Wednesday, 15 June 2016

KADO TERINDAH

               Setiap malam setiap papa baru saja pulang dari kantor, Anin langsung menemui papanya dan memintanya agar bersedia untuk menemaninya belajar. Dengan tegas papa langsung menolak permintaan Anin dengan alasan beliau lelah dan ingin istirahat karena baru saja pulang dari kantor. Anin berusaha untuk memaklumi semua itu. Namun ketika papa pulang agak sore dan Anin meminta beliau untuk menemaninya belajar, beliau tetap saja menolaknya dengan alasan beliau masih ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Berulang kali permintaan Anin ditolak oleh papanya sehingga membuat Anin sedikit kecewa dan memilih untuk diam.
              Suatu hari ketika papa tidak sedang dinas...
              "Pa, kita main yuk.", ajak Anin.
              "Papa lagi sibuk, nin. Mendingan kamu ngajak mama aja deh.", tolak papa.
              "Tapi Anin maunya sama papa.", rengek Anin.
              "Papa kan udah bilang kalo papa lagi sibuk. Anin denger nggak sih.", bentak papa yang sempat membuat Anin kaget dan akhirnya dia memilih untuk meninggalkan papanya dengan perasaan kecewa.
              Suatu hari ketika setelah selesai makan malam, tanpa sengaja Anin menyenggol gelas yang ada di sampingnya dan secara otomatis gelas itu jatuh dan pecah. Melihat kejadian itu, papa langsung memarahi Anin habis-habisan hingga dia menangis semalaman. Selain sering memarahi Anin, papa juga sering menyindirnya jika apa yang dia lakukan tidak sesuai dengan keinginan papa. Hingga suatu ketika papa kedatangan teman sekantornya dan saat papa membawa minuman untuk disuguhkan kepada temannya itu, tanpa sengaja papa memecahkan gelas yang sedang dibawanya. Setelah memecahkan gelas, kemudian papa pergi ke dapur dan meminta mama untuk membuatkan minuman lagi untuk tamunya. Melihat kejadian tadi, Anin sempat teringat dengan kejadian yang dia alami beberapa waktu lalu.
              "Kenapa setiap aku melakukan sesuatu, papa selalu menganggap apa yang aku lakukan itu tidak pernah benar? Kenapa hanya karena aku mecahin satu gelas saja, papa ngomelin aku habis-habisan? Kenapa papa terkesan membesar-besarkan kesalahan sepele yang pernah aku lakukan? Kenapa papa seolah-olah tidak merasa bersalah setelah memecahkan gelas tadi? Dan kenapa papa selalu tidak ada waktu untuk menemaniku? Sampai kapan aku harus merasakan semua ini?", tanya Anin dalam hati. Tanpa ia sadari perlahan-lahan air matanya mulai membasahi pipinya yang lembut itu. Ketika dia sedang duduk termenung di teras belakang, tanpa sengaja mama memergokinya. Mama sempat kaget ketika melihat mata Anin yang agak sembab itu. Ketika mama memintanya untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, Anin hanya diam dan berusaha menyembunyikan apa yang sedang dia rasakan sebenarnya. Melihat sikap Anin yang dingin itu, mama memprediksi sepertinya suasana hati Anin sedang tidak bagus dan dia butuh seseorang yang bisa membuatnya nyaman dan mau bercerita tentang apa yang sedang dia rasakan. Karena Anin sepertinya tidak mau bercerita kepada mamanya sendiri, maka mama memutuskan untuk meminta om Fahmi yang tidak lain adalah adiknya mama sekaligus om kesayangannya Anin agar bersedia untuk menginap di rumahnya dalam beberapa hari dengan alasan Anin yang memintanya untuk datang ke rumah dan karena mama juga tau bahwa Anin lebih dekat dan terbuka kepada om Fahmi daripada papanya sendiri. Om Fahmi dengan senang hati menuruti permintaan Anin.
              Sore itu setelah pulang dari kantor, om Fahmi langsung menuju ke rumah kakaknya untuk menepati janjinya kemarin. Sesampainya di rumah...
              "Om Fahmiiiiiiii!!!!!!!!!!!!!!", teriak Anin histeris ketika melihat om kesayangannya itu datang ke rumahnya.
              "Eh kesayangannya om Fahmi baru bangun tidur ternyata. Anin apa kabar? Udah lama ya kita nggak ketemu.", tanya om Fahmi sambil memeluk Anin.
              "Anin baik, om. Om Fahmi nanti nginep sini kan? Om Fahmi bakalan lama kan di sini?", tanya Anin.
              "Kayaknya om nggak bisa lama deh, sayang. Soalnya kan om harus dinas juga.", jawab om Fahmi. Mendengar jawaban om Fahmi yang seperti itu, Anin terlihat sangat kecewa.
              "Emangnya kalo om lama di sini, Anin mau ngapain sih?", tanya om Fahmi penasaran.
              "Anin pingin dimanja sama om Fahmi. Anin pingin main dan bercanda sama om Fahmi. Ya pokoknya Anin pingin ngabisin waktu Anin sama om Fahmi. Anin kangen om Fahmi.", jawab Anin.
              "Anin kan bisa minta papa buat manjain Anin. Anin juga bisa main dan bercanda sama papa.", jelas om Fahmi. Tiba-tiba saja Anin berlari menuju kamarnya setelah mendengar penjelasan om Fahmi. Om Fahmi bingung dengan sikap Anin yang mendadak berubah seperti itu. Om Fahmi juga sempat berpikir apakah ucapannya tadi ada yang salah sehingga Anin meninggalkannya begitu saja. Setelah berpikir berulang kali, akhirnya om Fahmi memutuskan untuk menuruti permintaan Anin untuk menginap di rumahnya selama beberapa malam. Karena jujur saja dia sendiri juga kangen berat pada Anin dan ingin menghabiskan waktunya bersama Anin di tengah kesibukannya.
              Malam harinya...
              "Kak, Anin di mana?", tanya om Fahmi.
              "Jam-jam segini biasanya Anin masih di kamar, mi. Paling juga lagi ngerjain tugas. Bentar lagi keluar kok.", jawab mama. Dan benar saja tak selang beberapa lama, Anin pun keluar dari kamarnya.
              "Lho om Fahmi kok masih di sini sih? Katanya nggak bisa lama-lama di sini.", tanya Anin heran.
              "Siapa yang bilang kalo om Fahmi nggak bisa lama di sini? Orang om Fahmi mau nginep di sini selama beberapa hari kok.", jawab mama.
              "Tadi sore om Fahmi tu bilang ke aku kalo nggak bisa lama-lama di sini, ma. Beneran deh.", jelas Anin.
              "Anin pasti salah denger tadi. Soalnya tadi kan Anin baru bangun tidur juga. Jadi peluang untuk salah dengar itu besar, sayang.", jawab om Fahmi tersenyum. Melihat senyuman om Fahmi yang agak nakal itu, Anin baru menyadari bahwa om Fahmi sedang menjahilinya. Karena merasa terjahili, Anin berusaha menjelaskan kepada mamanya bahwa tadi sore dia tidak salah mendengar ucapan om Fahmi. Tapi lagi-lagi om Fahmi membantah penjelasan Anin dan tetap menganggap bahwa Anin salah mendengar ucapannya. Akhirnya terjadilah adu mulut antara mereka berdua. Karena mama tidak tau siapa yang benar dalam hal ini, maka beliau memutuskan untuk meninggalkan Anin dan om Fahmi yang sedang beradu mulut di ruang keluarga dengan alasan tidak sanggup mendengarkan pertengkaran mereka dan tidak tau harus membela siapa.
              Setelah mama pergi meninggalkan mereka berdua, Anin kembali bertanya kepada om Fahmi.
              "Om, sebenarnya ini yang benar yang mana sih? Om Fahmi nggak bisa lama-lama di sini atau om Fahmi malah mau nginep di sini selama beberapa hari?", tanya Anin penasaran.
              "Mmmmmmmm gimana ya? Menurut Anin mana yang bener?", tanya om Fahmi.
              "Ih mulai lagi deh. Tau ah jawab aja sendiri sana. Lagian Anin juga nggak pingin tau kok.", jawab Anin ketus sambil beranjak dari kursi.
              "Eits mau ke mana sih. Gitu aja kok ngambek.", ucap om Fahmi sambil menarik tangan Anin.
              "Abisnya om nggak mau ngaku. Ya mendingan Anin pergi aja. Lagian Anin tu butuh kepastian, om. Jadi tolong jangan bikin Anin bingung.", pinta Anin.
              "Aih masih kecil udah mulai minta kepastian. Kayak apaan aja. Lebay banget sih, dek.", canda om Fahmi.
              "Abisnya om Fahmi gitu sih.", jawab Anin ketus.
              "Oke oke om bakalan ngaku. Setelah om pikir-pikir lagi kayaknya lebih baik kalo om nginep di sini deh untuk beberapa hari. Karena sebenarnya om Fahmi juga kangen sama Anin.", jelas om Fahmi.
              "Beneran nih, om? Om Fahmi nggak lagi bercanda kan?", tanya Anin setengah tidak percaya.
              "Iya. Om nggak bercanda.", jawab om Fahmi singkat.
              "Makasih ya om udah mau nurutin permintaannya Anin.", ucap Anin sambil memeluk erat om Fahmi.
