI UNTUKMU

             Cerita ini bermula ketika libur panjang sekolah dan lebaranku yang hampir 1 bulan lebih itu telah usai. Awalnya aku sudah berusaha sebisa mungkin agar aku tidak mengalami kesulitan untuk move on dari libur panjangku. Tapi setelah berulang kali aku coba, akhirnya usahaku sia-sia. Hal yang menyebabkan aku gagal untuk move on  salah satunya adalah aku selalu teringat masa-masa indah bersama saudara-saudaraku yang selalu berkumpul di rumah nenekku ketika lebaran. Tangisku pecah ketika aku melihat mereka satu per satu pergi meninggalkanku karena libur lebaran telah usai dan karena mereka juga harus kembali menjalankan aktivitas mereka masing-masing. Memang sih jarak antara rumahku dan rumah nenekku tidak terlalu jauh karena kebetulan masih dalam satu kabupaten yang sama. Tapi meskipun begitu, aku tidak yakin bisa sering mengunjungi rumah nenekku hanya untuk melepas rindu. Lagipula jika aku mengunjungi rumah nenekku, aku pasti akan semakin sedih karena teringat kenangan indahku bersama mereka.
            “Udah lah dek. Kamu nggak usah nangis lagi.”, ucapnya sambil mengusap air mataku yang membasahi pipiku.
            “Aku kangen mereka, kak. Aku pingin bersama mereka lagi.”, jawabku lesu.
            “Iya kakak tau. Tapi mereka kan harus pulang karena mereka juga punya kesibukan masing-masing, sayang.”, imbuhnya.
            “Apakah aku bisa bertemu dan berkumpul dengan mereka lagi ya kak seperti lebaran kemarin?”, tanyaku.
            Insya alloh pasti bisa. Oh iya akhir-akhir ini setiap kakak ketemu kamu, kamu selalu aja kelihatan murung. Sebenarnya ada apa sih?”, tanyanya.
            “Sebenarnya aku kesulitan untuk move on, kak.”, jawabku.
            “Hayo move on dari siapa lagi ini?”, godanya.
            “Ih kakak apaan sih. Aku serius, kak.”, jawabku kesal.
            “Kakak juga tanya serius, dek. Emang kamu kesulitan move on dari siapa sih?”, tanyanya penasaran.
            “Bukan dari siapa-siapa kok, kak. Aku cuma lagi kesulitan move on dari libur panjangku.”, jelasku.
            “Oh jadi gitu ceritanya. Apakah kakak boleh bantu kamu?”, tanyanya.
            “Memangnya kakak mau bantu aku?”, tanyaku lagi.
            “Mau. Kakak mau nemenin kamu sampai kamu berhasil untuk move on. Lagipula apa sih yang nggak untuk kamu.”, jawabnya.
            “Beneran kak?”, tanyaku setengah tidak percaya.
            “Ya beneran lah. Mana pernah kakak bohong sama kamu.”, jawabnya.
            “Makasih banyak ya, kak.”, ucapku girang.
            “Iya sama-sama, sayang.”, imbuhnya sambil memelukku.
            Kak Farhan. Ya dia lah laki-laki yang selama ini menemani kesendirianku selain kedua orang tuaku dan selalu setia mendengarkan semua curahan hatiku. Dia adalah anak dari salah satu kakaknya mamaku yang kebetulan tinggal tidak jauh dari rumahku. Dia menyelesaikan pendidikannya di Akpol 2 tahun yang lalu dan kebetulan dinas di sini. Dia sering main ke rumahku ketika tidak sedang dinas hanya sekedar untuk curhat atau main-main saja. Dia juga sering mengajakku untuk main ke taman kota, pusat perbelanjaan, dan lain sebagainya di sela-sela kesibukannya. Dia lah satu-satunya laki-laki yang mampu menghiburku ketika aku sedang sedih dan dia juga mampu membuatku tertawa lepas dengan candaannya. Semakin hari aku semakin merasa nyaman ketika bersamanya karena kehadirannya telah membuat hari-hariku yang semula terasa hampa kini jadi semakin berwarna. Selain itu, yang membuat aku merasa nyaman ketika bersamanya adalah karena dia telah menjadi sosok seorang kakak yang sangat menyayangiku.
            Malam itu aku baru saja selesai mengerjakan PRku. Ketika aku membereskan bukuku, tiba-tiba saja kak Farhan menelponku.
            “Dek, main yuk!”, ajaknya.
            “Main ke mana? Emang kakak nggak lagi sibuk?”, tanyaku.
            “Ke mana aja lah yang penting main. Kebetulan kakak lagi nggak sibuk nih.”, jawabnya.
            “Oke. Aku ijin dulu ke mama ya.”, lanjutku.
            “Iya. Kalo gitu kakak ke rumahmu sekarang ya.”, imbuhnya sambil mematikan telepon.
            15 menit kemudian, kak Farhan pun tiba di rumahku. Melihat kak Farhan sudah menungguku, aku segera minta ijin ke mama. Mama mengijinkanku dan berpesan agar aku harus sudah ada di rumah sebelum jam 9 malam. Aku mengiyakannya. Setelah itu, aku dan kak Farhan pun pergi. Selama di perjalanan, aku hanya diam sambil menikmati dinginnya angin malam dan keramaian di sepanjang jalan karena kebetulan malam itu kak Farhan memboncengku menggunakan motornya. Tanpa aku sadari, ternyata sudah hampir 30 menit aku menikmati perjalanan itu dan kak Farhan memberhentikan motornya di sebuah pusat perbelanjaan.
