Friday, 16 September 2016
Ujian akhir semester genap akhirnya
selesai. Kini saatnya Faiza menikmati libur akhir semester genapnya itu yang
kurang lebih lamanya 2 bulan. Ketika teman-teman satu kostnya menikmati dan
menghabiskan libur panjang mereka di rumah masing-masing, Faiza lebih memilih
untuk tetap stay di rumah neneknya
karena satu minggu lagi sudah lebaran. Alasan lain yang membuat Faiza memilih
untuk tetap stay di rumah neneknya
yaitu karena keluarga besarnya termasuk keluarganya selalu berkumpul di rumah nenek saat
lebaran tiba.
Lebaran yang penuh dengan canda, tawa, dan cerita itu akhirnya usai. Kini waktunya Faiza untuk ikut pulang bersama kedua orang tuanya ke rumah. Karena sudah 1 tahun dia sama sekali tidak pulang ke rumah. Namun ketika dia ingin pulang, tiba-tiba nenek melarangnya untuk pulang karena 2 kakak sepupunya akan menikah pada waktu yang hampir bersamaan. Nenek memintanya untuk mengundur kepulangannya karena jika Faiza tetap stay di rumah nenek, dia bisa membantu tantenya untuk mempersiapkan acara pernikahan kakak sepupunya.
Lebaran yang penuh dengan canda, tawa, dan cerita itu akhirnya usai. Kini waktunya Faiza untuk ikut pulang bersama kedua orang tuanya ke rumah. Karena sudah 1 tahun dia sama sekali tidak pulang ke rumah. Namun ketika dia ingin pulang, tiba-tiba nenek melarangnya untuk pulang karena 2 kakak sepupunya akan menikah pada waktu yang hampir bersamaan. Nenek memintanya untuk mengundur kepulangannya karena jika Faiza tetap stay di rumah nenek, dia bisa membantu tantenya untuk mempersiapkan acara pernikahan kakak sepupunya.
Setelah acara pernikahan kedua
kakak sepupunya itu selesai, akhirnya Faiza bisa pulang. Selama di rumah, Faiza
hanya menghabiskan waktunya bersama kakaknya karena kebetulan saat ini kakaknya
juga masih dalam masa libur kuliah. Malam harinya ketika Faiza sedang asyik
ngobrol bersama mama, tiba-tiba...
"Entar kalo kak Reza udah
masuk kuliah lagi, kamu ikut mama ke sekolah ya, za.", ucap mama.
"Ke sekolah? Mau ngapain,
ma?", tanya Faiza heran.
"Ya latihan ngajar lah. Kan
tahun depan kamu udah praktek ngajar. Jadi nggak ada salahnya kan kalo kamu latihan
ngajar mulai sekarang. Ya itung-itung buat ngisi liburan kamu.", jawab
mama. Tanpa sengaja kak Reza mendengar itu semua.
"Sukurin disuruh ngajar anak
kecil.", ledek kak Reza.
"Hih apaan sih.", jawab Faiza
sinis.
Hari terus berganti dan Faiza
semakin merasa takut dengan ajakan mama waktu itu. Dia selalu berdo'a, berdo'a,
dan berdo'a semoga kakaknya tidak segera masuk kuliah. Namun semua itu tidak
ada gunanya karena yang namanya waktu itu cepat atau lambat pasti akan berlalu.
Tepat pada tanggal 15 Agustus, kak Reza harus segera kembali ke Malang karena
mendapat pemberitahuan yang cukup mendadak tentang seminar yang akan
dilaksanakan di kampusnya dan karena kak Reza termasuk panitia dalam seminar
itu, maka dia harus segera kembali untuk mengerjakan makalah yang akan
diseminarkan. Malam harinya, Faiza meminta kepada mamanya agar jadwalnya untuk
latihan mengajar di sekolah itu diundur setelah libur tanggal 17 Agustus dan
mama pun menyetujuinya.
2 hari telah berlalu. Jadwal Faiza
untuk latihan mengajar di SD tempat mamanya selama ini mengajar akhirnya tiba.
Karena sudah tidak ada alasan lagi, akhirnya mau tidak mau Faiza harus mau
menuruti permintaan mamanya waktu itu. Sejak perjalanan dari rumah hingga sekolah,
yang ada di hati Faiza hanyalah perasaan takut, canggung, nervous, dan masih banyak lagi. Ya maklumlah selama ini dia tidak
pernah berdiri di hadapan anak SD secara langsung.
Setibanya di sekolah, mama
mengajak Faiza untuk pergi ke kelas 3 karena kebetulan sekarang adalah jadwal
mama untuk mengajar di kelas 3. Faiza hanya menuruti ajakan mamanya. Ketika
masuk di kelas 3, Faiza menatap seluruh siswa yang ada di kelas itu dengan
tatapan yang kosong. Dia bingung harus bersikap seperti apa di depan anak sebanyak
itu.
"Anak-anak, kenalkan ini anak
ibu. Namanya mbak Faiza. Dia akan latihan ngajar di sini karena sekarang dia
sedang libur kuliah.", jelas bu Farah, mama Faiza kepada anak-anak.
"Mbaknya kuliah di mana,
bu?", tanya salah satu anak di kelas itu.
"Nanti kalian kenalan sendiri
aja ya sama mbak Faiza. Sekarang waktunya mengerjakan buku latihan. Tolong buku
latihannya halaman 14 dibuka.", pinta bu Farah.
Kemudian bu Farah menjelaskan
kepada anak-anak cara mengerjakan soal yang ada di halaman 14 itu karena
kebetulan soal di halaman 14 itu bukan soal pilihan ganda atau isian. Setelah
menjelaskan kepada anak-anak dan mereka juga mengerti cara mengerjakannya,
kemudian bu Farah meninggalkan kelas. Faiza semakin takut ketika melihat
mamanya akan meninggalkan dia sendirian di kelas itu.
"Mau ke mana, ma?",
tanya Faiza lirih.
"Mama mau keluar sebentar
sama bu Evi. Sekalian ngambil uang di bank.", jawab mama
"Oh ya anak-anak, kalo udah
selesai ngerjakan, nanti dimintakan nilai ke mbak Faiza ya. Ibu mau keluar
sebentar.", jelas bu Farah.
"Iya bu.", jawab
anak-anak serempak.
Setelah semua anak selesai
mengerjakan dan dia juga sudah selesai memberi nilai kepada anak-anak, kemudian
Faiza meminta mereka untuk mengerjakan soal selanjutnya. Anak-anak sempat menertawakan
Faiza karena dia berbicara dengan suara yang agak gelagapan. Faiza hanya bisa
diam sambil menahan rasa malu mendengar ucapan anak-anak. Sambil mengerjakan
soal, anak-anak mengajak Faiza untuk berkenalan. Mulai dari kuliah, lama libur
kuliah, hingga soal cinta pun mereka tanyakan kepada Faiza. Faiza menjawab
semua itu dengan santai dan mengatakan kepada anak-anak bahwa dia belum punya
pacar. Namun mereka sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru saja Faiza
katakan. Faiza hanya tersenyum melihat ketidakpercayaan mereka.