              "Iya sayang.", jawab om Fahmi singkat. Ketika mereka berdua sedang asyik bercanda, Anin sangat kaget ketika mendengar suara papa yang baru saja pulang dari kantor menyapa mereka dari belakang. Ketika papa menghampiri mereka berdua, tiba-tiba Anin langsung saja pergi menuju kamarnya tanpa banyak bicara. Papa agak heran dengan sikap Anin yang akhir-akhir ini terkesan aneh itu. Di saat papa merasakan ada yang aneh pada sikapnya Anin, Om Fahmi sama sekali tidak curiga dengan sikap Anin yang seperti itu. Dia hanya menganggap mungkin karena sekarang sudah malam dan Anin sudah mulai lelah ditambah lagi besok Anin juga masuk sekolah, maka dari itu Anin langsung pergi menuju kamar tanpa banyak bicara. Karena Anin pergi meninggalkannya, akhirnya tinggal om Fahmi dan papa saja yang terlihat sedang asyik di ruang keluarga sambil membicarakan pekerjaannya. Om Fahmi juga mengatakan kepada papa bahwa Anin memintanya untuk menginap di rumahnya selama beberapa hari. Papa hanya mengiyakannya.
              Pagi harinya...
              "Om Fahmi nggak pulang hari ini kan?", tanya Anin sedikit khawatir.
              "Enggak, dek. Kan om juga udah bilang kemarin kalo om bakalan nginep di sini selama beberapa hari.", jawab om Fahmi.
              "Beneran nih? Nggak bohong kan?", tanya Anin memastikan.
              "Beneran. Ya udah deh kalo adek nggak percaya, adek boleh sita handphone om.", jawab om Fahmi. Mendengar ucapan om Fahmi yang sangat meyakinkan itu, membuat Anin merasa lega. Karena jika om Fahmi malam ini masih tidur di rumahnya, itu artinya kebiasaan papa yang seringkali menyindir dan menyalahkannya akan sedikit berkurang. Dan karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah 7, Anin pun segera berangkat ke sekolah bersama mamanya karena kebetulan sekolah Anin dan sekolah di mana tempat mama mengajar itu satu arah. Dan tak selang beberapa lama, om Fahmi berangkat ke kantor bersama papa karena kebetulan mereka dinas di satu tempat yang sama yaitu di polres.
              Siang itu setelah pulang sekolah, lagi-lagi Anin bersikap tidak seperti biasanya. Biasanya setelah pulang sekolah, dia masih nongkrong dulu di kantin sekolah bersama 3 orang teman baiknya yaitu Widya, Bela, dan Nia hingga sore, namun kali ini dia seolah-olah ingin cepat sampai rumah. Sepertinya hari ini ada yang spesial di rumah yang membuat Anin ingin segera pulang. Oh ya sampai lupa di rumah kan ada kesayangannya Anin yaitu om Fahmi. Ya meskipun ketika Anin sampai di rumah, ternyata om Fahmi belum pulang dari kantor karena jam dinasnya nggak nentu, tetapi setidaknya dia sudah sampai di rumah duluan. Bagi Anin menunggu kepulangan om Fahmi itu bukanlah hal yang menyebalkan. Meskipun nanti om Fahmi bakalan pulang malam, itu tidak masalah bagi Anin. Yang terpenting bagi Anin adalah dia bisa bermain dan bercanda dengan om Fahmi karena dia tidak ingin melewatkan sedetikpun waktunya bersama om Fahmi. Ya maklum lah namanya juga om kesayangan.
              Ketika papa dan om Fahmi baru saja pulang dari kantor, Anin langsung berlari dan memeluk om Fahmi. Om Fahmi sempat heran dengan kelakuan Anin dan papa hanya tersenyum melihatnya kemudian meninggalkannya dan masuk ke rumah.
              "Dek, apa-apaan sih ini?", tanya om Fahmi.
              "Anin kangen om Fahmi.", jawab Anin sambil tetap memeluknya.
              "Iya om tau. Tapi lepasin dulu lah. Om capek banget, dek.", pinta om Fahmi. Setelah Anin melepaskan pelukannya, om Fahmi mengajaknya masuk ke rumah.
              "Kamu tu lucu ya, dek. Masa cuma om tinggal sebentar aja udah kangen banget kayak gitu.", ucap om Fahmi.
              "Sebentar dari Hongkong. Anin udah nunggu om berjam-jam tau.", jawab Anin.
              "Ya udah kalo gitu om Fahmi mandi dulu ya. Terus daripada adek ngelamun sambil nungguin om yang lagi mandi, mendingan adek belajar dulu gih. Entar kalo om udah selesai mandi dan adek juga udah selesai belajarnya, kita main bareng. Oke.", jelas om Fahmi. Anin pun hanya menuruti perintah om Fahmi kemudian dia langsung pergi ke kamarnya.
              Setelah om Fahmi selesai mandi dan makan malam, dia segera menemui Anin yang sedang belajar di kamar. Sesampainya di kamar Anin, om Fahmi heran karena dia tidak melihat Anin ada di kamar. Karena Anin tidak ada di kamar dan om Fahmi juga mengira bahwa Anin mungkin sudah tidur, maka dia putuskan untuk pergi dari kamar Anin dan menuju ke ruang keluarga untuk sekedar melepas lelah karena seharian bekerja. Sesampainya di ruang keluarga, om Fahmi kaget melihat Anin sudah duduk manis di situ.
              "Lho adek sejak kapan di sini?", tanya om Fahmi.
              "Baru aja, om.", jawab Anin singkat.
              "Om kira kamu udah tidur, dek. Abisnya pas om ke kamar kamu tadi, lampu kamar kamu juga udah mati. Oh ya sebenarnya kita mau ngapain sih, dek? Sampek-sampek kamu kelihatan semangat banget?", tanya om Fahmi heran.
              "Nggak ngapa-ngapain sih. Ya Anin cuma pingin ngabisin waktu Anin bersama om Fahmi aja. Entah itu mau cerita, main, bercanda, atau apalah itu namanya, intinya Anin nggak rela kalo Anin sampek kehilangan waktu Anin untuk bisa bersama om Fahmi.", jawab Anin polos.
              "Ha? Sampek segitunya ya?", tanya om Fahmi.
              "Iya.", jawab Anin singkat. Kemudian Anin mulai bercerita tentang kegiatannya selama di sekolah tadi mulai dari belajar di kelas, waktu istirahat, hingga ia merelakan waktu nongkrongnya bersama 3 teman baiknya agar bisa sampai rumah lebih awal dan bisa segera ketemu dengan om kesayangannya. Om Fahmi hanya bisa tertawa geli mendengar cerita Anin itu. Selain itu om Fahmi juga berbagi cerita ke Anin tentang kerjaannya hari ini yang bisa dibilang sangat melelahkan. Anin hanya mendengarkannya sambil senyum-seyum sendiri. Ketika om Fahmi selesai bercerita dan menyadari bahwa Anin sedang senyum-senyum sendiri, om Fahmi langsung memegang kening Anin untuk memastikan dia masih sehat.
              "Anin masih sehat kan?", tanya om Fahmi khawatir.
              "Ya sehat lah, om. Emangnya ada yang aneh ya sama sikapnya Anin?", tanya Anin.
              "Abisnya Anin dari tadi senyum-senyum sendiri sih. Om kan jadi takut kalo Anin kenapa-kenapa.", jawab om Fahmi.
              "Jadi om kira otak Anin agak ngehang gitu?", tanya Anin.
              "Om nggak bilang gitu lho ya. Anin sendiri yang bilang kalo otak Anin agak ngehang.", goda om Fahmi. Mendengar candaan om Fahmi, tanpa pikir panjang Anin langsung mencubit lengan om Fahmi karena dia merasa geregetan dan karena ketika berbicara dengan om Fahmi, dia merasa bahwa apa saja yang dia ucapkan diplesetkan oleh om Fahmi sehingga seolah-olah apa yang dia ucapkan itu tidak pernah benar. Tapi meskipun begitu, Anin selalu merasa terhibur dengan candaannya om Fahmi dan inilah yang membuat Anin selalu dan selalu merindukan om Fahmi. Karena menurut Anin, saat-saat seperti ini hanya bisa dia dapatkan ketika dia sedang bersama om Fahmi. Di tengah-tengah candaannya, tiba-tiba...
              "Oh iya dek, saran yang waktu itu om kasih ke kamu udah kamu coba apa belum?", tanya om Fahmi.
              "Saran yang mana?", tanya Anin.
              "Itu lho yang om pernah nyaranin adek buat minta uang saku langsung ke papa itu udah adek coba apa belum?", tanya om Fahmi.
              "Ah nggak perlu dicoba lah, om. Lagian papa juga nggak mungkin mau ngasih uang saku ke Anin. Palingan kalo Anin coba, yang ada bukan dapat uang saku tapi malah dapat omelan dari papa karena Anin minta yang macam-macam ke papa.", jawab Anin.
              "Gimana Anin bisa tau papa langsung marah kalo Anin minta uang saku ke papa? Orang Anin aja belum nyoba kok.", tanya om Fahmi.
              "Om tau sendiri kan papa tu suka banget marah-marah. Jadi mending Anin nggak usah nyobain saran om Fahmi. Daripada entar Anin kena marah lagi. Anin males, om.", jawab Anin.
              "Ya udah deh kalo gitu.", ucap om Fahmi. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Karena sudah malam dan besok Anin juga harus sekolah, maka om Fahmi menyuruh Anin untuk segera tidur agar besok tidak bangun telat. Anin hanya menurutinya.
              Pagi harinya setelah selesai mandi, mama menyuruh Anin untuk segera sarapan. Ketika sudah berada di ruang makan, bukannya segera sarapan, Anin malah memainkan nasi yang ada di piringnya itu. Melihat Anin yang tidak segera menghabiskan sarapannya, mama segera menghampirinya.
              "Nin, kok sarapannya nggak cepet dimakan sih? Entar keburu nggak enak lho.", ucap mama.
              "Ma, Anin boleh tanya sesuatu nggak?", tanya Anin.
              "Boleh. Emang mau tanya apa, nin?", tanya mama penasaran.