            “Lho kak kenapa kita berhenti di sini?”, tanyaku heran.
            “Emangnya kamu maunya kita main ke mana?”, kak Farhan berbalik tanya padaku.
            “Di sini juga nggak apa-apa sih. Tapi kita mau ngapain ke sini?”, tanyaku.
            “Kakak ngajakin kamu ke sini tu agar kamu bisa move on dari libur panjangmu. Biar kamu nggak nangis bombay terus kayak kemarin.”, godanya.
            “Ih kakak mulai lagi deh.”, gerutuku.
            “Lho emang bener kan kamu pingin move on dari libur panjangmu? Dan nggak ada salahnya kan kalo kakak bantuin kamu untuk move on?”, tanyanya.
            “Iya deh.”, jawabku pasrah.
            “Ya udah kalo gitu kita masuk yuk!”, ajaknya sambil menarik tanganku. Aku hanya menurutinya.
                        Kami pun mulai menjelajahi lantai pertama pusat perbelanjaan yang isinya buku-buku, makanan, dan yang lainnya. Belum lelah kakiku menjelajahi lantai pertama, kak Farhan mengajakku untuk naik ke lantai 2. Di lantai 2, kami pun cuma muter-muter sambil melihat baju-baju yang dijual dengan diskon hampir 50% karena minggu ini kebetulan sedang ada diskon besar-besaran. Bosan di lantai 2, kak Farhan pun mengajakku untuk ke lantai 3 yang berisi boneka-boneka dan bermacam-macam aksesoris. Mataku langsung tertuju pada boneka winnie the pooh yang berukuran agak besar, kemudian aku menghampirinya.
            “Kalo kamu mau, ambil aja.”, bisik kak Farhan dari belakang.
            “Nggak usah lah, kak. Lagian aku tadi nggak bawa banyak uang.”, jawabku.
            “Kalo kamu beneran mau, nggak apa-apa. Ambil aja. Entar kakak yang bayar deh.”, sambungnya.
            “Nggak usah, kak. Lagian aku cuma pingin liat-liat aja kok.”, ucapku.
            “Serius? Entar nggak jadi beli malah nangis lagi.”, godanya.
            “Kak Farhan kebiasaan banget sih.”, sewotku.
            “Maaf deh kalo gitu. Oh iya sekarang enaknya kita ngapain nih?”, tanyanya.
            “Kita pulang aja deh. Lagian aku juga udah capek, kak.”, jawabku.
            “Nggak pingin makan dulu?”, tawarnya.
            “Boleh juga tuh.”, jawabku.
            Kemudian aku dan kak Farhan turun ke lantai satu kemudian memesan makanan. Kak Farhan memesan satu porsi spaghetti dan satu gelas jus stroberi. Aku hanya memesan atu gelas jus stroberi saja karena kebetulan aku sudah kenyang dan aku lebih senang melihat orang yang sedang makan. Setelah selesai makan dan membayar semua pesanan, kak Farhan mengajakku pulang.
            Selama di perjalanan, aku mengucapkan banyak terima kasih kepadanya karena sudah mengajakku jalan-jalan dan makan malam. Sepintas tidak ada yang berbeda dengan malam ini karena malam ini kak Farhan hanya mengajakku untuk sekedar jalan-jalan dan makan malam. Tetapi dari beberapa kali jalan-jalan dan makan malam yang pernah aku lakukan bersama kak Farhan, entah mengapa aku merasa jalan-jalan dan makan malam pada malam ini sangat berbeda dengan jalan-jalan dan makan malam yang sudah-sudah. Pada malam ini aku merasa senang dan kesenanganku ini tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata. Ya jalan-jalan dan makan malam yang sangat mengesankan bagiku.
            Pada saat itu juga, aku putuskan untuk bertanya kepadanya mengapa selama ini dia sangat menyayangiku. Mendengar pertanyaanku barusan, tiba-tiba saja kak Farhan menepikan motornya. Aku kaget dengan apa yang dilakukan kak Farhan. Perlahan dia melepas helmnya dan menatapku dengan tatapan yang sangat tajam. Aku semakin takut dibuatnya. Kemudian dia menjelaskan padaku bahwa dia memperlakukanku dengan sangat baik itu karena pada dasarnya dia ingin memiliki seorang adik perempuan. Tapi karena kenyataan hidup ini ternyata tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan, maka dia putuskan untuk menganggapku sebagai adik perempuannya karena menurut dia hanya aku lah satu-satunya gadis yang memiliki hubungan dekat dengannya. Itu salah satu alasan mengapa dia sangat menyayangiku. Aku hanya manggut-manggut mendengarnya. Setelah itu kami pun melanjutkan perjalanan pulang mengingat pesan mamaku tadi yang hanya membolehkanku keluar sampai jam 9 malam saja.
            Sesampainya di rumah.........
            “Makasih banyak ya kak untuk hari ini.”, ucapku.
