Sunday, 17 January 2016

SURAT UNTUK MAMA MERTUA

               Di hari ini, pernikahan Ervina dan Fadhil genap berusia 2 bulan. Sejak awal pernikahan, Fadhil sudah mengingatkan istrinya agar selalu bersikap baik kepada mamanya karena kini mereka berdua masih tinggal di rumah orang tua Fadhil. Vina hanya menuruti permintaan suaminya. Selain itu, Vina juga tahu dan sadar bahwa tante Rifa sudah melahirkan dan mengasuh suaminya sejak dia masih kecil sampai sekarang dengan penuh kasih sayang. Jadi karena sekarang Vina sudah berstatus sebagai menantunya tante Rifa, maka ia harus menghormati dan menghargai tante Rifa seperti mamanya sendiri.
              Pagi itu Fadhil berangkat ke kantor sekitar jam 8. Karena kebetulan hari ini dia dinas mulai jam 8 pagi sampai jam 8 malam.
              “Kalo gitu aku berangkat dulu ya, sayang.”, pamit Fadhil.
              “Iya. Hati-hati di jalan ya. Yang fokus ya kerjanya.”, pesan Vina.
              “Gimana bisa fokus coba. Orang yang ada di pikiranku cuma kamu.”, canda Fadhil.
              “Ih kamu apaan sih. Nggak usah mulai deh bercandanya.”, jawab Vina sambil meyunggingkan senyumnya.
              “Siapa juga yang bercanda. Aku serius tau.”, jelas Fadhil.
              “Ya udah. Kamu buruan berangkat gih. Udah siang tuh.”, sambung Vina.
              “Kalo gitu aku berangkat dulu ya.”, ucap Fadhil.
              “Oke sayang.”, jawab Vina tersenyum
              Malam harinya, Vina terlihat asyik menuliskan sesuatu di catatan pribadinya. Ya menulis memang sudah menjadi hobi Vina sejak kecil. Bahkan dia sering mendapatkan uang ketika tulisannya yang dikirim ke media itu dimuat. Memang sih uang yang dia dapat ketika karyanya dimuat itu tidak seberapa. Tapi uang itu sangatlah berharga baginya. Setidaknya uang itu bisa ditabung dan bisa digunakan jika ada keperluan mendadak. Apalagi kini dia sudah menikah, jadi dia harus pandai-pandai mengatur keuangan keluarganya. Ketika ia sedang asyik dengan catatan pribadinya, ia tidak menyadari bahwa suaminya sudah pulang dan yang paling parahnya lagi ia sampai tidak mendengar ketika suaminya mengetuk pintu kamar. Ya begitulah Vina. Jika sudah asyik dengan catatan pribadinya, dia tidak peduli dengan apa yang sedang terjadi di sekitarnya. Mungkin kalo sedang terjadi gempa bumi lalu semua orang bingung mencari pertolongan, sepertinya hanya Vina kali ya yang tetap tenang dan asyik dengan catatan pribadinya? Hahaha. Ya catatan pribadi memang sudah menjadi barang kesayangan Vina sejak kecil karena benda itulah tempat dia mencurahkan isi hatinya selain kepada mamanya dan benda itu juga yang membuat Vina bisa mendapatkan uang. Melihat istrinya sedang asyik dengan barang kesayangannya, Fadhil hanya bisa tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Tanpa pikir panjang, Fadhil langsung mengagetkan Vina dengan cara mencubit pipinya. Vina pun kaget dan langsung menyelipkan catatan pribadinya ke bawah bantal.
              “Ih sayang apaan sih. Main cubit pipi orang seenaknya. Sakit tau. Terus masuk kamar nggak pake ketok pintu dulu lagi. Kebiasaan banget sih.”, ucap Vina ketus.
              “Kamu tu yang apa-apaan. Suami pulang bukannya disambut, eh malah ditinggal asyik sendiri. Aku tu dari tadi udah ketok-ketok pintu sampek capek tanganku. Kamunya aja yang nggak denger. Lama-lama pintu kamar kita bisa roboh gara-gara keseringan aku ketok.”, jelas Fadhil.