              "Ma, kenapa sih papa suka banget nyindir Anin pas Anin lagi melakukan sesuatu? Kenapa papa selalu menganggap semua yang Anin kerjakan itu salah? Kenapa papa nggak pernah merasa bersalah ketika apa yang papa lakukan itu salah? Kenapa sih papa selalu aja bersikap seperti itu, ma?", tanya Anin dengan suara parau.
              "Udahlah nin kamu nggak perlu heran kalo ngeliat sikap papa yang kayak gitu. Soalnya mama udah bertahun-tahun disepertiitukan oleh papa dan mama memilih untuk diam karena mama nggak mau berantem sama papa. Biarin aja papa bersikap kayak gitu.", jawab mama.
              "Kalo mama udah tau papa sering menyepertiitukan mama, kenapa mama diam aja? Kenapa mama nggak protes sih, ma? Apakah papa nggak sadar kalo apa yang papa lakukan selama ini tu udah nyakitin hati banyak orang? Apakah papa nggak mikir sampek ke situ sih, ma?", tanya Anin dengan perasaan tidak terima ketika tau papa sering menyakiti hati mama. Tanpa sengaja om Fahmi mendengar apa yang baru saja Anin ucapkan. Dia sangat kaget dan sama sekali tidak menyangka bahwa Anin bisa berbicara seperti itu tentang papanya. Dari situlah om Fahmi baru menyadari kenapa Anin ingin selalu bersamanya.
              "Udah ya dek hal ini nggak usah diperpanjang lagi. Mendingan adek buruan abisin sarapannya. Abis itu kita berangkat sekolah.", jawab mama yang berusaha mengalihkan pembicaraan. Anin pun menuruti perintah mamanya dan setelah sarapan, dia segera pergi ke sekolah bersama mama.
              Malam harinya ketika om Fahmi dan papa baru saja pulang kantor, om Fahmi langsung mengemasi barang-barangnya dan meminta ijin untuk pulang. Mengetahui bahwa om Fahmi akan pulang, Anin sempat tidak mengijinkannya karena dia masih ingin bersama om Fahmi. Tetapi setelah om Fahmi membujuk Anin dan berjanji kepadanya bahwa dia akan sering-sering main ke rumahnya, akhirnya Anin mengijinkan om Fahmi untuk pulang meskipun dengan berat hati. Setelah om Fahmi pergi, Anin hanya mengurung dirinya di kamar. Mama pun segera menyusul Anin ke kamar.
              "Udah dong sayang jangan nangis gitu. Kan om Fahmi tadi juga udah janji kalo om Fahmi akan sering-sering ke sini. Lagian kalo om Fahmi kelamaan di sini kan kasihan oma, sayang.", ucap mama yang berusaha menenangkan Anin.
              "Tapi Anin masih kangen sama om Fahmi, ma.", jawab Anin lirih.
              "Mama tau, sayang.", ucap mama singkat.
              "Ma, sebenarnya Anin tu pingin banget tinggal di rumah oma biar Anin bisa main sama om Fahmi. Tapi kalo papa tau soal ini, pasti papa nggak ngijinin Anin.", curhat Anin.
              "Ya udah gini aja deh kalo Anin bisa masuk 5 besar di semester ini, mama ijinin Anin untuk tinggal di rumah oma.", tantang mama.
              "Oke Anin pastikan Anin tetap masuk lima besar di semester ini. Tapi mama juga harus nepati janji ya.", ucap Anin.
              "Oke mama janji.", jawab mama meyakinkan Anin.
              Dan benar saja ketika ujian akhir semester selesai dan saat pembagian rapot tiba, Anin masuk 5 besar dan mendapatkan urutan kedua di kelasnya. Itu artinya dia boleh tinggal di rumah oma dan apapun alasannya, mama harus mengijinkannya karena itu adalah janji mama ketika Anin bilang bahwa dia ingin tinggal di rumah oma. Anin merasa senang karena keinginannya selama ini akhirnya terwujud. Setelah hampir seminggu Anin tinggal di rumah oma, mama dan papa juga memutuskan untuk menginap di rumah oma sekalian untuk mengunjungi oma dan memastikan bahwa Anin baik-baik saja di sana. Maklum lah mama belum terlalu tega melepaskan Anin untuk tinggal di rumah oma mengingat usia Anin juga masih menginjak 12 tahun. Tetapi karena oma selalu berusaha meyakinkan mama bahwa Anin akan baik-baik saja, maka kekhawatiran yang mama rasakan selama ini mulai sedikit berkurang.
              Malam itu ketika papa mengajak mama, Anin, oma, dan om Fahmi untuk makan di luar, tanpa sengaja papa menyindir Anin untuk kesekian kalinya. Papa menilai bahwa Anin terlalu berlebihan dalam berpakaian dan semacamnya. Hal ini membuat Anin merasa sangat sakit hati. Sesampainya di rumah, Anin sama sekali tidak mau berbicara apa-apa dan ketika mamanya bertanya, dia hanya diam lalu pergi menuju kamar. Mama hanya membiarkan Anin sendiri di kamar karena percuma juga jika ditanya macam-macam tapi ujung-ujungnya Anin tetap saja diam.
              Keesokan harinya, papa dan mama memutuskan untuk pulang lebih pagi dengan alasan tidak ingin kena macet di jalan karena papa juga harus berangkat ke kantor lebih awal. Ketika melihat papa dan mama pulang, tanpa banyak bicara dan tanpa pikir panjang, Anin langsung mengambil handphonenya dan mengirim sebuah pesan kepada papa melalui WhatsApp yang berisi gambar dengan tulisan "Jaga perkataan agar tidak menyakiti perasaan. Karena menyakiti itu mudah, namun untuk menyembuhkan luka butuh waktu yang lama. Seleraskan pikiran jernih dengan kebeningan qalbu.". Dan di bawah gambar itu, Anin juga menuliskan keterangan "Pa, maaf jika pesan dari Anin ini agak kasar. Anin tau tidak sepantasnya seorang anak mengirimkan pesan seperti ini kepada papanya. Tapi sekali lagi Anin minta maaf ke papa kalo Anin sudah mulai lancang ke papa. Anin hanya bingung harus seperti apa Anin mengingatkan papa agar papa tidak selalu menyindir orang lain. Dan setelah Anin pikir-pikir, hanya cara inilah yang bisa Anin lakukan untuk mengingatkan papa agar papa juga menyadari bahwa orang lain itu juga punya perasaan. Dan tanpa papa sadari, pasti di antara mereka ada yang sakit hati ketika papa menyindir mereka. Jadi Anin minta ke papa tolong papa hentikan kebiasaan papa yang suka menyindir dan mengomentari orang lain dengan perkataan yang macam-macam. Anin juga yakin kok papa pasti juga tidak terima jika setiap kali melakukan sesuatu, papa selalu disindir oleh orang lain. Sekali lagi Anin minta maaf ke papa jika ucapan Anin tidak berkenan di hati papa. Meskipun papa nggak mau maafin Anin, itu nggak masalah kok, pa. Intinya sebagai anak, Anin hanya ingin mengingatkan papa ketika papa melakukan kesalahan.".
              Sesampainya di rumah dan sebelum berangkat ke kantor, papa sempat mengecek handphonenya. Dan ketika membuka pesan yang ada di WhatsApp, papa kaget membaca pesan dari Anin yang berisi gambar yang ada tulisannya dan keterangan yang cukup banyak di bawah gambar tersebut. Melihat Anin mulai berani mengirim pesan seperti itu kepadanya, tanpa banyak bicara papa langsung menelponnya. Panggilan pertama, kedua, dan ketiga tidak dijawab oleh Anin. Dan ketika papa menelpon lagi, akhirnya Anin menjawab telpon itu.
              "Nin, kalo bicara sama orang tua jangan sembarangan gitu ya. Papa nggak suka.", ucap papa dengan emosi mengawali pembicaraan.
              "Anin kan udah minta maaf, pa. Lagian Anin cuma pingin ngingetin papa aja agar papa nggak sembarangan kalo ngomong sama banyak orang. Ya maaf kalo cara Anin buat ngingetin papa ternyata salah.", jelas Anin.
              "Nggak cuma salah, nin. Tapi salah besar. Papa kecewa sama kamu.", ucap papa.
              "Anin juga kecewa sama papa.", jawab Anin sambil mematikan telponnya. Setelah telpon itu mati, Anin hanya menangis ketika dia ingat bentakan papanya tadi. Anin sama sekali nggak menyangka papanya akan sekasar itu padanya. Tanpa Anin sadari, ternyata om Fahmi mendengarkan pertengkarannya dengan papa melalui telpon tadi. Tak selang beberapa lama, om Fahmi menghampirinya.
              "Dek, kita jalan-jalan yuk.", ajak om Fahmi yang berusaha untuk menenangkan Anin.
              "Udah deh. Om Fahmi nggak usah berusaha buat mengalihkan pembicaraan. Anin lagi sakit hati, om. Om Fahmi ngerti nggak sih?", bentak Anin.
              "Iya om ngerti itu, dek.", jawab om Fahmi.
              "Kalo om ngerti, tolong tinggalin Anin sendiri.", pinta Anin dengan suara parau. Om Fahmi pun memilih untuk meninggalkan Anin sendirian agar dia bisa menenangkan dirinya setelah bertengkar dengan papanya tadi. Om Fahmi segera berangkat ke kantor karena waktu hampir menunjukkan pukul 8. Dia juga berharap semoga setelah dia pulang dari kantor nanti, Anin sudah agak tenang dan tidak mengingat kejadian tadi lagi. Dan prediksi om Fahmi ternyata benar. Ketika dia pulang dari kantor, Anin sudah terlihat agak tenang dan mulai bersikap seperti biasanya. Melihat keadaan Anin yang sudah bersikap seperti biasanya membuat om Fahmi senang dan dia juga berniat untuk selalu mengalihkan perhatian Anin ke hal-hal lain yang bisa membuat Anin senang agar Anin tidak lagi mengingat kejadian itu.