            “Iya. Lain kali kita jalan-jalan lagi yuk. Tapi jalan kaki aja.”, candanya.
            “Oke siapa takut.”, jawabku menyanggupi tantangan itu.
            “Aku yakin pasti kamu yang kalah duluan.”, ledeknya.
            “Aku nggak mungkin kalah.”, bantahku.
            “Kita liat aja nanti. Oh ya kalo gitu kakak pulang dulu ya, dek. Sampaikan salam kakak ke mama ya.”, pamitnya.
            “Iya kak. Hati-hati di jalan ya.”, pesanku.
            “Oke.”, jawabnya sambil meninggalkanku. Sepeninggalannya, aku langsung masuk ke rumah.
            Tanpa banyak bicara, aku langsung masuk ke kamar. Tak lama kemudian, mama menyusulku ke kamar dan bertanya padaku tentang jalan-jalanku tadi. Dengan malas, aku menjawab pertanyaan mama sekenanya dan meminta agar beliau meninggalkan kamarku. Bukan berniat untuk tidak sopan, tetapi malam itu aku merasa sangat lelah dan ngantuk berat. Mama pun menuruti permintaanku.
            Pagi hari ketika sarapan, tiba-tiba saja mama mengulang pertanyaan yang semalam sempat ditanyakan padaku. Aku sempat kaget mendengarnya.
            “Ma, maafin sikap Lina semalam ya.”, ucapku.
            “Sikap yang mana?”, tanya mama.
            “Semalem kan pas di kamar, aku terkesan nyuekin mama.”, jawabku.
            “Emangnya kamu pernah nggak nyuekin mama pas mama tanya sesuatu ke kamu?”, tanya mama.
            “Ih mama apaan sih. Nana beneran mau minta maaf, ma.”, gerutuku.
            “Iya deh. Lagian mama udah maafin kamu kok. Mama juga tau sifat kamu tu kayak gimana.”, sambung mama.
            “Makasih banyak ya, ma.”, jeritku.
            “Iya. Ya udah buruan dihabisin sarapannya. Entar keburu siang lho.”, ucap mama.
            Aku pun segera menghabiskan sarapanku. Setelah selesai sarapan, aku pamit ke mama dan segera berangkat ke sekolah. Karena papa udah berangkat ke kantor duluan karena ada pertemuan, maka mau tidak mau aku harus naik angkot. Ya mau gimana lagi jarak rumah ke sekolahku juga cukup jauh. Lagipula mama tidak mengijinkanku membawa motor sendiri karena usiaku yang masih di bawah 17 tahun dan belum memenuhi syarat untuk bisa memiliki SIM. Aku hanya bisa menurutinya saja. Baru beberapa menit aku menunggu angkot di halte karena kebetulan rumahku tidak jauh dari jalan raya, tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti tepat di depanku.
            “Dek, bareng aku aja yuk.”, ajak laki-laki itu sambil membuka kaca mobilnya. Ternyata yang mengendarai mobil itu adalah kak Farhan.
            “Nggak usah, kak. Aku naik angkot aja.”, tolakku.
            “Buruan masuk. Udah siang nih. Emangnya kamu mau telat terus dihukum gitu?”, tanyanya.
            “Enggak sih.”, jawabku.
            “Makanya buruan masuk.”, perintahnya. Aku pun segera masuk ke dalam mobil.
            Di dalam mobil, aku hanya bisa terdiam ketika melihat kak Farhan yang terlihat sangat tampan ketika memakai seragam polisinya. Tak ku sangka kak Farhan tumbuh menjadi seorang laki-laki yang sangat tampan yang kini telah menjadi seorang polisi, salah satu pekerjaan yang paling aku kagumi selama ini. Aku hanya bisa tersenyum kagum tanpa bisa berkata apa-apa setiap kali melihatnya. Ketika aku masih memandanginya, tiba-tiba saja kak Farhan mengagetkanku. Aku sangat kaget dibuatnya dan secara refleks aku mengatakan bahwa dia itu ganteng dan aku juga mengaguminya. Kak Farhan sempat tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan tadi dan memintaku agar mengulangi ucapanku tadi. Tentu saja aku tidak mau mengulangnya karena ucapan tadi secara spontan keluar dari mulutku karena hanya kata-kata itu yang terlintas di pikiranku ketika aku memandanginya. Dan aku juga membantah ucapan refleksku tadi bahwa aku mengaguminya karena aku tidak ingin dia tau bahwa aku memang benar-benar mengaguminya dan aku juga tidak ingin dia semakin sering dan suka menggodaku hanya karena kata-kata yang aku ucapkan secara refleks tadi. Mendengar semua pengakuanku, kak Farhan hanya tersenyum tanpa bebicara sepatah katapun. Karena terlalu asyik berdebat dengan kak Farhan, aku sampai tidak menyadari bahwa aku sudah sampai tepat di depan gerbang sekolah. Setelah menyadarinya, aku pun segera turun.
            “Makasih ya kak atas tumpangannya. Jadi ngerepotin kakak nih.”, ucapku.
            “Kamu sekarang kok makin lebay sih, lin?”, tanyanya sambil mengeryitkan jidat.
            “Lebay gimana?”, tanyaku heran.