              “Aku juga udah nungguin kamu dari tadi keleus. Ya daripada aku bengong aja kan mendingan aku pake buat nulis-nulis atau apalah.”, jawab Vina.
              “Oh gitu. Ya ya ya. Ya udah kalo gitu aku mandi dulu ya. Ini badan rasanya udah lengket banget soalnya.”, sambung Fadhil.
              “Iya. Kamu udah makan apa belum tadi?”, tanya Vina.
              “Udah sih. Tapi kalo kamu ajakin makan lagi ya aku mau aja.”, jawab Fadhil. Vina hanya tersenyum mendengarnya dan sambil menunggu suaminya selesai mandi, ia segera mengambil catatannya yang tadi sempat diselipkan di bawah bantal kemudian memindahkannya ke dalam laci meja dan segera menyiapkan makan malam untuk suaminya.
              Setelah selesai mandi, Fadhil segera menuju ruang makan. Vina hanya menemani suaminya yang sedang makan malam karena kebetulan tadi dia sudah makan. Selesai makan…
              “Oh ya dek tadi pas nunggu aku pulang, kamu asyik nulis apa sih?”, tanya Fadhil.
              “Bukan apa-apa kok, kak.”, jawab Vina.
              “Kalo bukan apa-apa, nggak mungkin kamu kaget gitu pas kakak datang tadi. Pasti ada apa-apa kan? Udah ngaku aja deh.”, perintah Fadhil.
              “Apa yang harus aku akui kalo aku emang nggak melakukan apa-apa, kak?”, tanya Vina.
              “Kamu tetap nggak mau ngaku juga? Kalo gitu rasakan ini!!!”, kata Fadhil sambil mencubit hidung istrinya.
              “Kakak apaan sih. Lepasin dong. Aku nggak bisa napas nih.”, ucap Vina kesakitan.
              “Kalo nggak mau dicubit, makanya ngaku dong.”, perintah Fadhil. Mendengar ada suara orang bertengkar, tante Rifa segera mengecek sebenarnya siapa yang sedang bertengkar. Ketika masuk ke ruang makan, tante Rifa kaget melihat Fadhil dan Vina yang sedang beradu mulut. Tante Rifa pun segera melerai mereka.
              “Kalian ini kenapa sih? Nggak pagi nggak siang nggak malam suka banget ribut. Emang ngeributin apa sih?”, tanya tante Rifa.
              “Ini nih ma kak Fadhil main cubit hidung orang sembarangan.”, adu Vina.
              “Kamu juga sih ditanya nggak mau ngaku. Makanya ngaku dong biar nggak aku cubit.”, jawab Fadhil. Tante Rifa hanya tersenyum melihat kelakuan mereka berdua kemudian meninggalkannya. Ya Fadhil dan Vina memang pasangan yang bisa dibilang memiliki kebiasaan yang beda dengan pasangan-pasangan yang lain. Ketika pasangan lain saling mengingatkan dengan cara yang mesra dan lembut, tetapi tidak dengan Fadhil dan Vina. Justru mereka saling mengingatkan dengan cara yang bisa terbilang tidak biasa dilakukan oleh pasangan lain, mulai dari mencubit pipi, mencubit hidung, menjewer telinga, dan masih banyak lagi. Tapi cara mereka untuk saling mengingatkan yang bisa terbilang lebih mengarah kepada kekerasan fisik itu tidak membuat mereka sakit hati dan sering bertengkar. Justru kebiasaan seperti itulah yang menjadi ciri khas mereka berdua dan menjadikan hubungan mereka semakin harmonis karena mereka melakukan itu semua bukan untuk menyakiti satu sama lain, tetapi mereka melakukan itu semua hanya sekedar untuk bercanda agar hubungan mereka tidak terkesan kaku.