Jam pelajaran telah usai. Kini
waktunya semua siswa untuk pulang. Hari ini adalah hari yang sangat berkesan
bagi Faiza. Dia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa berinteraksi dengan
anak SD itu ternyata sangat menyenangkan. Dia baru percaya bahwa ketakutannya
ketika berhadapan dengan anak-anak, mulai dari diam seribu bahasa hingga
pingsan di depan mereka itu ternyata tidak terbukti. Dia juga berharap semoga
besok bisa lebih menyenangkan lagi.
Keesokan harinya, Faiza terlihat
sangat semangat untuk pergi ke sekolah. Sesampainya di sekolah, mama mengajak
Faiza untuk pergi ke kelas 2 karena selain jadi guru agama, bu Farah juga
merangkap menjadi guru kelas 2 bersama guru olahraga karena guru kelas 2 yang
asli sedang sakit. Di kelas 2, mama juga memperkenalkan Faiza kepada siswa
kelas 2 sama seperti kemarin ketika mama memperkenalkan Faiza kepada siswa
kelas 3. Ketika berada di depan semua siswa, pandangan Faiza langsung tertuju
pada 2 orang siswa dan siswi yang duduk tepat di depan meja guru. Entah kenapa
Faiza merasa senang ketika memandang 2 anak itu. Mungkin karena mereka berdua
cantik dan ganteng kali ya. Ketika mamanya selesai memberi tugas kepada
anak-anak, kemudian beliau meninggalkan Faiza di kelas. Mama juga berpesan
kepada Faiza untuk melakukan pengabsenan agar dia bisa pelan-pelan mengenal
mereka dan tau siapa yang masuk dan yang tidak masuk. Ketika melakukan
pengabsenan, Faiza baru tau bahwa siswi cantik yang duduk tepat di depan meja
guru itu bernama Ameliya Putri Mentari dan siswa ganteng di sebelah siswi
cantik itu bernama Ladyfa Hafid Al Farezy.
Semenjak perkenalannya dengan
Ameliya, semangat Faiza semakin bertambah ketika hari mulai menjelang pagi
karena itu artinya dia bisa segera pergi ke sekolah dan bertemu dengan Amel
lagi. Suatu hari ketika akan berangkat ke sekolah, Faiza sempat diledek oleh
papa.
"Bu guru mau berangkat ke
sekolah ya?", ledek papa.
"Ih papa apaan sih. Aku nggak
ngajar tau.", jawab Faiza.
"Kalo nggak ngajar, terus
kamu ngapain di sekolah?", tanya papa.
"Aku cuma main di sekolah
lamaku.", jawab Faiza.
"Ya jangan cuma main lah, fa.
Kan kamu udah janji ke mama kalo kamu bakalan belajar ngajar di tempatnya
mama.", ucap papa.
"Ya enggak lah, pa. Lagian
aku tu main sama anak-anak kalo udah waktunya istirahat.", jelas Faiza.
"Bagus lah kalo gitu. Ya udah
buruan berangkat sana. Mama udah nungguin kamu tuh.", saran papa. Kemudian
Faiza segera berangkat ke sekolah bersama mamanya.
Sesampainya di sekolah, mama
menyuruh Faiza untuk pergi ke kelas 2 karena sekarang adalah jadwal PAI untuk
kelas 2. Faiza sangat senang mendengarnya karena itu artinya dia bisa bertemu
dengan Amel lagi. Selama di dalam kelas, Faiza hanya senyum-senyum sendiri
ketika Amel menanyakan materi yang belum dia pahami kepadanya. Dan saat
istirahat tiba, Faiza sempat meminta Amel agar dia bersedia untuk berfoto
bertiga bersama dia dan Hafid, teman sebangkunya. Namun sayangnya Amel tidak
terlalu menggubris permintaan Faiza karena saat itu dia sedang asyik bercanda
bersama teman-temannya.
Keesokan harinya Faiza ingin
cepat-cepat pergi ke sekolah karena dia ingin menjelaskan ulang kepada Amel
tentang permintaannya yang kemarin. Setelah sampai di sekolah dan masuk di
kelas 2, Faiza heran karena tidak melihat tas Amel berada di bangkunya. Kemudian
dia putuskan untuk bertanya kepada Alya, teman Amel.
"Amel ke mana? Kok tasnya
nggak ada sih?", tanya Faiza heran.
"Mbak Amel lagi sakit, mbak.
Itu suratnya udah aku taruh di meja kok.", jawab Alya.
"Oh ya udah kalo gitu.
Makasih banyak ya.", ucap Faiza.
Setelah mengetahui bahwa Amel
sakit, Faiza terlihat sangat kecewa dan dia memutuskan untuk duduk sebentar di
teras depan kelas 2. Ketika dia sedang melamun, tiba-tiba bu Iin, guru kelas 3
mengagetkannya kemudian mengajaknya untuk membungkusi sayuran yang tadi pagi
sudah dikumpulkan oleh anak-anak yang nantinya akan disetorkan ke kecamatan
karena nanti sore ada bazar. Faiza hanya menurutinya.
Setelah selesai membantu membungkusi
sayuran, Faiza menulis sepucuk surat untuk Amel dan setelah selesai menulis
surat itu, kemudian dia pergi ke kelas 2 yang kebetulan sudah sepi dan
menyelipkan surat itu di meja Amel. Selama perjalanan pulang, dia hanya
berpikir mungkinkah Amel tau bahwa kertas yang diselipkan di mejanya itu adalah
surat darinya dan mungkinkah Amel akan meresponnya. Faiza merasa yakin bahwa
Amel akan membaca surat itu dan meresponnya karena dia tau bahwa Amel sudah
kelas 2 dan pastinya juga sudah bisa membaca. Namun di sisi lain Faiza juga
merasa tidak yakin bahwa anak seumuran Amel akan merespon surat kaleng yang
dikirimnya itu.
Hari ini hari minggu. Faiza sedih
karena tidak bisa bertemu dengan anak-anak. Sepertinya dia sudah mulai merasa
nyaman berada di sekolah tempat mamanya mengajar. Seharian ini dia secara
diam-diam juga memperlihatkan sikapnya yang merasa tidak betah di rumah itu
dengan cara mondar-mandir dari ruang tamu ke dapur, beralasan ingin keluar
rumah, dan lain sebagainya. Hampir seharian Faiza bersikap aneh seperti itu.