            “Ya lebay. Pake ngomong kayak gitu segala tadi. Dulu kamu juga lebay sih tapi nggak separah ini deh.”, imbuhnya.
            “Ah nggak juga. Oh ya kak sebentar lagi bel masuk bunyi nih. Aku masuk dulu ya.”, pamitku.
            “Iya. Belajar yang bener ya, sayang.”, ucapnya. Aku pun hanya mengangguk dan segera menyusul Rika, Dinda, Ana, dan teman-temanku yang lain yang kebetulan baru saja datang. Ketika aku sedang asyik berjalan bersama mereka, tiba-tiba...
            “Lina, aku sayang kamu.”, teriaknya. Aku sangat kaget mendengarnya dan pada saat itu juga aku, Rika, Dinda, Ana, dan yang lainnya langsung berbalik badan. Dan benar saja seseorang yang meneriakkan namaku tadi adalah kak Farhan yang ternyata belum meninggalkan sekolahku karena aku sangat mengenali suaranya yang sangat khas itu. Dari kejauhan, dia melambaikan tangan ke arahku sambil tersenyum manis kemudian dia langsung pergi. Sepeninggalannya, teman-temanku termasuk Rika, Dinda, dan Ana langsung menginterogasiku dengan berbagai pertanyaan karena selama ini yang mereka tau aku tidak memiliki teman laki-laki dan tiba-tiba saja tadi ada seseorang yang bilang sayang padaku. Aku hanya menjelaskan kepada mereka bahwa dia tadi adalah kakak sepupuku yang sudah aku anggap sebagai kakak kandungku sendiri. Tetapi mereka tetap saja tidak mau mempercayai ucapanku. Selama di dalam kelas hingga pulang sekolah, mereka tetap saja menginterogasiku dengan pertanyaan yang sama. Sampai-sampai aku ingin sekali menangis karena tidak tahan mendengar pertanyaan-pertanyaan mereka. Hari ini memang benar-benar hari pembullyan bagiku. Tapi aku yakin seiring berjalannya waktu, teman-temanku pasti akan mengerti bahwa kak Farhan itu hanyalah kakak sepupuku, bukan teman spesialku seperti apa yang dikatakan mereka tadi.
            Sabtu malam, kak Farhan main ke rumahku. Aku kaget dengan kedatangannya karena sebelumnya dia tidak memberi tau ke aku kalo dia mau main ke rumah.
            “Mau main ke sini kok nggak ngasih tau dulu sih?”, tanyaku ketika dia baru saja datang.
            “Biarin aja. Oh ya mama kamu di rumah nggak, dek?”, tanyanya.
            “Ada tuh. Lagi nonton tv sama papa.”, jawabku. Dia hanya manggut-manggut.
            “Kakak ke sini mau ketemu sama mama ya?”, tanyaku.
            “Oh nggak kok. Kakak ke sini tu mau ketemu sama kamu.”, jawabnya.
            “Ketemu sama aku? Mau ngomongin apa, kak?”, tanyaku.
            “Kita ke taman samping rumahmu aja yuk. Biar enak ngobrolnya.”, ajaknya. Aku hanya menurutinya.
            Sesampainya di taman...
            “Oh ya kebetulan nih kak Farhan di sini. Aku mau cerita soal kemarin.”, ucapku mengawali pembicaraan.
            “Soal kemarin? Yang mana?”, tanya kak Farhan.
            “Itu pas aku berangkat ke sekolah bareng beberapa hari yang lalu.”, jawabku.
            “Terus masalahnya apa? Kamu nggak suka ya berangkat bareng kakak?”, tanyanya.
            “Nggak gitu juga. Tapi kakak ingat nggak dengan apa yang kakak ucapkan waktu itu?”, tanyaku.
            “Waktu itu? Kapan sih?”, tanyanya.
            “Itu lho pas aku sedang jalan sama teman-temanku yang lain.”, jawabku
            “Oh itu. Ya pasti ingat lah. Emang kenapa?”, tanyanya.
            “Gara-gara ucapan kakak waktu itu, aku jadi diinterogasi sama temen-temenku dan mereka juga ngira kalo kakak itu teman spesialku.”, jawabku.
            “Ya bagus dong. Lagipula kakak juga sayang sama kamu dan kakak berharap semoga suatu saat nanti kamu bisa menjadi teman perempuan kakak.”, jawabnya tersenyum.
            Aku sangat kaget dengan pengakuan kak Farhan. Bagaimana tidak seseorang yang berstatus sebagai kakak sepupuku yang selama ini sudah aku anggap seperti kakak kandungku sendiri ternyata menyimpan perasaan padaku. Jujur aku sangat bingung dibuatnya. Di tengah kebingunganku, aku sempat menyarankan kepadanya untuk mencari perempuan yang lebih baik dari aku karena aku menyadari bahwa usiaku terpaut cukup jauh dengan usianya dan aku juga masih memiliki hubungan darah yang cukup dekat dengannya. Sayangnya saranku tidak digubris olehnya. Dia tetap berpegang teguh dengan pendiriannya yaitu hanya menginginkanku, bukan yang lain. Aku hanya bisa diam mendengarnya. Setelah aku diam dan berpikir, perlahan aku coba untuk menjelaskan kepadanya agar untuk saat ini lebih baik dia fokus pada pekerjaannya. Karena menurutku pekerjaannya itu lebih penting daripada aku.