              Hari ini kebetulan Vina tidak ada jam mengajar, jadi dia memutuskan untuk tidak pergi ke kampus. Ya Vina adalah seorang dosen di salah satu kampus yang ada di kotanya. Karena baru mengajar sekitar 5 bulan dan masih tergolong sebagai dosen baru, maka jam mengajarnya pun juga tidak penuh. Untuk mengisi waktu luangnya, ia memutuskan untuk bersih-bersih rumah. Ketika sedang menyapu, tiba-tiba terlintas di pikirannya untuk masuk ke dalam kamar mama mertuanya. Bukan ingin berbuat jahat atau apa, tapi Vina hanya ingin memberikan surat yang baru saja selesai ditulisnya itu kepada mama mertuanya. Karena di rumah sedang tidak ada orang, maka Vina langsung saja masuk ke kamar mama mertuanya dan menaruh amplop yang berisi surat itu di bawah vas bunga yang ada di atas meja. Setelah itu, ia pun segera menyelesaikan pekerjaan rumahnya.
              Malam itu tante Rifa baru saja pulang dari rumah saudaranya. Ketika masuk ke kamar, beliau heran melihat ada amplop di mejanya yang berwarna sangat cantik dan ada tulisannya “UNTUK MAMA MERTUAKU”. Karena warna amplop itu sangat cantik, tante Rifa semakin penasaran dengan isinya. Dan setelah dibuka, ternyata isi amplop itu adalah sepucuk surat dengan nama pengirim Vina, yang tidak lain dan tidak bukan adalah menantunya sendiri. Ketika beliau membaca surat itu, tiba-tiba saja beliau meneteskan air mata karena sangat terharu dengan isi surat itu. Pada saat itu juga, Fadhil baru saja pulang dinas. Ketika dia masuk ke rumah, dia heran melihat pintu kamar mamanya terbuka karena selama ini mamanya memang tidak pernah membiarkan pintu kamarnya terbuka lebar seperti saat itu. Fadhil pun langsung masuk ke dalam kamar mamanya dan ia sangat kaget ketika melihat mamanya sedang menangis sambil memegang selembar kertas.
              “Mama kenapa? Kok nangis?”, tanya Fadhil.
              “Mama nggak apa-apa kok, dhil. Kamu baru pulang ya?”, tanya tante Rifa sambil menyembunyikan surat yang sedang dipegangnya.
              “Iya nih ma. Aku baru aja pulang. Mama beneran nggak apa-apa nih?”, tanya Fadhil lagi.
              “Iya mama nggak apa-apa kok. Ya udah kamu buruan ke kamar gih. Istri kamu pasti udah nungguin kamu.”, saran tante Rifa.
              “Ya udah kalo gitu aku ke kamar dulu ya, ma.”, ucap Fadhil sambil keluar kamar. Ketika akan keluar kamar, tanpa sengaja ia melihat ada sebuah amplop yang ada tulisannya “UNTUK MAMA MERTUAKU” di meja kamar mamanya. Dia juga mengenali bahwa tulisan yang ada di amplop itu adalah tulisan Vina. Hal ini semakin membuat Fadhil menduga-duga bahwa Vina yang telah mengirimkan surat kepada mamanya dan tentunya isi surat itu sangat menyakiti hati mamanya karena ia melihat dengan jelas mamanya menangis setelah membaca surat itu.
               Fadhil masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu dan dia juga tidak menyapa istrinya seperti yang biasa ia lakukan. Vina heran dengan sikap suaminya yang mendadak dingin seperti itu.
              “Kak, baru pulang ya?”, tanya Vina.
              “Ya.”, jawab Fadhil singkat.
              “Kakak udah makan apa belum tadi? Kalo belum aku siapin makanannya ya.”, tawar Vina.
              “Nggak usah. Aku udah kenyang.”, jawab Fadhil ketus.
              “Kakak kenapa? Nggak biasanya kakak bersikap kayak gini ke aku. Kakak lagi nggak enak badan ya?”, tanya Vina.
              “Enggak.”, jawab Fadhil singkat.
              “Lalu kenapa?”, tanya Vina.
              “Udah deh nggak usah banyak tanya. Aku pingin istirahat full malam ini. Aku capek.”, jawab Fadhil yang langsung pergi ke kamar mandi. Sekembalinya dari kamar mandi, dia langsung tidur tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada istrinya. Vina hanya bisa memaklumi keadaan suaminya hari ini.
              Pagi itu setelah selesai mandi dan bersiap-siap, Fadhil langsung berangkat ke kantor tanpa pamit dulu kepada istrinya. Di kantor, dia juga terlihat sering melamun dan tidak fokus pada kerjaannya. Ketika dia sedang melamun, tiba-tiba Ardian membuyarkan lamunannya.
