Wednesday, 19 August 2015

KETIKA CERITA CINTA MENJADI NYATA

          “Vi, besok jangan lupa ya ceritanya.”, pesan Tika sebelum pulang sekolah.
          “Oke.”, jawab Via pendek. Kemudian Tika dan Via pun pulang bersama.
          Sesampainya di rumah, Via pun langsung mencari Sinta, kakaknya. Karena cukup lama Via mencari dan Sinta juga tidak ada, maka Via pun memanggilnya dengan suara yang cukup lantang. Dan akhirnya Sinta pun keluar dari kamarnya.
          “Via, bisa nggak sih nggak usah teriak-teriak gitu? Bikin konsentrasi kakak hilang tau.”, ucap Sinta kesal.
          “Abisnya dari tadi aku cariin, kakak nggak ada di mana-mana. Eh ternyata lagi asyik di kamar. Emang lagi ngapain, kak? Nulis cerita lagi ya?”, tanya Via.
          “Iya.”, jawab Sinta pendek.
          “Pinjem dong, kak.”, pinta Via.
          “Bentar ya kakak ambilin.”, jawab Sinta sambil mengambil beberapa lembar kertas yang berisi cerita karangannya di kamar.
          Tak lama kemudian....
          “Nih ceritanya.”, ucap Sinta sambil memberikan lembaran kertas itu kepada Via.
          “Makasih, kak. Wah kayaknya ceritanya bakal penuh kejutan lagi nih.”, celetuk Via.
          “Iya dong.”, jawab Sinta.
          Baru beberapa menit membaca, tiba-tiba Via protes kepada Sinta dengan alasan cerita yang Sinta tulis isinya tentang itu-itu saja dan membuat Via bosan untuk membacanya. Mendengar ucapan adiknya, Sinta pun terlihat agak emosi dan meminta Via untuk mengembalikannya. Tanpa banyak bicara Via pun langsung melemparkan lembaran kertas-kertas itu ke hadapan Sinta hingga tercecer di lantai. Sontak Sinta pun marah karena adiknya memperlakukannya seperti itu. Sampai-sampai terjadi adu mulut antara mereka berdua. Tanpa mereka sadari, mama mendengar pertengkaran mereka. Mama pun segera melerai mereka. Bukannya berhenti, pertengkaran mereka pun malah semakin mejadi-jadi dan saling menyalahkan satu sama lain. Mama pun sempat pusing dibuatnya. Akhirnya mama menyuruh Via untuk meminta maaf kepada Sinta karena dia yang membuat Sinta marah. Via pun menuruti perintah mama untuk meminta maaf kepada Sinta dan mengakui kesalahannya. Sinta memaafkan adiknya dan dia juga minta maaf ke Via kalo dia sudah membuat Via bosan dan akhirnya mereka berdua pun kembali akur. Mama hanya tersenyum melihatnya dan menyuruh Via untuk segera mengganti baju seragamnya.
          Setelah selesai ganti baju, Via pun segera pergi ke kamar Sinta yang bisa dibilang sedikit berantakan karena terdapat banyak sekali kertas yang tercecer hampir di setiap sudut kamar dan kertas itu penuh dengan tulisan hasil karya Sinta. Melihat keadaan kamar kakaknya yang sangat berantakan itu, Via pun mulai mengomentari kakaknya yang baru saja tenang setelah pertengkaran tadi. Mendengar komentar-komentar Via yang sangat membuatnya merasa terganggu, akhirnya Sinta pun menyuruh adiknya untuk keluar. Karena menurut Sinta jika Via terus-terusan berkomentar di kamar, yang ada malah membuat konsentrasinya buyar. Via pun keluar kamar dan dia mengambil 2 lembar kertas yang berisi cerita itu tanpa disadari oleh kakaknya. Ternyata diam-diam Via mengagumi tulisan kakaknya meskipun dia tadi sempat bilang bahwa tulisan itu sangat membosankan dan tidak menarik untuk dibaca.
          Keesokan harinya............
          “Nih aku bawain ceritanya.”, kata Via sambil mengeluarkan kertas itu dan memberikannya kepada Tika.
          “Makasih banyak ya, vi. Kayaknya bagus nih.”, celetuk Tika.
          “Lumayan bagus sih. Tapi inget ya kamu harus baca cerita itu sampai selesai hari ini juga.”, pesan Via.
          “Lho emang kenapa, vi?”, tanya Tika heran.
          “Soalnya aku ambil kertas itu nggak bilang ke kak Sinta dulu. Jadi kalo kertas itu nggak segera aku balikin, aku takut kak Sinta nuduh aku yang macem-macem.”, jawab Via.
          “Oh gitu. Oke kalo gitu aku pastikan aku selesai baca cerita ini sebelum pulang sekolah.”, ucap Tika
          Ketika istirahat, Tika pun segera membaca cerita itu sampai selesai. Karena dia takut cerita sebanyak itu tidak terbaca semua karena jam istirahat yang cukup singkat. Pas bel masuk berbunyi, Tika juga baru saja selesai membaca cerita itu kemudian mengembalikannya kepada Via. Dia sangat kagum dengan cerita itu dan meminta Via untuk meminjamkan cerita karangan kak Sinta yang lain. Via pun mengiyakannya.
