Tuesday, 14 February 2017

TARGET YANG SAMA

          2 hari lagi Okta akan menjalani KKN, yaitu kegiatan rutin setiap satu tahun sekali yang wajib diikuti oleh semua mahasiswa semester 7 di mana semua mahasiswa dari seluruh fakultas yang ada di kampus tempat Okta kuliah akan dibagi menjadi beberapa kelompok dan tiap kelompok terdiri dari 10 orang yang kemudian akan ditempatkan di wilayah yang berbeda yang telah ditentukan oleh pihak kampus. Sejak pertama mendengar istilah KKN, Okta merasa sangat benci karena yang ada di dalam bayangannya selama ini KKN itu pasti akan dilaksanakan di tempat-tempat terpencil dan kegiatannya pasti sangat membosankan baginya. Membosankan di sini bukan berarti karena akan berada di wilayah terpencil, jadi dia tidak bisa bertemu dengan sinyal dan jaringan bagus yang selama ini sudah menjadi temannya setiap hari. Tapi itu juga menjadi alasan sih kenapa Okta benci banget sama yang namanya KKN. Tapi ada alasan lain yang membuat Okta semakin malas mengikuti kegiatan ini. Alasan utamanya yaitu jika dia mengikuti KKN, dia secara langsung akan bersosialisasi dengan masyarakat sekitar dan dia juga pasti akan dihadapkan pada anak-anak kecil yang tentunya sangat sulit untuk diatur. Okta memiliki pemikiran seperti itu karena ketika libur semester, dia pernah belajar untuk mengajar anak-anak SD di tempat mamanya mengajar yang mana anak-anak di SD tersebut sangat bandel dan sulit sekali untuk diatur. Tapi karena itu sudah menjadi kebijakan pihak kampus, maka mau tidak mau Okta harus mengikuti KKN itu selama satu bulan kedepan. Betapa mengerikannya.
          Hari itupun akhirnya tiba. Dengan malas Okta pergi ke kampus sambil membawa satu tas dan satu koper yang berisi pakaian pribadinya dan alat-alat yang mungkin dibutuhkan ketika kegiatan berlangsung. Dengan barang bawaan sebanyak itu, Okta merasa bahwa dirinya sudah seperti orang yang akan pindah rumah. Dia hanya tersenyum kecut melihat barang bawaannya sebanyak itu dan membayangkan hal-hal yang menyedihkan yang mungkin saja akan dia alami di sana nanti.
          Setibanya di sana, Okta langsung berkumpul dengan teman satu kelompoknya yang terdiri dari 5 orang anak laki-laki dan 5 orang anak perempuan. Ternyata dia mendapat tempat yang bisa dibilang tidak terlalu terpencil karena rumah yang mereka tempati berada di tepi jalan raya. Setelah membereskan semua barang bawaannya, Okta dan teman satu kelompoknya segera berkumpul ke balai desa untuk mengikuti pengarahan. Selama kegiatan berlangsung, Okta terlihat sangat tidak semangat dan memilih untuk tidur. Satu jam kemudian...
          "Ta, bangun!!! Yee dikasih pengarahan kok malah tidur sih.", ucap Farah seraya membangunkan Okta.
          "Aku males banget nih. Makanya aku tidur.", jawab Okta sambil menguap.
          "Haduh baru hari pertama aja udah males. Gimana besok dan lusa coba.", ucap Farah sambil menutupi mulut Okta yang terbuka lebar.
          "Nggak tau ah, Far. Atau lebih baik aku kabur aja ya dari sini?", tanya Okta.
          "Udah gila ya kamu. Nggak usah mulai mikir yang macem-macem gitu deh, ta.", jawab Farah sambil mencubit pipi Okta.
          "Aduh sakit tau. Abisnya di sini ngebosenin sih.", jelas Okta sambil memegang pipinya yang memerah akibat cubitan Farah.
          "Terserah kamu aja deh, ta. Tapi ingat ya kalo kamu bertindak macem-macem. Aku laporin ke ketua kelompok kamu entar.", ancam Farah. Okta hanya diam.
          Satu minggu berlalu, namun sikap Okta masih sama seperti satu minggu lalu. Dia masih terlihat enggan mengikuti setiap kegiatan yang dilaksanakan. Sudah puluhan kali Farah menasehatinya agar tetap semangat untuk mengikuti setiap kegiatan yang ada. Namun Okta tetap saja tidak memperdulikannya.
          "Semangat dong, ta. Mau sampai kapan kamu kayak gini terus?", tanya Farah.
          "Sampai KKN ini selesai aku akan tetap seperti ini.", jawab Okta ketus.
          "Jangan gitu dong, Okta. Kamu liat tuh anak-anak sekelompok kita pada semangat banget kalo lagi ada kegiatan.", jelas Farah.
          "Biarin aja. Itu kan mereka.", jawab Okta sambil beranjak pergi. Farah hanya bisa diam melihat sikap temannya yang satu ini.
          Suatu pagi, Okta jalan-jalan pagi sendirian untuk sekedar menghilangkan rasa bosannya. Ketika sampai di perempatan dekat rumah pak lurah, tiba-tiba ada 2 orang laki-laki yang menggodanya. Mereka sebenarnya hanya memanggil Okta saja, namun karena merasa terganggu, akhirnya Okta pergi meninggalkan mereka. Sesampainya di penginapan, Farah kaget melihat Okta datang dengan muka cemberut.
          "Kamu kenapa kok dateng-dateng mukanya udah ditekuk gitu?", tanya Farah penasaran.
          "Tadi di perempatan tu aku digodain sama cowok gitu. Mana cowoknya ada 2 lagi. Kan nyebelin banget.", jawab Okta ketus.
          "Cie cie ada yang abis digodain nih.", ledek Farah.
          "Ih kamu apaan sih, far. Temennya abis digodain malah diledekin gini.", gerutu Okta.
          "Terus aku harus gimana? Tepuk tangan?", canda Farah.
          "Ih tau ah. Kalo kayak gini ceritanya, aku malah semakin nggak betah deh di sini. Rasanya pingin kabur aja.", ucap Okta.
          "Tuh mulai muncul lagi kan niat jahatnya. Okta Okta. Kamu tu bener-bener ya.", imbuh Farah.
          "Gimana nggak selalu muncul coba. Masa baru seminggu di sini, aku udah digituin. Gimana minggu kedua sama minggu ketiganya coba. Pasti lebih menyedihkan lagi.", jelas Okta.
          "Jangan su'udzon gitu.", nasehat Farah. Namun Okta malah pergi meninggalkannya.
          Suatu sore Okta dan Farah diminta untuk mengajari anak-anak mengaji di sebuah TPQ. Namun Okta menolak mengajari mereka mengaji dan menyuruh Farah untuk mengajari mereka. Dia memilih untuk duduk di samping pintu seraya menunggu Farah selesai mengajar mereka mengaji. Dari kejauhan, ada seorang laki-laki yang memperhatikan Okta yang sedang duduk di samping pintu. Setelah beberapa menit mengamati, dia baru menyadari bahwa Okta adalah perempuan yang pernah dia goda bersama temannya ketika Okta sedang jalan-jalan sendirian. Dia tampaknya semakin terpesona pada Okta dan mempunyai niatan untuk ikut mengaji bersama anak-anak di situ agar bisa bertemu dengan Okta setiap hari.
          Sudah 4 hari ini Okta dan Farah diminta untuk mengajar anak-anak mengaji setiap sore. Dan tepat pada sore ini ketika Farah sedang mengajari anak-anak, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang datang dan ikut bergabung bersama anak-anak. Farah kaget melihatnya. Tetapi tidak dengan Okta. Dengan teliti dia mengamati laki-laki yang tidak asing baginya itu. Okta kaget begitu menyadari bahwa dia adalah laki-laki yang pernah menggodanya pagi itu.
          "Far, itu tu cowok yang pernah aku ceritain ke kamu waktu itu.", jelas Okta.
          "Yang mana?", tanya Farah.
          "Hih itu lho cowok yang pernah godain aku pas aku jalan-jalan pagi.", jawab Okta.
          "Masa? Enak dong kalian bisa ketemu lagi.", canda Farah.
          "Enak dari Hongkongmu tuh. Malah gedeg aku liatnya. Mending aku pergi aja deh.", jelas Okta.
          "Jangan gitu ah. Kita kan udah dikasih tugas buat ngajar adek-adek ini ngaji.", cegah Farah. Kemudian Farah menarik tangan Okta dan mengajaknya masuk ke dalam kelas.
          Di kelas, Farah melanjutkan tugasnya yang tadi sempat tertunda. Setelah selesai mengajari anak-anak tentang huruf-huruf hijaiyah dan cara membacanya, kemudian dia membagi anak-anak menjadi 2 kelompok dan meminta mereka untuk maju satu-satu untuk membaca buku Iqro' yang sudah mereka bawa dari rumah. Kelompok pertama yang menyimak Farah dan kelompok kedua yang menyimak Okta. Okta tersentak mendengarnya dan tanpa banyak bicara dia langsung saja menolaknya. Namun Farah berusaha untuk membujuknya agar dia mau membantu karena dia akan kewalahan jika menyimak 15 anak itu sendirian. Akhirnya Oktapun luluh dan mau membantu Farah. Dengan galak Okta menyuruh anak-anak maju untuk membaca sesuai dengan urutan tempat duduk mereka. Farah hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya lalu mengingatkannya agar jangan terlalu galak karena yang dia hadapi adalah anak-anak kecil. Setelah menyimak 4 anak yang membaca buku Iqro'nya, Okta baru merasakan bahwa mereka itu gampang banget diaturnya. Nggak seperti dulu ketika dia ngajar di sekolah mamanya. Kini dia mulai terlihat bersemangat untuk mengikuti kegiatan ini. Ketika semua anak di kelompok kedua sudah selesai membaca, tiba-tiba laki-laki yang pernah menggodanya itu datang kepadanya.
          "Mau ngapain, mas?", tanya Okta heran.
          "Mau belajar ngaji sama mbaknya.", jawabnya.
          "Kan kamu ikut di kelompok pertama tadi. Jadi yang nyimak ya Farah dong. Kok malah ke aku sih.", ucap Okta ketus.
          "Di kelompok satu tadi ada 2 anak yang belum baca. Jadi pas aku liat kelompok 2 udah pada selesai bacanya, aku milih ke sini aja deh.", jawabnya.