            “Ya udah gini aja lebih baik kita jalani aja kehidupan kita masing-masing. Lagipula jodoh juga nggak akan kemana kan.”, jelasku.
            “Oke aku setuju. Dan aku juga berharap suatu saat nanti jodohku adalah gadis yang sekarang sedang bersamaku.”, jawabnya tersenyum.
            “Itu nggak mungkin, kak. Hubungan darah antara kita itu dekat. Jadi nggak mungkin aku adalah jodohnya kak Farhan.”, bantahku.
            “Kenapa bisa nggak mungkin? Kita kan nggak tau takdir yang Alloh berikan nanti seperti apa. Dan nggak ada salahnya juga kan jika aku mengharapkanmu?”, tanyanya.
            “Emang nggak salah sih. Tapi kan..........”, ucapanku tergantung.
            “Tapi apa? Kamu mau beralasan seperti tadi lagi?”, tanyanya
            “Bukan gitu, kak. Tapi kan pada kenyataannya kita punya hubungan darah yang cukup dekat. Dan setau aku jika seseorang itu memiliki hubungan darah yang cukup dekat nggak boleh terjadi pernikahan di antara mereka.”, jawabku.
            Tiba-tiba saja kak Farhan memegang pundakku erat sambil menatapku dengan tatapan yang sangat tajam. Dia juga semakin mendekatkan wajahnya ke depan wajahku. Karena tak tahan melihat tatapan matanya yang tajam itu, aku langsung melepaskan pegangannya dan lari ke dalam rumah sambil berteriak. Sesampainya di rumah, mama yang kebetulan waktu itu sedang duduk di ruang tamu kaget melihatku lari sambil berteriak ketakutan. Tanpa basa-basi, aku langsung memeluk erat mama. Ketika mama bertanya sebenarnya apa yang terjadi, aku hanya menjawab aku takut sama kak Farhan. Tak selang beberapa lama, kak Farhan pun menyusulku ke rumah. Melihat aku ketakutan ketika kak Farhan datang, mama pun langsung menanyainya.
            “Han, apa yang sebenarnya terjadi? Kamu apakan Lina kok dia sampek ketakutan kayak gitu?”, tanya mama. Aku hanya duduk diam di sofa sambil menunduk karena jujur aku masih takut sama kak Farhan.
            “Aku cuma mau ngejelasin sesuatu ke Lina, tante. Belum sempat ngomong apa-apa, eh dianya keburu lari. Aku juga bingung sebenarnya Lina tu kenapa.”, jawab kak Farhan.
            “Kalo cuma mau ngejelasin sesuatu, ngapain kakak natap aku tajam banget tadi?”, selaku.
            “Oh jadi kamu takut kalo kakak natap kamu dengan tatapan tajam kayak tadi?”, tanyanya.
            “Ya iyalah. Siapa yang nggak takut coba. Dalam situasi yang seperti itu, tiba-tiba kakak natap aku kayak gitu. Kan aku jadi berpikiran yang enggak-enggak.”, jawabku kesal.
            “Tapi kan tadi kakak mau ngejelasin sesuatu ke kamu, dek.”, jelasnya.
            “Kalo mau ngejelasin sesuatu kan nggak perlu bersikap kayak tadi juga.”, tambahku. Mama semakin bingung melihatku berdebat terus-terusan dengan kak Farhan.
            “Ini sebenarnya masalahnya apa sih? Emang Farhan mau ngejelasin apa ke Lina?”, tanya mama.
            “Gini tante tadi Lina tu tanya ke aku misalnya terjadi pernikahan antar sepupu itu gimana hukumnya. Misalnya kalo Lina nikah sama aku tu boleh apa nggak. Belum sempat aku jawab, eh Lina udah lari duluan.”, jelas kak Farhan. Otomatis aku kaget dan langsung membantah ucapan kak Farhan.
            “Udah nggak usah bertengkar lagi. Mama pusing liat kalian berdua bertengkar terus.”, jawab mama. Kak Farhan menatapku sambil tersenyum. Aku pun semakin kesal dibuatnya.
            “Iya ma.”, jawabku cemberut.
            “Gini ya sepengetahuan tante semisal tante punya kakak perempuan cewek terus kakak tante punya anak cowok dan anak cowoknya itu nikah sama anaknya tante itu hukumnya boleh.”, jawab mama.
            “Oh gitu ya, tante. Tuh dek dengerin kata mama kamu. Kita aja boleh nikah kok.”, goda kak Farhan.
            “Ih kak Farhan apaan sih.”, jawabku mengeryitkan keningku sambil mencubit lengannya sampai dia berteriak kesakitan. Mama hanya tersenyum melihatnya. Beberapa menit kemudian, kak Farhan pamit pulang. Aku lega akhirnya kak Farhan pulang juga. Setidaknya aku bisa sedikit tenang karena tidak ada yang menggodaku lagi.