Keesokan harinya sebelum berangkat
ke sekolah, Faiza berharap semoga hari ini Amel masuk sekolah dan membaca surat
kaleng darinya itu. Sesampainya di sekolah, upacara bendera ternyata sudah
dimulai. Ketika Faiza mengikuti upacara bendera, dia memilih untuk berdiri di
belakang barisan yang ada di depan kelas 2 karena dia juga ingin melihat apakah
surat itu masih ada di meja Amel atau tidak. Ketika dia sempat mengintip ruang
kelas 2, dia melihat bahwa surat itu sudah tidak ada di meja Amel. Dia yakin
bahwa Amel sudah membaca surat itu. Namun setelah berpikir ulang, dia jadi ragu. Jangan-jangan surat itu malah dibuang oleh anak-anak yang piket hari ini.
Setelah upacara selesai, mama
menyuruh Faiza pergi ke kelas 2 untuk menemani mereka belajar. Dan ketika di
kelas, Faiza heran melihat sikap Amel yang tiba-tiba berubah menjadi ramah
kepadanya.
"Mbak Faiza yang ngirim surat
tadi ya?", tanya Amel sambil tersenyum.
"Bukan. Mungkin mbak Faiza
kelas 3 kali yang ngirim.", elak Faiza.
"Tulisannya mbak Faiza kelas
3 nggak mungkin sebagus itu, mbak. Udah deh mbak ngaku aja kalo mbak Faiza yang
ngirim surat itu.", pinta Amel.
"Oke aku ngaku. Emang aku
yang ngirim surat itu tadi.", jawab Faiza.
"Ternyata mbak Faiza cuma
sayang sama Amel. Aku baru sadar.", ucap Alya kepada teman-temannya.
"Nggak gitu. Aku tu cuma
pingin foto bareng aja sama Amel dan Hafid.", jelas Faiza.
Ketika pelajaran PPKn selesai dan
waktu istirahat telah tiba, Faiza mencegah Amel dan Hafid untuk istirahat
karena dia ingin foto bersama mereka berdua. Setelah mereka selesai berfoto,
Faiza mengijinkan Amel dan Hafid untuk istirahat. Ketika Amel kembali ke kelas
dan Faiza juga masih berada di kelas 2, dia mengajak siswi yang berada di kelas
itu untuk berkumpul kemudian memberi tahu mereka tentang sesuatu.
"Dek, mbak besok senin udah
nggak bisa nemenin kalian belajar lagi. Soalnya besok senin mbak udah mulai
masuk kuliah.", jelas Faiza mengawali pembicaraan.
"Yah mbak Faiza kok gitu
sih.", gerutu Revi.
"Mendingan mbak nggak usah
kuliah aja biar bisa ngajar di sini.", sambung Amel.
"Ya nggak bisa gitu dong.
Kalo mbak nggak ngelanjutin kuliah, mbak malah nggak bisa jadi guru
entar.", jawab Faiza.
"Ya udah nggak apa-apa deh
mbak balik kuliah lagi. Asal entar kalo udah lulus, mbak harus balik lagi ke
sini ya.", pinta Amel.
"Pinginnya sih gitu. Soalnya
bu Farah pernah bilang ke mbak kalo nanti mbak udah lulus, mbak disuruh ngajar
di sini. Ya kalian do'akan aja ya semoga mbak nanti bisa kembali lagi ke sini
dan ngajar kalian lagi.", ucap Faiza.
"Oke mbak.", ucap mereka
serempak.
Setelah pelajaran hari ini selesai
dan sebelum pulang, Faiza langsung mengupload
foto itu di akun facebooknya dan
menuliskan caption, "Bersama si cantik, Ameliya Putri
Mentari dan si ganteng, Ladyfa Hafid Al Farezy. Jadi murid yang pinter ya,
sayang. Aku sayang kalian.". Selain mengupload foto mereka di akun facebooknya,
Faiza juga menjadikan foto itu sebagai wallpaper
handphonenya dan foto profil di semua akun miliknya. Ketika dia baru saja
pulang dari sekolah dan mengecek handphonenya,
dia melihat kakak sepupunya mengomentari foto yang dia upload tadi.
"Ngajar di mana, bu
guru?", komen kakak sepupunya itu.
"Di SD tempat mamaku ngajar.
Sebenarnya aku nggak ngajar sih. Cuma nemenin mereka belajar aja.", jawab
Faiza. Dan tak lama kemudian, Faiza melihat ada komentar yang agak aneh dari
akun milik Satria, teman dekatnya.
"Ya ampun bu guru cantik
banget. Aku jadi pingin balik ke SD lagi nih, bu. Biar bisa diajar dan diajak
foto sama bu guru cantik.", puji Satria.
"Satria, kamu apa-apaan sih.
Aku tu nggak ngajar. Aku cuma nemenin mereka belajar aja. Lagian kamu komennya
lebay banget sih.", balas Faiza.
"Abisnya bu gurunya cantik
sih.", jelas Satria.
"Terserah kamu lah mau
ngomong apa. Emang dasar kamu lebay. Aku makin sebel sama sikapmu yang makin
hari makin lebay itu.", balas Faiza. Satria hanya tersenyum membacanya.
Hari ini adalah jadwal olahraga
untuk kelas 2. Karena kelas 2 jadwalnya olahraga, maka Faiza memilih untuk
menghabiskan waktunya di kantor. Ketika melihat Faiza sedang santai dan
kebetulan bu Evi, guru kelas 1 juga belum datang, mama memintanya pergi ke
kelas 1 untuk menemani mereka belajar hingga bu Evi datang. Ketika akan menuju
ke kelas 1, Faiza melihat Amel berada di depan kelasnya dan memeluknya dengan
sangat erat. Faiza segera melepaskan pelukan itu karena dia sudah disuruh oleh
mamanya untuk pergi ke kelas 1. Beberapa menit setelah Faiza berada di kelas 1,
tiba-tiba ada temannya Amel yang memberitahu kepada Faiza bahwa Amel tiba-tiba
pergi tanpa mereka ketahui ke mana perginya. Mendengar pengakuan dari salah
satu teman Amel itu, Faiza meminta mereka untuk segera mencari Amel hingga
ketemu. Setelah mereka keliling sekolah, mereka menemukan Amel sedang duduk
termenung di belakang perpustakaan dalam keadaan menangis. Kemudian mereka
mengajak Amel kembali ke kelas karena guru olahraga hingga saat ini belum
datang juga. Faiza merasa lega ketika melihat Amel sudah berada di kelas dan
dia segera menghampirinya. Ketika dia masuk ke kelas 2, dia semakin bingung
karena melihat hampir semua siswi di kelas itu menangis di bangkunya
masing-masing, tak terkecuali Amel. Tanpa banyak bicara, dia langsung
menghampiri Amel. Namun belum sempat Faiza bicara apa-apa, dia sudah diomeli
oleh anak sekelas.