              “Hayo lagi ngelamunin apa loe?”, tanya Ardian.
              “Nggak ngelamunin apa-apa kok, di.”, jawab Fadhil.
              “Jangan kebanyakan ngelamun di kantor. Entar dimarahin atasan baru tau rasa loe.”, ucap Ardian.
              “Loe nyumpahin gue biar dimarahin atasan?”, tanya Fadhil sedikit emosi.
              “Enggak gitu, dhil. Abisnya loe dari tadi ngelamun mulu sih. Loe lagi ada masalah?”, tanya Ardian.
              “Enggak kok. Oh ya gue keluar sebentar ya, di.”, kata Fadhil.
              “Hei, loe mau ke mana? Main nyelonong aja.”, tanya Ardian. Tapi Fadhil tidak menggubrisnya. Ardian semakin bingung dengan sikap Fadhil yang tidak seperti biasanya itu.
              Di rumah, Vina sedang menunggu Fadhil pulang. Sambil menunggu kepulangan suaminya, Vina juga berharap semoga suaminya tidak bersikap dingin lagi kepadanya seperti tadi malam. Tetapi harapannya tidak sesuai dengan kenyataan. Ketika Fadhil pulang, ia tetap saja bersikap dingin kepada istrinya. Setiap Vina bertanya kepadanya, dia selalu menjawab dengan jawaban singkat dan yang lebih parahnya lagi dia main pergi saja tanpa mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh istrinya. Sebenarnya Vina agak kecewa dengan perlakuan Fadhil kepadanya. Tapi apa boleh buat dia juga tidak bisa berbuat banyak karena setiap ia bertanya sebenarnya ada masalah apa, Fadhil tidak pernah mau menjawabnya.
              Pagi itu Fadhil ditugaskan untuk patroli. Dia ditemani oleh Ardian dan 2 temannya yang lain. Dia sepertinya masih kesal dengan istrinya, jadi dia mengemudikan mobil dengan kecepatan yang cukup tinggi. Ketika sampai di perempatan lampu merah, dia hampir menabrak seorang pejalan kaki karena dia tidak memperhatikan bahwa lampu yang sedang menyala adalah lampu merah.
              “Gila loe, dhil. Loe mau kita berempat kena kasus gara-gara kita nabrak pejalan kaki itu?”, tanya Ardian yang terlihat shock karena kejadian tadi. 2 temannya yang ada di belakang juga shock melihat kejadian tadi.
              “Maaf di. Gue bener-bener lagi nggak konsen tadi.”, jawab Fadhil.
              “Kalo loe lagi nggak bisa konsen nyetirnya, loe bilang ke gue. Sekarang kita tukeran tempat aja deh. Biar gue aja yang nyetir.”, saran Ardian. Fadhil hanya menurutinya.
              Selama di dalam mobil, Fadhil tetap saja terlihat melamun seperti tadi. Sikapnya yang terkesan agak aneh itu membuat Ardian semakin heran. Ketika Ardian memanggilnya, ia hanya diam dengan tatapan mata yang kosong. Mereka berempat sampai di kantor tepat pada jam istirahat. Ketika sampai di kantor, Ardian segera mencari Fadhil di setiap sudut kantor karena Fadhil tiba-tiba saja menghilang sesampainya di kantor tadi. Dan pada akhirnya, Ardian menemukan Fadhil sedang duduk di kantin.
              “Loe bikin orang khawatir aja tau nggak.”, ucap Ardian ketika ketemu Fadhil.
              “Emang ngapain loe nyari gue?”, tanya Fadhil.
              “Loe ada masalah apa sih, dhil? Kok dari tadi diem gitu? Cerita dong sama gue. Kita kan udah jadi temen baik sejak kita pendidikan di Akpol.”, pinta Ardian.
              “Sebenarnya gue lagi ada masalah sama istri gue, di.”, jawab Fadhil.
              “Lah baru kemarin nikah kok udah ada masalah? Masalah apa sih?”, tanya Ardian.