              Setiap pagi Anin selalu berangkat ke sekolah bersama om Fahmi karena kebetulan sekolah Anin dan tempat dinasnya om Fahmi itu satu arah. Karena hampir setiap hari Anin selalu berangkat sekolah bersama om Fahmi, hal ini malah membuat Anin merasa bosan. Akhirnya Anin memilih berangkat sekolah dengan naik sepeda karena jarak antara rumah oma dan sekolahnya tidak terlalu jauh. Om Fahmi hanya mengiyakannya. Setiap hari Anin berangkat dan pulang hanya melewati jalur yang sudah biasa dia lewati dan lama-kelamaan Anin merasa bosan karena jalur yang dia lewati hanya itu-itu saja. Ya maklum lah Anin memang tipe anak yang mudah bosan. Pada suatu hari dia berinisiatif untuk pulang dengan melewati jalur yang berbeda dengan jalur yang dia lewati ketika berangkat tadi. Setelah cukup jauh Anin mengayuh sepedanya, dia baru menyadari bahwa jalur yang dia pilih itu nanti pada akhirnya akan menuju ke polres dan itu artinya jika dia sering lewat jalur ini, maka dia juga akan sering lewat di depan polres. Mengetahui hal itu, Anin merasa sangat senang dan memutuskan untuk selalu melewati jalur itu ketika pulang sekolah. Ya meskipun harus menempuh jarak yang agak jauh, tapi itu tidak masalah bagi Anin.
              Mulai saat itu, Anin meminta ijin kepada om Fahmi agar mengijinkannya untuk berangkat sekolah naik sepeda. Tanpa ada rasa curiga sedikitpun, akhirnya om Fahmi mengijinkannya. Tiap hari setelah pulang sekolah, Anin memilih untuk segera pulang dan meninggalkan kebiasaan nongkrongnya bersama 3 teman baiknya itu. Bukan berniat untuk melupakan teman baiknya, namun kini Anin lebih memilih untuk nongkrong sendirian di cafetaria yang terletak di depan polres sambil memperhatikan aktivitas polisi yang ada di kantor itu. Dan setelah hampir satu jam Anin nongkrong di cafetaria, dia memutuskan untuk pulang karena takut ditanya macam-macam oleh oma. Sepanjang perjalanan pulang hingga sampai di rumah, Anin hanya senyum-senyum sendiri dan ketika oma bertanya padanya, dia hanya menjawab pertanyaan itu dengan senyuman. Oma sempat heran dengan sikap Anin akhir-akhir ini.
              Pada suatu hari om Fahmi pulang lebih awal dengan alasan ada berkas penting yang tertinggal. Ketika dia akan kembali ke kantor, tanpa sengaja dia berpapasan dengan Anin di depan rumah. Dia heran melihat Anin yang akhir-akhir ini sering senyum-senyum sendiri. Dan ketika om Fahmi bertanya kepada oma sebenarnya apa yang terjadi pada Anin, oma pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Mereka berdua sepertinya semakin pusing melihat sikap Anin yang mulai aneh itu.
              Hari ini Anin sedang libur sekolah dan om Fahmi diberi tugas oleh pimpinannya untuk menjaga ketertiban di alun-alun karena hari ini ada sebuah acara yang diselenggarakan di alun-alun. Karena kebetulan Anin sedang libur sekolah, maka om Fahmi berniat untuk mengajak Anin untuk pergi ke alun-alun sambil menemaninya menjalankan tugas. Ketika sampai di alun-alun dan ketika melihat banyak sekali polisi yang ada di sana, tiba-tiba Anin berteriak histeris. Otomatis om Fahmi kaget dibuatnya.
              "Kamu kenapa, dek? Kok tiba-tiba berteriak histeris gitu?", tanya om Fahmi khawatir.
              "Nggak apa-apa kok, om. Anin cuma refleks aja tadi. Maaf ya kalo bikin om kaget.", jawab Anin tersenyum. Selama acara berlangsung, Anin hanya duduk sambil menemani om Fahmi yang sedang menjalankan tugasnya untuk berjaga. Dan pada saat itu juga, Anin merasakan pikirannya seolah-olah melayang ketika melihat banyak polisi yang ada di sekitarnya. Dia hanya tersenyum melihat polisi-polisi tersebut. Setelah acara itu dan tugas jaganya om Fahmi sudah selesai, dia mengajak Anin untuk pulang.
              "Dek, ayo pulang. Acaranya udah selesai.", ajak om Fahmi.
              "Yah bentar banget sih acaranya. Padahal Anin baru duduk di sini beberapa menit.", ucap Anin.
              "Sebentar dari Hongkong. Kita tu di sini udah hampir 3 jam, dek.", jelas om Fahmi.
              "Eh masa?", tanya Anin setengah tidak percaya.
              "Iya. Ya udah kalo gitu kita pulang yuk. Oh ya om masih ada kepentingan sebentar di kantor. Ikut om ke kantor yuk.", ajak om Fahmi.
              "Ayo. Anin mau banget.", jawab Anin girang. Om Fahmi hanya tersenyum kecut melihat sikap keponakannya itu. Sesampainya di kantor, om Fahmi meminta Anin untuk menunggunya. Anin hanya menurtinya. Setelah urusan om Fahmi di kantor selesai dan dia mengajak Anin untuk pulang, lagi-lagi Anin menggerutu seperti ketika acara di alun-alun sudah selesai tadi.
              "Bentar banget sih, om", gerutu Anin.
              "Ini tu udah hampir satu jam, dek. Lagian Anin mau ngapain lama-lama di polres? Anin mau bobok di sini ya?", tanya om Fahmi.
              "Ya enggak lah, om.", jawab Anin.
              "Kalo enggak, makanya ayo kita pulang sekarang. Lagian urusan om Fahmi juga udah kelar.", ajak om Fahmi.
              "Ya udah deh kalo gitu.", jawab Anin singkat. Setelah itu, mereka berdua pun pulang ke rumah.
              Sesampainya di rumah, Anin segera mandi dan mengerjakan tugasnya untuk besok. Setelah selesai belajar dan mengerjakan tugas, dia langsung menuju ke ruang makan untuk makan malam bersama oma dan om Fahmi. Selama berada di ruang makan, Anin menceritakan kegiatannya hari ini, mulai dari diajak om Fahmi bertugas untuk jaga di alun-alun sampai mampir ke polres karena ada urusan yang harus om Fahmi selesaikan. Anin menceritakan semua itu hingga berkali-kali dengan semangat. Oma dan om Fahmi hanya tersenyum mendengarnya. Setelah Anin pergi meninggalkan mereka berdua, oma mulai menceritakan sikap Anin yang terkesan aneh akhir-akhir ini.
              "Oh ya mi, mama akhir-akhir ini agak heran sama sikapnya Anin. Anin tu kalo pulang sekolah selalu telat dan tiap kali mama tanya, dia cuma senyum-senyum gitu.", jelas oma.
              "Fahmi juga heran sama sikap Anin hari ini, ma. Pas di alun-alun tadi, nggak tau kenapa tiba-tiba Anin tu berteriak histeris. Terus pas Fahmi ajak Anin pulang, dia bilang kalo dia ngerasa masih sebentar di situ. Terus pas Fahmi sempat mampir ke kantor sama dia, seolah-olah dia tu betah banget di kantor. Sampai-sampai dia nggak mau aku ajak pulang, ma.", curhat om Fahmi.
              "Mama tu sering banget pusing mikirin sikapnya Anin akhir-akhir ini. Gimana ya mi biar kita bisa tau sebenarnya apa yang sedang terjadi sama Anin akhir-akhir ini?", tanya oma bingung.
              "Aha Fahmi ada ide, ma.", jawab om Fahmi mengejutkan oma.
              "Gimana caranya?", tanya oma.
              "Tadi mama sempet bilang kan kalo selama ini Anin sering pulang telat?", tanya om Fahmi lagi.
              "Iya. Tapi gimana caranya biar kita bisa tau?", tanya oma.
              "Udah mama nggak usah penasaran gitu. Yang penting sekarang Fahmi udah tau caranya.", jawab om Fahmi.
              Malam itu tanpa sepengetahuan Anin dan oma, diam-diam om Fahmi memasang sebuah benda kecil berbentuk persegi panjang yang ternyata benda itu adalah GPS di sepeda yang biasa Anin gunakan untuk pergi ke sekolah. Om Fahmi memasang benda itu di bagian sepeda tertentu sehingga Anin tidak menyadari adanya benda itu di sepedanya. Memang sih GPS bukanlah alat yang bisa digunakan untuk membaca pikiran dan perasaan seseorang. Namun dengan terpasangnya GPS ini di sepeda Anin, setidaknya om Fahmi bisa memantau Anin melalui handphonenya sebenarnya ke mana saja Anin pergi setelah pulang sekolah hingga dia sering telat sampai di rumah.
              Hari pertama, kedua, dan ketiga setelah pemasangan, sepeda Anin masih dalam zona aman karena selama 3 hari ini setelah pulang sekolah, dia langsung pulang ke rumah. Ketika om Fahmi sedang sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba handphonenya berbunyi tanda ada pemberitahuan masuk dari GPS yang dipasang di sepeda Anin. Om Fahmi segera mengeceknya dan dia kaget ketika melihat sepeda Anin berada di cafetaria yang ada di depan polres. Karena sempat khawatir, maka om Fahmi langsung menelpon Anin.
              "Dek, kamu udah pulang kan?", tanya om Fahmi khawatir.
              "Udah. Emang kenapa, om?", tanya Anin.
              "Nggak apa-apa. Sepedanya ada sama kamu kan?", tanya om Fahmi lagi.