          Sepulang sekolah, Via pun langsung pergi ke kamar Sinta untuk memastikan bahwa kakaknya tidak sedang di kamar. Setelah mengetahui bahwa kakaknya tidak sedang di kamar, Via pun langsung masuk ke kamar Sinta dan mengambil beberapa lembar kertas yang berisi cerita hasil karangan kakaknya itu. Keesokan harinya, Via pun memberikan lembaran itu kepada Tika. Berulang kali Via melakukan hal seperti itu dan selama ini lancar-lancar saja karena tidak ketahuan oleh kakaknya. Tapi pada suatu hari karena Tika belum selesai membaca cerita itu, tanpa pikir panjang dia pun langsung memasukkan lembaran kertas itu ke dalam tas dan dia pun langsung pulang. Sesampainya di rumah, Via teringat bahwa lembaran yang dipinjam oleh Tika belum dikembalikan. Kemudian dia langsung menelpon Tika dan memintanya agar besok lembaran itu dikembalikan. Tika pun mengiyakannya.
          Malam harinya........
          “Kak Dika, aku ada cerita bagus nih.”, celetuk Tika ketika masuk ke kamar Dika sambil menunjukkan lembaran cerita milik Sinta.
          “Emang cerita apa?”, tanya Dika.
          “Ih kepo deh.”, jawab Tika.
          “Dasar pelit. Kalo nggak mau minjemin ya udah. Nggak usah dipamer-pamerin ke aku gitu. Lagian aku nggak tertarik. Lebih baik kamu keluar deh.”, ucap Dika kasar.
          “Ih ngambek nggak dipinjemin.”, ledek Tika.
          “Berisik banget sih kamu. Keluar sana.”, bentak Dika. Kemudian Tika pun keluar.
          Ketika Tika sudah tertidur lelap, diam-diam Dika masuk ke kamar Tika dan mengambil lembaran yang berisi cerita yang tadi sempat dipamerkan kepadanya. Setelah mengambil lembaran itu, Dika segera keluar dari kamar Tika. Ternyata Dika penasaran dengan cerita itu. Tanpa pikir panjang, Dika langsung masuk ke kamarnya dan membaca cerita itu. Baru beberapa menit membaca, dia terlihat menyukai dan mengagumi cerita milik Sinta itu. Karena dia tidak bisa membaca cerita itu sampai selesai malam itu juga, maka dia putuskan untuk membacanya besok.
          Keesokan harinya sebelum berangkat ke sekolah, Tika sempat membuka tasnya untuk mengecek apakah lembaran cerita yang dipinjamnya kemarin masih ada atau tidak. Tetapi dia sangat kaget ketika melihat lembaran itu ternyata tidak ada di dalam tas. Via pun segera menemui kakaknya.
          “Kak, tau lembaran yang kemarin nggak?”, tanya Tika.
          “Lembaran apa?”, tanya Dika heran.
          “Itu lho kak lembaran yang kemarin aku tunjukin ke kakak.”, jawab Tika.
          “Yang isinya cerita itu?”, tanya Dika.
          “Iya kak. Kakak tau nggak lembaran itu di mana?”, tanya Tika lagi.
          “Ya mana kakak tau. Kan kemarin kamu yang nyimpen. Makanya kalo punya sesuatu itu nggak usah dipamer-pamerin. Jadinya hilang kan. Rasain.”, ledek Dika.
          “Bantuin aku nyari ya, kak.”, pinta Tika.
          “NGGAK!!! Kakak hari ini ada dinas pagi. Jadi kakak harus segera berangkat. Kakak nggak mau telat dan kena marah cuma gara-gara bantuin kamu cari cerita itu. Mendingan kamu cari aja sendiri sampek ketemu. Kalo perlu nggak usah sekolah aja sekalian.”, jawab Dika ketus.
          “Kak, bantuin Tika dong.”, pinta Tika yang hampir menangis.
          “Nggak mau. Udah siang nih. Kakak berangkat dulu. Semoga cepet ketemu ya.”, ucap Dika sambil meninggalkan adiknya.
          “Kak Dika, jangan tinggalin aku!!!!!”, teriak Tika tapi sayangnya Dika sudah berangkat.
          Sepeninggalan kakaknya, Tika pun berusaha mencari lembaran cerita itu meskipun sendirian. Hampir setengah jam Tika mencari lembaran itu tetapi tidak membuahkan hasil. Karena sudah hampir setengah 7, Tika pun segera berangkat ke sekolah walaupun lembaran cerita itu belum berhasil ditemukannya. Di sekolah, Via pun menunggu Tika dan berharap semoga Tika tidak lupa membawa cerita itu. Ternyata apa yang diharapkan Via tidak sesuai dengan kenyataan. Dia kaget ketika Tika bilang bahwa lembaran cerita milik Sinta yang kemarin dipinjamnya telah hilang. Dan Tika juga bilang kepada Via bahwa dia sudah berusaha untuk mencarinya tetapi belum ketemu juga. Via sempat marah kepada Tika karena sudah menghilangkan cerita milik kakaknya tetapi dia pun juga sadar percuma saja dia marah kepada Tika karena kemarahannya juga tidak akan bisa membuat lembaran cerita itu kembali lagi padanya. Akhirnya Via pun pasrah jika semua ini diketahui oleh kakaknya dan dia juga pasrah jika nanti kakaknya akan marah besar kepadanya.
          Sudah seminggu ini Via terlihat gugup setiap Sinta mengajaknya bicara. Sampai-sampai Sinta pun heran dengan sikap adiknya yang akhir-akhir ini terlihat sangat aneh itu.
          “Kamu kenapa sih vi kok tiap ngomong sama kakak, kamu kelihatan gugup gitu?”, tanya Sinta heran.
          “Nggak ada apa-apa kok, kak.”, jawab Via.
          “Kamu nggak lagi nyembunyikan sesuatu dari kakak kan?”, tanya Sinta.