"Mbak Faiza udah nggak sayang
sama kelas 2. Mbak Faiza lebih milih buat ngajar kelas 1. Ya udah kalo gitu
mendingan mbak Faiza pergi ke kelas 1 aja sana. Nggak usah ngajar kelas 2
lagi.", ucap Revi, siswi kelas 2. Namun Faiza tidak menggubrisnya karena
dia masih ingin bertanya sesuatu kepada Amel.
"Mel, kenapa kok diam terus
sih? Mbak punya salah ya sama kamu?", tanya Faiza. Namun Amel tetap diam
saja.
"Amel, dengerin aku. Sekarang
kan waktunya kamu olahraga. Guru olahraganya kan juga udah ada. Jadi nggak
mungkin dong kalo mbak yang ngajar kalian olahraga. Dan satu lagi, mbak tu sama
sekali nggak ada niat untuk nunggu kelas 1. Tadi tu ceritanya kan bu Evi belum
datang. Terus mbak disuruh sama bu Farah buat nunggu kelas 1 biar nggak ribut
sendiri. Itu aja kok. Nggak lebih. Tolong kamu ngerti ya.", jelas Faiza.
Tiba-tiba Amel langsung memeluknya dengan erat sambil menangis.
"Mbak minta maaf ya kalo mbak
punya salah sama kamu.", ucap Faiza yang tidak sanggup menahan air mata.
Setelah berpelukan cukup lama, Faiza melepaskan pelukan Amel.
"Udah jangan nangis lagi
ya.", pinta Faiza sambil mengusap air mata di pipi Amel. Amel hanya
mengangguk mendengarnya. Faiza sama sekali nggak pernah menyangka jika Amel
bisa secemburu itu dan dia juga tidak menyangka jika kejadian di sekolah hari
ini akan sedramatis itu.
Hari ini, besok, dan lusa adalah
jadwal Faiza untuk mengisi kartu rencana studinya secara online. Pagi hari sekitar jam 8, Faiza mencoba untuk mengakses siakadnya
dan sekalian mencoba untuk mengisi kartu rencana studinya untuk semester ini.
Sudah beberapa kali di mencoba untuk membuka siakad, namun hasilnya tetap error. Mungkin karena terlalu banyak
mahasiswa yang mengakses, jadi siakadnya agak sulit untuk dibuka. Ketika masih
mencoba untuk mengakses siakadnya, ada teman Faiza yang bilang bahwa ada salah
satu mata kuliah yang tidak bisa dicentang. Faiza juga nggak percaya soal itu
karena siakadnya belum bisa dibuka. Beberapa jam kemudian, akhirnya Faiza bisa
membuka siakadnya dan mengisi kartu rencana studinya. Dan benar saja ketika dia
sedang mengisi kartu rencana studi, ada salah satu mata kuliah yang tidak bisa dicentang.
Hal ini membuat Faiza menggerutu sejak pulang dari sekolah hingga sampai rumah.
Di rumah pun dia tetap saja menggerutu sampai malam hanya karena ada satu mata
kuliah yang tidak bisa dicentang itu. Mama hanya bisa menyuruh Faiza untuk
sabar menunggu besok pagi. Siapa tau besok sudah bisa dicentang. Karena saking
sebelnya, dia menuliskan sebuah status di WhatsAppnya
yang berbunyi "kenapa sih hari ini
keberuntungan sama sekali tidak berpihak padaku?". Tanpa sengaja
Satria membaca status itu.
"Kamu kenapa sih? Kok di
status kayaknya lagi sebel gitu?", tanya Satria lewat telpon WhatsApp.
"Gimana
nggak sebel coba. Hari ini, besok, dan lusa itu jadwalku nyusun kartu rencana
studi. Mana ada satu mata kuliah yang nggak bisa dicentang lagi. Kan jadi sebel.",
keluh Faiza.
"Ya udah coba kamu diskusikan
sama temen sekelasmu dulu lah.", saran Satria.
"Udah. Tapi mereka malah
ribut sendiri.", keluh Faiza.
"Ya terus kamu sekarang mau
gimana?", tanya Satria.
"Nggak tau, sat. Aku masih
bingung.", jawab Faiza.
"Ya udah daripada kamu
bingung, mendingan kamu istirahat dulu aja. Siapa tau besok mata kuliahnya udah
bisa dicentang.", jelas Satria.
"Ya udah kalo gitu aku
istirahat dulu ya.", ucap Faiza.
"Oke.", jawab Satria
sambil mematikan telpon.
Keesokan harinya, Faiza mencoba
membuka lagi siakadnya dengan harapan salah satu mata kuliah yang kemarin tidak
bisa dicentang itu hari ini sudah bisa dicentang. Namun sayangnya harapannya
itu tidak sesuai kenyataan. Karena rasa kesalnya sudah semakin memuncak, maka
dia putuskan pergi ke kampus untuk menanyakan masalah jadwal ini ke akademik.
"Ma, daripada aku ngomel
mulu, mendingan aku ke kampus aja kali ya. Sekalian nanyain jadwal masuknya itu
lho. Soalnya kemarin ada yang bilang kalo masuknya diundur seminggu.",
jelas Faiza.
"Tapi kamu beneran berani ke
sana sendiri?", tanya mama.
"Ya daripada aku ngomel mulu
nggak ada kepastian, mending aku langsung ke kampus aja.", jawab Faiza.
"Ya udah kalo itu pilihan
kamu. Tapi entar dari terminal ke kampus, kamu juga naik bis?", tanya
mama.
"Itu sih gampang, ma. Aku kan
bisa minta Satria buat jemput aku. Kalo dia emang lagi sibuk, ya naik bis aja
nggak masalah lah.", jawab Faiza.
"Ya udah deh kalo
gitu.", ucap mama.
Setelah selesai mandi dan
beres-beres, mama segera mengantarkan Faiza ke halte. Sesampainya di halte dan
kebetulan ada bis yang berhenti, Faiza segera pamit dan langsung mengejar bis
itu. Ketika baru naik bis, Faiza segera menghubungi Satria dan menanyakan
apakah dia bisa menjemputnya di terminal atau tidak. Ternyata Satria bisa
menjemput Faiza karena kebetulan hari ini dia sedang tidak sibuk. Sesampainya
di terminal dan setelah bertemu dengan Satria, Faiza memintanya untuk segera
mengantarkannya ke kampus agar urusannya cepat selesai. Setelah urusannya di
kampus selesai, Faiza meminta Satria untuk mengantarkannya lagi ke terminal
karena dia pingin pulang.
"Kamu nggak capek apa baru
datang terus langsung pulang?", tanya Satria.
"Enggak.", jawab Faiza.
"Kamu nggak pingin mampir ke
kost kamu gitu?", tanya Satria.