              “Gue kesel sama istri gue karena dia udah bikin mama gue nangis. Padahal dari awal pernikahan, gue udah selalu ingetin dia agar nggak ngomong macem-macem sama mama gue. Soalnya mama gue tu orangnya sensitif banget. Eh malah dia ngomong yang enggak-enggak sama mama gue.”, jelas Fadhil. Tanpa Fadhil sadari, ternyata kakaknya yang sedang duduk di belakangnya sempat mendengar apa yang baru saja dia ucapkan. Karena kebetulan kakaknya Fadhil juga dinas di situ.
              “Loe yakin kalo istri loe ngomong macem-macem sama mama loe? Emang loe liat sendiri kejadiannya?”, tanya Ardian.
              “Enggak sih. Tapi gue yakin kalo istri gue udah ngomong macem-macem ke mama gue. Soalnya pas mama gue nangis, gue liat mama gue lagi pegang sepucuk surat dan di meja itu ada amplop yang tulisannya “UNTUK MAMA MERTUAKU”. Dan gue hafal banget tulisan itu adalah tulisannya Vina.”, jelas Fadhil.
              “Loe juga tau isi suratnya itu kayak gimana?”, tanya Ardian. Fadhil hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
              “Aduh Fadhil kebiasaan banget sih loe nuduh orang tanpa bukti kayak gitu. Seharusnya loe tanya kek ke mama atau istri loe sebenarnya isi surat itu apa. Jangan main nuduh aja kayak gitu.”, saran Ardian. Bukannya mendengarkan saran Ardian, Fadhil malah pergi meninggalkannya.
              Malam itu ketika kak Noval pulang dinas, dia terus saja mengomel-ngomel. Sampai-sampai istrinya heran melihatnya.
              “Nggak tau diri banget sih itu menantu.”, ucap kak Noval emosi.
              “Menantu? Emang menantunya siapa sih kak yang kamu maksud? Aku nggak ngerti deh.”, tanya kak Erika, istrinya kak Noval. Lalu kak Noval mengatakan kepada istrinya bahwa orang yang dia maksud adalah Vina, istrinya Fadhil. Kak Noval juga bercerita kepada istrinya bahwa Vina telah berbicara yang tidak-tidak kepada mamanya sampai membuat mamanya menangis. Mendengar cerita itu, kak Erika merasa tidak terima jika mama mertuanya disakiti oleh Vina. Dia bahkan berniat ingin memberikan peringatan keras kepada Vina agar tidak mengulangi perbuatan yang sama lagi. Niat kak Erika didukung penuh oleh suaminya.
              Keesokan harinya, kak Erika pergi ke rumah mama mertuanya. Berhubung yang ada di rumah hanya Vina, maka kak Erika bisa dengan leluasa untuk memberikan peringatan kepada Vina. Awalnya Vina tidak mengerti dengan ucapan kak Erika. Bahkan dia semakin bingung ketika kak Erika mengatakan bahwa dia telah menyakiti hati mama mertuanya.
              “Kakak denger cerita kayak gitu dari mana?”, tanya Vina polos.
              “Udah deh nggak usah pura-pura nggak tau kayak gitu. Kemarin kak Noval cerita katanya pas di kantor dia denger Fadhil cerita sama temannya kalo kamu udah nyakitin hati mama.”, jelas kak Erika.
              “Itu sama sekali nggak benar, kak.”, jawab Vina polos.
              “Udah deh kamu nggak usah ngeles gitu. Kali ini aku peringatkan ke kamu jangan pernah sakiti hati mama. Kamu sadar nggak sekarang kamu tinggal di rumah siapa. Dasar menantu nggak tau diri.”, bentak kak Erika. Vina hanya bisa terdiam mendengarkan ucapan kak Erika. Setelah selesai memperingatkan Vina, kak Erika pun pulang.
              Malam itu, Vina memberanikan diri untuk bertanya kepada suaminya.
              “Kak, kenapa sih akhir-akhir ini kakak selalu diemin aku? Emang aku salah apa?”, tanya Vina.
              “Kamu masih tanya ke aku kamu salah apa? Mikir dong, vin. Sejak awal pernikahan kita, aku selalu ingetin kamu agar tidak menyakiti hati mama. Tapi kenapa kamu malah nyakitin hati mama? Menuruti permintaanku agar tidak menyakiti mama itu sulit ya buat kamu? Sampai-sampai kamu bersikap seperti itu ke mama?”, tanya Fadhil emosi.
              Om Ricky juga baru saja pulang dinas. Beliau kaget ketika melihat Fadhil sedang bertengkar dengan istrinya. Tanpa banyak bicara, beliau pun langsung melerai mereka berdua.
              “Fadhil, ada apa sih? Kok ribut-ribut gitu?”, tanya om Ricky.
              “Ini nih pa berani-beraninya Vina nyakitin hati mama.”, jawab Fadhil.
              “Aku nggak pernah nyakitin hati mama, kak. Aku udah berusaha untuk memenuhin permintaannya kakak. Emang apa buktinya kalo aku nyakitin mama?”, tanya Vina
              “Kamu yang nulis surat itu buat mama kan?”, tanya Fadhil.
              “Ya memang aku pernah nulis surat buat mama. Tapi aku nulis surat itu sama sekali nggak ada niat buat nyakitin hati mama, kak. Lagian isi surat itu juga bukan ucapan yang aneh-aneh kok.”, jelas Vina. Fadhil tetap tidak mau mendengarkan penjelasan dari istrinya. Karena masih dalam keadaan emosi berat, Fadhil sampai menyuruh Vina untuk pergi dari rumah. Vina sangat kaget mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh suaminya. Dia tidak pernah menyangka bahwa suaminya yang selama ini sering bercanda dengannya tiba-tiba berubah kasar seperti itu dan dia juga tidak pernah menyangka bahwa tulisan yang dia tulis biasanya bisa menghasilkan uang, tetapi pada kali ini malah membuat suaminya marah besar. Vina hanya menuruti permintaan suaminya untuk pergi dari rumah. Dan dia memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya. Om Ricky berusaha untuk mencegah agar Vina tidak pergi dari rumah. Tapi karena Vina sudah terlanjur sakit hati, maka ia tetap memutuskan untuk pergi dari rumah.
              Sepeninggalan Vina…
              “Nggak seharusnya kamu bersikap kayak gitu ke istri kamu.”, kata om Ricky.
              “Biarin aja, pa. Siapa suruh dia nyakitin mama.”, jawab Fadhil.
              “Tapi kan…..”, ucap om Ricky.
              “Udah deh, pa. Papa nggak usah belain Vina. Biarin aja dia pergi.”, imbuh Fadhil dengan nada kasar. Om Ricky hanya bisa diam melihat sikap kasar anaknya. Beliau memilih untuk meninggalkan Fadhil seorang diri karena dia sulit dinasehati jika dalam keadaan emosi.
              Sesampainya di rumah, kedua orang tua Vina sangat kaget melihat Vina datang ke rumah sendiri pada waktu malam hari. Kemudian Vina menangis di pelukan mamanya sambil menceritakan bahwa ia sedang bertengkar dengan suaminya dan suaminya juga yang menyuruh dia untuk pergi meninggalkan rumah. Mendengar cerita Vina, om Ridwan sangat tidak terima atas perlakuan Fadhil terhadap anaknya dan berniat untuk memberi peringatan kepada Fadhil malam itu juga. Tetapi Vina mencegahnya karena dia takut kesalahpahaman ini akan bertambah rumit. Vina meminta izin kepada orang tuanya agar diperbolehkan tinggal di rumah untuk sementara waktu.
              3 hari kemudian, tante Rifa pulang ke rumah setelah menginap di rumah saudaranya. Ketika sampai di rumah, beliau heran melihat tidak ada satupun orang di rumah. Ketika Fadhil baru pulang dinas…
              “Sayang, Vina ke mana? Kok sepi banget di rumah?”, tanya tante Rifa
              “Ngapain mama masih mempedulikan perempuan yang sudah menyakiti hati mama?”, tanya Fadhil.
              “Fadhil ngomong apa sih? Siapa yang bilang kalo Vina pernah menyakiti hati mama?”, tanya tante Rifa lagi.
              “Lho bukannya Vina ngomong macem-macem ke mama lewat surat itu?”, tanya Fadhil.
              “Maksud kamu surat yang di amplopnya ada tulisannya “UNTUK MAMA MERTUAKU” itu?”, tanya tante Rifa memastikan.
              “Ya iyalah, ma. Vina pasti ngomong yang enggak-enggak kan ke mama lewat surat itu?”, tanya Fadhil.
              “Enggak tu. Tulisannya sama sekali nggak ada yang menyakiti hati mama.”, jawab tante Rifa.
              “Kalo nggak ada yang menyakiti, lalu kenapa waktu itu mama nangis setelah baca suratnya?”, tanya Fadhil. Tante Rifa langsung ke kamar untuk mengambil surat itu dan memberikannya kepada Fadhil. Dengan rasa penasaran, Fadhil segera membaca surat itu
              “Ma, surat ini aku berikan kepada mama bukan untuk menyinggung perasaan mama atau apa. Tetapi surat ini aku berikan ke mama hanya sebagai bentuk curahan hatiku selama ini. Jujur sebelum aku menikah, aku selalu mendengar dari banyak orang bahwa mama mertua itu jahat, maunya menang sendiri, selalu menyalahkan menantunya, dan masih banyak lagi. Dan ucapan orang yang seperti itulah yang membuat sikapku sedikit dingin dan kaku kepada mama. Ma, maafkan sikapku yang seperti itu kepada mama. Tetapi seiring berjalannya waktu dan setelah aku cukup mengenal mama, aku bisa menyimpulkan bahwa tidak semua omongan orang itu benar. Ma, aku tau pasti aku jauh berbeda dengan kak Erika. Tetapi aku minta tolong kepada mama meskipun kami berbeda, tolong perlakukanlah kami secara sama. Terima kasih karena mama sudah menjadi mama penggantiku selama aku tinggal bersama kak Fadhil. Oh ya ma karena aku juga masih beberapa bulan tinggal di sini, tolong bantu aku beradaptasi di lingkungan baruku dan tolong ajari aku agar aku bisa menjadi istri yang baik. Aku harap mama bersedia untuk membantuku. Maaf ma jika surat ini terkesan lancang. Tapi hanya dengan cara seperti ini aku bisa menyampaikan isi hatiku kepada mama. Aku sayang mama. VINA.”, isi surat itu. Fadhil hanya bisa terdiam setelah membaca surat itu.
              “Mama terharu pas baca surat itu, dhil. Mama nggak nyangka aja di balik sikap Vina yang pendiam itu ternyata ada banyak hal yang ingin dia sampaikan ke mama.”, jelas mama.
              “Jadi aku sekarang harus gimana dong, ma?”, tanya Fadhil.
              “Ya kamu harus minta maaf ke Vina karena kamu udah marah dan diemin dia. Oh ya emang Vina sekarang di mana?”, tanya mama.
              “Kemarin aku suruh dia pergi, ma.”, jawab Fadhil tak bersemangat.
              “Ya Alloh Fadhil, kamu kok tega banget sama istri kamu sendiri.”, ucap tante Rifa kaget mendengar apa yang dikatakan oleh anaknya.
              “Ya maaf, ma. Kemarin Fadhil lagi emosi berat soalnya.”, jawab Fadhil lemas.
              “Ya udah besok kamu jemput dia ke rumah orang tuanya. Karena mama yakin Vina sekarang ada di sana.”, saran tante Rifa.
              “Iya ma.”, jawab Fadhil.
              Keesokan harinya, Fadhil langsung pergi ke rumah mertuanya untuk menjemput istrinya. Sesampainya di rumah mertuanya, bukannya mendapatkan perlakuan baik, Fadhil justru mendapatkan tamparan dari papa mertuanya karena Fadhil dinilai tidak bisa menepati janjinya untuk menjaga dan tidak menyakiti perasaan Vina. Ketika Fadhil berusaha untuk minta maaf dan menjelaskan bahwa itu hanyalah sebuah kesalahpahaman, om Ridwan sama sekali tidak mau mendengarnya. Bahkan beliau menyuruh Fadhil pulang dan mengingatkan agar tidak mengganggu Vina untuk sementara waktu. Akhirnya Fadhil pulang seorang diri.
               Sudah hampir 1 minggu Fadhil tidak mengetahui kabar istrinya. Ketika ingin menghubungi istrinya, ia selalu saja mengurungkan niatnya karena masih teringat pesan papa mertuanya agar tidak mengganggu Vina untuk sementara waktu. Tapi setelah berpikir berulang kali, maka ia beranikan diri pergi ke rumah mertuanya untuk menjemput istrinya tak peduli apapun itu konsekuensinya. Ketika sampai di rumah mertuanya, Fadhil tetap saja mendapatkan perlakuan yang sama dari papa mertuanya seperti yang ia alami beberapa hari lalu. Tapi karena Vina tau bahwa Fadhil datang, maka ia berusaha untuk meredam emosi papanya. Akhirnya om Ridwan mau menuruti apa kata Vina. Fadhil mulai menjelaskan kepada papa dan mama mertuanya tentang semua kesalahpahaman yang terjadi antara dirinya dengan Vina yang mengakibatkan ia bersikap kasar kepada Vina dan ia juga meminta maaf jika ia telah menyakiti hati Vina. Kedua orang tua Vina mulai mengerti duduk permasalahannya dan menerima permintaan maaf dari Fadhil. Fadhil merasa lega karena pemintaan maafnya telah diterima dengan baik oleh papa dan mama mertuanya. Dan kini om Ridwan dan tante Ana mengijinkan Vina untuk kembali tinggal bersamanya dengan syarat dia harus bisa menepatinya janjinya untuk menjaga dan tidak menyakiti perasaan istrinya. Fadhil pun menyanggupinya.
              Sesampainya di rumah…
              “Akhirnya Vina pulang juga.”, ucap tante Rifa sambil memeluk erat Vina. Vina kaget melihat sikap mama mertuanya.
              “Mama nggak marah sama aku kan karena aku nulis surat itu buat mama?”, tanya Vina ragu.
              “Ya enggak lah, sayang. Justru mama mau berterima kasih ke kamu karena kamu udah mau jujur ke mama. Mama sama sekali nggak ngebeda-bedain kamu dengan kak Erika. Bagi mama kalian berdua tu sama. Kalian berdua adalah menantu mama yang sangat mama sayangi. Jadi jangan pernah kamu merasa terdiskriminasi lagi seperti kemarin ya.”, pesan tante Rifa.
              “Iya ma. Vina juga sayang mama.”, jawab Vina sambil memeluk mama mertuanya. Fadhil hanya tersenyum melihat keakuran mama dan istrinya.
              Setelah semuanya sudah mulai membaik, Fadhil juga memberitahu kepada kak Noval dan kak Erika bahwa yang terjadi antara mama dan istrinya beberapa waktu lalu itu hanyalah sebuah kesalahpahaman. Mereka berdua akhirnya mengerti permasalahan yang sebenarnya dan memutuskan untuk meminta maaf kepada Vina karena telah menuduh Vina yang macam-macam. Vina pun dengan senang hati memaafkan mereka.
              “Sayang, maafin aku ya atas sikap kasarku ke kamu kemarin”, ucap Fadhil.
              “Ya udah lah lupain aja. Aku emang udah sewajarnya diperlakukan seperti itu kok.”, jawab Vina.
              “Sayang, jangan ngomong gitu dong. Aku makin merasa bersalah nih.”, kata Fadhil sambil cemberut.
              “Aku udah maafin kamu kok.”, jelas Vina.
              “Makasih ya, sayang.”, teriak Fadhil sambil mencubit pipi istrinya. Vina langsung membalas cubitan itu dengan cepat. Sepertinya kebiasaan mereka sudah kembali seperti dulu lagi. Vina sangat senang karena semua masalah sudah clear. Dia juga berharap semoga setelah masalah ini clear, hubungan dia dengan suami, mama mertua, papa mertua, kak Noval, kak Erika, dan keluarga besar suaminya bisa semakin membaik.

3 comments:

Unknown said...

ceritanya bagus sangat mengispirasi sekali.

Unknown said...

Ceritanya kurang simple terlalu panjang.... Jadi membuat bosan pembaca..

Unknown said...

Bagus, selamat melanjutkan tulisannya. Menulis adalah bekerja untuk keabadian (Pram)

Post a Comment

By :
Free Blog Templates