              "Iya. Nggak mungkin lah aku tinggalin sepedanya di sekolah.", jawab Anin.
              "Ya udah kalo gitu.", ucap om Fahmi sambil mematikan telpon.
              Om Fahmi merasa lega karena sepeda itu tidak berada di tangan orang lain. Dari kejadian ini dan dari sikap Anin yang akhir-akhir ini terkesan agak aneh, perlahan-lahan om Fahmi menyimpulkan bahwa yang membuat Anin sering pulang telat dan sering senyum-senyum sendiri itu karena dia sering nongkrong di cafetaria yang terletak di depan polres dan secara otomatis ketika dia nongkrong di situ, pasti dia juga memperhatikan aktivitas polisi-polisi yang ada di polres.
              Malam itu sekitar pukul setengah 10 tanpa sepengetahuan oma, Anin diam-diam menyalakan televisi yang ada di ruang keluarga dan menonton acara favoritnya yang ditayangkan di NET pada hari senin-jum'at pukul setengah 10 malam. Waktu itu om Fahmi kebetulan juga baru saja pulang dari kantor dan dia heran melihat Anin masih di depan televisi padahal sudah hampir pukul 10. Ketika om Fahmi bertanya kepadanya, lagi-lagi Anin hanya menjawabnya dengan senyuman lalu pergi ke kamar. Berkali-kali Anin melakukan hal seperti itu dan belum pernah sekalipun diketahui oleh oma. Dan malam ini ternyata keberuntungan tidak berpihak pada Anin. Ketika baru saja dia akan menyalakan televisi, tiba-tiba oma memergoki aksi nakalnya itu.
              "Anin, ini kan udah malam. Kok nggak buruan tidur sih? Besok kan kamu masuk sekolah.", ucap oma.
               "Bentar aja lah, oma. Anin pingin nonton acara kesukaan Anin. Cuma 30 menit aja kok.", jelas Anin.
              "Nggak boleh. Sekali nggak boleh tetap nggak boleh. Pokoknya kalo udah jam 9 malem, Anin harus udah tidur.", tegas oma.
              "Oma pelit. Bilang aja oma nggak ikhlas kalo Anin nonton televisi.", teriak Anin sambil berlari menuju kamar.
              "Itu nggak bener, nin. Dengerin penjelasan oma dulu.", ucap oma. Tapi sayangnya Anin sudah terlanjur masuk kamar duluan. Tak lama kemudian, om Fahmi datang.
              "Baru pulang, mi?", tanya oma.
              "Iya nih ma. Soalnya di kantor tadi ada urusan sedikit. Mama ngapain jam segini belum tidur?", tanya om Fahmi.
              "Tadi mama sempet mergokin Anin lagi nonton televisi. Pas mama suruh dia tidur, eh dianya malah ngambek.", jawab oma.
              "Sekarang Anin di mana?", tanya om Fahmi.
              "Dia langsung ke kamar deh tadi.", jawab oma. Tanpa banyak bicara, om Fahmi langsung menyusulnya ke kamar. Di kamar, om Fahmi melihat Anin sedang tidur sambil memeluk boneka. Kemudian om Fahmi memutuskan untuk mendekatinya.
              "Adek belum tidur ya?", tanya om Fahmi pelan.
              "Belum.", jawab Anin ketus.
              "Adek kenapa jawabnya ketus gitu?", tanya om Fahmi.
              "Anin lagi sebel sama oma.", jawab Anin.
              "Sebel kenapa?", tanya om Fahmi.
              "Abisnya oma nggak ngebolehin Anin buat nonton acara favoritnya Anin. Padahal cuma sebentar kok. Cuma 30 menit aja.", jawab Anin.
              "Emang acara favoritnya Anin tu apa sih?", tanya om Fahmi lagi.
           "Itu lho om 86 di NET, acaranya pihak kepolisian.", jawab Anin. Ups sepertinya saking sebelnya gara-gara disuruh tidur oleh oma tadi membuat Anin keceplosan saat menjawab pertanyaannya om Fahmi. Menyadari bahwa dia tadi sempat keceplosan, Anin langsung menyuruh om Fahmi untuk keluar dari kamarnya. Om Fahmi meninggalkan Anin sambil tersenyum karena dia merasa bahwa cara yang dia gunakan untuk mengetahui apa sebenarnya yang akhir-akhir ini selalu membuat Anin senyum-senyum sendiri itu mulai berhasil.
              Suatu hari Anin pulang sekolah lebih awal karena sekolah sedang mengadakan try out untuk kelas 3. Dalam try out kali ini, sekolah menerapkan peraturan bahwa try out dilaksanakan setelah jam istirahat pertama. Maka setelah jam istirahat pertama, Anin bisa langsung pulang. Ketika akan pulang, Anin berniat untuk tidak langsung pulang. Tetapi dia ingin nongkrong di cafetaria dulu sambil memperhatikan aktivitas orang-orang yang dia suka di polres karena kebetulan ini juga masih pagi. Ketika Anin sudah sampai di depan polres, dia tidak segera menyeberang melainkan dia malah berdiam diri di tepi jalan agar bisa memperhatikan orang-orang yang dia suka dari dekat. Ketika sedang serius memperhatikan mereka, tiba-tiba Anin berteriak histeris karena ada seseorang yang memegang lengannya dari belakang.
              "Saya bukan orang jahat, pak. Tolong jangan tangkap saya. Saya cuma pingin berhenti di sini sebentar kok, pak. Lagian di sini juga tidak ada rambu-rambu dilarang parkir dan berhenti. Jadi tolong lepaskan saya, pak.", teriak Anin histeris.
              "Hei kamu tu kenapa? Nggak diapa-apain kok udah teriak-teriak gitu.", tanya polisi itu.
              "Abisnya bapak ngagetin saya sih. Ya wajar dong kalo saya teriak histeris kayak tadi.", jawab Anin.
              "Ya udah kalo gitu ikut aku yuk.", ajak polisi itu.
              "Ke mana, pak?", tanya Anin.
              "Ke cafetaria di seberang jalan itu. Emang kamu mau panas-panasan di sini?", tanya polisi itu.
              "Ya enggak lah, pak.", jawab Anin.
              "Ya udah kalo gitu ayo ikut aku.", ajak polisi itu. Anin hanya menurutinya.
              Di cafetaria...
              "Pesenin aku minuman sekalian ya.", pinta polisi itu. Anin hanya mengangguk. Sambil menunggu minuman yang dipesan itu datang, Anin mulai berbincang-bincang dengan polisi yang bernama Andre itu dengan tanda 1 V di pundak kanan dan kirinya yang menunjukkan bahwa dia masih berpangkat bripda.
              "Oh ya btw nama kamu siapa? Dan sekarang udah kelas berapa?", tanya Andre.
              "Namaku Anin, pak. Aku masih kelas 1.", jawab Anin.
              "Tolong jangan panggil aku bapak. Usiaku masih 20 tahun.", pinta Andre.
              "Iya kak.", jawab Anin singkat. Setelah minuman yang dipesan tadi datang, mereka melanjutkan obrolan mereka.
              "Oh ya aku sering banget liat kamu nongkrong sendirian di cafetaria ini sambil sesekali memperhatikan aktivitas polisi-polisi yang ada di polres. Emang ada seseorang yang kamu cari ya?', tanya Andre.
              "Nggak kok. Aku cuma suka aja nongkrong di sini. Selain itu pada dasarnya aku emang suka sama polisi, kak.", jawab Anin polos.
              "Apa yang membuat kamu menyukai polisi? Apakah anggota keluargamu ada yang jadi polisi? Atau kamu pingin punya pacar polisi?", tanya Andre.
              "Ya papa sama omku adalah polisi. Tapi soal pingin punya pacar polisi atau enggak, Anin belum tau. Anin belum mikir sampek ke situ, kak.", jawab Anin. Pada waktu yang bersamaan pula, om Fahmi sedang mengecek pemberitahuan dari GPS yang dipasang di sepedanya Anin melalui handphonenya. Dan lagi-lagi GPS itu menunjukkan bahwa sepeda Anin sekarang sedang berada di cafetaria depan polres.
              "Lanjutin aja dek kelakuanmu itu. Om pastikan sebentar lagi semua kebohonganmu akan terbongkar.", batin om Fahmi sambil tersenyum. Kemudian om Fahmi langsung menelpon Anin dengan alasan ingin mengajaknya main. Setelah mendengar ajakan om Fahmi, tanpa pikir panjang Anin langsung pulang dan menyahut topinya yang tadi dia letakkan di atas meja kemudian memakainya.
              "Dek, topinya ketuker.", teriak Andre. Namun Anin tidak menghiraukannya karena Anin sudah cukup jauh meninggalkannya.
              Sesampainya di rumah...
              "Lho om Fahmi kok masih santai aja sih? Katanya mau ngajakin Anin main.", tanya Anin heran.
              "Siapa yang mau ngajakin kamu main. Orang om lagi pingin santai di rumah kok.", jawab om Fahmi.
              "Kenapa sih om Fahmi selalu bohongin Anin? Kalo tau gini mendingan Anin pulang entaran aja tadi.", ucap Anin ketus sambil pergi menuju kamar. Ketika oma melihat Anin baru pulang sekolah dan memakai topi polisi, beliau terlihat heran dan menanyakan sebenarnya apa yang terjadi pada Anin kepada om Fahmi.
              "Mi, sebenarnya Anin kenapa sih? Kok pulang-pulang mukanya sebel gitu? Terus dia kok bisa pakai topinya polisi itu gimana cerita?", tanya oma.
              "Biarin aja, ma. Oh ya mama mau ke mana?", tanya om Fahmi.
              "Mama mau beli gula. Gulanya abis.", jawab oma. Kemudian oma meninggalkan om Fahmi.