            Semenjak kejadian itu, aku merasa hubunganku dengan kak Farhan semakin dekat. Dia juga semakin sering bermain ke rumahku, mengajakku berangkat ke sekolah bersama, dan masih banyak lagi. Awalnya aku masih merasa nyaman dengan perhatian yang dia berikan kepadaku. Tetapi semakin hari aku semakin merasa bosan dengannya. Aku menilai dia terlalu berlebihan memberikan perhatiannya kepadaku. Perlahan-lahan aku mulai menjauhinya dengan cara tidak membalas smsnya, tidak menjawab telponnya, selalu menghindar ketika diajak ke luar, dan lain sebagainya. Awalnya dia masih memaklumi sikapku yang terkesan aneh itu, tapi semakin hari dia merasa heran mengapa sikapku tiba-tiba berubah drastis dalam waktu yang terbulang sangat singkat. Suatu hari kak Farhan main ke rumahku.
            “Dek, kenapa sih akhir-akhir ini sikap kamu berubah kayak gini ke kakak?”, tanya kak Farhan.
            “Aku nggak berubah tuh.”, jawabku enteng.
            “Kalo kamu nggak berubah kenapa setiap kakak ajak keluar, kamu selalu nolak? Kenapa setiap kakak sms atau telpon, kamu nggak pernah balas atau jawab? Emang kakak punya salah apa, sayang?”, tanya kak Farhan.
            “Kakak sadar nggak dengan apa yang kakak lakukan selama ini? Kakak tu sangat berlebihan memberikan perhatian kakak ke aku. Hampir tiap jam kakak menanyakan kabarku, aku lagi apa, dan masih banyak lagi. Aku risih kak dengan sikap kakak yang seperti ini.”, jawabku penuh emosi.
            “Maaf dek, kakak nggak tau. Tapi hari ini kamu mau kan kakak ajak main ke luar?”, tanyanya.
            “Maaf kak, aku lagi banyak tugas.”, jawabku sambil pergi meninggalkan kak Farhan.
            Waktu itu aku baru saja keluar kelas. Karena tidak ada tugas kelompok atau tugas yang lain, maka aku putuskan untuk pulang. Ketika di perjalanan pulang, tiba-tiba mama menelponku dan menyuruhku pulang cepat. Aku pun mengiyakannya meskipun aku sempat heran mengapa mama menyuruhku pulang cepat. Karena mama tidak biasanya bersikap seperti ini ke aku. Sesampainya di rumah...
            “Dek, tadi pagi kak Farhan ke sini. Kak Farhan juga sempat cerita ke mama kalo akhir-akhir ini kamu nggak pernah bales sms dan jawab telpon dari kak Farhan. Sebenarnya ada apa sih, dek?”, tanya mama.
            “Biarin aja lah, ma. Lagian aku juga bosen sama sikapnya kak Farhan yang kayak gitu.”, jawabku.
            “Bosen? Maksudnya gimana?”, tanya mama.
            “Kak Farhan tuh berlebihan banget, ma. Masa hampir tiap hari nanyain kabar aku, aku lagi apa, dan sebagainya. Kan bikin aku bosen, ma.”, jelasku.
            “Tapi kak Farhan jangan dikacangin kayak gitu dong. Kak Farhan bersikap gitu karena dia tu pingin tau kabar kamu. Ya setidaknya kamu bales lah smsnya biar dia nggak khawatir gitu.”, pesan mama.
                        “Ah udah lah, ma. Jangan ngomongin kak Farhan terus. Aku males dengernya.”, jawabku sambil pergi ke kamar.
            “Dek, dengerin mama dulu. Mama belum selesai ngomong.”, ucap mama. Sayangnya ucapan itu tidak aku hiraukan.
            Sudah hampir 2 bulan, aku bersikap seperti ini kepada kak Farhan. Aku pikir setelah aku bersikap seperti ini kepadanya, dia akan merasa bosan dan menjauhiku secara perlahan. Tetapi dugaanku salah besar. Semakin aku berusaha untuk menjauhinya, dia malah semakin sering mengirim sms kepadaku. Pernah aku coba menonaktifkan nomerku selama 1 minggu. Dan ketika aku mengaktifkan nomer itu lagi, aku sangat kaget ketika melihat ratusan sms masuk dan sms itu tidak lain adalah dari kak Farhan yang isinya mengingatkanku agar tidak telat makan, agar belajar dengan rajin, agar tidak meninggalkan sholat, dan masih banyak lagi. Sebenarnya di dalam hati, aku sangat ingin membalas pesannya meskipun hanya dengan beberapa kata saja agar dia tidak khawatir seperti yang dikatakan mama beberapa waktu lalu. Tapi setelah aku pikir ulang, aku putuskan untuk tidak membalas pesannya agar dia tetap berpikiran bahwa aku masih membencinya.