          “Nggak kok.”, jawab Via pendek.
          “Oh ya udah. Kalo gitu kakak ke kamar dulu ya.”, kata Sinta sambil meninggalkan Via. Sepeninggalan Sinta, Via terlihat agak lega. Karena setidaknya kali ini Sinta tidak mengajaknya berbicara tentang cerita-cerita yang ditulisnya.
          Akhir-akhir ini Sinta kebingungan mencari sesuatu. Dan setiap kali mama bertanya, dia selalu saja melampiaskan kekesalan dan kemarahannya kepada mama. Sampai-sampai mama heran melihatnya.
          “Kenapa sih sin tiap kali mama tanya kamu selalu saja marah-marah ke mama? Emang mama salah apa?”, tanya mama.
          “Mama nggak salah kok.”, jawab Sinta.
          “Lantas kenapa?”, tanya mama.
          “Sinta lagi sebel aja, ma. Dari kemarin aku nyariin kertasku tapi nggak ketemu juga. Kan aku jadi sebel, ma.”, jawab Sinta.
          “Kertas apa?”, tanya mama.
          “Itu ma karanganku kan masih aku tulis di kertas. Soalnya aku agak males kalo ngetik di laptop. Jadi aku tulis di kertas aja. Eh sekarang kertasnya malah hilang. Mana yang hilang cukup banyak lagi. Ih sebel deh.”, keluh Sinta.
          “Lho jadi kamu selama ini sering nulis cerita? Kok nggak pernah bilang ke mama sih?”, tanya mama.
          “Soalnya ceritanya juga nggak terlalu bagus, ma. Jadi aku rasa belum pantas untuk dipublikasikan.”, jawab Sinta.
          “Mama pinjam dong ceritanya.”, pinta mama.
          “Jangan ma. Ceritanya masih acak-acakan soalnya.”, jawab Sinta.
          “Pinjem satu aja masa nggak boleh sih?”, tanya mama.
          “Oke. Tapi mama harus janji setelah baca ceritaku, mama nggak boleh marah, ketawa, atau ngeledekin aku hanya karena ceritaku masih acak-acakkan.”, tantang Sinta.
          “Oke mama janji.”, jawab mama.
          Sinta pun pergi ke kamar untuk mengambil beberapa lembar kertas yang berisi karangannya dan memberikannya ke mama. Mama pun segera membaca cerita itu. Setelah selesai membaca, mama mengatakan kepada Sinta bahwa beliau sangat mengagumi tulisannya dan menyarankan agar tulisan itu lebih baik disalin dan dibukukan agar lebih menarik untuk dibaca dan untuk mengantisipasi agar kumpulan ceria itu tidak hilang karena sangat disayangkan jika cerita sebagus itu hilang dalam bentuk lembaran. Tetapi Sinta tetap saja beralasan bahwa dia masih malas untuk menyalin cerita itu apalagi membukukannya. Mama hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar alasan Sinta.
          Siang itu Via baru saja pulang sekolah. Setelah menaruh tas dan ganti baju, dia pun segera bergabung bersama Sinta di meja makan untuk makan siang. Ketika makan, tiba-tiba Sinta bercerita kepada Via tentang lembaran-lembaran cerita karangannya yang hilang. Via pun hanya terdiam mendengarkan cerita kakaknya. Setelah terdiam cukup lama dan berpikir berulang kali, maka ia beranikan diri untuk mengaku kepada Sinta bahwa selama ini dia sering mengambil lembaran-lembaran cerita milik Sinta dan meminjamkannya kepada temannya. Tiba-tiba.... PRAK!!!!! Sinta pun emosi mendengar pengakuan adiknya dan langsung membanting gelas yang dipegangnya ke lantai.
          “Oh jadi yang suka ngambil lembaran cerita yang udah kakak tulis susah payah dan yang udah ngilangin cerita itu kamu? Mau kamu apa sih, vi?”, tanya Sinta geram.
          “Maafin aku, kak.”, ucap Via ketakutan melihat kakaknya yang sedang marah itu.
          “Kakak nggak butuh kata maaf dari kamu. Yang kakak mau sekarang juga kamu cari lembaran cerita itu sampai ketemu. Entah kamu mau cari cerita itu ke mana, kakak nggak peduli. Pokoknya kakak mau cerita itu ketemu hari ini juga. Kalo belum ketemu, mendingan kamu nggak usah pulang aja sekalian.”, jawab Sinta kasar sambil beranjak dari meja makan.
          “Lho kakak mau ke mana? Makan siangnya kok nggak dihabisin?”, tanya Via.
          “Kakak mau nenangin diri di taman. Daripada di rumah liat kamu terus, bisa-bisa emosi kakak malah makin menjadi-jadi. Selera makan kakak udah hilang gara-gara kamu. Mendingan kamu habisin makan siangmu sendiri.”, jawab Sinta kasar sambil pergi meninggalkan Via. Via pun hanya terdiam mendengarnya.
          Beberapa menit setelah Sinta pergi meninggalkan rumah, tiba-tiba Dika datang ke rumah. Dan pada saat yang bersamaan, Via pun juga hendak pergi untuk menemui Tika. Ketika keluar rumah, Via pun kaget melihat Dika ada di depan rumahnya. Kemudian Via pun mengajak Dika untuk duduk dan ngobrol-ngobrol sebentar. Awalnya Via heran dengan kedatangan Dika. Kemudian Dika menjelaskan bahwa ia ingin mencari Sinta karena ada hal penting yang ingin dibicarakan. Mendengar penjelasan Dika, dengan lesu Via mengatakan bahwa tadi Sinta marah dan langsung pergi ke taman setelah Sinta mendengar penjelasan dari Via bahwa dia yang telah menghilangkan lembaran cerita milik Sinta dan sekarang Via juga berniat menemui Tika untuk mencari lembaran cerita itu. Dika hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Via dan menyarankannya agar tetap di rumah karena menurut Dika akan percuma saja jika Via menemui Tika karena sekarang Tika juga sedang bingung karena mencari lembaran cerita itu dan akhirnya tidak ketemu juga. Via semakin bingung harus berbuat apa karena dia juga tau jika dia tidak segera menemukan lembaran cerita itu, Sinta akan semakin marah kepadanya. Melihat Via yang semakin bingung, Dika pun berusaha untuk menenangkannya dan berjanji kepada Via bahwa ia akan menjelaskan tentang lembaran cerita itu kepada Sinta dan ia juga menjamin Sinta tidak akan marah lagi kepada Via hanya karena masalah ini. Via hanya menuruti kemauan Dika saja dan mengatakan kepada Dika bahwa ketika pergi ke taman tadi, Sinta memakai celana jeans panjang warna biru gelap, jilbab biru muda, dan jaket hitam. Tanpa banyak bicara Dika pun segera menuju ke taman kota.
          Di taman kota, Dika segera mencari gadis yang mengenakan pakaian yang sama seperti yang dijelaskan oleh Via tadi. Kebetulan di taman hanya ada satu gadis yang duduk sendiri dan mengenakan pakaian yang sama seperti yang dijelaskan oleh Via.
          “Kak Sinta lagi apa di sini?”, tanya boneka lebah itu.
          “Lagi sebel.”, jawab Sinta ketus.
          “Sebel kenapa, kak?”, tanya boneka itu lagi.
          “Sebel gara-gara lembaran ceritaku hilang.”, jawab Sinta yang masih saja dengan nada ketus.
          “Udah jangan sebel gitu ah. Jelek tau.”, ledek boneka itu sambil menempelkan hidungnya ke pipi Sinta. Sontak Sinta pun kaget dibuatnya. Kemudian Sinta menoleh ke arah boneka itu. Dan ternyata yang menggerakkan boneka itu tidak lain adalah Dika.
          “Lho kamu kak Dika yang dulu anak 12 IPA 2 pas aku masih kelas 10 itu kan?”, tanya Sinta.
          “Iya. Udah lama ya kita nggak ketemu.”, jawab Dika sambil duduk di samping Sinta.
          Kemudian mereka berdua mulai berbagi cerita tentang masa lalu mereka ketika SMA dan setelah lulus SMA. Sinta bercerita bahwa setelah lulus SMA, dia melanjutkan belajarnya ke Universitas Islam Negeri yang ada di Jawa Timur dan mengambil jurusan PAI. Sinta juga bercerita bahwa tahun ini dia telah berhasil menyelesaikan skripsinya dan tinggal menunggu wisuda yang akan dilaksanakan 2 bulan yang akan datang. Dika pun hanya diam dan tersenyum mendengarnya. Melihat Dika yang dari tadi hanya diam dan tersenyum, tiba-tiba Sinta pun menepuk pundak Dika dan memintanya untuk bercerita ke mana dia melanjutkan belajarnya setelah SMA. Sontak Dika pun kaget mendengarnya. Dika hanya bercerita bahwa setelah SMA, dia melanjutkan belajarnya ke Semarang. Sinta hanya manggut-manggut mendengarnya.
          “Oh iya sin police love storymu ternyata bagus juga. Aku kagum bacanya. Aku baru tau kalo kamu ternyata suka nulis. Saranku lebik baik tulisanmu dikirim ke penerbit agar bisa dibukukan dan diperbanyak. Karena tulisanmu bagus banget, sin.”, puji Dika.
          “Lho kak Dika tau semua itu dari mana? Perasaan aku nggak pernah mempublikasikan cerita-cerita itu deh.”, tanya Sinta kaget.
          “Buktinya cerita itu ada di aku tuh.”, jawab Dika sambil mengeluarkan lembaran cerita milik Sinta dari saku jaketnya.
          “Lho lembaran cerita itu kok ada di kakak sih? Gimana ceritanya?”, tanya Sinta yang masih saja kaget.
          “Kamu inget nggak sama temennya Via yang namanya Tika?”, tanya Dika.
          “Ya Via pernah cerita ke aku tentang Tika beberapa waktu lalu. Terus apa hubungannya sama kamu, kak?”, tanya Sinta.
          “Dia itu adik aku. Beberapa waktu lalu Via kan pernah minjemin lembaran cerita kamu ke Tika. Terus pas di rumah, Tika juga sempat nunjukin lembaran itu ke aku. Sayangnya pas aku mau pinjem, dianya nggak ngebolehin. Otomatis aku kesel kan. Terus pas dia udah tidur, aku sengaja ambil lembaran itu dari tasnya. Sampai sekarang cerita itu masih aku bawa. Dan sampai sekarang juga adikku bingung nyari cerita itu karena dia kira cerita itu hilang.”, jelas Dika.
          “Tapi gimana kamu bisa tau kalo cerita itu milikku?”, tanya Sinta.
          “Kan di bawah judul cerita ada nama lengkap kamu. Dan aku ingat kalo pas SMA dulu aku pernah punya adik kelas yang namanya sama kayak penulis cerita itu. Eh setelah aku cari tau ternyata benar itu kamu.”, jawab Dika.