              Sesampainya di kamar, perasaan Anin masih saja kesal kepada om Fahmi karena om Fahmi sudah seringkali membohonginya. Kemudian ketika dia melepas topi yang dipakainya, dia terlihat sangat shock karena topi warna biru yang berlambang Tut wuri handayani yang tadi pagi dipakainya itu entah bagaimana ceritanya bisa berubah menjadi topi berwarna hitam dengan lambang Tri brata dan pastinya topi itu adalah milik polisi yang bernama Andre yang tadi sempat mengajaknya ngobrol di cafetaria. Anin juga baru menyadari apa yang sering dia lakukan selama ini akhirnya tertangkap basah oleh om Fahmi. Karena Anin bingung harus berbuat apa, akhirnya dia beranikan diri untuk menemui om Fahmi dan minta tolong kepadanya. Lagipula om Fahmi pasti  juga sudah mengetahui kebiasaannya selama ini. Begitu pikirnya.
              Anin melihat om Fahmi masih berada di ruang keluarga, dia memberanikan diri untuk menghampiri om Fahmi.
              "Om, adek boleh minta tolong nggak?", tanya Anin.
              "Minta tolong apa?", tanya om Fahmi.
              "Tolong anterin Anin.", jawab Anin.
              "Nggak ah. Om lagi pingin di rumah aja.", tolak om Fahmi.
              "Tolongin adek dong, om. Sekali ini aja.", pinta Anin.
              "Oke om akan tolongin adek. Emang adek minta dianterin ke mana?", tanya om Fahmi
              "Anterin adek ke polres.", bisik Anin lirih.
              "Apa? Ke polres? Mau ngapain, dek?", tanya om Fahmi.
              "Topi Anin ketuker sama topinya mas polisi tadi, om. Anin minta om buat nganterin Anin ke polres ya karena Anin mau ngambil topi Anin yang dibawa sama mas polisi tadi.", jawab Anin.
              "Nah sekarang ketahuan kan kalo Anin selama ini sering pulang telat tu karena Anin sering nongkrong berjam-jam di cafetaria.", ucap om Fahmi.
              "Oke karena Anin sekarang juga udah ketangkap basah, Anin ngaku kalo Anin memang sering nongkrong berjam-jam di cafetaria. Tapi tolong om Fahmi anterin Anin ke polres buat ngambil topi Anin. Anin janji Anin akan cerita semuanya ke om nanti.", jelas Anin. Om Fahmi hanya menuruti permintaan Anin untuk mengantarkannya ke polres.
              Sesampainya di polres, Anin segera mencari polisi yang bernama Andre yang tadi topinya tertukar dengannya. Ketika sudah bertemu dengannya dan meminta Andre untuk mengembalikan topinya, Anin malah digoda oleh Andre dan beberapa teman Andre yang kebetulan ada di situ.
              "Lain kali yang ditinggal jangan cuma topinya aja ya, dek. Handphone kamu yang ditinggal juga nggak apa-apa kok.", goda Andre.
              "Ih kakak apaan sih.", ucap Anin yang pipinya mulai memerah karena tidak tahan digoda oleh Andre dan teman-temannya. Setelah topinya dikembalikan, Anin segera pergi meninggalkannya. Ketika berada di dalam mobil, Anin menceritakan semua kejadian yang dialaminya selama di polres tadi kepada om Fahmi. Om Fahmi hanya tersenyum mendengarnya.
              Malam harinya setelah selesai belajar, Anin menghampiri om Fahmi yang sudah menunggunya di ruang keluarga karena tadi pagi Anin sudah janji bahwa nanti malam dia akan menceritakan semuanya kepada om Fahmi. Anin mulai bercerita alasan dia menyukai polisi itu karena bagi dia polisi itu keren, wow, dan masih banyak lagi. Om Fahmi hanya tertawa kecil mendengar pengakuan Anin yang selama ini ternyata menyukai profesi yang bernama polisi. Di tengah-tengah ceritanya, tiba-tiba...
              "Mungkin enak kali ya om semisal Anin bisa punya papa yang perhatian, selalu punya banyak waktu buat Anin, suka ngajakin Anin bercanda kayak om Fahmi.", ucap Anin sambil tiduran di pangkuan om Fahmi. Otomatis om Fahmi kaget mendengar ucapan Anin dan tanpa banyak bicara dia langsung menampar mulut Anin.
              "Om Fahmi apa-apaan sih? Kok nampar mulut Anin seenaknya gitu?", tanya Anin kaget sambil menahan rasa sakit akibat tamparan yang diberikan om Fahmi tadi.
              "Kamu tu yang apa-apaan. Adek nggak boleh ngomong kayak gitu. Om nggak suka. Senyebelin apapun sikap papa, beliau tetap papanya adek. Dan meskipun papa sering bersikap seperti itu ke adek, om yakin kalo papa tu sebenarnya sayang banget sama adek.", jelas om Fahmi.
              "Om Fahmi bisa ngomong gitu karena om Fahmi nggak pernah berada di posisiku. Om Fahmi juga bisa bilang kayak gitu karena om Fahmi nggak pernah merasakan apa yang selama ini aku rasakan. Kalo papa emang sayang sama Anin, kenapa papa selalu nyakitin hati Anin? Kenapa papa nggak pernah punya waktu buat Anin? Kenapa papa nggak pernah mau mikirin perasaan Anin? Kenapa papa maunya selalu menang sendiri? Kenapa om?", tanya Anin dengan suara parau. Sepertinya Anin mulai teringat kembali pada saat-saat di mana ketika papanya sering memperlakukannya seperti itu. Om Fahmi hanya bisa terdiam mendengarnya.
              "Maaf dek. Maafin om Fahmi kalo ucapan om tadi ternyata membuat adek teringat saat-saat yang selalu bikin adek merasa sakit hati. Maafin om Fahmi juga kalo tadi om Fahmi sempat bersikap kasar sama adek. Maafin om ya, sayang.", ucap om Fahmi sambil memeluk Anin. Anin hanya menangis di pelukan om Fahmi karena dia teringat kembali pada kejadian yang sudah susah payah untuk dia lupakan.
              "Sekali lagi om minta maaf ya, dek. Om janji nggak akan membahas masalah ini lagi.", ucap om Fahmi sambil menatap mata Anin. Anin hanya mengangguk mendengarnya.
              3 hari lagi Anin akan merayakan ulang tahunnya yang ke 13. Anin berharap di ulang tahunnya yang ke 13 ini, dia selalu diberi kesehatan dan kemudahan dalam mencari ilmu. Dia juga berharap semoga dia mendapat hadiah spesial dari papanya. Namun tiba-tiba harapannya itu pupus setelah dia menyadari bahwa hubungannya dengan papa sedang tidak harmonis dan papa juga nggak mungkin memberikan hadiah spesial di hari ulang tahunnya. Melihat Anin sedang melamun, tiba-tiba om Fahmi mengagetkannya.
              "Hayo lagi ngelamunin apa?", tanya om Fahmi.
              "Nggak ngelamunin apa-apa kok, om.", jawab Anin.
              "Kayaknya udah agak siang nih, dek. Mending kita berangkat yuk. Daripada entar telat.", ajak om Fahmi. Anin hanya mengangguk lalu mengambil tasnya yang masih ada di kamar. Kemudian mereka berduapun berangkat. Sesampainya di sekolah, Anin segera masuk karena gerbang sekolah sebantar lagi akan ditutup. Dan setelah mengantar Anin ke sekolah, om Fahmi segera menuju ke polres.
              Ketika sedang sibuk mengerjakan tugasnya, om Fahmi melihat papanya Anin seperti orang yang sedang ada tekanan karena memikirkan sesuatu. Karena penasaran, om Fahmi lalu menghampirinya.
              "Ada apa, kak? Kok kayaknya lagi mikirin sesuatu gitu?", tanya om Fahmi.
              "Iya nih, mi. Kakak lagi bingung mikirin sikapnya Anin yang tiba-tiba berubah gitu ke kakak. Kakak bingung kakak tu harus bersikap kayak gimana ke Anin biar dia juga nggak bersikap kayak gitu lagi ke kakak. Apalagi 3 hari lagi Anin ulang tahun. Kakak makin bingung harus kayak gimana, mi.", curhat papa. Tanpa papa sadari, perlahan-lahan air matanya mulai jatuh dan membasahi pipinya. Melihat papa yang tiba-tiba meneteskan air mata, om Fahmi terlihat sangat kaget. Bagaimana tidak seorang wakapolres yang selama ini disegani dan ditakuti bawahannya karena terkenal dengan sifat tegasnya itu ternyata bisa menangis hanya karena pusing memikirkan sikap anaknya yang tiba-tiba berubah kepadanya. Karena tidak sampai hati melihat kakak iparnya terus-terusan meneteskan air mata, om Fahmi berusaha sebisa mungkin untuk menenangkannya.
              "Gini lho, kak. Sebenarnya Anin tu nggak berubah. Hanya saja dia tu mengalami semacam kecemburuan. Kecemburuan yang Fahmi maksud di sini adalah kecemburuannya pada teman-temannya ketika dia melihat teman-temannya bisa bermain dan bercanda dengan papanya. Menurut pemahaman Fahmi, Anin tu pingin banget papanya bisa punya waktu untuk bersamanya meskipun sebentar.", jelas om Fahmi. Papa hanya diam sambil mendengarkannya.
              "Oh ya Anin pernah minta sesuatu yang macam-macam gitu nggak ke kakak? Minta handphone baru, laptop baru, atau semacamnya gitu?", tanya om Fahmi.
              "Enggak sih, mi. Anin tu paling sering ngajakin kakak buat main kalo kakak lagi di rumah.", jawab papa.
              "Kakak tau nggak sebenarnya Anin pinginnya main ke mana?", tanya om Fahmi.