            Siang itu ketika aku pulang bersama Rika, Dinda, dan Ana, tiba-tiba aku dikejutkan oleh laki-laki yang secara tiba-tiba menghentikan motornya tepat di depanku. Aku sempat bertanya-tanya sebenarnya siapa laki-laki itu dan apa maksudnya menghentikan motornya di depanku. Laki-laki itu langsung melepas helmnya. Aku dan teman-temanku sangat kaget ketika mengetahui bahwa laki-laki itu ternyata adalah kak Farhan. Melihat kak Farhan ada di situ, tanpa banyak bicara aku langsung mempercepat langkahku dan meninggalkan mereka. Dengan cepat kak Farhan langsung menghentikan langkahku dengan cara memegang pergelangan tanganku kemudian memelukku di depan teman-temanku. Karena merasa tidak enak dilihat teman-temanku, maka aku langsung melepaskan pelukan itu dengan kasar kemudian pergi
            Setelah cukup jauh aku meninggalkan mereka, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku dari belakang. Otomatis aku sangat kaget dibuatnya. Ketika aku menoleh, aku terkejut ternyata seseorang yang menepuk pundakku tadi adalah kak Farhan. Aku mulai emosi.
            “Kak Farhan ngapain sih ngejar-ngejar aku terus?”, tanyaku kesal.
            “Kakak datang dan mau ngomongin sesuatu secara baik-baik. Tetapi kenapa kamu bersikap seperti ini ke kakak sih, lin?”, tanya kak Farhan.
            “Kan waktu itu udah aku jelasin kalo aku nggak suka sama sikap kakak yang terlalu perhatian itu. Apa itu kurang jelas? Lalu kakak ke sini mau ngomongin apa?”, tanyaku.
            “Kakak lihat kamu sekarang udah mulai seneng. Kamu sudah berhasil move on ya?”, tanya kak Farhan.
            “Itu kakak udah tau. Kenapa masih tanya?”, tanyaku.
            “Enggak. Kakak cuma mau mastiin aja kalo kamu udah bener-bener bisa move on. Alhamdulillah deh kalo gitu.”, jawabnya tersenyum.
            “Iya.”, jawabku singkat kemudian pergi.
            “Dek, tunggu dulu. Kakak belum selesai ngomong.”, cegahnya.
            “Mau ngomongin apa lagi sih, kak? Aku udah capek nih.”, tanyaku kesal.
            “Kakak cuma mau bilang ke kamu. Berhubung kamu udah bisa move on, itu artinya kakak udah nggak perlu nemenin kamu lagi kan? Oh ya satu lagi beberapa hari lalu kakak dapat informasi bahwa mulai besok sampai batas waktu yang belum ditentukan, kakak dipindahtugaskan ke luar kota. Jadi selain mau ngomongin hal ini ke kamu, kakak mau pamit sekalian minta maaf ke kamu kalo selama ini kakak sering bikin salah ke kamu. Kakak harap setelah kakak pergi, kamu bisa menjalani hari-harimu dengan ceria tanpa kehadiran kakak.”, jelas kak Farhan.
            “Ya udah kalo mau pergi, ya pergi aja. Nggak usah pamit segala.”, jawabku judes sambil pergi meninggalkannya karena kebetulan ada satu angkutan umum yang berhenti. Dan aku hanya menganggap tadi itu kak Farhan sedang bercanda dan hal itu sengaja dia lakukan untuk memintaku agar aku bisa kembali bersikap baik kepadanya.
            Beberapa hari setelah kejadian itu, aku merasa lega dan senang karena kak Farhan sudah pergi dan tidak pernah menghubungiku lagi. Ya itulah yang selama ini aku inginkan darinya. Aku juga ingin membuktikan padanya bahwa aku sekarang sudah bisa move on dari libur panjangku dan aku bisa melewati hari-hariku dengan ceria tanpa kehadirannya. Tapi perasaan legaku setelah dia pergi meninggalkanku ternyata tidak berlangsung lama. Awalnya aku senang karena dia tidak menelpon atau mengirimkan pesan kepadaku. Tetapi setelah beberapa minggu berlalu, entah mengapa aku mulai merindukannya. Aku rindu suaranya, aku rindu nasehatnya, aku rindu candaannya, aku rindu perhatiannya, dan aku rindu dengan sikap-sikapnya yang selama ini aku anggap sangat menggangguku. Ingin ku coba untuk menghubunginya, tetapi rasa gengsi ini selalu menguasai diriku. Beberapa hari kemudian, ku beranikan diri untuk menelponnya tapi sayangnya nomer yang dia pake sedang tidak aktif. Aku coba untuk memakluminya karena mungkin dia sedang sibuk. Tapi setelah sekian kali ku coba, ternyata nomer itu sudah benar-benar tidak aktif. Aku mulai bingung harus bagaimana dan harus menghubungi siapa agar aku tau kabarnya. Semenjak kejadian itu, aku cenderung lebih sering diam dan berharap suatu hari nanti kak Farhan mengingatku dan segera menghubungiku.
            Siang itu ketika aku duduk di teras rumah, tiba-tiba...
            “Dor!!!!”, mama mengagetkanku.
            “Mama apaan sih.”, ucapku kesal.
            “Kamu ngapain siang-siang gini ngelamun? Ngelamunin siapa?”, tanya mama.
            “Nggak kok. Aku nggak ngelamun.”, jawabku.
            “Udah jujur aja. Mama tau kalo kamu lagi bohong.”, imbuh mama.
            “S...s...s...sebenarnya....”, ucapanku tergantung.
            “Sebenarnya kenapa?”, tanya mama.
            “Sebenarnya aku kangen kak Farhan, ma.”, jawabku sambil menangis. Mama pun hanya memelukku tanpa berkata apa-apa.
            Berhari-hari aku hanya duduk sambil memandangi handphone berharap ada kabar dari kak Farhan. Tapi sayangnya kabar itu tak kunjung datang. Aku semakin pusing dibuatnya. Mama selalu mengingatkanku agar jangan sampai telat makan hanya karena menunggu kabar dari kak Farhan. Tapi sayangnya nasehat itu tidak pernah aku gubris dan akhirnya aku pun sakit. Sudah 3 hari ini aku mengalami demam tinggi dan di saat seperti ini aku masih saja berharap semoga kak Farhan segera menghubungiku. Mama juga sudah memberiku obat penurun demam dan demamku sudah mulai turun meskipun kepalaku masih terasa pusing. Siang itu ketika aku baru bangun tidur, aku melihat mama duduk di sampingku.
            Alhamdulillah kamu udah bangun. Sekarang gimana rasanya? Udah enakan?”, tanya mama.
            “Kak Farhan di mana, ma?”, tanyaku.
            “Lho jadi selama ini kamu belum tau kalo kak Farhan dipindahtugaskan ke luar kota?”, tanya mama.
            “Jadi yang kak Farhan bilang waktu itu beneran? Nggak bercanda?”, tanyaku kaget. Mama hanya mengangguk.
            “Sekarang tolong hubungin kak Farhan, ma. Aku pingin ngomong sama dia.”, rengekku.
            “Tapi kan nomernya kak Farhan udah nggak aktif, lin.”, jelas mama.
            “Aku nggak mau tau. Pokoknya mama harus dapetin nomernya kak Farhan sekarang juga.”, jawabku.
            Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya mama berhasil mendapatkan nomernya kak Farhan dari mamanya. Aku pun segera menyuruh mama untuk menelpon nomer itu. Ketika nomer itu dihubungi, benar saja yang mengangkat telpon itu adalah kak Farhan karena kebetulan mama menloudspeaker telponnya sehingga aku bisa mengenali suaranya. Melihat mama berbicara dengan kak Farhan lama sekali, tanpa banyak bicara aku langsung merebut telpon itu dari tangan mama.
            “Kak, tolong ke sini sekarang.”, pintaku.
            “Nggak bisa, sayang. Kakak lagi sibuk soalnya.”, jawab kak Farhan.
            “Aku nggak mau tau apa pun alasannya. Pokoknya sekarang juga kak Farhan harus ke sini.”, rengekku.
            “Sekali lagi kakak minta maaf. Kakak nggak bisa ke rumahnya Lina sekarang. Kan Lina tau kalo kakak lagi di luar kota.”, jawab kak Farhan. Belum sempat aku menutup telpon, tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu kamarku. Aku kaget ketika tau bahwa seseorang itu adalah kak Farhan.
            “Kak Farhan!!!!”, teriakku girang.
            “Iya. Ada apa? Kok tadi di telpon sampek ngerengek-rengek gitu sih? Kangen ya?”, tanyanya.
            “Enggak tuh.”, jawabku.
            “Enggak salah kan?”, godanya.
            “Kak Farhan apaan sih.”, ucapku sambil mencubit lengannya.
            “Ya udah kalo gitu mama tinggal dulu ya.”, ucap mama sambil keluar dari kamarku.
            Dari situ lah kak Farhan mulai bercerita bahwa nomernya yang dulu tidak bisa dihubungi itu karena nomernya mengalami kerusakan dan akhirnya dia memutuskan untuk ganti nomer baru. Dan hari ini dia bisa ke rumahku karena kebetulan dia diberi libur selama 3 hari. Aku hanya bisa mengangguk mendengarnya.
            “Kak, aku minta maaf ya soal kemarin.”, ucapku.
            “Iya nggak apa-apa. Lagian kejadian itu udah berlalu kan, jadi nggak perlu dibahas lagi. Yang penting sekarang kamu janji nggak akan bersikap seperti itu lagi ke kakak. Kakak juga minta maaf kalo selama ini sikap kakak terlalu berlebihan ke kamu.”, jelasnya.
            “Iya kak nggak apa-apa kok. Justru setelah kakak pergi, aku kangen dengan sikap kakak yang bisa dibilang cukup berlebihan itu.”, jawabku.
            “Tuh kan bener kamu selama ini kangen sama kakak.”, godanya.
             “Iya deh aku ngaku. Oh iya kak, aku boleh minta satu permintaan ke kakak nggak?”, tanyaku.
            “Boleh. Emangnya permintaan apa, lin?”, tanya kak Farhan.
            “Senyebelin apapun aku, tolong jangan pernah tinggalin aku ya, kak. Aku sayang kak Farhan. Aku pingin bisa bersama kak Farhan seperti dulu lagi.”, pintaku.
            Insya alloh kakak nggak akan ninggalin kamu. Kakak juga sayang kamu, lin. Ya meskipun sekarang kakak dinas di luar kota, tetapi hati kakak selalu di sini bersamamu.”, jawabnya tersenyum. Aku pun ikut tersenyum.
            Sejak pertemuanku dengan kak Farhan setelah aku membuatnya kecewa, aku mulai belajar dan berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan lagi mengecewakan seseorang yang telah tulus menyayangiku. 

0 comments:

Post a Comment

By :
Free Blog Templates