          “Oh ya ya ya.”, ucap Sinta sambil manggut-manggut.
          Dika menyarankan agar Sinta meminta maaf kepada Via karena kemarahannya tadi telah membuat adiknya merasa takut dan serba salah. Lagipula lembaran cerita itu juga sudah ketemu. Sinta pun mengiyakannya. Dika sempat menebak bahwa selama ini Sinta sangat kagum pada polisi karena sudah terbukti jika selama ini Sinta sangat suka menulis police love story. Awalnya Sinta membantah ucapan Dika yang mengatakan bahwa ia kagum pada polisi. Sinta hanya menjelaskan bahwa saat itu dia sedang iseng aja menulis cerita itu. Tetapi karena Dika selalu saja menggodanya, maka Sinta pun mengaku bahwa selama ini dirinya memang kagum pada polisi. Dan Sinta juga sempat bercerita kepada Dika bahwa cerita yang ditulisnya itu bukan hanya sekedar cerita, tetapi cerita itu ditulis karena sejujurnya selama ini selain dia kagum pada polisi, dia juga mempunyai impian agar kelak ia bisa memiliki teman dekat seorang polisi dan teman dekatnya semoga bisa menjadi teman hidupnya dan cerita indah yang pernah ditulisnya itu suatu hari nanti bisa menjadi nyata di dalam hidupnya meskipun dia juga menyadari bahwa cerita yang ditulisnya itu sangatlah konyol dan tidak mungkin bisa menjadi nyata. Mendengar curhatan Sinta, Dika terlihat sangat tersentuh dan dia menyarankan agar Sinta tetap berdo’a dan berusaha agar impiannya bisa menjadi nyata. Dika berusaha menyakinkan Sinta bahwa suatu saat nanti cerita yang ditulisnya itu akan menjadi nyata dalam hidup Sinta. Dika juga sempat mengatakan kepada Sinta bahwa selama ini ada seorang polisi yang sangat mengaguminya dan selalu ingin mencari tau tentang dirinya. Sinta pun mengiyakannya meskipun keraguan itu masih saja menyelimuti hatinya. Sinta juga heran bagaimana Dika bisa seyakin itu bahwa cerita yang ditulisnya akan menjadi kenyataan dan bagaimana bisa Dika tahu bahwa ada seseorang yang selama ini dia kagumi justru kini malah berbalik mengaguminya.
          “Ya udah kalo gitu aku pergi dulu ya, sin. Soalnya masih ada urusan.”, pamit Dika.
          “Kakak kan belum kasih tau dulu setelah SMA kakak ngelanjutin ke mana.”, cegah Sinta.
          “Kan udah aku bilang aku ngelanjutin belajarku ke Semarang.”, jawab Dika.
          “Tapi tepatnya di mana, kak?”, tanya Sinta. Bukannya menjawab pertanyaan Sinta, Dika malah memberikan senyum yang penuh dengan tanda tanya kepada Sinta kemudian meninggalkannya. Karena Dika sudah pergi dan lembaran ceritanya sudah dikembalikan, maka Sinta pun memtuskan untuk pulang.
          Sesampainya di rumah........
          “Kak Sinta masih marah ya sama aku?”, tanya Via mengagetkan Sinta.
          “Mendingan kita masuk yuk. Kita ngobrol di dalam.”, ajak Sinta. Via pun menurutinya.
          Di ruang tamu.......
          “Mau ngomongin apa sih, kak?”, tanya Via heran.
          “Maaf ya vi kalo tadi kakak sempat marah-marah ke kamu. Seharusnya kakak nggak melakukan hal seperti itu tadi.”, ucap Sinta.
          “Iya kak nggak apa-apa kok. Seharusnya Via yang minta maaf karena Via udah ngilangin lembaran cerita kakak.”, tambah Via.
          “Udah lah masalah cerita itu mendingan kamu lupain aja. Soalnya cerita itu udah ketemu, vi.”, jelas Sinta.
          “Beneran kak? Siapa yang nemuin?”, tanya Via setengah tidak percaya.
          “Tadi pas kakak di taman, kakak ketemu sama kak Dika. Setelah cukup lama ngobrol-ngobrol, tiba-tiba kak Dika ngasih lembaran cerita itu ke kakak.”, jawab Sinta.
          “Jadi selama ini cerita itu nggak hilang? Tapi kakak kok bisa kenal sama kak Dika sih?”, tanya Via.
          “Iya. Selama ini yang bawa cerita itu ternyata kak Dika. Tentang gimana ceritanya kakak bisa kenal sama kak Dika kebetulan kak Dika itu kakak kelasnya kakak waktu SMA dulu.”, jawab Sinta. Via pun tersenyum lega mendengar penjelasan dari Sinta bahwa cerita itu tidak jadi hilang. Kemudian Via pun menelpon Tika dan memberi taunya bahwa cerita itu tidak hilang, melainkan dibawa oleh kak Dika dan sekarang sudah dikembalikan kepada Sinta. Tika pun lega mendengarnya.
          Akhir-akhir ini Sinta terlihat bingung memikirkan apa maksud senyuman Dika dan siapa polisi yang dimaksud oleh Dika waktu itu. Tetapi hingga kini, dia pun tidak dapat menemukan jawabannya. Akhirnya Sinta pun memutuskan pergi ke rumah Dika untuk menanyakan apa maksud senyumannya dan siapa polisi yang dia maksud waktu itu. Ketika Sinta akan berangkat, tiba-tiba dia melihat ada seorang laki-laki yang berhenti di depan rumahnya.
          “Ini rumahnya mbak Sinta Eka ya?”, tanya laki-laki itu.
          “Iya saya sendiri. Ada apa ya, mas?”, tanya Sinta heran.
          “Ini mbak, saya mau ngasih karangan bunga ini ke mbak Sinta.”, jawab laki-laki itu.
          “Kalo boleh tau dari siapa, mas?”, tanya Sinta.
          “Waduh saya nggak tau tuh, mbak. Soalnya saya juga lupa nggak nanya namanya.”, jawab laki-laki itu sambil menepuk keningnya.
          “Oh gitu ya.”, ucap Sinta manggut-manggut.
          “Iya mbak. Ya udah mbak kalo gitu saya permisi dulu.”, pamit laki-laki itu.
          “Oh iya. Makasih ya, mas.”, jawab Sinta.
          Sinta pun mengurungkan niatnya untuk pergi ke rumah Dika. Di teras rumah, dia hanya memutar-mutar sebuket bunga mawar putih yang baru saja diterimanya itu. Ketika membalikkan sebuket bunga itu, Sinta melihat ada sepucuk surat yang jatuh. Sinta pun langsung mengambil surat itu lalu membacanya. Ketika membaca surat itu, Sinta pun terlihat kaget karena isi surat itu adalah:
          “Hai Sinta. Apa kabar? Maaf jika aku lancang mengirim bunga ini ke kamu. Tapi aku nggak ada maksud apa-apa kok. Aku hanya ingin menunjukkan kekagumanku ke kamu. Jujur selama ini aku sangat kagum padamu dan sangat ingin bertemu denganmu. Tapi karena aku cukup sibuk dengan tugasku, jadi aku sangat sulit untuk meluangkan waktuku agar bisa bertemu denganmu. Jika kamu berkenan untuk bertemu denganku, kamu bisa menemuiku di polres. Karena aku dinas di situ. Sudah dulu ya, sin. Aku tunggu kedatanganmu. IPDA ICA.”.
          “Ipda Ica? Siapa dia? Apakah aku pernah mengenalnya sehingga dia bilang bahwa dia mengagumiku? Tapi kapan? Di mana? Dan apa yang dia kagumi dari aku?”, tanya Sinta dalam hati.
          Belum berhasil mencari arti senyuman Dika waktu itu, kini Sinta semakin dipusingkan dengan kehadiran Ipda Ica yang masih menjadi tanda tanya besar baginya itu. Awalnya Sinta tidak peduli dengan semua itu. Tetapi semakin hari semakin banyak sesuatu yang diterima oleh Sinta. Mulai dari kotak musik, jam tangan, boneka, dan masih banyak lagi. Semua itu dikirim atas nama Ipda Ica. Sinta pun semakin bingung dibuatnya. Akhirnya Sinta memutuskan untuk pergi ke polres dan mencari tau sebenarnya siapa Ipda Ica itu.
          Sesampainya di polres..........
          “Selamat pagi, nona. Ada yang bisa saya bantu?”, tanya polisi yang bernama pak Adam kepada Sinta.
          “Ini pak saya ke sini mau cari tau tentang Ipda Ica. Karena menurut petunjuk yang saya dapat, Ipda Ica dinas di sini.”, jawab Sinta.
          “Ipda Ica?”, tanya salah satu polisi yang berada di sebelah pak Adam dengan nada kaget ketika mendengar nama Ipda Ica disebut dan langsung menatap Sinta.
          “Lho kak Dika? Kok kak Dika ada di sini sih? Terus seragam itu?”, tanya Sinta yang tidak kalah kaget karena melihat Dika ada di situ dan dia tidak menyangka bahwa Dika adalah seorang polisi.
          “Eh ternyata Sinta. Nggak usah kaget gitu ah.”, jawab Dika tersenyum.
          “I....i....iya.”, ucap Sinta gugup.
          “Oh iya kamu bilang tadi kamu mau cari Ipda Ica ya? Emang ada urusan apa sama Ipda Ica?”, tanya Dika.
          “Itu kak, aku cuma mau tanya ke dia kenapa akhir-akhir ini dia sering ngirim barang-barang kesukaan aku dan bagaimana dia bisa tau semua tentang aku.”, jawab Sinta.
          “Pak, sepertinya nona ini ada perlu dengan saya. Jadi saya ajak nona ini pergi dulu ya, pak.”, pamit Dika kepada pak Adam.
          “Ih kak Dika pede banget sih. Aku ke sini tu mau cari Ipda Ica, bukan kak Dika.”, bantah Sinta.
          “Lho memangnya nona tidak tau bahwa yang di sebelah saya ini........”, tanya pak Adam. Tiba-tiba Dika memotong omongan pak Adam.
          “Maaf pak saya harus buru-buru pergi. Permisi pak.”, pamit Dika kepada pak Adam.
          “Iya.”, jawab pak Adam singkat.
          “Kak Dika apa-apaan sih. Lepasin tangan aku. Aku ke sini tu mau cari tau tentang Ipda Ica, bukan mau ketemu sama kakak atau yang lain.”, jelas Sinta.
            Tanpa banyak bicara, Dika pun langsung menarik tangan Sinta dan mengajaknya keluar dari kantor. Sinta pun tetap ngotot ingin bertemu dengan Ipda Ica. Sayangnya Dika sama sekali tidak memperdulikan Sinta yang sedang ngomel-ngomel itu. Sampai-sampai beberapa polisi yang ada di situ, termasuk pak Adam heran melihat Sinta yang tetap saja memaksa ingin menemui Ipda Ica.
          Kemudian Dika mengajak Sinta ke taman. Selama di perjalanan, Sinta hanya diam. Dika pun merasa tenang karena Sinta tidak rewel seperti di kantor tadi.
          Sesampainya di taman............
          “Lho kok kita ke taman sih, kak?”, tanya Sinta.
          “Biar lebih enak ngobrolnya. Oh iya kamu tadi pas di kantor lucu banget tau.”, ledek Dika.
          “Apanya yang lucu? Kak Dika tu yang nyebelin. Padahal aku ke polres kan mau cari tau tentang Ipda Ica. Bukannya ngasih tau tentang Ipda Ica, eh kakak malah ngajak aku ke taman.”, ucap Sinta kesal.
          “Iya deh aku minta maaf. Kamu beneran pingin ketemu sama Ipda Ica ya?”, tanya Dika.
          “Ya iyalah aku beneran pingin ketemu dia. Soalnya aku pingin tanya apa maksud dia ngirim barang-barang kesukaanku dan sebenarnya apa yang dia kagumi dari aku.”, jawab Sinta.
          “Sekarang kakak mau tanya, apakah di salah satu barang yang dia kirim ke kamu ada suratnya?”, tanya Dika.
          “Ada kak. Kok kak Dika tau?”, tanya Sinta.
          “Terus apakah isi suratnya sama seperti ini?”, tanya Dika sambil memberikan sepucuk surat kepada Sinta. Kemudian Sinta pun membuka surat itu. Sontak Sinta sangat kaget ketika membaca isi surat itu ternyata sama persis dengan surat yang dikirim oleh Ipda Ica waktu itu.
          “Lho isi suratnya kok sama sih, kak? Bagaimana bisa?”, tanya Sinta kaget.
          “Kamu sadar nggak kalo yang ada di depan kamu dan yang kamu ajak ngobrol sekarang itu Ipda Ica yang selama ini mengagumi kamu?”, tanya Dika.
          Sinta sangat kaget mendengar pengakuan Dika yang mengatakan bahwa dirinya adalah Ipda Ica yang selama ini sering mengirim barang-barang kesukaannya dan mengaguminya. Dan Dika juga mengatakan bahwa dia sejak dulu sudah mengagumi Sinta. Sinta pun langsung membantah semua pengakuan Dika. Mendengar Sinta yang selalu saja membantah omongannya, tiba-tiba Dika memegang kedua pundak Sinta dan menatap mata Sinta dengan tatapan yang sangat tajam. Sinta pun hanya bisa terdiam seribu bahasa.
          “Sinta, selama ini kakak memiliki perasaan ke kamu. Tapi apakah kamu sama sekali tidak merasakannya?”, tanya Dika.
          “Maaf kak, aku nggak ngerti maksud kakak.”, jawab Sinta.
          “Ya ini semua memang salah kakak. Maafin kakak ya sin karena dulu kakak hanya bisa mengagumi, menyukai, dan menyayangimu dalam diam. Karena saat itu kakak menyadari bahwa status kakak masih sebagai anak SMA dan kakak juga belum memiliki pegangan hidup. Dan setelah cita-cita kakak tercapai, sayangnya salah satu impian kakak belum bisa terwujud.”, jelas Dika.
          “Kalo boleh tau apa impian kakak yang belum bisa terwujud?”, tanya Sinta penasaran.
          “Menjadi teman dekatmu dan kalo bisa menjadi teman hidupmu.”, jawab Dika sambil tersenyum. Sinta pun sangat kaget mendengarnya.
          “Kakak sedang bercanda kan?”, tanya Sinta setengah tidak percaya.
          “Aku nggak bercanda, sin. Aku serius. Itu sebabnya mengapa dulu aku pernah menyakinkanmu bahwa suatu hari nanti police love story  yang kamu tulis pasti menjadi nyata dalam hidupmu dan impianmu untuk memiliki teman hidup seorang polisi pasti terwujud. Karena selama ini aku sayang banget sama kamu, sin. Dan aku ingin mewujudkan semua impian kamu. Aku harap kamu mau menerimaku untuk menjadi teman dekatmu.”, pinta Dika. Perlahan tapi pasti, Sinta pun menganggukkan kepala sebagai tanda bahwa dia telah menerima Dika menjadi teman baikknya.
          “Makasih ya, sin. Kakak janji kakak akan jaga hubungan kita. Karena kakak sayang banget sama kamu.”, lanjut Dika sambil mencubit pipi Sinta.
          “Aduh!!! Sakit tau, kak. Iya sama-sama. Aku juga akan menjaga hubungan kita, kak.”, jawab Sinta.
          “Makasih ya, sayang.”, jawab Dika sambil menatap Sinta dengan tatapan penuh cinta.
          “Oh iya kak, Sinta boleh nanya nggak?”, tanya Sinta.
          “Iya boleh aja. Emang mau tanya apa?”, tanya Dika.
          “Apakah polisi yang kakak maksud waktu itu yang selama ini mengagumiku itu adalah kakak?”, tanya Sinta. Dika pun mengangguk dan tersenyum.
          “Jadi setelah lulus SMA, kakak ngelanjutin ke akpol?”, tanya Sinta.
          “Iya. Kamu pinter deh.”, jawab Dika.
          “Tapi kenapa waktu itu pas aku tanya, kakak nggak mau jawab?”, tanya Sinta.
          “Untuk apa kakak jawab itu semua kalo kamu sekarang udah tau?”, goda Dika.
          “Ih kakak nyebelin banget sih.”, ucap Sinta kesal.
          “Meskipun nyebelin tapi tetep ganteng kan?”, tanya Dika. Sinta pun hanya tersenyum dan mengangguk.
          “Oh iya sin, kalo kamu masih nggak percaya kalo aku adalah Ipda Ica, kamu boleh kok menanyakan semua ini kepada pak Adam yang waktu itu bertanya padamu dan teman-teman sekantorku.”, tambah Dika.
          “Nggak perlu. Aku percaya kok.”, jawab Sinta sambil tersenyum. Dika pun tersenyum mendengarnya.
          Semenjak saat itu, Sinta terlihat sangat bahagia karena hubungannya dengan Dika semakin hari semakin baik dan mereka pun menikah.
          Beberapa bulan kemudian.............
          “Sayang, aku berangkat dulu ya.”, pamit Dika.
          “Iya. Hati-hati di jalan ya.”, pesan Sinta. Kemudian Dika pun berangkat.
          Sesampainya di polres, ketika Dika membuka tasnya, dia melihat ada sebuah amplop berwarna biru muda terselip di antara berkas-berkas yang ada di dalam tasnya. Ketika diambil dan dibuka, ternyata amplop itu berisi surat. Dika pun penasaran dengan isi surat itu. Karena semakin penasaran, akhirnya ia pun membaca surat itu.
          “Hai Ipda Ica. Maaf jika aku telat balas suratmu. Terima kasih karena kamu sudah kagum sama aku selama ini. Aku juga kagum kok sama kamu. Lewat surat ini, aku ingin menyampaikan beberapa pesanku ke kamu. Jadilah polisi yang baik, jalankan tugasmu sebagai aparatur negara sebaik mungkin, tegakkan hukum di negeri ini, jangan pernah salah gunakan pangkat dan profesimu untuk kepentingan pribadimu, jangan sombong dengan apa yang telah kamu dapatkan dan miliki selama ini, tetaplah jadi dirimu yang baik dan rendah hati seperti yang dulu pernah ku kenal, dan jangan kecewakan semua orang yang selama ini mengagumimu, termasuk aku. Aku juga ingin berterima kasih ke kamu karena kamu telah menyukai ceritaku dan kamu telah membuat police love story yang pernah aku tulis menjadi sebuah cerita nyata dalam hidupku. Terima kasih sudah menyayangiku. Aku do’akan semoga kamu selalu diberi keselamatan dan kelancaran dalam menjalankan tugas. Aku sayang kamu. Salam sayang. SINTA.”, isi surat itu. Dika pun hanya tersenyum membacanya.
          Sore itu sesampainya di rumah, Dika melihat Sinta sedang duduk sambil melihat foto-fotonya yang ada di laptop. Tanpa banyak bicara, ia pun langsung memeluk Sinta dari belakang.
          “Makasih banyak ya, sayang.”, ucap Dika.
          “Makasih untuk apa, kak?”, tanya Sinta kaget sambil melepas pelukan Dika.
          “Makasih karena kamu udah sayang sama aku dan kamu udah mengingatkanku apa tujuanku dan mengapa dulu aku memutuskan untuk menjadi seorang polisi. Aku akan selalu ingat pesan kamu dan aku janji nggak akan pernah mengecewakan semua orang yang selama ini mengagumiku, termasuk kamu.”, jawab Dika sambil menunjukkan sebuah amplop biru muda yang berisi surat itu kepada Sinta.
          “Iya kak sama-sama. Kita kan memang harus saling mengingatkan.”, jelas Sinta.
          “Sekali lagi makasih banyak ya, sayang. Kamu emang istri yang baik”, ucap Dika tersenyum.
          “Makasih kak. Oh ya aku juga mau minta maaf, kak.”, tutur Sinta.
          “Minta maaf? Emang kamu udah bikin salah apa sih ke kakak?”, tanya Dika heran.
          “Maaf karena aku hanya bisa menemani kakak ketika kakak sudah sukses, bukan ketika kakak masih dalam proses untuk mencapai impian kakak. Sekali lagi maaf ya, kak.”, ucap Sinta.
          “Ssssttt nggak boleh ngomong gitu ah. Setahu kakak jika ada seorang perempuan yang bisa menemani teman laki-lakinya sejak dalam masa berproses untuk meraih impiannya hingga teman laki-lakinya bisa menjadi seseorang yang sukses itu adalah hal yang bagus. Tetapi jika ada seorang perempuan yang hanya bisa menemani teman laki-lakinya ketika teman laki-lakinya sudah berhasil meraih impiannya, itu juga nggak jadi masalah. Karena setiap orang kan memiliki takdir yang berbeda-beda. Jadi kamu nggak perlu meminta maaf soal itu. Karena itu bukanlah sebuah kesalahan yang perlu dimaafkan. Tentang masa lalu, itu nggak usah dipikirin. Karena masa lalu adalah milik kamu dan aku pribadi. Yang terpenting sekarang adalah masa kini dan masa depan harus kita lalui bersama dalam suka maupun duka. Karena masa kini dan masa depan adalah milik kita berdua.”, jelas Dika. Sinta pun mengangguk.
          “Kamu paham kan?”, tanya Dika sambil memegang kedua pundak Sinta.
          “Iya kak aku paham.”, jawab Sinta sambil tersenyum. Mereka berdua pun saling beradu pandangan kemudian tersenyum dan berpelukan.

1 comments:

Unknown said...

Terlalu banyak imbuhan yang diulang2. Kata "pun" misalnya. Pembaca jadi cepat bosan. Alur ceritanya monoton, terlalu mainstream, mudah ditebak, kurang variatif.

Post a Comment

By :
Free Blog Templates