"Enggak.", jawab Faiza.
"Kamu juga nggak kangen sama
aku gitu? Kita kan udah nggak ketemu hampir sebulan, fa. Masa kamu juga nggak
kangen sih sama aku?", tanya Satria.
"Ya kangen lah.", jawab
Faiza.
"Ya kalo kangen, kamu main
lah ke kantor aku. Entar kan kamu bisa sholat dhuhur di sana sekalian
istirahat. Kita juga bisa makan siang bareng. Abis makan siang deh entar aku
anterin kamu ke terminal.", jelas Satria.
"Oke.", jawab Faiza.
Akhirnya mereka berdua pun pergi ke kantor tempat Satria bekerja yaitu di
polres.
Ketika makan siang, Faiza dan
Satria saling bertukar cerita sambil melepas rasa kangen setelah hampir sebulan
tidak bertemu. Saking asyiknya bercerita, Faiza sampai tidak memperhatikan
bahwa handphone yang Satria bawa
waktu itu bukanlah handphone yang
biasa dia pakai. Setelah mereka selesai makan siang, Satria segera mengantar
Faiza ke terminal. Selama di dalam bis, Faiza merasa ada sesuatu yang
mengganjal di pikirannya. Tapi dia tidak tau sebenarnya apa sesuatu yang
membuat pikirannya agak aneh itu. Setelah dia berusaha keras untuk mengingat,
akhirnya dia baru menyadari bahwa handphone
yang dibawa oleh Satria tadi adalah Samsung yang berwarna hitam, sedangkan yang
biasa dia bawa saat bertemu dengan Faiza adalah Samsung yang berwarna putih.
Dia sempat curiga jangan-jangan selama sebulan ini Satria bermain perempuan di
belakangnya. Selama seminggu di rumah, yang ada di pikiran Faiza hanyalah
perasaan curiga dan takut jika Satria memang benar-benar bermain perempuan di
belakangnya.
Karena masih ada waktu satu minggu
untuk Faiza pergi sekolah, maka dia pergunakan kesempatan yang tinggal beberapa
hari itu dengan sebaik-baiknya agar dia tidak menyesal jika sudah kembali ke
Ponorogo. Pada hari jum'at sebelum Faiza kembali ke Ponorogo karena besok
selasa dia sudah masuk kuliah, dia menyempatkan diri untuk menemui Amel
sekaligus pamit kepadanya.
"Mel, mbak minta maaf kalo
selama ini ada kata-kata mbak yang nggak berkenan di hati kamu. Mbak juga minta
maaf kalo selama ini mbak ada salah sama kamu. Mbak janji kapan-kapan mbak akan
pulang dan main ke sini buat nemuin kamu.", ucap Faiza sambil memeluk
Amel.
"Iya mbak. Aku juga bakalan
kangen sama mbak Faiza.", jawab Amel.
"Ya udah kamu buruan pulang
gih. Temen-temen kamu udah pada pulang tuh.", perintah Faiza.
"Iya mbak.", jawab Amel
sambil pergi meninggalkan Faiza.
Hari sabtu pagi, Faiza balik ke Ponorogo ditemani oleh mamanya. Mama hanya menginap 1 malam di sana kemudian
minggu paginya pulang. Beberapa hari kemudian, Satria mengajak Faiza untuk
bertemu dengannya di taman kota karena dia tau bahwa minggu pertama masuk
kuliah, pasti Faiza masih santai. Ketika bertemu dengan Faiza...
"Aduh bu guru cantik udah
balik nih ceritanya.", goda Satria sambil mengulurkan tangannya ke arah
Faiza.
"Kamu apa-apaan sih, sat.
Malu tau didenger banyak orang.", jawab Faiza sinis.
"Biarin. Emang cantik
kok.", jawab Satria. Faiza hanya bisa menyunggingkan senyumnya mendengar
ucapan Satria dan tidak membalas jabatan
tangannya.
"Ceritanya tanganku
dianggurin nih?", tanya Satria.
"Nggak gitu. Mendingan nggak
usah jabat tangan dulu deh. Soalnya tanganku lagi ganti kulit. Jadi agak kasar
gitu.", jawab Faiza.
"Tanganmu nggak kasar kok.
Tanganmu tu lembut kayak hatimu.", puji Satria. Karena melihat Satria
semakin meledeknya, maka Faiza putuskan untuk menjabat tangannya. Ketika
tangannya sedang dijabat, tiba-tiba Satria berteriak. Otomatis Faiza kaget
dibuatnya.
"Kenapa sat? Tanganmu sakit
ya kena tanganku yang agak kasar ini?", tanya Faiza khawatir.
"Iya nih. Ternyata kasar banget.
Rasanya hatiku juga ikut tertusuk oleh kulit kasarmu itu deh, fa.", goda
Satria.
"Satria, kamu jangan mulai
lagi deh. Makin sebel aku.", teriak Faiza kesal. Satria hanya tertawa
mendengarnya.
"Oh ya kemarin gimana latihan
ngajarnya?", tanya Satria.
"Dibilangin aku nggak latihan
ngajar kok. Aku cuma nemenin mereka belajar aja.", jawab Faiza.
"Halah kan sama aja. Gimana
ceritanya? Asyik nggak?", tanya Satria.
"Asyik banget. Apalagi kalo
si siswi cantik yang namanya Ameliya itu lagi manja sama aku, rasanya tu seneng
banget.", jawab Faiza.
"Aku juga mau dimanja
dong.", pinta Satria.
"Ogah banget.", jawab
Faiza tegas. Pada saat itu juga sebenarnya Faiza sangat ingin mencari tau
sebenarnya handphone Samsung hitam
yang Satria bawa itu milik siapa. Karena kali ini Satria juga membawa handphone Samsung hitam itu lagi. Karena
pada pertemuan kali ini Satria tidak pergi ke toilet dan tidak meninggalkan handphonenya di meja, maka Faiza
mengurungkan niatnya untuk mencari tau soal handphone
itu.
Beberapa minggu berlalu, kuliah
Faiza masih berjalan mulus-mulus saja. Namun sayangnya dia masih belum bisa
untuk pulang ke Nganjuk karena jadwal kuliahnya yang terbilang agak padat.
Ketika Faiza sedang libur kuliah, dia memutuskan untuk mengajak Satria
ketemuan. Kebetulan hari ini Satria juga tidak terlalu sibuk dengan kerjaannya,
jadi bisa diajak ketemuan.
Sesampainya di kafe, Satria segera
mencari Faiza. Setelah bertemu dengan Faiza, Satria merasa heran ketika melihat
gadis kesayangannya itu duduk terdiam dengan raut wajah yang agak murung.
"Kamu kenapa sih, fa? Kok
kayaknya lagi sedih gitu?", tanya Satria
"Aku kangen.", jawab
Faiza sambil meneteskan air mata.