          "Ya udah buruan baca kalo gitu.", perintah Okta. Okta memilih untuk diam karena dia tau jika dia terus saja berbicara, maka laki-laki itu juga pasti ada aja alasannya. Okta memintanya untuk membaca 1 halaman saja. Namun dia menolaknya. Dia ingin membaca 4 halaman. Mendengar keinginan laki-laki itu, Okta hanya bisa tersenyum kecut mendengarnya. Laki-laki itu mulai membaca huruf demi huruf dan kata demi kata yang ada di halaman itu. Dia membaca dengan terbata-bata dan sangat lama. Hal ini membuat Okta menjadi bosan untuk menyimaknya. Setengah jam dia baru selesai membaca satu halaman. Okta memintanya untuk berhenti membaca dan melanjutkannya besok lagi. Namun laki-laki itu menolaknya dan ingin membaca halaman berikutnya. Ketika mengalami kesulitan membaca dan bertanya bagaimana cara membacanya kepada Okta, tiba-tiba Okta membentaknya.
          "Kan udah aku bilang hari ini bacanya 1 halaman aja. Udah tau bacanya belum lancar, masih ngotot mau baca 4 halaman.", bentak Okta. Setelah mendengar bentakan Okta yang cetar membahana, tiba-tiba laki-laki itu tertunduk menangis. Bukannya menenangkannya, tapi Okta malah memarahinya.
          "Udah deh nggak usah pura-pura nangis gitu. Aku udah sebel liatnya.", ucap Okta ketus.
          "Kenapa mbak nggak mau ngajarin aku ngaji? Kenapa mbak malah ngebentak-bentak aku? Padahal aku beneran pingin bisa ngaji, mbak.", tanyanya dengan suara parau. Ternyata laki-laki itu beneran nangis setelah dibentak oleh Okta. Okta kaget melihatnya.
          "Ya udah aku minta maaf deh kalo gitu. Cup cup cup. Udah dong jangan nangis gitu, sayang. Uluh-uluh nanti ilang lho cakepnya.", bujuk Okta menenangkannya sambil memeluknya. Melihat apa yang dilakukan Okta, Farah hanya tersenyum melihatnya. Okta sempat heran melihat Farah yang sedang tersenyum dan kemudian menunjuk ke arah laki-laki itu. Menyadari dirinya sedang memeluk laki-laki itu, Okta langsung saja melepas pelukan itu dan mendorong laki-laki itu untuk menjauhinya.
          "Mbaknya kok kasar gitu sih?", tanya laki-laki itu.
          "Semua itu gara-gara kamu.", jawab Okta.
          "Kok aku? Kan mbak yang peluk aku duluan.", tukasnya.
          "Tau ah. Ya udah kamu buruan pulang sana. Entar dicariin sama mimimu.", perintah Okta. Laki-laki itu langsung pergi meninggalkannya. Farah hanya tertawa melihat kejadian itu. Melihat Farah yang terus saja mentertawakannya, Oktapun langsung mencubit lengannya dan mengajaknya untuk pulang. Di sepanjang perjalanan pulang, Okta menjelaskan kepada Farah bahwa dia refleks melakukan hal yang tadi karena dia sudah biasa memeluk anak kecil yang sedang menangis dengan tujuan untuk menenangkannya. Mendengar penjelasan itu, Farah semakin tidak percaya dan menuduh Okta bahwa yang dia lakukan tadi adalah modus barunya agar dia bisa dekat dengan laki-laki itu. Karena semakin tidak tahan mendengarkan tuduhan Farah, Okta memilih untuk pulang duluan dan meninggalkannya.
          Selama KKN di tempat itu, Okta merasa semakin heran dengan tingkah laki-laki itu. Yang dia tau dari cerita kakak-kakak tingkatnya yang pernah KKN yang sering mencari perhatian ke orang yang usianya lebih tua kalo ada kegiatan semacam ini itu adalah anak-anak kecil. Tapi ini kok malah yang cari perhatian itu orang yang usianya lebih tua darinya. Nggak hanya sekali dua kali. Namun setiap ada kegiatan dan jika di kegiatan itu ada Okta, laki-laki itu selalu saja menunjukkan sikapnya yang seolah-olah mencari perhatiannya. Okta semakin pusing saja dibuatnya.
          Suatu sore ketika Okta dan Farah sedang mengajari anak-anak mengaji di TPQ, laki-laki itu datang lagi. Sepertinya kesabaran Okta memang benar-benar diuji di tempat ini.
          "Mas, kalau mau ngaji ikut kelas sebelah aja ya. Kebetulan kelas sebelah yang ngajar temenku cowok. Di kelas ini khusus buat adek-adek ini aja.", jelas Okta ketika laki-laki itu mau masuk kelas.
          "Nggak mau. Aku maunya belajar ngaji sama mbak aja.", jawabnya.
          "Mas nggak denger ta aku tadi bilang apa?", tanya Okta mulai emosi. Tiba-tiba laki-laki itu tertunduk seperti beberapa waktu lalu setelah dibentak oleh Okta.
          "Ta, udah biarin aja dia ikut kelas ini. Entar kalo nangis malah repot kitanya.", bisik Farah.
          "Abisnya ni orang bikin sebel aja sih.", jawab Okta.
          "Udah kali ini kita ngalah aja. Kita nggak lama kok di sini.", bujuk Farah. Kemudian Farah menyuruh laki-laki itu untuk masuk kelas. Selama di dalam kelas, Okta terus memperhatikan tingkah laki-laki itu kemudian memanggilnya dan memintanya untuk maju ke depan membaca buku Iqro' halaman selanjutnya. Dia mengingatkan kepadanya untuk membaca satu halaman saja. Ketika baru membaca beberapa huruf dan kata, lagi-lagi laki-laki itu mengalami kesulitan membaca. Melihat hal ini, rasanya Okta ingin sekali membentaknya. Tetapi dia ingat nasehat Farah yang tadi kemudian memutuskan untuk mengajarinya pelan-pelan. Setelah dia selesai membaca, Okta meminta anak-anak maju untuk membaca sesuai urutan tempat duduknya. Setelah selesai mengajari mereka mengaji, Okta dan Farah mengajak anak-anak, termasuk laki-laki itu untuk bermain. Permainan hari ini adalah tepuk malaikat. Okta meminta 10 anak untuk maju dan membaginya menjadi 2 kelompok. Laki-laki bilang kepada Okta bahwa dia juga ingin bermain. Okta hanya menurutinya. Kemudian Okta menjelaskan bagaimana cara mainnya dan hukuman bagi yang kalah. Setelah semuanya mengerti, permainanpun dimulai. Sudah 15 menit berlangsung, mereka belum ada yang kalah. Namun tak selang beberapa lama, ada satu orang yang kalah yaitu laki-laki itu. Kemudian Okta memberinya hukuman untuk menyebutkan nama-nama malaikat secara terbalik urutannya. Okta merasa heran pada laki-laki itu. Sebenarnya latar belakang pendidikan agama seperti apa sih sampai-sampai hanya disuruh untuk menyebutkan nama-nama malaikat secara terbalik urutannya saja merasa sangat kesulitan. Begitu pikirnya.
          "Namamu sebenarnya siapa sih? Aku heran deh sama kamu.", tanya Okta geram.
          "Itu namanya kak Frans, mbak.", jawab salah seorang anak.
          "Oh ternyata namamu Frans. Rumahmu sebelah mana sih?", tanya Okta lagi.
          "Dia nggak tinggal di sini, mbak. Tapi tinggalnya di ...", jawab anak itu lagi. Belum selesai bicara, Frans langsung menarik tangan anak itu dan mengajaknya keluar. Di luar mereka terlihat asyik membicarakan sesuatu dan tak lama kemudian Frans mengajak anak itu masuk kelas.
          "Dek, tunggu. Kak Frans tinggalnya di mana?", tanya Okta.
          "Nggak tau aku, mbak.", jawab anak itu sambil masuk ke dalam kelas. Okta heran melihatnya. Bagaimana tidak yang semula dia sepertinya tau tempat tinggal Frans, tiba-tiba ketika ditanya dia malah enggan untuk menjawabnya. Okta menduga bahwa Frans sudah mengancam anak itu agar dia tidak memberitahukan di mana tempat tinggal Frans sebenarnya. Hal ini membuat Okta semakin penasaran.
          Selama mengajar di TPQ itu, Okta berusaha untuk menghindari Frans dengan berbagai macam alasan. Frans agak heran melihat sikap Okta yang tiba-tiba saja berubah drastis. Memang sih Okta selama ini sangat membencinya. Tapi rasa benci yang Okta tunjukkan akhir-akhir ini sangat berbeda. Karena semakin lama Okta semakin menjauhinya, maka Frans beranikan diri untuk bertanya kepadanya.
          "Kenapa sih mbak akhir-akhir ini kok benci sama aku?", tanya Frans.
          "Aku emang benci sama kamu dari dulu.", jawab Okta.
          "Tapi yang kali ini beda sama biasanya, mbak.", imbuh Frans.
          "Denger ya. Aku tu makin benci sama kamu semenjak anak itu nggak mau ngasih tau di mana tempat tinggal kamu. Kamu pasti ngancam dia. Iya kan.", tuduh Okta.
          "Nggak. Aku nggak ngancam dia kok. Aku cuma nggak mau aja ada orang lain yang tau tentang diriku lewat orang lain. Aku mau mereka tau tentang aku dengan sendirinya. Tolong mbak ngerti.", jelas Frans.
          "Oke aku ngerti. Oh ya aku mau ngasih tau sesuatu nih. 2 hari lagi masa KKNku udah selesai. Jadi aku harus pulang.", ucap Okta.
          "Kalo mbak pulang terus siapa dong yang ngajarin aku ngaji?", tanya Frans.
          "Di sini pasti ada guru ngaji yang lebih sabar dari aku kok.", jawab Okta.
          "Nggak ada. Mbak jangan pergi.", cegah Frans.
          "Nggak bisa. Aku harus pulang. Maaf ya. Kalo ada kesempatan, kita pasti bisa ketemu lagi kok.", jelas Okta. Frans hanya bisa terdiam.
          Hari yang ditungu-tunggupun akhirnya tiba. Okta senang karena KKNnya sudah usai dan dia bisa pulang. Namun di balik kebahagiaan yang Okta rasakan, terselip kesedihan yang mendalam pada anak-anak yang selama ini belajar mengaji bersamanya, termasuk Frans. Mereka terlihat sangat berat hati untuk melepas kepergian Okta. Tapi berkat bujukan Okta, akhirnya mereka mau mengerti bahwa Okta memang harus pulang.
          Ketika dalam perjalanan pulang, Okta melewati sebuah kantor polisi yang terletak di kecamatan tempat dia KKN. Di depan kantor polisi itu dia melihat ada beberapa polisi yang sedang melaksanakan apel. Okta merasa tidak asing dengan pak polisi yang memimpin apel itu. Setelah beberapa menit diamati, Okta merasa kaget ketika melihat pak polisi itu mirip sekali dengan Frans. Hal ini membuat Okta semakin bertanya-tanya sebenarnya Frans itu siapa.
          Beberapa minggu setelah KKN, Okta menjalani PPL di SMK 1 selama sebulan. PPLnya selama ini berjalan lancar karena dia berusaha untuk menikmati semua itu. Ketika pulang PPL, Okta mampir ke sebuah mini market untuk membeli beberapa makanan ringan karena kebetulan persediaan makanannya di kost sudah hampir habis. Ketika di kasir, tiba-tiba...
          "Lho mbak Okta.", celetuk laki-laki yang ada di sampingnya.
          "Frans? Kok kamu di sini sih?", tanya Okta heran.
          "Iya. Mbak lagi belanja ta?", tanya Frans.
          "Iya nih. Soalnya stok makananku di kost udah abis.", jelas Okta.
          "Makan mulu. Makanya gendut.", ledek Frans.
          "Eh nggak ya.", elak Okta. Setelah selesai membayar, Okta langsung pulang karena sudah tidak kuat menahan rasa lelahnya hari ini. Sesampainya di kost, dia sangat menyesal mengapa tadi tidak menanyakan soal pak polisi yang sedang memimpin apel di polsek itu kepada Frans. Okta berharap semoga dia bisa bertemu dengan Frans lagi agar bisa menanyakan hal itu.
          Malam harinya ketika Okta sedang sibuk membuat RPP untuk besok, tiba-tiba ada nomer yang tidak dikenal menelponnya. Ketika diangkat ternyata yang menelpon adalah Frans. Frans bercerita bahwa nomer itu dia dapat setelah beberapa minggu dia mencari tau lewat semua sosial media yang dipakai Okta. Okta merasa salut dan bertepuk tangan setelah mendengarnya. Karena kebetulan Frans sedang menelponnya, maka Okta menanyakan kepadanya tentang pak polisi yang sangat mirip dengan dirinya yang waktu itu sedang memimpin apel di polsek ketika dia pulang KKN. Bukannya menjawab, tapi Frans malah mengajak Okta untuk ketemuan di akhir pekan nanti.
          Hari ini hari Minggu. Frans mengajak Okta ketemuan di sebuah taman kota untuk menjawab pertanyaan Okta beberapa hari lalu sekaligus  memberi tahunya beberapa hal tentang dirinya. Setelah hampir setengah jam menunggu, akhirnya Okta datang juga. Okta segera menemuinya karena ingin tau sebenarnya ada apa Frans mengajaknya untuk bertemu di sini.
          "Oh ya Frans, pertanyaanku yang kemarin gimana jawabannya?", tanya Okta.
          "Pertanyaan yang mana?", tanya Frans.
          "Itu lho tentang pak polisi yang mirip banget sama kamu. Aku salah lihat ya itu?", tanya Okta.
          "Nggak. Kamu nggak salah lihat kok. Itu emang beneran aku.", jawab Frans.
          "Sumpah loe?", tanya Okta. Frans hanya mengangguk. Kemudian dia bercerita tentang siapa sebenarnya dirinya. Ketika Okta KKN di tempat itu, Frans sudah beberapa bulan menjabat sebagai kapolsek di kecamatan itu. Dan tepat satu minggu setelah Okta selesai KKN, Frans ditarik lagi ke polres sampai sekarang. Okta tercengang sekaligus kagum mendengarnya. Bagaimana tidak dengan usia yang masih terbilang sangat muda itu, Frans sudah pernah menjabat sebagai kapolsek. Kemudian Frans juga bercerita tentang latar belakang pendidikan agamanya yang sangat minim itu. Hal itu terjadi karena kerjaannya yang sangat sibuk itu membuat dirinya kurang bisa mempelajari agama secara mendalam. Alasan lain yang membuat pengetahuan agamanya sangat minim adalah karena dia adalah seorang muallaf. Dia sekeluarga memutuskan untuk masuk Islam tepat setelah dia lulus SMA. Jika dihitung ya sudah hampir 10 tahun dia memeluk agama Islam. Okta semakin kaget mendengarnya.
          "Ya ampun aku minta maaf ya, Frans. Waktu itu aku udah bentak-bentak kamu gara-gara kamu baca buku Iqro'nya lama dan gara-gara kamu nggak bisa menyebutkan nama-nama malaikat secara terbalik urutannya. Aku waktu itu beneran nggak tau latar belakang pendidikan agamamu seperti apa. Jadi aku minta maaf ya.", ucap Okta penuh rasa bersalah.
          "Iya nggak apa-apa, mbak.", jawab Frans.
          "Eh udah dulu ya. Aku nggak enak lama-lama ngobrol sama kamu.", ucap Okta sambil beranjak.
          "Nggak enak kenapa, mbak? Mbak nggak suka ta ngobrol-ngobrol sama aku?", tanya Frans.
          "Entar ada yang marah.", jawab Okta.
          "Siapa yang marah?", tanya Frans.
          "Ya pacarmu lah. Siapa lagi.", jelas Okta. Frans hanya tersenyum dan meminta Okta untuk tidak pergi. Setelah Okta kembali, Frans mulai bercerita tentang kisah cintanya. Dulu dia pernah menjalin hubungan dengan seorang perempuan. Namun kisah cinta itu berakhir hanya karena Frans belum bisa mengaji dan pengetahuan agamanya sangat minim. Setiap kali Frans meminta perempuan itu untuk mengajarinya mengaji, dia selalu menolaknya dengan alasan Frans sulit untuk diajari dan untuk memahami apa yang diajarkan itu membutuhkan waktu yang sangat lama. Akhirnya perempuan itu memutuskan untuk meninggalkan Frans dan menyudahi hubungan itu. Karena itulah hingga sekarang Frans memilih untuk sendiri. Namun semenjak bertemu dengan Okta, entah bagaimana cerita Frans bisa jatuh hati padanya. Mungkin karena Okta mau mengajarinya untuk mengaji dengan sabar, jadi akhirnya Frans jatuh hati padanya. Okta hanya tertawa mendengarnya. Okta membantah ucapan Frans yang mengatakan bahwa dirinya adalah perempuan yang sabar. Karena pada kenyataannya dia adalah perempuan yang galak, gampang emosi, dan lain-lain. Namun Frans tidak menilai Okta dari sisi itu. Dia tetap menganggap bahwa Okta adalah perempuan yang sabar dan mau mengajarinya untuk mempelajari agama lebih dalam lagi. Frans juga mengungkapkan keinginannya kepada Okta bahwa dia benar-benar ingin belajar. Mendengar keseriusan Frans dalam hal ini, tiba-tiba...
          "Target yang bagus nih.", teriak Okta.
          "Target bagus? Maksud kamu, ta?", tanya Frans bingung. Kemudian Okta menceritakan tentang saran mama yang pernah diberikan kepadanya bahwa jika dia memilih teman hidup nanti, maka jangan memilih laki-laki yang sudah sangat pintar dalam bidang agama. Karena jika Okta memilih tipe laki-laki seperti itu, maka ilmu yang dia dapatkan selama ini akan percuma. Dan Okta setuju dengan saran mama. Frans heran mendengarnya.
          "Lho mama kamu kok malah ngasih saran kek gitu sih? Bukannya kalo kamu entar nikah sama laki-laki yang pintar dalam bidang agama, dia malah bisa ngebimbing kamu jadi istri yang baik?", tanya Frans heran.
          "Ini belum selesai ceritanya. Makanya dengerin dulu dong.", jawab Okta. Kemudian Okta melanjutkan ceritanya. Okta setuju dengan saran mama karena jika dia menikah dengan laki-laki yang sudah pintar dalam bidang agama, maka dia tidak bisa mengamalkan ilmu yang selama ini sudah dia dapatkan. Karena Okta juga memiliki prinsip yaitu menikah sekaligus berdakwah. Dia lebih memilih laki-laki yang belum begitu paham tentang agama namun memiliki niat yang kuat untuk mempelajarinya daripada laki-laki yang sudah pintar dalam bidang agama. Bukan berarti Okta membenci mereka yang sudah pintar dalam bidang agama. Namun dia juga memiliki selera sendiri dan juga memiliki hak dalam memilih teman hidup.
          "Kalo gitu aku termasuk kriteria kamu dong? Berarti kamu juga mau dong ngajarin aku?", tanya Frans.
          "Ya bisa dibilang begitu. Kebetulan seleraku tu orang-orang yang profesinya sama kek kamu.", jawab Okta.
          "Kalo gitu aku bilang ke mamaku ya.", ucap Frans.
          "Bilang apa?", tanya Okta.
          "Bilang ke mama kalo aku udah mendapatkan targetku yaitu perempuan yang mau ngajarin aku untuk mengaji dan mempelajari agama lebih dalam lagi. Sekalian aku bilang kalo aku juga udah menemukan calon teman hidupku.", jawab Frans.
          "Teman hidup apaan sih? Aku kan masih kuliah. PPL aja belum selesai. Skripsi apalagi.", jelas Okta.
          "Ya tinggal ditunggu sampek selesai apa susahnya. Yang penting kamu mau kan?", tanya Frans. Okta mengangguk. Frans merasa bahagia atas jawaban Okta karena itu artinya dia sudah menemukan perempuan yang mau mengajakya untuk mendalami dan mempelajari ilmu agama.

Friday, 16 September 2016

AKU PASTI KEMBALI

                   Ujian akhir semester genap akhirnya selesai. Kini saatnya Faiza menikmati libur akhir semester genapnya itu yang kurang lebih lamanya 2 bulan. Ketika teman-teman satu kostnya menikmati dan menghabiskan libur panjang mereka di rumah masing-masing, Faiza lebih memilih untuk tetap stay di rumah neneknya karena satu minggu lagi sudah lebaran. Alasan lain yang membuat Faiza memilih untuk tetap stay di rumah neneknya yaitu karena keluarga besarnya termasuk keluarganya selalu berkumpul di rumah nenek saat lebaran tiba.
              Lebaran yang penuh dengan canda, tawa, dan cerita itu akhirnya usai. Kini waktunya Faiza untuk ikut pulang bersama kedua orang tuanya ke rumah. Karena sudah 1 tahun dia sama sekali tidak pulang ke rumah. Namun ketika dia ingin pulang, tiba-tiba nenek melarangnya untuk pulang karena 2 kakak sepupunya akan menikah pada waktu yang hampir bersamaan. Nenek memintanya untuk mengundur kepulangannya karena jika Faiza tetap stay di rumah nenek, dia bisa membantu tantenya untuk mempersiapkan acara pernikahan kakak sepupunya.
              Setelah acara pernikahan kedua kakak sepupunya itu selesai, akhirnya Faiza bisa pulang. Selama di rumah, Faiza hanya menghabiskan waktunya bersama kakaknya karena kebetulan saat ini kakaknya juga masih dalam masa libur kuliah. Malam harinya ketika Faiza sedang asyik ngobrol bersama mama, tiba-tiba...
              "Entar kalo kak Reza udah masuk kuliah lagi, kamu ikut mama ke sekolah ya, za.", ucap mama.
              "Ke sekolah? Mau ngapain, ma?", tanya Faiza heran.
              "Ya latihan ngajar lah. Kan tahun depan kamu udah praktek ngajar. Jadi nggak ada salahnya kan kalo kamu latihan ngajar mulai sekarang. Ya itung-itung buat ngisi liburan kamu.", jawab mama. Tanpa sengaja kak Reza mendengar itu semua.
              "Sukurin disuruh ngajar anak kecil.", ledek kak Reza.
              "Hih apaan sih.", jawab Faiza sinis.
              Hari terus berganti dan Faiza semakin merasa takut dengan ajakan mama waktu itu. Dia selalu berdo'a, berdo'a, dan berdo'a semoga kakaknya tidak segera masuk kuliah. Namun semua itu tidak ada gunanya karena yang namanya waktu itu cepat atau lambat pasti akan berlalu. Tepat pada tanggal 15 Agustus, kak Reza harus segera kembali ke Malang karena mendapat pemberitahuan yang cukup mendadak tentang seminar yang akan dilaksanakan di kampusnya dan karena kak Reza termasuk panitia dalam seminar itu, maka dia harus segera kembali untuk mengerjakan makalah yang akan diseminarkan. Malam harinya, Faiza meminta kepada mamanya agar jadwalnya untuk latihan mengajar di sekolah itu diundur setelah libur tanggal 17 Agustus dan mama pun menyetujuinya.
              2 hari telah berlalu. Jadwal Faiza untuk latihan mengajar di SD tempat mamanya selama ini mengajar akhirnya tiba. Karena sudah tidak ada alasan lagi, akhirnya mau tidak mau Faiza harus mau menuruti permintaan mamanya waktu itu. Sejak perjalanan dari rumah hingga sekolah, yang ada di hati Faiza hanyalah perasaan takut, canggung, nervous, dan masih banyak lagi. Ya maklumlah selama ini dia tidak pernah berdiri di hadapan anak SD secara langsung.
              Setibanya di sekolah, mama mengajak Faiza untuk pergi ke kelas 3 karena kebetulan sekarang adalah jadwal mama untuk mengajar di kelas 3. Faiza hanya menuruti ajakan mamanya. Ketika masuk di kelas 3, Faiza menatap seluruh siswa yang ada di kelas itu dengan tatapan yang kosong. Dia bingung harus bersikap seperti apa di depan anak sebanyak itu.
              "Anak-anak, kenalkan ini anak ibu. Namanya mbak Faiza. Dia akan latihan ngajar di sini karena sekarang dia sedang libur kuliah.", jelas bu Farah, mama Faiza kepada anak-anak.
              "Mbaknya kuliah di mana, bu?", tanya salah satu anak di kelas itu.
              "Nanti kalian kenalan sendiri aja ya sama mbak Faiza. Sekarang waktunya mengerjakan buku latihan. Tolong buku latihannya halaman 14 dibuka.", pinta bu Farah.
              Kemudian bu Farah menjelaskan kepada anak-anak cara mengerjakan soal yang ada di halaman 14 itu karena kebetulan soal di halaman 14 itu bukan soal pilihan ganda atau isian. Setelah menjelaskan kepada anak-anak dan mereka juga mengerti cara mengerjakannya, kemudian bu Farah meninggalkan kelas. Faiza semakin takut ketika melihat mamanya akan meninggalkan dia sendirian di kelas itu.
              "Mau ke mana, ma?", tanya Faiza lirih.
              "Mama mau keluar sebentar sama bu Evi. Sekalian ngambil uang di bank.", jawab mama
              "Oh ya anak-anak, kalo udah selesai ngerjakan, nanti dimintakan nilai ke mbak Faiza ya. Ibu mau keluar sebentar.", jelas bu Farah.
              "Iya bu.", jawab anak-anak serempak.
              Setelah semua anak selesai mengerjakan dan dia juga sudah selesai memberi nilai kepada anak-anak, kemudian Faiza meminta mereka untuk mengerjakan soal selanjutnya. Anak-anak sempat menertawakan Faiza karena dia berbicara dengan suara yang agak gelagapan. Faiza hanya bisa diam sambil menahan rasa malu mendengar ucapan anak-anak. Sambil mengerjakan soal, anak-anak mengajak Faiza untuk berkenalan. Mulai dari kuliah, lama libur kuliah, hingga soal cinta pun mereka tanyakan kepada Faiza. Faiza menjawab semua itu dengan santai dan mengatakan kepada anak-anak bahwa dia belum punya pacar. Namun mereka sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru saja Faiza katakan. Faiza hanya tersenyum melihat ketidakpercayaan mereka.
              Jam pelajaran telah usai. Kini waktunya semua siswa untuk pulang. Hari ini adalah hari yang sangat berkesan bagi Faiza. Dia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa berinteraksi dengan anak SD itu ternyata sangat menyenangkan. Dia baru percaya bahwa ketakutannya ketika berhadapan dengan anak-anak, mulai dari diam seribu bahasa hingga pingsan di depan mereka itu ternyata tidak terbukti. Dia juga berharap semoga besok bisa lebih menyenangkan lagi.
              Keesokan harinya, Faiza terlihat sangat semangat untuk pergi ke sekolah. Sesampainya di sekolah, mama mengajak Faiza untuk pergi ke kelas 2 karena selain jadi guru agama, bu Farah juga merangkap menjadi guru kelas 2 bersama guru olahraga karena guru kelas 2 yang asli sedang sakit. Di kelas 2, mama juga memperkenalkan Faiza kepada siswa kelas 2 sama seperti kemarin ketika mama memperkenalkan Faiza kepada siswa kelas 3. Ketika berada di depan semua siswa, pandangan Faiza langsung tertuju pada 2 orang siswa dan siswi yang duduk tepat di depan meja guru. Entah kenapa Faiza merasa senang ketika memandang 2 anak itu. Mungkin karena mereka berdua cantik dan ganteng kali ya. Ketika mamanya selesai memberi tugas kepada anak-anak, kemudian beliau meninggalkan Faiza di kelas. Mama juga berpesan kepada Faiza untuk melakukan pengabsenan agar dia bisa pelan-pelan mengenal mereka dan tau siapa yang masuk dan yang tidak masuk. Ketika melakukan pengabsenan, Faiza baru tau bahwa siswi cantik yang duduk tepat di depan meja guru itu bernama Ameliya Putri Mentari dan siswa ganteng di sebelah siswi cantik itu bernama Ladyfa Hafid Al Farezy.
              Semenjak perkenalannya dengan Ameliya, semangat Faiza semakin bertambah ketika hari mulai menjelang pagi karena itu artinya dia bisa segera pergi ke sekolah dan bertemu dengan Amel lagi. Suatu hari ketika akan berangkat ke sekolah, Faiza sempat diledek oleh papa.
              "Bu guru mau berangkat ke sekolah ya?", ledek papa.
              "Ih papa apaan sih. Aku nggak ngajar tau.", jawab Faiza.
              "Kalo nggak ngajar, terus kamu ngapain di sekolah?", tanya papa.
              "Aku cuma main di sekolah lamaku.", jawab Faiza.
              "Ya jangan cuma main lah, fa. Kan kamu udah janji ke mama kalo kamu bakalan belajar ngajar di tempatnya mama.", ucap papa.
              "Ya enggak lah, pa. Lagian aku tu main sama anak-anak kalo udah waktunya istirahat.", jelas Faiza.
              "Bagus lah kalo gitu. Ya udah buruan berangkat sana. Mama udah nungguin kamu tuh.", saran papa. Kemudian Faiza segera berangkat ke sekolah bersama mamanya.
              Sesampainya di sekolah, mama menyuruh Faiza untuk pergi ke kelas 2 karena sekarang adalah jadwal PAI untuk kelas 2. Faiza sangat senang mendengarnya karena itu artinya dia bisa bertemu dengan Amel lagi. Selama di dalam kelas, Faiza hanya senyum-senyum sendiri ketika Amel menanyakan materi yang belum dia pahami kepadanya. Dan saat istirahat tiba, Faiza sempat meminta Amel agar dia bersedia untuk berfoto bertiga bersama dia dan Hafid, teman sebangkunya. Namun sayangnya Amel tidak terlalu menggubris permintaan Faiza karena saat itu dia sedang asyik bercanda bersama teman-temannya.
              Keesokan harinya Faiza ingin cepat-cepat pergi ke sekolah karena dia ingin menjelaskan ulang kepada Amel tentang permintaannya yang kemarin. Setelah sampai di sekolah dan masuk di kelas 2, Faiza heran karena tidak melihat tas Amel berada di bangkunya. Kemudian dia putuskan untuk bertanya kepada Alya, teman Amel.
              "Amel ke mana? Kok tasnya nggak ada sih?", tanya Faiza heran.
              "Mbak Amel lagi sakit, mbak. Itu suratnya udah aku taruh di meja kok.", jawab Alya.
              "Oh ya udah kalo gitu. Makasih banyak ya.", ucap Faiza.
              Setelah mengetahui bahwa Amel sakit, Faiza terlihat sangat kecewa dan dia memutuskan untuk duduk sebentar di teras depan kelas 2. Ketika dia sedang melamun, tiba-tiba bu Iin, guru kelas 3 mengagetkannya kemudian mengajaknya untuk membungkusi sayuran yang tadi pagi sudah dikumpulkan oleh anak-anak yang nantinya akan disetorkan ke kecamatan karena nanti sore ada bazar. Faiza hanya menurutinya.
              Setelah selesai membantu membungkusi sayuran, Faiza menulis sepucuk surat untuk Amel dan setelah selesai menulis surat itu, kemudian dia pergi ke kelas 2 yang kebetulan sudah sepi dan menyelipkan surat itu di meja Amel. Selama perjalanan pulang, dia hanya berpikir mungkinkah Amel tau bahwa kertas yang diselipkan di mejanya itu adalah surat darinya dan mungkinkah Amel akan meresponnya. Faiza merasa yakin bahwa Amel akan membaca surat itu dan meresponnya karena dia tau bahwa Amel sudah kelas 2 dan pastinya juga sudah bisa membaca. Namun di sisi lain Faiza juga merasa tidak yakin bahwa anak seumuran Amel akan merespon surat kaleng yang dikirimnya itu.
              Hari ini hari minggu. Faiza sedih karena tidak bisa bertemu dengan anak-anak. Sepertinya dia sudah mulai merasa nyaman berada di sekolah tempat mamanya mengajar. Seharian ini dia secara diam-diam juga memperlihatkan sikapnya yang merasa tidak betah di rumah itu dengan cara mondar-mandir dari ruang tamu ke dapur, beralasan ingin keluar rumah, dan lain sebagainya. Hampir seharian Faiza bersikap aneh seperti itu.
              Keesokan harinya sebelum berangkat ke sekolah, Faiza berharap semoga hari ini Amel masuk sekolah dan membaca surat kaleng darinya itu. Sesampainya di sekolah, upacara bendera ternyata sudah dimulai. Ketika Faiza mengikuti upacara bendera, dia memilih untuk berdiri di belakang barisan yang ada di depan kelas 2 karena dia juga ingin melihat apakah surat itu masih ada di meja Amel atau tidak. Ketika dia sempat mengintip ruang kelas 2, dia melihat bahwa surat itu sudah tidak ada di meja Amel. Dia yakin bahwa Amel sudah membaca surat itu. Namun setelah berpikir ulang, dia jadi ragu. Jangan-jangan surat itu malah dibuang oleh anak-anak yang piket hari ini.
              Setelah upacara selesai, mama menyuruh Faiza pergi ke kelas 2 untuk menemani mereka belajar. Dan ketika di kelas, Faiza heran melihat sikap Amel yang tiba-tiba berubah menjadi ramah kepadanya.
              "Mbak Faiza yang ngirim surat tadi ya?", tanya Amel sambil tersenyum.
              "Bukan. Mungkin mbak Faiza kelas 3 kali yang ngirim.", elak Faiza.
              "Tulisannya mbak Faiza kelas 3 nggak mungkin sebagus itu, mbak. Udah deh mbak ngaku aja kalo mbak Faiza yang ngirim surat itu.", pinta Amel.
              "Oke aku ngaku. Emang aku yang ngirim surat itu tadi.", jawab Faiza.
              "Ternyata mbak Faiza cuma sayang sama Amel. Aku baru sadar.", ucap Alya kepada teman-temannya.
              "Nggak gitu. Aku tu cuma pingin foto bareng aja sama Amel dan Hafid.", jelas Faiza.
              Ketika pelajaran PPKn selesai dan waktu istirahat telah tiba, Faiza mencegah Amel dan Hafid untuk istirahat karena dia ingin foto bersama mereka berdua. Setelah mereka selesai berfoto, Faiza mengijinkan Amel dan Hafid untuk istirahat. Ketika Amel kembali ke kelas dan Faiza juga masih berada di kelas 2, dia mengajak siswi yang berada di kelas itu untuk berkumpul kemudian memberi tahu mereka tentang sesuatu.
              "Dek, mbak besok senin udah nggak bisa nemenin kalian belajar lagi. Soalnya besok senin mbak udah mulai masuk kuliah.", jelas Faiza mengawali pembicaraan.
              "Yah mbak Faiza kok gitu sih.", gerutu Revi.
              "Mendingan mbak nggak usah kuliah aja biar bisa ngajar di sini.", sambung Amel.
              "Ya nggak bisa gitu dong. Kalo mbak nggak ngelanjutin kuliah, mbak malah nggak bisa jadi guru entar.", jawab Faiza.
              "Ya udah nggak apa-apa deh mbak balik kuliah lagi. Asal entar kalo udah lulus, mbak harus balik lagi ke sini ya.", pinta Amel.
              "Pinginnya sih gitu. Soalnya bu Farah pernah bilang ke mbak kalo nanti mbak udah lulus, mbak disuruh ngajar di sini. Ya kalian do'akan aja ya semoga mbak nanti bisa kembali lagi ke sini dan ngajar kalian lagi.", ucap Faiza.
              "Oke mbak.", ucap mereka serempak.
              Setelah pelajaran hari ini selesai dan sebelum pulang, Faiza langsung mengupload foto itu di akun facebooknya dan menuliskan caption, "Bersama si cantik, Ameliya Putri Mentari dan si ganteng, Ladyfa Hafid Al Farezy. Jadi murid yang pinter ya, sayang. Aku sayang kalian.". Selain mengupload foto mereka di akun facebooknya, Faiza juga menjadikan foto itu sebagai wallpaper handphonenya dan foto profil di semua akun miliknya. Ketika dia baru saja pulang dari sekolah dan mengecek handphonenya, dia melihat kakak sepupunya mengomentari foto yang dia upload tadi.
              "Ngajar di mana, bu guru?", komen kakak sepupunya itu.
              "Di SD tempat mamaku ngajar. Sebenarnya aku nggak ngajar sih. Cuma nemenin mereka belajar aja.", jawab Faiza. Dan tak lama kemudian, Faiza melihat ada komentar yang agak aneh dari akun milik Satria, teman dekatnya.
              "Ya ampun bu guru cantik banget. Aku jadi pingin balik ke SD lagi nih, bu. Biar bisa diajar dan diajak foto sama bu guru cantik.", puji Satria.
              "Satria, kamu apa-apaan sih. Aku tu nggak ngajar. Aku cuma nemenin mereka belajar aja. Lagian kamu komennya lebay banget sih.", balas Faiza.
              "Abisnya bu gurunya cantik sih.", jelas Satria.
              "Terserah kamu lah mau ngomong apa. Emang dasar kamu lebay. Aku makin sebel sama sikapmu yang makin hari makin lebay itu.", balas Faiza. Satria hanya tersenyum membacanya.
              Hari ini adalah jadwal olahraga untuk kelas 2. Karena kelas 2 jadwalnya olahraga, maka Faiza memilih untuk menghabiskan waktunya di kantor. Ketika melihat Faiza sedang santai dan kebetulan bu Evi, guru kelas 1 juga belum datang, mama memintanya pergi ke kelas 1 untuk menemani mereka belajar hingga bu Evi datang. Ketika akan menuju ke kelas 1, Faiza melihat Amel berada di depan kelasnya dan memeluknya dengan sangat erat. Faiza segera melepaskan pelukan itu karena dia sudah disuruh oleh mamanya untuk pergi ke kelas 1. Beberapa menit setelah Faiza berada di kelas 1, tiba-tiba ada temannya Amel yang memberitahu kepada Faiza bahwa Amel tiba-tiba pergi tanpa mereka ketahui ke mana perginya. Mendengar pengakuan dari salah satu teman Amel itu, Faiza meminta mereka untuk segera mencari Amel hingga ketemu. Setelah mereka keliling sekolah, mereka menemukan Amel sedang duduk termenung di belakang perpustakaan dalam keadaan menangis. Kemudian mereka mengajak Amel kembali ke kelas karena guru olahraga hingga saat ini belum datang juga. Faiza merasa lega ketika melihat Amel sudah berada di kelas dan dia segera menghampirinya. Ketika dia masuk ke kelas 2, dia semakin bingung karena melihat hampir semua siswi di kelas itu menangis di bangkunya masing-masing, tak terkecuali Amel. Tanpa banyak bicara, dia langsung menghampiri Amel. Namun belum sempat Faiza bicara apa-apa, dia sudah diomeli oleh anak sekelas.
              "Mbak Faiza udah nggak sayang sama kelas 2. Mbak Faiza lebih milih buat ngajar kelas 1. Ya udah kalo gitu mendingan mbak Faiza pergi ke kelas 1 aja sana. Nggak usah ngajar kelas 2 lagi.", ucap Revi, siswi kelas 2. Namun Faiza tidak menggubrisnya karena dia masih ingin bertanya sesuatu kepada Amel.
              "Mel, kenapa kok diam terus sih? Mbak punya salah ya sama kamu?", tanya Faiza. Namun Amel tetap diam saja.
              "Amel, dengerin aku. Sekarang kan waktunya kamu olahraga. Guru olahraganya kan juga udah ada. Jadi nggak mungkin dong kalo mbak yang ngajar kalian olahraga. Dan satu lagi, mbak tu sama sekali nggak ada niat untuk nunggu kelas 1. Tadi tu ceritanya kan bu Evi belum datang. Terus mbak disuruh sama bu Farah buat nunggu kelas 1 biar nggak ribut sendiri. Itu aja kok. Nggak lebih. Tolong kamu ngerti ya.", jelas Faiza. Tiba-tiba Amel langsung memeluknya dengan erat sambil menangis.
              "Mbak minta maaf ya kalo mbak punya salah sama kamu.", ucap Faiza yang tidak sanggup menahan air mata. Setelah berpelukan cukup lama, Faiza melepaskan pelukan Amel.
              "Udah jangan nangis lagi ya.", pinta Faiza sambil mengusap air mata di pipi Amel. Amel hanya mengangguk mendengarnya. Faiza sama sekali nggak pernah menyangka jika Amel bisa secemburu itu dan dia juga tidak menyangka jika kejadian di sekolah hari ini akan sedramatis itu.
              Hari ini, besok, dan lusa adalah jadwal Faiza untuk mengisi kartu rencana studinya secara online. Pagi hari sekitar jam 8, Faiza mencoba untuk mengakses siakadnya dan sekalian mencoba untuk mengisi kartu rencana studinya untuk semester ini. Sudah beberapa kali di mencoba untuk membuka siakad, namun hasilnya tetap error. Mungkin karena terlalu banyak mahasiswa yang mengakses, jadi siakadnya agak sulit untuk dibuka. Ketika masih mencoba untuk mengakses siakadnya, ada teman Faiza yang bilang bahwa ada salah satu mata kuliah yang tidak bisa dicentang. Faiza juga nggak percaya soal itu karena siakadnya belum bisa dibuka. Beberapa jam kemudian, akhirnya Faiza bisa membuka siakadnya dan mengisi kartu rencana studinya. Dan benar saja ketika dia sedang mengisi kartu rencana studi, ada salah satu mata kuliah yang tidak bisa dicentang. Hal ini membuat Faiza menggerutu sejak pulang dari sekolah hingga sampai rumah. Di rumah pun dia tetap saja menggerutu sampai malam hanya karena ada satu mata kuliah yang tidak bisa dicentang itu. Mama hanya bisa menyuruh Faiza untuk sabar menunggu besok pagi. Siapa tau besok sudah bisa dicentang. Karena saking sebelnya, dia menuliskan sebuah status di WhatsAppnya yang berbunyi "kenapa sih hari ini keberuntungan sama sekali tidak berpihak padaku?". Tanpa sengaja Satria membaca status itu.
              "Kamu kenapa sih? Kok di status kayaknya lagi sebel gitu?", tanya Satria lewat telpon WhatsApp.
              "Gimana nggak sebel coba. Hari ini, besok, dan lusa itu jadwalku nyusun kartu rencana studi. Mana ada satu mata kuliah yang nggak bisa dicentang lagi. Kan jadi sebel.", keluh Faiza.
              "Ya udah coba kamu diskusikan sama temen sekelasmu dulu lah.", saran Satria.
              "Udah. Tapi mereka malah ribut sendiri.", keluh Faiza.
              "Ya terus kamu sekarang mau gimana?", tanya Satria.
              "Nggak tau, sat. Aku masih bingung.", jawab Faiza.
              "Ya udah daripada kamu bingung, mendingan kamu istirahat dulu aja. Siapa tau besok mata kuliahnya udah bisa dicentang.", jelas Satria.
              "Ya udah kalo gitu aku istirahat dulu ya.", ucap Faiza.
              "Oke.", jawab Satria sambil mematikan telpon.
              Keesokan harinya, Faiza mencoba membuka lagi siakadnya dengan harapan salah satu mata kuliah yang kemarin tidak bisa dicentang itu hari ini sudah bisa dicentang. Namun sayangnya harapannya itu tidak sesuai kenyataan. Karena rasa kesalnya sudah semakin memuncak, maka dia putuskan pergi ke kampus untuk menanyakan masalah jadwal ini ke akademik.
              "Ma, daripada aku ngomel mulu, mendingan aku ke kampus aja kali ya. Sekalian nanyain jadwal masuknya itu lho. Soalnya kemarin ada yang bilang kalo masuknya diundur seminggu.", jelas Faiza.
              "Tapi kamu beneran berani ke sana sendiri?", tanya mama.
              "Ya daripada aku ngomel mulu nggak ada kepastian, mending aku langsung ke kampus aja.", jawab Faiza.
              "Ya udah kalo itu pilihan kamu. Tapi entar dari terminal ke kampus, kamu juga naik bis?", tanya mama.
              "Itu sih gampang, ma. Aku kan bisa minta Satria buat jemput aku. Kalo dia emang lagi sibuk, ya naik bis aja nggak masalah lah.", jawab Faiza.
              "Ya udah deh kalo gitu.", ucap mama.
              Setelah selesai mandi dan beres-beres, mama segera mengantarkan Faiza ke halte. Sesampainya di halte dan kebetulan ada bis yang berhenti, Faiza segera pamit dan langsung mengejar bis itu. Ketika baru naik bis, Faiza segera menghubungi Satria dan menanyakan apakah dia bisa menjemputnya di terminal atau tidak. Ternyata Satria bisa menjemput Faiza karena kebetulan hari ini dia sedang tidak sibuk. Sesampainya di terminal dan setelah bertemu dengan Satria, Faiza memintanya untuk segera mengantarkannya ke kampus agar urusannya cepat selesai. Setelah urusannya di kampus selesai, Faiza meminta Satria untuk mengantarkannya lagi ke terminal karena dia pingin pulang.
              "Kamu nggak capek apa baru datang terus langsung pulang?", tanya Satria.
              "Enggak.", jawab Faiza.
              "Kamu nggak pingin mampir ke kost kamu gitu?", tanya Satria.
              "Enggak.", jawab Faiza.
              "Kamu juga nggak kangen sama aku gitu? Kita kan udah nggak ketemu hampir sebulan, fa. Masa kamu juga nggak kangen sih sama aku?", tanya Satria.
              "Ya kangen lah.", jawab Faiza.
              "Ya kalo kangen, kamu main lah ke kantor aku. Entar kan kamu bisa sholat dhuhur di sana sekalian istirahat. Kita juga bisa makan siang bareng. Abis makan siang deh entar aku anterin kamu ke terminal.", jelas Satria.
              "Oke.", jawab Faiza. Akhirnya mereka berdua pun pergi ke kantor tempat Satria bekerja yaitu di polres.
              Ketika makan siang, Faiza dan Satria saling bertukar cerita sambil melepas rasa kangen setelah hampir sebulan tidak bertemu. Saking asyiknya bercerita, Faiza sampai tidak memperhatikan bahwa handphone yang Satria bawa waktu itu bukanlah handphone yang biasa dia pakai. Setelah mereka selesai makan siang, Satria segera mengantar Faiza ke terminal. Selama di dalam bis, Faiza merasa ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Tapi dia tidak tau sebenarnya apa sesuatu yang membuat pikirannya agak aneh itu. Setelah dia berusaha keras untuk mengingat, akhirnya dia baru menyadari bahwa handphone yang dibawa oleh Satria tadi adalah Samsung yang berwarna hitam, sedangkan yang biasa dia bawa saat bertemu dengan Faiza adalah Samsung yang berwarna putih. Dia sempat curiga jangan-jangan selama sebulan ini Satria bermain perempuan di belakangnya. Selama seminggu di rumah, yang ada di pikiran Faiza hanyalah perasaan curiga dan takut jika Satria memang benar-benar bermain perempuan di belakangnya.
              Karena masih ada waktu satu minggu untuk Faiza pergi sekolah, maka dia pergunakan kesempatan yang tinggal beberapa hari itu dengan sebaik-baiknya agar dia tidak menyesal jika sudah kembali ke Ponorogo. Pada hari jum'at sebelum Faiza kembali ke Ponorogo karena besok selasa dia sudah masuk kuliah, dia menyempatkan diri untuk menemui Amel sekaligus pamit kepadanya.
              "Mel, mbak minta maaf kalo selama ini ada kata-kata mbak yang nggak berkenan di hati kamu. Mbak juga minta maaf kalo selama ini mbak ada salah sama kamu. Mbak janji kapan-kapan mbak akan pulang dan main ke sini buat nemuin kamu.", ucap Faiza sambil memeluk Amel.
              "Iya mbak. Aku juga bakalan kangen sama mbak Faiza.", jawab Amel.
              "Ya udah kamu buruan pulang gih. Temen-temen kamu udah pada pulang tuh.", perintah Faiza.
              "Iya mbak.", jawab Amel sambil pergi meninggalkan Faiza.
              Hari sabtu pagi, Faiza balik ke Ponorogo ditemani oleh mamanya. Mama hanya menginap 1 malam di sana kemudian minggu paginya pulang. Beberapa hari kemudian, Satria mengajak Faiza untuk bertemu dengannya di taman kota karena dia tau bahwa minggu pertama masuk kuliah, pasti Faiza masih santai. Ketika bertemu dengan Faiza...
              "Aduh bu guru cantik udah balik nih ceritanya.", goda Satria sambil mengulurkan tangannya ke arah Faiza.
              "Kamu apa-apaan sih, sat. Malu tau didenger banyak orang.", jawab Faiza sinis.
              "Biarin. Emang cantik kok.", jawab Satria. Faiza hanya bisa menyunggingkan senyumnya mendengar ucapan Satria  dan tidak membalas jabatan tangannya.
              "Ceritanya tanganku dianggurin nih?", tanya Satria.
              "Nggak gitu. Mendingan nggak usah jabat tangan dulu deh. Soalnya tanganku lagi ganti kulit. Jadi agak kasar gitu.", jawab Faiza.
              "Tanganmu nggak kasar kok. Tanganmu tu lembut kayak hatimu.", puji Satria. Karena melihat Satria semakin meledeknya, maka Faiza putuskan untuk menjabat tangannya. Ketika tangannya sedang dijabat, tiba-tiba Satria berteriak. Otomatis Faiza kaget dibuatnya.
              "Kenapa sat? Tanganmu sakit ya kena tanganku yang agak kasar ini?", tanya Faiza khawatir.
              "Iya nih. Ternyata kasar banget. Rasanya hatiku juga ikut tertusuk oleh kulit kasarmu itu deh, fa.", goda Satria.
              "Satria, kamu jangan mulai lagi deh. Makin sebel aku.", teriak Faiza kesal. Satria hanya tertawa mendengarnya.
              "Oh ya kemarin gimana latihan ngajarnya?", tanya Satria.
              "Dibilangin aku nggak latihan ngajar kok. Aku cuma nemenin mereka belajar aja.", jawab Faiza.
              "Halah kan sama aja. Gimana ceritanya? Asyik nggak?", tanya Satria.
              "Asyik banget. Apalagi kalo si siswi cantik yang namanya Ameliya itu lagi manja sama aku, rasanya tu seneng banget.", jawab Faiza.
              "Aku juga mau dimanja dong.", pinta Satria.
              "Ogah banget.", jawab Faiza tegas. Pada saat itu juga sebenarnya Faiza sangat ingin mencari tau sebenarnya handphone Samsung hitam yang Satria bawa itu milik siapa. Karena kali ini Satria juga membawa handphone Samsung hitam itu lagi. Karena pada pertemuan kali ini Satria tidak pergi ke toilet dan tidak meninggalkan handphonenya di meja, maka Faiza mengurungkan niatnya untuk mencari tau soal handphone itu.
              Beberapa minggu berlalu, kuliah Faiza masih berjalan mulus-mulus saja. Namun sayangnya dia masih belum bisa untuk pulang ke Nganjuk karena jadwal kuliahnya yang terbilang agak padat. Ketika Faiza sedang libur kuliah, dia memutuskan untuk mengajak Satria ketemuan. Kebetulan hari ini Satria juga tidak terlalu sibuk dengan kerjaannya, jadi bisa diajak ketemuan.
              Sesampainya di kafe, Satria segera mencari Faiza. Setelah bertemu dengan Faiza, Satria merasa heran ketika melihat gadis kesayangannya itu duduk terdiam dengan raut wajah yang agak murung.
              "Kamu kenapa sih, fa? Kok kayaknya lagi sedih gitu?", tanya Satria
              "Aku kangen.", jawab Faiza sambil meneteskan air mata.
              "Kangen sama Amel ya?", tanya Satria.
              "Kok kamu tau sih, sat?", tanya Faiza heran.
              "Kan kamu dulu pernah cerita ke aku kalo ada siswi cantik yang kamu suka yaitu Ameliya. Ya kalo kamu kangen, kamu tinggal pulang aja sih. Kemarin aja udah berani pulang sendiri, masa sekarang nggak berani.", ucap Satria.
              "Tapi masalahnya jadwal kuliahku agak padat, sat.", jawab Faiza.
              "Ya coba didiskusikan sama teman sekelasmu dan dosennya biar mata kuliah yang satu hari cuma satu itu bisa digabungkan ke hari yang lain. Jadi kamu masuknya juga nggak nanggung banget.", saran Satria.
              "Ya entar aku coba deh. Makasih ya sarannya.", ucap Faiza.
              "Oke.", jawab Satria.
              Kemudian Satria ijin ke toilet dan tanpa sengaja meninggalkan handphone Samsung hitamnya itu di meja. Ini adalah kesempatan bagus bagi Faiza untuk mencari tau sebenarnya handphone siapa yang Satria bawa ketika bertemu dengannya itu. Ketika Faiza memencet salah satu tombol di handphone itu, ternyata handphone itu sedang dalam keadaan non aktif. Lalu Faiza segera mengaktifkan handphone itu dan mencari tau sebenarnya apa saja isi handphone itu. Belum sempat mengaktifkan handphone, dari kejauhan Faiza melihat Satria sudah kembali dari toilet. Dengan cepat dia segera menyembunyikan handphone itu ke dalam tasnya. Ketika sampai di meja makan, Satria terlihat kebingungan mencari handphonenya yang tadi dia tinggal di meja.
              "Nyariin apa sih, sat? Kok kelihatan bingung gitu?", tanya Faiza.
              "Nyari handphone aku. Perasaan tadi tu aku tinggal di sini. Tapi pas balik kok udah nggak ada. Kamu tau nggak handphone aku di mana?", tanya Satria.
              "Nih handphone kamu ada di aku.", jawab Faiza sambil menunjukkan handphone itu kepada Satria. Satria terlihat panik ketika tau bahwa Faiza membawa handphonenya. Dan dia meminta Faiza untuk segera mengembalikannya. Melihat sikap Satria yang agak panik itu membuat Faiza semakin curiga dan menuduh Satria bahwa dia selama sebulan ini sudah bermain perempuan di belakangnya. Satria semakin bingung mendengar tuduhan Faiza itu.
              "Kamu ngomong apa sih. Aku makin nggak ngerti sama omongan kamu.", ucap Satria.
              "Udah deh kamu nggak usah ngeles. Handphone Samsung hitam yang kamu bawa ini punya selingkuhan kamu kan?", tanya Faiza geram.
              "Kamu kok bisa nuduh aku kek gitu sih? Apa buktinya?", tanya Satria.
              "Handphone ini sudah cukup untuk dijadiin bukti kalo selama ini kamu bermain perempuan di belakangku.", tuduh Faiza.
              "Emang kamu tau isi handphone itu?", tanya Satria. Namun Faiza hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
              Kemudian Satria mengambil handphone itu dari genggaman Faiza lalu mengaktifkannya. Setelah handphone itu aktif, kemudian Satria membuka kunci layarnya dan menunjukkan kepada Faiza. Faiza sempat kaget melihat wallpaper di handphone itu adalah foto Satria yang sedang merangkul Ameliya, yang tidak lain adalah siswi cantik yang selama ini dia suka.
              "Jadi yang kayak gini yang kamu anggap sebagai perselingkuhan?", tanya Satria sambil menunjukkan wallpaper handphonenya itu kepada Faiza.
              "Lho itu kan Amel? Gimana ceritanya kamu bisa foto bareng sama dia? Sebenarnya apa hubungan kamu sama dia? Kok kalian kelihatan kayak ada hubungan darah gitu sih?", tanya Faiza penasaran.
              "Ya iyalah. Aku tu kakaknya Amel.", jawab Satria.
              "Kakak kandung?", tanya Faiza.
              "Iya. Kamu masih nggak percaya?", tanya Satria. Kemudian Satria membuka galeri dan menunjukkan foto-fotonya bersama Amel dan keluarganya kepada Faiza. Faiza hanya bisa diam ketika melihatnya
              "Kamu kok nggak pernah cerita ke aku soal ini sih?", tanya Faiza.
              "Salah sendiri nggak nanya. Kalo kamu nggak nanya, aku ya diam lah. Makanya kalo penasaran tu tanya dulu. Jangan asal nuduh kayak tadi.", jelas Satria. Faiza hanya mengangguk mendengarkan penjelasan Satria.
              Pada saat itu juga, Satria menceritakan tentang rencananya untuk menikahi Faiza ketika Faiza sudah lulus kuliah dan mendapat perkerjaan nanti. Faiza sempat shock mendengar rencana Satria itu. Lalu Satria menjelaskan padanya bahwa ini sudah mejadi rencananya sejak dia menjalin hubungan dengan Faiza dan sejak dia mengetahui bahwa Faiza menyukai adiknya. Faiza yang awalnya shock tiba-tiba tersenyum lebar karena ini juga sebuah kesempatan emas yang bisa dia gunakan untuk menepati janjinya kepada Amel untuk kembali kepadanya dan tentunya kembali dengan membawa sebuah kejutan besar.
              "Iya sat aku pinginnya sih juga gitu. Kita bisa ngejalanin hubungan dengan baik sampai kita nikah nanti.", jelas Faiza.
              "Kok tumben kamu semangat banget ngomongin soal nikah? Biasanya kamu paling takut kalo ada orang yang lagi ngomongin masalah nikah.", tanya Satria.
              "Soalnya ini konteksnya beda. Kalo aku bisa nikah sama kamu, berarti aku bisa menepati janjiku kepada Amel untuk kembali kepadanya dan membawa sebuah kejutan besar yaitu aku bisa jadi kakaknya.", jawab Faiza.
              "Oh jadi ini ceritanya kamu mau nikah sama aku hanya karena Amel? Bukan karena kamu beneran sayang sama aku?", tanya Satria.
              "Bukan gitu, sat. Aku sayang sama kamu. Soal Amel, itu kan aku cuma mau ngasih kejutan ke dia aja.", jawab Faiza.
              "Beneran nih?", tanya Satria.
              "Iya beneran.", jawab Faiza meyakinkan.
              Beberapa hari kemudian setelah didiskusikan bersama teman sekelasnya dan dosen pengampunya, akhirnya mata kuliah yang masuk hari sabtu dan hanya satu mata kuliah itu bisa diganti ke hari selasa jam kedua karena kebetulan di hari selasa jam kedua ada ruang yang kosong. Faiza senang mendengar keputusan itu. Itu artinya jatah liburnya menjadi 3 hari dan dia bisa pulang ke Nganjuk untuk menemui Amel karena jujur saja dia kangen banget sama Amel setelah beberapa bulan tidak bertemu. Ketika Faiza pulang dan pergi ke sekolah, dia bertemu dengan Amel. Amel terlihat sangat senang dan tanpa banyak bicara dia langsung memeluk Faiza dengan erat. Tidak hanya sampai di situ, Amel juga sempat menceritakan tentang sekolahnya setelah Faiza kembali untuk melanjutkan kuliahnya. Faiza hanya tersenyum mendengarnya. Dia tidak bercerita kepada Amel jika dia sudah tau bahwa Satria adalah kakaknya. Dia sudah berencana untuk merahasiakan semua itu dan akan menceritakan kepada Amel jika waktunya sudah tepat.
              Faiza selalu mengingat janji Satria waktu itu dan janji Satria juga lah yang membuat dia semakin semangat untuk segera menyelesaikan kuliahnya yang tinggal setengah itu. 2 tahun berlalu, akhirnya Faiza dinyatakan lulus ujian skripsi dan tinggal menunggu wisuda yang akan dilaksanakan beberapa minggu lagi. Dan beberapa minggu setelah wisuda, mama meminta Faiza untuk pulang dan mengajar di SD tempat mama mengajar.
              "Sat, hari ini aku mau pamit ke kamu soalnya besok aku disuruh mamaku buat pulang ke Nganjuk. Dan mama juga minta aku buat ngajar di SD tempat mama ngajar.", jelas Faiza.
              "Jadi kamu bakal ninggalin aku dong?", tanya Satria sedih.
              "Enggak gitu. Ya kapan-kapan aku bakalan main ke sini buat nemuin kamu deh.", jawab Faiza.
              "Oke. Kamu di sana jaga diri baik-baik ya. Semoga hari-harimu di sana semakin berwarna.", ucap Satria.
              "Kamu juga ya, sat. Jaga diri baik-baik. Awas kalo sampai kamu berani bermain perempuan di belakangku.", ancam Faiza.
              "Kamu udah lupa sama janji aku waktu itu?", tanya Satria.
              "Oh iya kamu udah janji ya.", ucap Faiza sambil menepuk keningnya.
              "Dasar pelupa.", ledek Satria. Faiza hanya menyunggingkan senyumnya mendengar ucapan Satria.
              Sehari setelah Faiza pulang, mama mengajak Faiza untuk mengajar di SD tempat mama ngajar. Sesampainya di sekolah, anak-anak kelas 4 terutama Amel berteriak histeris melihat Faiza sudah kembali dan mengajar di situ lagi. Amel senang karena Faiza ternyata tidak lupa dengan janjinya waktu itu. Setiap waktu istirahat tiba, Amel selalu mengajak Faiza untuk bercerita tentang apa saja. Di tengah-tengah ceritanya, entah kenapa raut wajah Amel terlihat agak sebel ketika menceritakan kakaknya. Faiza juga baru kali ini mendengar Amel bercerita tentang kakaknya.
              "Lho Amel tiba-tiba kok sebel gitu sih? Kenapa?", tanya Faiza heran.
              "Aku sebel sama kak Satria, mbak.", jawab Amel.
              "Sama kakaknya kok sebel sih? Emang kak Satria salah apa?", tanya Faiza.
              "Kak Satria tu nyebelin banget, mbak. Masa kalo lagi telpon ke mama, dia selalu cerita tentang pacarnya. Aku tu nggak suka kalo tau kak Satria pacaran tanpa sepengetahuanku gitu, mbak. Aku juga sebel sama pacarnya kak Satria.", curhat Amel.
              "Kalo kamu nggak suka sama pacarnya kak Satria, emang kamu bisa milih pacar yang baik buat kak Satria apa? Emang kamu juga udah tau pacarnya kak Satria itu siapa?", tanya Faiza.
              "Belum sih. Tapi aku pinginnya kak Satria pacaran sama mbak Faiza aja.", jawab Amel.
              "Ada-ada aja kamu.", ucap Faiza sambil meninggalkan Amel kemudian menuju ke kantor.
              Beberapa bulan setelah Faiza berada di Nganjuk dan ketika dia sedang asyik membuka facebooknya, dia sangat kaget ketika membaca status Satria di facebook yang mengatakan bahwa dia akan dipindahtugaskan. Karena saking kagetnya, tanpa banyak bicara Faiza langsung menghubunginya.
              "Kamu mau dipindahkan ke mana, sat?", tanya Faiza.
              "Aku juga belum tau nih. Entar kalo udah ada pemberitahuan, aku kasih tau ke kamu deh.", jawab Satria.
              Beberapa hari menunggu, Satria juga belum menghubunginya lagi. Faiza semakin takut jika ternyata Satria dipindahkan ke daerah yang cukup jauh. Di tengah-tengah ketakutannya, akhirnya Satria memberi tau kepada Faiza bahwa dia ternyata dipindahkan ke polres Nganjuk. Faiza sempat tidak percaya mendengarnya dan menganggap bahwa Satria sedang membohonginya. Namun setelah meminta penjelasan ulang kepada Satria tentang masalah ini, ternyata Satria tidak bohong bahwa dia memang dipindahkan ke polres Nganjuk. Di samping itu, Satria memang bukan tipe laki-laki yang suka berbohong. Faiza sangat senang mendengarnya. Itu artinya dia tidak perlu menjalin hubungan jarak jauh dengan Satria.
              Hampir setiap hari Amel menceritakan pertengkaran yang dia lakukan hampir setiap hari bersama Satria kepada Faiza hanya karena Amel tidak menyukai pacarnya Satria yang selama ini sama sekali belum dia ketahui orangnya. Faiza hanya bisa memberi saran ke Amel agar jangan terus-terusan bertengkar dengan kakaknya sendiri. Hingga pada suatu hari kekesalan Amel memuncak saat pagi hari sebelum dia berangkat ke sekolah, Satria bilang padanya bahwa nanti dia akan mengajak pacarnya untuk main ke rumah. Waktu jam istirahat, Amel menceritakan semua yang dibilang oleh Satria tadi pagi kepada Faiza. Amel juga sempat meminta Faiza agar nanti sore Faiza mau mengajaknya pergi agar dia tidak bertemu dengan pacarnya Satria. Namun Faiza menolaknya.
              "Maaf mel, bukannya mbak nggak mau nurutin permintaan kamu. Tapi mbak sore ini juga ada janji sama temennya mbak. Maaf ya.", ucap Faiza.
              "Mbak Faiza kok gitu sih. Mbak kan tau kalo aku benci sama pacarnya kak Satria.", jelas Amel.
              "Tapi mbak nggak bisa, mel. Mbak minta maaf ya.", ucap Faiza sambil meninggalkan Amel.
              "Mbak jahat. Amel benci mbak Faiza.", teriak Amel.
              Selama di dalam kelas, Amel hanya diam sambil menyembunyikan kekesalannya pada Faiza. Ketika pulang sekolah, Faiza sempat memanggil Amel. Namun sayangnya Amel langsung lari tanpa menoleh ke arahnya. Sepertinya Amel benar-benar kesal dengan sikap Faiza tadi.
              Sore harinya ketika Satria pulang dari kantor, dia sempatkan untuk mampir ke rumah Faiza. Sesampainya di rumah Faiza...
              "Fa, jadi kan?", tanya Satria.
              "Jadi dong.", jawab Faiza. Faiza segera mengeluarkan motornya kemudian ikut pergi ke rumah Satria.
              Sesampainya di rumah Satria, Faiza heran karena sama sekali tidak ada orang di rumah. Satria baru ingat kalo kedua orang tuanya sedang pergi dan di rumah hanya ada Amel. Setelah mempersilahkan Faiza untuk duduk, Satria segera pergi ke kamar Amel. Dia hanya mengeryitkan dahinya ketika melihat adiknya masih tidur. Kemudian dia membangunkan Amel dan meminta Amel untuk segera menemui pacarnya.
              "Kan udah aku bilang kalo aku nggak suka sama pacarnya kak Satria itu. Aku sukanya cuma sama mbak Faiza.", jelas Amel.
              "Udah lah jangan banyak alasan. Ayo kita keluar. Entar kamu bisa lihat sendiri sebenarnya pacarnya kakak itu siapa.", ajak Satria. Dengan malas Amel menuruti permintaan kakaknya untuk keluar kamar sambil membawa boneka doraemon kesayangannya yang berukuran cukup besar. Setelah keluar kamar, dia kaget melihat Faiza sedang duduk di ruang tamu. Karena saking kaget dan senangnya, dia sampai melempar boneka itu hingga membuat vas bunga yang ada di meja jatuh dan pecah.
              "Amel, vasnya kok dipecahin sih?", teriak Satria. Namun teriakan itu tidak digubris oleh Amel karena dia kaget melihat kehadiran Faiza.
              "Mbak Faiza kok ada di sini sih? Katanya ada janji sama temennya?", tanya Amel sambil memeluknya.
              "Entar mbak jelasin. Sekarang kita beresin vas bunga yang pecah itu yuk. Daripada kakakmu makin marah.", ajak Faiza. Amel hanya mengikutinya.
              Setelah selesai membereskan vas bunga yang pecah tadi, Amel heran karena dari tadi dia sama sekali tidak melihat pacar kakaknya. Yang dia lihat dari tadi hanyalah Satria dan Faiza saja. Karena semakin penasaran, maka dia putuskan untuk bertanya kepada kakaknya.
              "Kak, pacarnya kakak ke mana?", tanya Amel.
              "Katanya kamu nggak suka sama pacarnya kakak. Jadi ya kakak ajak mbak Faiza aja ke sini biar kamu seneng.", jawab Satria.
              "Oh jadi ceritanya Amel nggak mau ketemu sama pacarnya kak Satria nih. Ya udah aku pulang aja.", ucap Faiza.
              "Lho mbak Faiza kok mau pulang sih?", tanya Amel.
              "Abisnya kamu nggak suka sih sama pacarnya kak Satria.", jawab Faiza. Amel semakin bingung mendengar jawaban Faiza. Dan setelah beberapa menit berpikir, dia mencoba untuk menyimpulkan jawaban dari Faiza tadi.
              "Jangan-jangan pacarnya kak Satria itu mbak Faiza ya?", tanya Amel.
              "Nah itu bisa nyimpulin sendiri.", jawab Satria.
              "Jadi pacar kakak yang kakak ceritain ke mama selama ini dan gadis yang akan kakak nikahin itu juga mbak Faiza?", tanya Amel penasaran.
              "Nah itu kamu juga udah tau.", jawab Satria.
              "Kakak kenapa nggak pernah cerita soal ini ke aku?", tanya Amel.
              "Kamu nggak pernah nanya sih.", jawab Satria. Amel hanya manyun mendengarnya.
              Kemudian mereka bertiga berkumpul dan Faiza bercerita kepada Satria bahwa Amel pernah cemburu dan menangis ketika dia sedang disuruh untuk menunggu kelas 1. Satria hanya bisa tertawa mendengarnya dan Amel hanya terdiam. Satria juga memberi tahu kepada Faiza bahwa Amel adalah tipe anak yang selalu ingin disayang. Dia juga bercerita bahwa ketika dia masih pendidikan dulu, Amel selalu saja menangis ketika melihat dia akan kembali ke Akpol. Faiza hanya bisa tertawa mendengar cerita dari Satria. Tiba-tiba Amel berteriak dan protes kepada mereka berdua karena dia merasa dibully. Amel juga berusaha untuk membela diri bahwa dia selalu menangis ketika kakaknya akan kembali lagi ke Akpol itu karena saat itu dia masih berusia 5 tahun dan pada saat itu dia masih kangen sama kakaknya. Satria merasa terharu mendengar pengakuan dari adiknya. Lalu Faiza mengajak Amel untuk berbicara berdua.
              "Sekarang kan Amel udah tau siapa pacarnya kak Satria, jadi kalo di sekolah, Amel jangan cemburu kayak waktu itu lagi ya kalo mbak lagi ngajar di kelas lain. Kan sebentar lagi Amel jadi adiknya mbak, jadi waktu kita untuk bersama kan makin banyak.", jelas Faiza.
              "Iya mbak. Maaf kalo waktu itu Amel terlalu cemburu.", ucap Amel.
              "Iya nggak apa-apa.", jawab Faiza.
              "Makasih banyak ya, mbak. Mbak Faiza udah nepati janji mbak untuk kembali ke SD. Dan makasih banyak karena mbak kembali ke sini sambil membawa kejutan yang besar.", ucap Amel.
              "Iya sama-sama. Mbak minta do'anya juga ya semoga pernikahan mbak dengan kak Satria bulan depan berjalan dengan lancar.", jelas Faiza.
              "Oke mbak.", jawab Amel. Satria hanya tersenyum melihat keakraban Amel dan Faiza. Faiza memang gadis pilihan Satria yang sangat tepat.

;;

By :
Free Blog Templates