              "Nggak. Lagian Anin juga nggak pernah bilang ke kakak pingin main ke mana.", jawab papa.
              "Sebenarnya Anin tu cuma pingin main ke polres, kak. Ya entah itu cuma sekedar main, nemenin papanya yang lagi tugas, atau yang lain, intinya dia tu cuma pingin main ke polres. Dia nggak tertarik sama tempat-tempat yang lain. Orang selama ini Anin seneng banget nongkrong di cafetaria yang ada di depan polres itu. Anin juga pernah curhat ke aku kalo dia suka banget sama yang namanya polisi.", jawab om Fahmi.
              "Masa sih?", tanya papa.
              "Iya. Oh ya kak, ada satu hal lagi yang pingin aku kasih tau ke kakak. Sebenarnya Anin tu termasuk tipe anak yang jika papanya memberikan sesuatu kepadanya, dia ingin melihat papanya sendiri yang memberikan sesuatu itu kepadanya secara langsung. Tidak lewat tangan orang lain.", jelas om Fahmi.
              "Oh gitu ya, mi. Kakak baru sadar soal itu.", jawab papa.
              Om Fahmi sempat menyarankan papa untuk memberikan hadiah ulang tahunnya Anin kepada Anin sendiri secara langsung karena ini juga merupakan kesempatan bagus. Papa menyetujuinya. Mengingat Anin selama ini tidak pernah minta sesuatu yang macam-macam dan kebetulan tempat kesukaan Anin adalah polres, om Fahmi menyarankan kepada papa agar merayakan ulang tahun Anin di polres. Awalnya papa tidak yakin jika pak kapolres akan menyetujui hal ini. Namun setelah mereka berdua memberi tau pak kapolres tentang hal ini dan mengkonfirmasinya, akhirnya pak kapolres menyetujuinya.
              Tepat di hari ulang tahunnya, Anin mendapatkan banyak ucapan selamat. Mulai dari mama, om Fahmi, oma, dan teman-temannya. Anin sempat kecewa ketika papa tidak memberikan ucapan apa-apa kepadanya. Namun Anin berusaha untuk tidak terlalu mempedulikan itu mengingat hubungannya dengan papa belum juga membaik. Ketika berangkat sekolah, om Fahmi heran ketika Anin mengenakan baju olahraga.
              "Lho Anin kok pake baju olahraga sih.", tanya om Fahmi.
              "Iya. Kebetulan hari ini jam olahraganya Anin diganti ke jam pertama dan jam kedua.", jawab Anin.
              "Jangan sampek kecapekan ya. Kalo ngerasa udah nggak kuat, bilang ke gurunya.", pesan om Fahmi. Anin hanya menuruti pesan om Fahmi.
              Ketika jam pertama dimulai, Anin langsung menemui pak Krisna selaku guru olahraganya agar diberi ijin untuk mengikuti olahraga. Awalnya pak Krisna menolak permintaan Anin karena hari ini olahraganya lari jarak jauh dan diambil nilai. Selain itu pak Krisna juga menyadari bahwa Anin sering pingsan jika mengikuti olahraga lari. Namun karena Anin merengek, akhirnya pak Krisna mengijinkannya dengan syarat dia boleh istirahat jika dia merasa sudah tidak kuat. Anin merasa senang karena pak Krisna mengijinkannya.
              Ketika olahraga lari jarak jauh itu selesai dan Anin mendapatkan urutan ke 4 dari belakang, akhirnya pak Krisna mengijinkan siswanya untuk istirahat. Ketika membeli minuman di kantin, tiba-tiba saja Anin pingsan. Teman-temannya langsung berteriak histeris dan memanggil pak Krisna. Melihat ada siswanya yang pingsan, pak Krisna langsung membopongnya ke ruang UKS agar Anin bisa istirahat di sana. Pak Krisna juga meminta agar Widya, Bela, dan Nia menunggu Anin di UKS hingga dia sadar. Setengah jam kemudian, akhirnya Anin pun sadar.
              "Alhamdulillah kamu udah sadar, nin.", ucap Bela.
              "Aku di mana?", tanya Anin.
              "Kamu di UKS. Lain kali kalo waktunya lari, kamu nggak usah ikut. Daripada harus kayak gini.", jawab Widya sambil memberikan air minum kepada Anin.
              "Aku cuma nggak enak sama anak sekelas kalo aku sering nggak ikut olahraga.", jelas Anin.
              "Aku ngerti, nin. Tapi anak sekelas pasti juga udah ngerti keadaan kamu gimana.", sambung Nia. Anin hanya terdiam. Tak selang beberapa lama, tiba-tiba ada 4 orang polisi datang menghampirinya dan tiba-tiba saja polisi itu menangkap dan memborgol tangan Anin.
              "Saya salah apa, pak? Kok tiba-tiba bapak nangkap saya?", tanya Anin.
              "Udah kamu ikut aja. Nggak usah banyak tanya.", jawab polisi itu dengan galaknya.
              "Nggak bisa gitu dong, pak. Kalo bapak nangkap orang tu harus jelas alasannya.", jelas Widya.
              "Ini perintah, dek. Jadi tolong adek jangan halangi kami untuk menjalankan tugas kami.", jawab polisi itu.
              "Perintah sih perintah. Tapi bapak nggak boleh seenaknya gitu dong.", ucap Nia. Sayangnya polisi itu tidak mendengarkan apa yang diucapkan teman-teman Anin dan tetap membawa Anin pergi. Anin yang awalnya berusaha untuk memberontak akhirnya memilih untuk menuruti apa kata polisi itu.
              "Pak, jangan bawa Anin.", teriak Bela. Sayangnya polisi itu sudah meninggalkan mereka bertiga. Sepeninggalan Anin dan 4 polisi itu, Widya, Bela, dan Nia baru menyadari bahwa tas Anin masih tertinggal di kelas. Mereka sempat bingung memikirkan tas itu. Mereka bingung bagaimana cara mengembalikan tas itu karena tidak ada satupun dari mereka yang rumahnya searah dengan rumah omanya Anin. Mereka juga tidak akan tega melihat tas milik Anin itu tergeletak di kelas hingga besok pagi. Akhirnya dengan sukarela, Widya menawarkan diri untuk mengembalikan tas Anin. Bela dan Nia menyetujuinya.
              Selama di dalam mobil, Anin hanya menangis ketakutan karena polisi-polisi itu menangkapnya tanpa alasan yang jelas. Karena Anin menangis terus-menerus, tiba-tiba polisi yang sedang menyetir mobil itu membentaknya.
              "Udah nggak usah nangis gitu. Cengeng banget jadi cewek.", bentak polisi itu.
              "Saya sebenarnya salah apa sih, pak? Kenapa bapak nangkap saya tanpa alasan yang jelas kayak gini?", tanya Anin.
              "Dek, mendingan entar dijelasin di kantor aja ya. Soalnya kita cuma menjalankan tugas. Jadi tolong pengertiannya adek.", jawab salah satu polisi itu dengan pelan. Akhirnya Anin bisa diam.
              Sesampainya di polres, polisi itu tetap memegang tangan Anin dengan sangat erat. Kemudian Anin dibawa ke sebuah ruangan yang sangat gelap. Anin semakin takut sebenarnya dia akan diapakan. Namun tak selang beberapa lama, tiba-tiba lampu ruangan itu nyala dan Anin kaget ketika melihat ada puluhan polisi di ruangan itu, termasuk papa yang membawa kue ulang tahunnya dan om Fahmi.
              "Selamat ulang tahun, Anin.", ucap semua polisi yang ada di ruangan itu. Perasaan Anin bercampur aduk antara kaget, bahagia, dan yang lainnya. Karena dia tidak pernah menyangka bahwa ulang tahunnya yang ke 13 itu dirayakan di tempat favoritnya, yaitu di polres. Kemudian ada beberapa polisi yang menyemprotkan kertas warna-warni yang telah dipotong kecil-kecil itu ke dalam ruangan itu. Hal ini semakin membuat Anin  merasa terharu dan tidak sanggup menahan air mata bahagia.
              "Selamat ulang tahun ya, sayang. Maaf hanya ini yang bisa papa berikan ke kamu. Papa berharap semoga kamu semakin pinter dan semakin segala-galanya pokoknya.", ucap papa.
              "Makasih ya pa karena papa udah ngasih kejutan yang selama ini nggak pernah terpikirkan oleh Anin.", ucap Anin sambil memeluk papa. Om Fahmi hanya tersenyum karena bisa melihat Anin dan papanya bisa seakur itu. Ketika selesai meniup lilin dan memotong kue, tiba-tiba...
              "Maafin papa ya, nin. Maafin papa kalo selama ini papa selalu menyakiti hati kamu. Maafin papa jika selama ini papa terkesan selalu pingin menang sendiri. Maafin papa jika papa nggak pernah punya waktu buat kamu. Maafin papa juga kalo papa sering nyakitin hati mama dan orang lain. Papa janji papa akan minta maaf ke mama dan semua orang yang selama ini hatinya sudah tersakiti oleh ucapan papa. Papa janji papa nggak akan ngulangin hal itu lagi. Papa juga janji papa akan berusaha agar selalu bisa menemani Anin bercanda dan bermain di tengah kesibukan papa. Sekali lagi papa minta maaf ya, sayang. Dan papa juga mau ngucapin terima kasih ke Anin karena waktu itu Anin udah ngingetin papa. Mungkin kalo nggak Anin ingetin, papa nggak akan sadar atas semua kesalahan yang pernah papa perbuat. Sekali lagi makasih ya, sayang.", ucap papa sambil bersimpuh di hadapan Anin sambil berurai air mata. Anin kaget melihat papa bersimpuh di hadapannya dan dia langsung meminta papanya untuk berdiri.