"Kangen sama Amel ya?",
tanya Satria.
"Kok kamu tau sih,
sat?", tanya Faiza heran.
"Kan kamu dulu pernah cerita
ke aku kalo ada siswi cantik yang kamu suka yaitu Ameliya. Ya kalo kamu kangen,
kamu tinggal pulang aja sih. Kemarin aja udah berani pulang sendiri, masa
sekarang nggak berani.", ucap Satria.
"Tapi masalahnya jadwal
kuliahku agak padat, sat.", jawab Faiza.
"Ya coba didiskusikan sama
teman sekelasmu dan dosennya biar mata kuliah yang satu hari cuma satu itu bisa
digabungkan ke hari yang lain. Jadi kamu masuknya juga nggak nanggung
banget.", saran Satria.
"Ya entar aku coba deh.
Makasih ya sarannya.", ucap Faiza.
"Oke.", jawab Satria.
Kemudian Satria ijin ke toilet dan
tanpa sengaja meninggalkan handphone
Samsung hitamnya itu di meja. Ini adalah kesempatan bagus bagi Faiza untuk
mencari tau sebenarnya handphone
siapa yang Satria bawa ketika bertemu dengannya itu. Ketika Faiza memencet
salah satu tombol di handphone itu,
ternyata handphone itu sedang dalam
keadaan non aktif. Lalu Faiza segera mengaktifkan handphone itu dan mencari tau sebenarnya apa saja isi handphone itu. Belum sempat mengaktifkan
handphone, dari kejauhan Faiza
melihat Satria sudah kembali dari toilet. Dengan cepat dia segera
menyembunyikan handphone itu ke dalam
tasnya. Ketika sampai di meja makan, Satria terlihat kebingungan mencari handphonenya yang tadi dia tinggal di
meja.
"Nyariin apa sih, sat? Kok
kelihatan bingung gitu?", tanya Faiza.
"Nyari handphone aku. Perasaan tadi tu aku tinggal di sini. Tapi pas balik
kok udah nggak ada. Kamu tau nggak handphone
aku di mana?", tanya Satria.
"Nih handphone kamu ada di aku.", jawab Faiza sambil menunjukkan handphone itu kepada Satria. Satria
terlihat panik ketika tau bahwa Faiza membawa handphonenya. Dan dia meminta Faiza untuk segera mengembalikannya.
Melihat sikap Satria yang agak panik itu membuat Faiza semakin curiga dan
menuduh Satria bahwa dia selama sebulan ini sudah bermain perempuan di
belakangnya. Satria semakin bingung mendengar tuduhan Faiza itu.
"Kamu ngomong apa sih. Aku
makin nggak ngerti sama omongan kamu.", ucap Satria.
"Udah deh kamu nggak usah
ngeles. Handphone Samsung hitam yang
kamu bawa ini punya selingkuhan kamu kan?", tanya Faiza geram.
"Kamu kok bisa nuduh aku kek
gitu sih? Apa buktinya?", tanya Satria.
"Handphone ini sudah cukup untuk dijadiin bukti kalo selama ini kamu
bermain perempuan di belakangku.", tuduh Faiza.
"Emang kamu tau isi handphone itu?", tanya Satria.
Namun Faiza hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kemudian Satria mengambil handphone itu dari genggaman Faiza lalu
mengaktifkannya. Setelah handphone itu
aktif, kemudian Satria membuka kunci layarnya dan menunjukkan kepada Faiza.
Faiza sempat kaget melihat wallpaper di
handphone itu adalah foto Satria yang
sedang merangkul Ameliya, yang tidak lain adalah siswi cantik yang selama ini
dia suka.
"Jadi yang kayak gini yang
kamu anggap sebagai perselingkuhan?", tanya Satria sambil menunjukkan wallpaper handphonenya itu kepada Faiza.
"Lho itu kan Amel? Gimana
ceritanya kamu bisa foto bareng sama dia? Sebenarnya apa hubungan kamu sama
dia? Kok kalian kelihatan kayak ada hubungan darah gitu sih?", tanya Faiza
penasaran.
"Ya iyalah. Aku tu kakaknya
Amel.", jawab Satria.
"Kakak kandung?", tanya
Faiza.
"Iya. Kamu masih nggak
percaya?", tanya Satria. Kemudian Satria membuka galeri dan menunjukkan
foto-fotonya bersama Amel dan keluarganya kepada Faiza. Faiza hanya bisa diam
ketika melihatnya
"Kamu kok nggak pernah cerita
ke aku soal ini sih?", tanya Faiza.
"Salah sendiri nggak nanya.
Kalo kamu nggak nanya, aku ya diam lah. Makanya kalo penasaran tu tanya dulu.
Jangan asal nuduh kayak tadi.", jelas Satria. Faiza hanya mengangguk
mendengarkan penjelasan Satria.
Pada saat itu juga, Satria
menceritakan tentang rencananya untuk menikahi Faiza ketika Faiza sudah lulus
kuliah dan mendapat perkerjaan nanti. Faiza sempat shock mendengar rencana Satria itu. Lalu Satria menjelaskan padanya
bahwa ini sudah mejadi rencananya sejak dia menjalin hubungan dengan Faiza dan
sejak dia mengetahui bahwa Faiza menyukai adiknya. Faiza yang awalnya shock tiba-tiba tersenyum lebar karena
ini juga sebuah kesempatan emas yang bisa dia gunakan untuk menepati janjinya
kepada Amel untuk kembali kepadanya dan tentunya kembali dengan membawa sebuah
kejutan besar.
"Iya sat aku pinginnya sih
juga gitu. Kita bisa ngejalanin hubungan dengan baik sampai kita nikah
nanti.", jelas Faiza.
"Kok tumben kamu semangat
banget ngomongin soal nikah? Biasanya kamu paling takut kalo ada orang yang
lagi ngomongin masalah nikah.", tanya Satria.
"Soalnya ini konteksnya beda.
Kalo aku bisa nikah sama kamu, berarti aku bisa menepati janjiku kepada Amel untuk
kembali kepadanya dan membawa sebuah kejutan besar yaitu aku bisa jadi
kakaknya.", jawab Faiza.
"Oh jadi ini ceritanya kamu
mau nikah sama aku hanya karena Amel? Bukan karena kamu beneran sayang sama
aku?", tanya Satria.
"Bukan gitu, sat. Aku sayang
sama kamu. Soal Amel, itu kan aku cuma mau ngasih kejutan ke dia aja.",
jawab Faiza.
"Beneran nih?", tanya
Satria.
"Iya beneran.", jawab
Faiza meyakinkan.
Beberapa hari kemudian setelah
didiskusikan bersama teman sekelasnya dan dosen pengampunya, akhirnya mata kuliah
yang masuk hari sabtu dan hanya satu mata kuliah itu bisa diganti ke hari
selasa jam kedua karena kebetulan di hari selasa jam kedua ada ruang yang
kosong. Faiza senang mendengar keputusan itu. Itu artinya jatah liburnya
menjadi 3 hari dan dia bisa pulang ke Nganjuk untuk menemui Amel karena jujur
saja dia kangen banget sama Amel setelah beberapa bulan tidak bertemu. Ketika
Faiza pulang dan pergi ke sekolah, dia bertemu dengan Amel. Amel terlihat
sangat senang dan tanpa banyak bicara dia langsung memeluk Faiza dengan erat.
Tidak hanya sampai di situ, Amel juga sempat menceritakan tentang sekolahnya
setelah Faiza kembali untuk melanjutkan kuliahnya. Faiza hanya tersenyum
mendengarnya. Dia tidak bercerita kepada Amel jika dia sudah tau bahwa Satria
adalah kakaknya. Dia sudah berencana untuk merahasiakan semua itu dan akan
menceritakan kepada Amel jika waktunya sudah tepat.
Faiza selalu mengingat janji
Satria waktu itu dan janji Satria juga lah yang membuat dia semakin semangat
untuk segera menyelesaikan kuliahnya yang tinggal setengah itu. 2 tahun
berlalu, akhirnya Faiza dinyatakan lulus ujian skripsi dan tinggal menunggu
wisuda yang akan dilaksanakan beberapa minggu lagi. Dan beberapa minggu setelah
wisuda, mama meminta Faiza untuk pulang dan mengajar di SD tempat mama
mengajar.
"Sat, hari ini aku mau pamit
ke kamu soalnya besok aku disuruh mamaku buat pulang ke Nganjuk. Dan mama juga
minta aku buat ngajar di SD tempat mama ngajar.", jelas Faiza.
"Jadi kamu bakal ninggalin
aku dong?", tanya Satria sedih.
"Enggak gitu. Ya kapan-kapan
aku bakalan main ke sini buat nemuin kamu deh.", jawab Faiza.
"Oke. Kamu di sana jaga diri
baik-baik ya. Semoga hari-harimu di sana semakin berwarna.", ucap Satria.
"Kamu juga ya, sat. Jaga diri
baik-baik. Awas kalo sampai kamu berani bermain perempuan di belakangku.",
ancam Faiza.
"Kamu udah lupa sama janji
aku waktu itu?", tanya Satria.
"Oh iya kamu udah janji
ya.", ucap Faiza sambil menepuk keningnya.
"Dasar pelupa.", ledek
Satria. Faiza hanya menyunggingkan senyumnya mendengar ucapan Satria.
Sehari setelah Faiza pulang, mama
mengajak Faiza untuk mengajar di SD tempat mama ngajar. Sesampainya di sekolah,
anak-anak kelas 4 terutama Amel berteriak histeris melihat Faiza sudah kembali
dan mengajar di situ lagi. Amel senang karena Faiza ternyata tidak lupa dengan
janjinya waktu itu. Setiap waktu istirahat tiba, Amel selalu mengajak Faiza
untuk bercerita tentang apa saja. Di tengah-tengah ceritanya, entah kenapa raut
wajah Amel terlihat agak sebel ketika menceritakan kakaknya. Faiza juga baru
kali ini mendengar Amel bercerita tentang kakaknya.
"Lho Amel tiba-tiba kok sebel
gitu sih? Kenapa?", tanya Faiza heran.
"Aku sebel sama kak Satria,
mbak.", jawab Amel.
"Sama kakaknya kok sebel sih?
Emang kak Satria salah apa?", tanya Faiza.
"Kak Satria tu nyebelin
banget, mbak. Masa kalo lagi telpon ke mama, dia selalu cerita tentang
pacarnya. Aku tu nggak suka kalo tau kak Satria pacaran tanpa sepengetahuanku
gitu, mbak. Aku juga sebel sama pacarnya kak Satria.", curhat Amel.
"Kalo kamu nggak suka sama
pacarnya kak Satria, emang kamu bisa milih pacar yang baik buat kak Satria apa?
Emang kamu juga udah tau pacarnya kak Satria itu siapa?", tanya Faiza.
"Belum sih. Tapi aku
pinginnya kak Satria pacaran sama mbak Faiza aja.", jawab Amel.
"Ada-ada aja kamu.",
ucap Faiza sambil meninggalkan Amel kemudian menuju ke kantor.
Beberapa bulan setelah Faiza
berada di Nganjuk dan ketika dia sedang asyik membuka facebooknya, dia sangat kaget ketika membaca status Satria di facebook yang mengatakan bahwa dia akan
dipindahtugaskan. Karena saking kagetnya, tanpa banyak bicara Faiza langsung
menghubunginya.
"Kamu mau dipindahkan ke
mana, sat?", tanya Faiza.
"Aku juga belum tau nih.
Entar kalo udah ada pemberitahuan, aku kasih tau ke kamu deh.", jawab
Satria.
Beberapa hari menunggu, Satria
juga belum menghubunginya lagi. Faiza semakin takut jika ternyata Satria
dipindahkan ke daerah yang cukup jauh. Di tengah-tengah ketakutannya, akhirnya
Satria memberi tau kepada Faiza bahwa dia ternyata dipindahkan ke polres
Nganjuk. Faiza sempat tidak percaya mendengarnya dan menganggap bahwa Satria
sedang membohonginya. Namun setelah meminta penjelasan ulang kepada Satria
tentang masalah ini, ternyata Satria tidak bohong bahwa dia memang dipindahkan
ke polres Nganjuk. Di samping itu, Satria memang bukan tipe laki-laki yang suka
berbohong. Faiza sangat senang mendengarnya. Itu artinya dia tidak perlu
menjalin hubungan jarak jauh dengan Satria.
Hampir setiap hari Amel
menceritakan pertengkaran yang dia lakukan hampir setiap hari bersama Satria
kepada Faiza hanya karena Amel tidak menyukai pacarnya Satria yang selama ini
sama sekali belum dia ketahui orangnya. Faiza hanya bisa memberi saran ke Amel
agar jangan terus-terusan bertengkar dengan kakaknya sendiri. Hingga pada suatu
hari kekesalan Amel memuncak saat pagi hari sebelum dia berangkat ke sekolah,
Satria bilang padanya bahwa nanti dia akan mengajak pacarnya untuk main ke
rumah. Waktu jam istirahat, Amel menceritakan semua yang dibilang oleh Satria
tadi pagi kepada Faiza. Amel juga sempat meminta Faiza agar nanti sore Faiza
mau mengajaknya pergi agar dia tidak bertemu dengan pacarnya Satria. Namun
Faiza menolaknya.