              "Iya pa. Anin udah maafin papa kok. Anin juga minta maaf kalo waktu itu Anin sempat lancang kepada papa. Anin cuma pingin ngingetin papa aja waktu itu. Maaf kalo papa tersinggung dengan ucapan Anin.", jelas Anin.
              "Papa nggak tersinggung kok. Papa waktu itu cuma kaget aja kok tiba-tiba Anin ngirim pesan kayak gini ke papa. Dan setelah papa pikir-pikir lagi, pesan Anin emang ada benernya. Sekali lagi makasih ya sayang udah ngingetin papa.", ucap papa sambil memeluk erat Anin.
              "Iya pa. Sama-sama.", jawab Anin. Semua polisi di ruangan itu tampak terharu dan tidak sedikit yang meneteskan air mata melihat prosesi pengakuran antara wakapolres dengan anaknya tersebut. Setelah prosesi pengakuran itu selesai, mereka langsung meminta Anin untuk membagi-bagikan kue ulang tahunnya yang tadi sudah dipotong-potong. Papa juga sempat meminta temannya untuk memfotokan dirinya, Anin, dan om Fahmi sebagai tanda sekaligus bukti bahwa dia telah akur kembali dengan anaknya. Anin merasa sangat senang karena di ulang tahunnya yang ke 13 ini dia bisa merayakannya bersama dengan papa, om Fahmi, dan orang-orang yang selama ini dia kagumi di tempat favoritnya. Sebuah kado ulang tahun terindah sepanjang sejarah bagi Anin.
              Setelah acara itu selesai, Anin diantar pulang oleh om Fahmi. Namun Anin menolaknya dengan alasan dia masih ingin di polres sambil menunggu om Fahmi selesai mengerjakan tugasnya. Ketika hari sudah hampir malam dan pekerjaannya juga sudah selesai, om Fahmi mengajak Anin untuk pulang. Sesampainya di rumah...
              "Ya ampun tas Anin masih ketinggalan di sekolah. Gimana nih, om?", ucap Anin panik.
              "Ya udah mendingan adek duduk dulu. Jangan panik gitu. Pasti tasnya adek udah dibawa sama temennya adek. Percaya deh sama om.", jawab om Fahmi sambil menenangkan Anin. Dan benar saja tak selang beberapa lama Widya pun datang.
              "Eh kamu wid. Ada apa, wid? Tumben malem-malem gini ke sini?", tanya Anin.
              "Ini nih aku mau ngembaliin tas kamu. Nggak tega juga kalo ditinggal di sekolah sampai besok pagi.", jawab Widya.
              "Makasih banyak ya, wid.", ucap Anin.
              Melihat ada temannya Anin yang datang ke rumah untuk mengembalikan tiba-tiba om Fahmi mengagetkannya.
              "Tuh bener kan apa kata om. Kalo tasnya adek tu pasti udah dibawa sama temennya adek.", ucap om Fahmi.
              "Iya om.", ucap Anin dan Widya bersamaan. Kemudian Widya sempat menceritakan kejadian tadi pagi di sekolah. Widya juga terlihat agak kesal ketika bercerita tentang polisi yang tiba-tiba menangkap Anin tanpa alasan yang jelas itu. Om Fahmi hanya tersenyum mendengarnya. Kemudian om Fahmi menjelaskan kepada Widya bahwa itu hanya sandiwara agar Anin bisa dibawa ke polres untuk merayakan ulang tahunnya di sana. Widya merasa lega setelah tau bahwa Anin tidak terjerat masalah yang membuatnya berurusan dengan polisi. Setelah cukup lama bercerita, akhirnya Widya ijin untuk pamit pulang.
              Beberapa hari kemudian, Anin memutuskan untuk pulang ke rumah karena hubungannya dengan papa sudah membaik. Om Fahmi dan oma pun mengijinkannya. Dan semenjak hubungannya dengan Anin sudah membaik, kini papa sering mengupload fotonya bersama Anin di akun facebooknya yang sempat off beberapa bulan itu. Di foto yang diupload itu, papa menandai akun facebooknya Anin dan memberi keterangan "Bahagia itu ketika aku bisa akur kembali dengan anak kesayanganku". Tak sampai satu jam, foto itu mendapatkan ratusan like dan komentar. Ketika sedang membuka facebook, tanpa sengaja om Fahmi melihat foto itu dan langsung mengomentarinya.
              "Cie Anin udah akur lagi nih sama papa.", komentar om Fahmi. Melihat komentar dari om Fahmi itu, Anin merasa agak risih dan meminta papa agar tidak sering-sering mengupload fotonya berdua.
              "Pa, please Anin minta ke papa agar papa jangan sering-sering ngulpoad foto kita berdua di facebook. Anin nggak nyaman pa lihat komentar dari om Fahmi.", pinta Anin.
              "Biarin aja kenapa sih, sayang. Lagian om Fahmi kalo komentar cuma gitu-gitu aja kan.", jawab papa. Anin hanya tersenyum kecut melihat papanya yang kini sikapnya kayak anak baru gede.
              Beberapa bulan kemudian, om Fahmi merayakan ulang tahunnya yang ke 27. Di hari ulang tahun om kesayangannya itu, Anin ingin memberikan sesuatu yang spesial kepada om Fahmi. Pagi itu ketika akan berangkat sekolah...
              "Pa, anterin Anin buat mampir sebentar ke rumah oma.", pinta Anin.
              "Mau ngapain, nin?", tanya papa.
              "Udah papa nggak perlu tau soal ini. Pokoknya papa harus mau nganterin Anin.", paksa Anin. Papa hanya menurutinya. Sesampainya di rumah oma, Anin segera turun dan masuk ke rumah untuk memastikan bahwa om Fahmi sudah berangkat ke kantor. Setelah semuanya aman, Anin segera masuk ke kamar om Fahmi dan meletakkan kotak yang dibawanya dari rumah itu di meja kamarnya om Fahmi. Kemudian Anin langsung keluar dari rumah kemudian masuk ke mobil dan meminta papanya untuk segera mengantarkannya ke sekolah.
              Malam itu setelah pulang dari kantor, om Fahmi heran melihat ada kotak yang berukuran agak besar yang terbungkus kertas kado di meja kamarnya itu. Karena penasaran, dia langsung membukanya. Dan ternyata isi kotak itu adalah bola-bola biskuit yang dicampur dengan susu cair yang tersusun rapi membentuk tulisan happy birthday dan tanda senyum di sebelah tulisan itu. Ketika mencari tau siapa pengirim kotak itu, tiba-tiba ada selembar kertas yang jatuh dari bungkusan kertas kado itu. Lalu om Fahmi membacanya.
              "Selamat ulang tahun, Ipda Fahmi. Selamat ulang tahun, om kesayanganku. Maaf jika kado yang Anin berikan ini terkesan norak dan kampungan. Tapi yang bisa Anin berikan di hari spesialnya om Fahmi hanya ini. Anin berharap di ulang tahun om Fahmi yang ke 27 ini, om Fahmi selalu diberi kesehatan dan kelancaran dalam menjalankan tugas. Semoga om Fahmi cepet dapat jodoh dan nikah. Anin ucapkan banyak terima kasih karena om Fahmi sudah membuat Anin dan papa akur kembali. Terima kasih karena sudah menjadi teman baik Anin selama ini. Terima kasih atas perhatian dan kasih sayang yang om Fahmi berikan kepada Anin. Jadi polisi yang baik ya, om. Anin do'akan semoga suatu saat nanti om Fahmi bisa menjadi seorang kapolri seperti impian om selama ini. Sehat selalu ya, om. Anin sayang sama om Fahmi. (Anindya Yodha).", isi surat itu. Om Fahmi hanya tersenyum membaca surat itu. Dia tidak menyangka bahwa Anin bisa sekreatif ini.
              Malam minggu setelah pulang dari kantor, om Fahmi memutuskan untuk menginap di rumah kakaknya. Ketika dia melihat Anin sedang asyik nonton televisi sendirian, tiba-tiba...
              "Anin yakin nih nggak bakalan galau kalo om Fahmi nikah beneran?", bisik om Fahmi. Otomatis Anin kaget dan langsung menoleh ke arahnya.
              "Maksud om Fahmi gimana?", tanya Anin bingung.
              "Bukannya di surat itu Anin nulis semoga om Fahmi cepet dapat jodoh dan nikah?", tanya om Fahmi.
              "Emang sih, om.", jawab Anin.
              "Terus Anin sekarang udah siap apa kalo om Fahmi nikah dan ninggalin Anin?", tanya om Fahmi.
              "Sebenarnya belum sih. Emang om Fahmi udah punya rencana buat nikah ya?", tanya Anin.
              "Rencana sih pasti ada. Tapi dapet jodoh dan nikahnya kapan, om Fahmi nggak tau. Lagian om Fahmi sekarang masih pingin merhatiin Anin. Om Fahmi sekarang masih pingin memberikan kasih sayang om ke Anin aja. Belum untuk yang lain.", jawab om Fahmi sambil menatap Anin. Anin hanya bisa terdiam mendengarkan pengakuan om Fahmi.
              "Makasih banyak ya om karena om udah sayang sama Anin.", ucap Anin sambil memeluk om Fahmi.
              "Iya. Sama-sama, sayang.", jawab om Fahmi.
              Anin berharap semoga hubungannya dengan papa bisa semakin membaik. Dan Anin juga selalu berdo'a semoga suatu saat nanti om Fahmi bisa mendapatkan jodoh dan menikah dengan perempuan baik yang tentunya bisa menyayangi om Fahmi dengan setulus hati.
              "Makasih ya om atas kebaikan yang telah om Fahmi berikan kepada Anin. Anin janji Anin akan selalu mengingat kebaikan om Fahmi dan menyayangi om Fahmi sampai kapanpun.", ucap Anin dalam hati.

0 comments:

Post a Comment

By :
Free Blog Templates