"Maaf mel, bukannya mbak
nggak mau nurutin permintaan kamu. Tapi mbak sore ini juga ada janji sama temennya
mbak. Maaf ya.", ucap Faiza.
"Mbak Faiza kok gitu sih.
Mbak kan tau kalo aku benci sama pacarnya kak Satria.", jelas Amel.
"Tapi mbak nggak bisa, mel.
Mbak minta maaf ya.", ucap Faiza sambil meninggalkan Amel.
"Mbak jahat. Amel benci mbak
Faiza.", teriak Amel.
Selama di dalam kelas, Amel hanya
diam sambil menyembunyikan kekesalannya pada Faiza. Ketika pulang sekolah,
Faiza sempat memanggil Amel. Namun sayangnya Amel langsung lari tanpa menoleh
ke arahnya. Sepertinya Amel benar-benar kesal dengan sikap Faiza tadi.
Sore harinya ketika Satria pulang
dari kantor, dia sempatkan untuk mampir ke rumah Faiza. Sesampainya di rumah
Faiza...
"Fa, jadi kan?", tanya
Satria.
"Jadi dong.", jawab
Faiza. Faiza segera mengeluarkan motornya kemudian ikut pergi ke rumah Satria.
Sesampainya di rumah Satria, Faiza
heran karena sama sekali tidak ada orang di rumah. Satria baru ingat kalo kedua
orang tuanya sedang pergi dan di rumah hanya ada Amel. Setelah mempersilahkan
Faiza untuk duduk, Satria segera pergi ke kamar Amel. Dia hanya mengeryitkan
dahinya ketika melihat adiknya masih tidur. Kemudian dia membangunkan Amel dan
meminta Amel untuk segera menemui pacarnya.
"Kan udah aku bilang kalo aku
nggak suka sama pacarnya kak Satria itu. Aku sukanya cuma sama mbak Faiza.",
jelas Amel.
"Udah lah jangan banyak
alasan. Ayo kita keluar. Entar kamu bisa lihat sendiri sebenarnya pacarnya
kakak itu siapa.", ajak Satria. Dengan malas Amel menuruti permintaan
kakaknya untuk keluar kamar sambil membawa boneka doraemon kesayangannya yang
berukuran cukup besar. Setelah keluar kamar, dia kaget melihat Faiza sedang
duduk di ruang tamu. Karena saking kaget dan senangnya, dia sampai melempar
boneka itu hingga membuat vas bunga yang ada di meja jatuh dan pecah.
"Amel, vasnya kok dipecahin
sih?", teriak Satria. Namun teriakan itu tidak digubris oleh Amel karena
dia kaget melihat kehadiran Faiza.
"Mbak Faiza kok ada di sini
sih? Katanya ada janji sama temennya?", tanya Amel sambil memeluknya.
"Entar mbak jelasin. Sekarang
kita beresin vas bunga yang pecah itu yuk. Daripada kakakmu makin marah.",
ajak Faiza. Amel hanya mengikutinya.
Setelah selesai membereskan vas
bunga yang pecah tadi, Amel heran karena dari tadi dia sama sekali tidak
melihat pacar kakaknya. Yang dia lihat dari tadi hanyalah Satria dan Faiza
saja. Karena semakin penasaran, maka dia putuskan untuk bertanya kepada
kakaknya.
"Kak, pacarnya kakak ke
mana?", tanya Amel.
"Katanya kamu nggak suka sama
pacarnya kakak. Jadi ya kakak ajak mbak Faiza aja ke sini biar kamu seneng.",
jawab Satria.
"Oh jadi ceritanya Amel nggak
mau ketemu sama pacarnya kak Satria nih. Ya udah aku pulang aja.", ucap
Faiza.
"Lho mbak Faiza kok mau
pulang sih?", tanya Amel.
"Abisnya kamu nggak suka sih
sama pacarnya kak Satria.", jawab Faiza. Amel semakin bingung mendengar
jawaban Faiza. Dan setelah beberapa menit berpikir, dia mencoba untuk
menyimpulkan jawaban dari Faiza tadi.
"Jangan-jangan pacarnya kak
Satria itu mbak Faiza ya?", tanya Amel.
"Nah itu bisa nyimpulin
sendiri.", jawab Satria.
"Jadi pacar kakak yang kakak
ceritain ke mama selama ini dan gadis yang akan kakak nikahin itu juga mbak
Faiza?", tanya Amel penasaran.
"Nah itu kamu juga udah
tau.", jawab Satria.
"Kakak kenapa nggak pernah
cerita soal ini ke aku?", tanya Amel.
"Kamu nggak pernah nanya
sih.", jawab Satria. Amel hanya manyun mendengarnya.
Kemudian mereka bertiga berkumpul
dan Faiza bercerita kepada Satria bahwa Amel pernah cemburu dan menangis ketika
dia sedang disuruh untuk menunggu kelas 1. Satria hanya bisa tertawa mendengarnya
dan Amel hanya terdiam. Satria juga memberi tahu kepada Faiza bahwa Amel adalah
tipe anak yang selalu ingin disayang. Dia juga bercerita bahwa ketika dia masih
pendidikan dulu, Amel selalu saja menangis ketika melihat dia akan kembali ke
Akpol. Faiza hanya bisa tertawa mendengar cerita dari Satria. Tiba-tiba Amel
berteriak dan protes kepada mereka berdua karena dia merasa dibully. Amel juga berusaha untuk membela
diri bahwa dia selalu menangis ketika kakaknya akan kembali lagi ke Akpol itu
karena saat itu dia masih berusia 5 tahun dan pada saat itu dia masih kangen
sama kakaknya. Satria merasa terharu mendengar pengakuan dari adiknya. Lalu
Faiza mengajak Amel untuk berbicara berdua.
"Sekarang kan Amel udah tau
siapa pacarnya kak Satria, jadi kalo di sekolah, Amel jangan cemburu kayak
waktu itu lagi ya kalo mbak lagi ngajar di kelas lain. Kan sebentar lagi Amel
jadi adiknya mbak, jadi waktu kita untuk bersama kan makin banyak.", jelas
Faiza.
"Iya mbak. Maaf kalo waktu
itu Amel terlalu cemburu.", ucap Amel.
"Iya nggak apa-apa.",
jawab Faiza.
"Makasih banyak ya, mbak.
Mbak Faiza udah nepati janji mbak untuk kembali ke SD. Dan makasih banyak
karena mbak kembali ke sini sambil membawa kejutan yang besar.", ucap
Amel.
"Iya sama-sama. Mbak minta
do'anya juga ya semoga pernikahan mbak dengan kak Satria bulan depan berjalan
dengan lancar.", jelas Faiza.
"Oke mbak.", jawab Amel.
Satria hanya tersenyum melihat keakraban Amel dan Faiza. Faiza memang gadis
pilihan Satria yang sangat tepat.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment